Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 28 - Penolakan Jack


__ADS_3

"Apapun itu, aku tidak bisa membantu!" Jack menjawab yakin.


"Apa?! aku bahkan belum mengatakannya!" Becca mengernyitkan kening gusar.


"Maaf Becca!" Jack bersikeras. Dia berusaha menutup pintu, namun Becca dengan sigap mencegahnya.


"Mana Jack yang orang-orang bilang baik? mana Jack yang orang-orang bilang ramah? apakah ini? atau itu memang bukan sifat aslimu!" tukas Becca menatap serius ke arah lelaki yang membatalkan niatnya untuk menutup pintu.


"Oke, kau mau minta bantuan apa. Jelaskan!" Jack melakukan pose menyilang tangan seperti biasa. Pintu kembali terbuka lebar.


"Begini." Becca menghela nafas panjang terlebih dahulu sebelum menerangkan. "Saat di cafe, Richy sempat mengambil foto kita sedang berciuman. dan--"


"Apa?!" Jack reflek memotong ucapan Becca karena dibuat begitu terkaget.


"Dengarkan dahulu!" tegas Becca sambil menunjukkan jari telunjuknya ke hadapan wajah Jack. "Dan masalahnya adalah, foto itu sekarang tersebar ke grup chat SMA-ku. Semua orang telah menganggap kita berpacaran." sambungnya.


"Langsung saja ke intinya!" sela Jack tidak sabar.


"Aku ingin kau pergi bersamaku ke prom reuni." Becca menatap penuh harap.


"Kau tinggal bilang saja kalau kita sudah putus. Sederhana, kenapa terus berbelit-belit. Bukankah kau sudah berusia di atas dua puluh tahun? kenapa kelakuanmu masih saja seperti remaja yang sedang mencari jati diri?!" balas Jack tak acuh.


"Apa kau bilang? kau sangat keterlaluan!" Becca merasa tersinggung dengan kelugasan dari ucapan Jack. "Aku melakukannya karena Richy! awalnya niatku hanya ingin menunjukkan bahwa aku baik-baik saja tanpa dirinya. Makanya aku tidak mau menjadi gadis yang menyedihkan lagi di hadapannya, tetapi setelah dia menyebarkan foto kita, sepertinya Richy punya maksud lain," tambahnya panjang lebar.


"Jadi semuanya hanya karena lelaki itu? harusnya kau tidak perlu mengurusnya secara berlebihan. Abaikan saja Becca, itulah saran terbaikku untukmu!" ujar Jack santai, kemudian lekas-lekas menutup pintu di saat Becca lengah.


Bruk!


Pintu tertutup dengan keras. Hingga menyebabkan Becca sontak terperanjat. Rambutnya sempat beterbangan dalam sesaat, karena hempasan pintu yang cukup kuat. Becca hanya reflek memejamkan mata. Pada akhirnya dia pun berjalan menuju rumahnya.


Becca melangkah sambil menatap pergerakan kakinya. Dia menunduk sendu.


"Hello troublemaker!" pekik Tara yang baru saja keluar dari mobil Ben. Atensinya jelas tertuju kepada Becca yang menunjukkan semburat kekecewaan diwajahnya.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Ben yang sudah memposisikan dirinya berada di sebelah Tara.

__ADS_1


"Tentu saja tidak!" Becca mengulurkan kedua tangan heran. Dia terus berjalan mendekati kedua sahabatnya.


"Ben, kenapa kau bertanya? bukankah sudah jelas Becca sedang kesal?!" Tara menyenggol Ben dengan sikunya. Dia mengukir raut wajah sinis.


"Kau baru saja menemui Jack?" sekarang Tara berbicara kepada Becca.


"Iya, tetapi tidak berjalan dengan baik." Becca mendengus kasar.


"Memangnya mau apa? jangan bilang kau berusaha mengajaknya untuk terus melakukan kebohongan?" tebak Tara sambil membulatkan matanya.


"Ayo kita bicarakan di rumah. Aku sudah agak kedinginan berada di luar!" ujar Becca sambil berjalan lebih dahulu memasuki rumahnya.


Becca, Tara dan Ben duduk bersama di sofa. Mereka menikmati beberapa cemilan dan soda yang baru saja di beli Becca dari super market. Ketiganya saling bercerita mengenai kelakuan Richy terhadap Becca. Sebagai sahabat yang baik, Tara dan Ben tentu selalu berada di sisi Becca. Mereka juga ikut merasakan kekesalan yang sama.


"Aku sangat ingin menonjok wajah Richy sekarang!" ungkap Ben sembari mengepalkan tinju di salah satu tangannya.


"Benar! mungkin itulah yang harus kau lakukan untuk membalasnya!" Tara ikut menimpali.


Sedangkan Becca hanya terdiam. Dia terlalu fokus menatap ponsel yang baru saja dinyalakannya kembali. Gadis itu menerima banyak sekali pesan masuk. Suara getar terdengar begitu panjang, seakan tidak ada habisnya.


"Kau benar! mereka semua mendesakku untuk datang!" sahut Becca dengan dahi berkerut. Dia masih sibuk dengan layar ponselnya.


"Wajar saja, kau dulu lumayan populer di sekolah. Kau bahkan tidak pernah muncul ke acara reuni yang diadakan. Semua orang tentu penasaran dengan keadaanmu, apalagi kesan yang kau tunjukkan sebelum lulus adalah..." Tara tak mampu melanjutkan kalimatnya. Ben yang menyadari Tara sudah keceplosan, segera melakukan tatapan tajam untuk memperingatkan. Namun Becca sudah terlanjur mendengarkan, dia menatap ke arah kedua sahabatnya yang terlihat bertingkah mencurigakan.


"Apa?! memangnya bagaimana diriku sebelum lulus?" Becca bertanya serius.


"Emm... bukan apa-apa Becca." Tara menggeleng enggan, dan melakukan penolakan secara halus.


"Say it!" desak Becca bersikeras.


"Kau tidak perlu memikirkannya. Lagi pula ini bukan hal penting," Ben mencoba meyakinkan.


"Penting, jika ini berhubungan dengan anggapan semua orang terhadapku!" Becca tetap memaksa.


"Oke, aku akan memberitahumu. Dan berjanjilah untuk tidak marah!" balas Tara seraya sedikit mencondongkan badannya ke arah Becca.

__ADS_1


"Baiklah!" Becca mengangguk yakin dan segera memasang pendengarannya baik-baik.


Tara akhirnya menceritakan sesuatu hal yang tidak pernah Becca sadari. Dia memberitahu bahwa sikap Becca berubah drastis setelah kematian ibunya. Becca yang awalnya selalu baik dan berhati-hati, berubah menjadi menyebalkan. Dia menjadi gadis pembangkang yang tak mau mendengarkan. Entah sudah berapa banyak masalah yang dibuatnya ketika berada di kelas senior. Pastinya apa yang dilakukan Becca, sangat berdampak terhadap reputasinya.


"Saat itu kau bahkan jarang bergaul denganku dan Ben. Kau seolah menjaga jarak dari semua orang!" Tara berterus terang.


"Benarkah? aku tidak pernah merasa kalau aku menjauh!" Becca menampik tegas. Pada akhirnya dirinya terbawa suasana, dan sedikit marah.


"Aku bilang jangan marah!" Tara mengingatkan. Hingga Becca seketika terdiam seribu bahasa.


"Sudahlah. Lagi pula aku paham dengan sikapmu itu, semua orang punya cara tersendiri untuk menghadapi rasa kehilangan yang dirasakan. Mungkin begitulah caramu. Yang terpenting kau sudah membaik sekarang." Ben menatap teduh tepat ke manik cokelat milik Becca.


"Itu benar... toh tidak ada yang bisa kita lakukan terhadap masa lalu selain memperbaikinya. Dan kau sudah melakukannya dengan baik Becca..." Tara ikut mencoba menenangkan.


"Mungkinkah karena sikapku itu, Richy memilih memutuskan hubungannya denganku?" Becca merenung. Menjelajah memori tentang dirinya ketika sudah kehilangan Sarah.


"Masalah Richy, dia memang berengsek, kau tidak perlu merasa bersalah dengannya!" timpal Ben, berharap ucapannya mampu memberikan semangat untuk Becca.


"Benar!" Tara menyetujui perkataan Ben. Dia terdiam sejenak, karena ingin mengatakan sesuatu hal yang selama ini selalu disembunyikannya dari Becca. "Aku sebenarnya tidak mau mengatakan ini, tetapi sebelum kau putus dengan Richy... aku sempat melihat Richy bermesraan dengan seorang gadis. Maafkan aku Becca, karena baru bisa memberitahumu sekarang..." tambahnya yang di akhiri dengan nada lirih.


"Benarkah?" Becca mendongakkan kepala untuk menatap Tara. Dia memastikan keseriusan di mimik wajah yang ditunjukkan sahabatnya. Tara pun merespon dengan anggukan kepala.


"Kenapa kau tidak katakan dari dulu?" tanya Becca.


"Karena aku tidak mau membuatmu semakin sedih. Toh saat itu, kau masih terus menjauhiku. Makanya aku berusaha keras mendekat dan menghiburmu pada hari kelulusan." Tara menjelaskan pelan.


"Maafkan aku... sepertinya aku tidak menyadari perubahan yang terjadi pada diriku." Becca merasa bersalah.


"Sudah cukup dengan perasaan tidak nyamanmu Becca. Lebih baik kita lakukan sesuatu terhadap Richy!" Ben sengaja mengubah topik, agar Becca tidak terlalu meratapi masa lalunya.


"Aku tidak mengerti Richy menyebarkan foto itu ke semua orang," gumam Becca sambil menggeleng heran.


"Entahlah, yang paling aku inginkan sekarang adalah melemparkan telur ke jendela kamarnya," ucap Ben sembari mengukir senyuman jahat yang sangat jarang ditampakkannya. Tara yang mendengar ikut mematri senyuman sama persis. Namun tidak untuk Becca.


"Tidak! yang aku inginkan untuk membalasnya adalah, bahwa aku baik-baik saja, bahkan lebih bahagia dari yang dia kira. Itulah yang membuatnya akan kalah telak!" imbuh Becca penuh tekad.

__ADS_1


__ADS_2