Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 52 - Salju Pertama Bersamamu


__ADS_3

Becca mengendarai mobilnya dengan santai. Menuju pusat kota, dan mengabaikan peringatan David. Jujur saja tidak ada ketakutan dalam dirinya. Gadis itu merasa kalau tanah kelahirannya selalu aman.


Pusat kota tampak sangat sepi. Meskipun begitu, Becca berusaha mendatangi beberapa tempat. Dia memasukkan lamaran kerjanya kemana-mana. Namun hingga sekarang tidak ada yang berjalan dengan baik. Karena sebagian besar perusahaan mencari karyawan dengan lulusan bachelor. Becca berusaha memahami hal itu. Dia sekarang menghentikan mobilnya di depan sebuah cafe yang sudah tutup. Becca cukup lama memandangi cafe tersebut.


'Seharusnya aku melihat sosok Tara tersenyum di sini,' batin Becca yang terpaksa harus menerima kembali duka dihatinya. Dia turun dari mobil, lalu berjalan memasuki toko bunga yang jaraknya hanya beberapa helat dari cafe.


"Musim gugur akan berakhir, aku rasa ini waktu yang tepat untuk memberikan buket bunga kepada Tara. Sebelum gumpalan salju menutupi tempat peristirahatannya," gumam Becca sambil memegangi beberapa bunga yang menarik perhatiannya.


Becca membeli bunga tulip berwarna putih kesukaan Tara. Dia juga menambahkan bunga forget me not sebagai makna kalau Becca tidak akan pernah melupakan Tara. Apapun yang terjadi, Tara tetap menjadi sahabat terbaiknya.


Selanjutnya Becca mengendarai mobilnya menuju area pemakaman. Lokasinya sendiri agak terpisah dari keramaian. Jalanan menuju tempat itu pun sepi, dan hanya berisikan pepohonan yang ada di pinggiran jalan.


Setelah memakan waktu sekitar lima belas menit, Becca pun sampai di pemakaman. Dia melangkah sambil memegangi satu buket bunga ditangan. Dari kejauhan dirinya dapat menyaksikan sosok tidak asing berdiri lebih dahulu di samping kuburan Tara. Dialah Ben, yang terlihat berpenampilan acak-acakan. Tidak seperti Ben biasanya, yang selalu rapih dan bersih.


"Ben?" panggil Becca meragu. Tetapi usahanya tersebut memang berhasil membuat Ben menoleh. Lelaki yang sedang mengenakan kemeja putih garis-garis itu merasa senang saat melihat kehadiran Becca.


"Becca..." lirih Ben yang tidak bisa menyimpan kegelisan diwajahnya. Jelas ada masalah yang sedang menimpanya sekarang.


Becca lantas tersenyum dan memposisikan diri berdiri di samping Ben. Dia memandangi gundukan tanah yang telah menjadi peristirahatan terakhir Tara. Kemudian meletakkan buket bunga yang sedari tadi ada dalam genggamannya ke dekat batu nisan.


"Baru sebentar, aku sudah merindukannya. Dia satu-satunya tempat aku bercerita. Sekarang aku tidak tahu apakah semuanya akan baik-baik saja tanpanya," ungkap Ben menunduk sendu.


"Aku juga..." sahut Becca lirih. "Tapi kenyataannya, tinggal kita berdua sekarang."


Ben hanya mengangguk-anggukkan kepala. Dia menatap Becca dengan sudut matanya. Cuaca pun tampak mendung seolah ikut mengusung kesedihan yang didera oleh dua insan tersebut.


Ben dan Becca sekarang duduk bersebelahan. Tepat di bawah pohon sycamore besar yang berada di pinggir area pemakaman. Tanah yang ditumbuhi pohon itu agak tinggi, dan seperti membentuk gunungan kecil penuh akan rumput.

__ADS_1


"Kau terlihat sangat berantakan hari ini? apa yang telah terjadi?" tanya Becca, memulai pembicaraan.


"Aku dipecat Becca. Sekarang aku tidak tahu harus apa." Ben mengangkat bahunya sekali seraya tersenyum singkat. Mencoba memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Huhh... pas sekali. Aku juga sekarang mencari pekerjaan," respon Becca, lalu menselonjorkan kakinya. Kedua tangannya menopang berat badannya di belakang punggung, menumpu kuat ke tanah. Gadis tersebut menatap langit yang terlihat semakin mendung.


"Sepetinya musim gugur akan berakhir..." kata Ben, yang ikut menatap ke arah langit.


"Ya, itulah alasanku mendatangi Tara," balas Becca pelan.


"Andai aku masih bekerja di perusahaan, kemungkinan aku bisa membantumu. Tetapi..." Ben tidak kuasa melanjutkan kalimat akhirnya. Dia menunjukkan mimik wajah seakan kecewa.


"Come on Ben, kau tidak perlu berpikir begitu. Harusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri!" Becca mengernyitkan kening. Heran dengan kepedulian Ben yang terkesan berlebihan terhadapnya.


Ben hanya tersenyum. Dia merasa senang Becca bisa bersikap seperti biasanya. Terutama setelah dirinya berhasil mengungkapkan perasaaannya.


"Andai aku jatuh cinta kepadamu, mungkin kita sudah bahagia sekarang," celetuk Becca asal.


"Kalau begitu, cobalah satu kali saja. Untuk jatuh cinta kepadaku..." Ben menyahut dengan perasaan penuh harap. Menyebabkan Becca segera mengangkat kepala menjauh dari pundak lelaki itu.


Becca mendengus kasar dan berkata, "Aku tidak tahu..."


"Becca, aku tidak ingin kau terlalu berpikir keras mengenai perasaanku. Apapun yang terjadi, aku tidak mau persahabatan kita menjadi berantakan," tutur Ben pelan.


"Kau terdengar bodoh Ben. Honestly!" cetus Becca sembari memutar bola matanya. "Karena kebanyakan lelaki, apalagi dengan sahabatnya sendiri, pasti akan menjauh jika tahu dirinya ditolak. Sedangkan kau? sebenarnya aku tidak tahu harus bagaimana."


"Whatever, aku tidak peduli." Ben menjawab dengan santai. Sebenarnya dari lubuk hatinya, tekadnya masih belum pudar. Dibalik keinginannya untuk menjadi sahabat yang baik, Ben sebenarnya sedang berjuang merebut hati Becca. Dia tidak akan menyerah. Walau dirinya harus menerima kenyataan kalau Becca sudah sepenuhnya menyukai Jack.

__ADS_1


Seperti yang dikatakan Becca, pilihan Ben memang terdengar bodoh. Seharusnya gadis tersebut menyadari dari awal, kalau Ben masih berharap kepadanya. Terus menjadi sahabat untuknya hanyalah kedok yang diciptakan Ben agar terus bisa bersama Becca.


Tanpa diduga butir-butir putih kecil berjatuhan dari atas langit. Membuat Becca maupun Ben segera menghentikan percakapan mereka. Tatapan keduanya terpaku pada salju pertama yang sedang turun ke tanah dengan gemulai.


"Sangat indah..." komentar Becca, terkagum. Dia membuka lebar telapak tangannya. Membiarkan beberapa butir salju mendarat di sana.


Ben hanya membisu dan mengerjapkan matanya kala memandangi Becca. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.


Lama-kelamaan salju yang tadinya turun dengan lambat, berubah menjadi lebat. Mengharuskan Becca dan Ben masuk ke mobilnya masing-masing, lalu bergegas untuk pulang.


Ben sengaja mengikuti mobil Becca. Sampai dia ikut berhenti di depan rumah gadis tersebut. Becca sontak keluar dari mobil dengan dahi yang berkerut.


"Kau tidak pulang?" timpal Becca heran.


"Sebenarnya, selain dipecat dari pekerjaan, aku juga sedang bertengkar hebat dengan ibuku. Bolehkah aku menginap malam ini. Aku hanya ingin--"


"Tentu saja boleh!" Becca langsung menyahut sebelum Ben selesai mengucapkan kalimatnya. Dia tampak yakin dengan persetujuannya. Lagi pula Becca tidak mau menjadi teman yang buruk. Jawaban Becca memunculkan lengkungan tipis dari mulut Ben.


Ceklek!


Becca masuk ke rumah berbarengan dengan Ben. Tanpa disangka, penampakan seorang Jack sudah menyambut kedatangannya. Jack terlihat berkumpul di ruang keluarga bersama Jonas dan Anna. Tunggu, suasana canggung macam apa ini?


Satu-satunya orang yang salah tingkah sekarang hanyalah Becca. Dia tampak tergesak-gesak menaiki anak tangga. Sedangkan Ben menggerakkan kakinya untuk ikut bergabung ke ruang keluarga. Dia saling bertukar tatapan dengan Jack.


"Hai Ben!" sapa Jack mencoba membuyarkan tatapan mengancam yang sedang dilayangkan Ben untuknya. Ben hanya membalas dengan senyuman singkat, kemudian ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan Jack.


Alasan Jack berada di rumah Becca sekarang, karena Anna. Gadis berusia enam belas tahun itu berhasil mempengaruhi Jack untuk ikut bersamanya.

__ADS_1


"Malam ini pasti akan seru!" Anna berseringai licik. Dia dan Jonas sudah merasakan adanya persaingan di antara Jack dan Ben. Meskipun Jack terkesan tidak peduli, akan tetapi Anna yakin kalau pengabaian Jack tidak akan bertahan lama.


__ADS_2