
Becca membuang mukanya sejenak dari Jack. Bagaimana lelaki itu bisa menanyakan keadaannya, kalau memang sudah jelas-jelas dirinya sedang tidak baik-baik saja. Becca bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Sejujurnya dia merasa sudah lelah. Terutama untuk menjelaskan kabarnya sekarang.
"Becca, maafkan aku. Semalam aku tidak bisa--"
"Aku tahu Jack, it's okay..." Becca lekas-lekas menyahut, dan sengaja memotong ucapan Jack. Dia akhirnya kembali menatap Jack, dan berusaha memaksakan diri untuk tersenyum.
"Kau tidak ingin masuk ke rumah duka?" tanya Jack. Masih setia menunggu Becca.
"Kau duluan saja," balas Becca, mencoba tidak peduli.
"Kau mau ikut--"
"Becca!" suara panggilan Ben membuat kalimat Jack kembali terjeda. Dia dan Becca segera mengalihkan perhatiannya ke arah Ben. Lelaki yang sedang berjalan itu semakin mendekat. Mengharuskan Jack sedikit memundurkan langkahnya untuk memberikan ruang. Jack tahu, sepertinya Ben ingin berbicara dengan Becca.
"Becca, aku mencari-carimu sejak tadi. David bilang kau masih berada di mobil, makanya aku ke sini," tutur Ben, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Jack.
Ada sedikit suasana tegang yang terjadi. Keadaan yang hanya bisa dirasakan oleh Jack dan Ben. Sebenarnya hanya Ben yang terlalu terbawa suasana, dia memperlakukan Jack layaknya seorang musuh.
Jack menyadari sikap Ben. Dia dapat melihatnya dari tatapan lelaki tersebut. Tatapan itu seolah berkata kepadanya 'Menjauhlah dari Becca.'
Jack mencoba memahami perilaku Ben. Baginya wajar Ben bertingkah begitu. Dengan keberadaannya di samping Becca, tentu dia merasa sangat tersaingi.
Becca mendenguskan nafas, lalu segera membuka pintu mobil. Dia merasa tidak enak membiarkan dua orang terus menunggunya.
"Ayo!" ucap Becca, melangkah lebih dahulu menuju rumah Tara. Namun tidak untuk Ben dan Jack. Keduanya masih berada di tempatnya dan saling berhadapan.
"Apa kau mencintainya?" tanya Ben, perlahan mendongakkan kepala yang tadi sempat ditundukkan. Dia memandangi Jack dengan aura serius.
"Maksudmu... Becca?" Jack memastikan. Ben lantas menjawab dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Kau tidak perlu khawatir, aku..." Jack berpikir untuk sesaat, tetapi logika membuat tekadnya bulat. "Aku tidak mencintainya..." ungkapnya yang tentu saja hanyalah sebuah kalimat kebohongan.
Ben mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian berbalik badan dan bergegas menyusul Becca. Jack mencoba melangkahkan kakinya karena berniat hendak ikut juga, akan tetapi sebuah tangan mendadak mencegat kepergiannya. Dialah Mike, yang tampak berbaur dengan pakaian serba hitamnya.
"Mike? apa yang kau lakukan di sini?" Jack mengernyitkan kening heran. Dia sudah tertangkap basah oleh rekannya sendiri.
Mike memasang tatapan malasnya. Dia sudah curiga pada hubungan Jack dan Becca, semenjak pesta pebisnis Aaron terjadi.
"Aku tahu sekarang kau sedang menyukai--"
"Itu tidak seperti yang kau pikirkan."
"Jack, jangan menyelaku, kumohon coba--"
"Dengar, aku tahu apa maksudmu. Dan aku akan tegaskan kepadamu, bahwa aku tidak akan lupa diri. Apapun yang terjadi, tugasku adalah yang utama!" Jack menegaskan. Sempat terjadi debat dadakan di antaranya dan Mike.
"Okay... up to you, aku akan percaya kepadamu." Mike mengalah. Dia tahu betapa keras kepalanya seorang Jack. Bahkan dalam perihal jatuh cinta sekali pun.
...༻❀༺...
Becca sudah berada di rumah duka. Dia ikut membantu kerabat Tara untuk memberikan minuman kepada para pelayat yang berdatangan. Kepalanya terlihat terus ditekuk ke bawah. Tergambar jelas kesedihan di semburat wajahnya. Becca bahkan menghentikan langkahnya demi sekedar melirik ke lantai atas. Dia sangat ingin menengok kamar Tara sebentar.
"Pergilah..." ucap suara seorang wanita, yang tidak lain adalah Ellie. Dia mengusap lengan Becca dengan pelan. Tatapannya teduh namun dipenuhi oleh binar kerapuhan.
"Biar aku yang membawanya ke dapur," ujar Ellie lagi seraya merebut pelan nampan yang berisi gelas kotor di genggaman Becca.
"Terima kasih," balas Becca, lalu langsung berjalan menaiki anak tangga. Dia segera memasuki kamar pribadi Tara.
Becca mengedarkan pandangannya untuk mengamati tiap sudut kamar Tara. Hingga sebuah susunan figura yang ada di atas lemari kecil Tara menarik atensinya. Becca berderap mendekat dan melihat satu per satu foto yang terpajang.
__ADS_1
Sebagian besar figura berisi foto Tara dan keluarganya. Becca bisa memahami betapa sayangnya Tara terhadap keluarganya. Terutama kepada Ellie. Dia bahkan rela tidak kuliah, demi bisa terus menghabiskan waktu dengan keluarga.
Sebuah foto di ujung paling kanan, mencuri perhatian Becca. Karena foto tersebut, Becca kembali merengek. Air mata berlinang dipipinya lagi. Apalagi dalam foto tersebut Becca dan Tara terlihat bersenang-senang. Kenangan bahagia itu kembali terlintas dalam bayangan Becca. Semakin membuat hati Becca bertambah sedih.
Ilustrasi foto yang menarik perhatian Becca :
Seperti biasa, Tara sangat senang mencoret-coret barang pribadinya. Hal tersebut adalah kebiasaan yang tidak bisa dihilangkannya sejak dahulu.
Kalimat yang tertulis dalam foto, sedikit memberikan senyuman diwajah Becca. Meskipun cairan bening tak berhenti menetes di sudut matanya. Dia mengambil foto itu dan memandanginya sambil mendudukkan diri ke atas kasur.
Suara langkah kaki terdengar kian mendekat. Bunyi derap berhenti tepat di depan pintu. Sosok lelaki yang tidak lain adalah Ben segera menghampiri, dan duduk di samping Becca.
"Aku tahu kau di sini," kata Ben sembari menilik ke arah foto yang sedang dipegang oleh Becca.
"Aku ingat foto ini. Akulah yang menciptakan karya luar biasa ini," ungkap Ben percaya diri. Sepertinya dia tengah mencoba menghibur Becca. Ben tidak mau lagi melihat Becca terus-terusan menangis.
"Ya, seperti biasa. Kau selalu menghindar dari kamera, kami tahu itu." Becca membalas sambil menoleh ke arah Ben. Benar saja, tangisnya perlahan mulai mereda.
"Mungkin itu naluri seorang wartawan. Tidak heran aku sekarang bekerja sebagai pencari berita." Ben mengulurkan kedua tangannya dan tersenyum tipis. Hingga senyuman tersebut juga menular kepada Becca.
"Bukankah kau tidak menyukai pekerjaanmu?" tanya Becca. Dia tahu betul Ben selalu mengeluh mengenai pekerjaan yang dimilikinya. Becca juga sangat ingat kalau cita-cita Ben sejak kecil bukanlah menjadi wartawan, melainkan menjadi polisi atau detektif. Ben bahkan sudah tiga kali mendaftarkan dirinya untuk menjadi polisi, namun tiga kali itu juga dia harus gagal.
"Aku sedang mencoba menyukainya," jawab Ben asal. Tanpa membalas tatapan Becca. Dia jelas sedang berkilah, karena berusaha meyakinkan sahabatnya. Akan tetapi, Becca yang telah mengenalnya sejak kecil tentu mengetahui gelagat kebohongan yang ditunjukkan Ben.
"Kau berbohong. Aku tahu, kau masih berharap bisa menjadi seperti David, atau lebih dari itu..." tutur Becca. Tangannya mendadak memegangi jari-jemari Ben. Menyebabkan jantung Ben sontak berdegub kencang. Dia merasakan kelembutan dan kehangatan sekaligus di telapak tangannya.
"Be yourself Ben, aku tidak ingin kau sepertiku, yang tidak punya tujuan dan cita-cita dalam menjalani kehidupan..." Becca berkata lirih.
__ADS_1
"Pembohong, aku tahu sejak dahulu kau bermimpi menjadi programmer di kantor agen rahasia, atau di perusahaan sains di kota New York. Itu salah satu alasanmu kan memilih kuliah di sana?" Ben menyahut sambil mengangkat sebelah alisnya. Dia melakukan tatapan menyelidik.
"Lupakanlah, aku bahkan tidak ingin memikirkannya lagi." Becca menepis tegas. Dia bahkan memberitahu Ben untuk tidak membicarakan perihal itu lagi.