
Becca segera mematikan gawai-nya. Dia tahu, cepat atau lambat ponselnya akan mendapat pesan dan telepon bertubi-tubi dari teman-temannya. Setidaknya Becca ingin menyelamatkan diri dari orang-orang yang tinggal di Eden Street.
Meskipun dirundung perasaan kesal, Becca tetap melanjutkan niatnya untuk pergi ke super market. Dia perlahan memarkirkan mobilnya, kemudian masuk ke dalam super market sambil membawa troli yang sudah tersedia.
Becca mengambil bahan-bahan kebutuhan dengan raut wajah cemberut. Gadis itu menyusuri bagian tempat produk makanan yang tersusun rapi di kiri dan kanannya.
'Richy benar-benar menyebalkan! segitu bencinya dia kepadaku? itu namanya bukan kebencian, tetapi kejahatan!' gerutu Becca dalam hatinya. Dia terus menjalankan trolinya sambil mengambil dua hingga tiga kotak sereal.
Dahi Becca mengerut tatkala trolinya tak bisa dijalankan, karena sebuah benda berhasil menghalangi. Dia lantas memeriksa benda tersebut. Pupil matanya membesar ketika menemukan sebuah dompet hitam tergeletak di lantai. Becca langsung mengambilnya tanpa harus berpikir panjang. Dia berniat menyerahkan dompetnya kepada pihak super market, yang mungkin saja dapat membantu.
Pletak!
Dompet tiba-tiba terjatuh, karena siku Becca tidak sengaja terhantam pegangan troli. Dompet itu pun kembali bertemu lantai. Namun kali ini tergeletak dalam keadaan terbuka. Sehingga nama pemilik dompet tersebut terlihat jelas di mata Becca.
"Jack Robinson?" Becca mengernyitkan kening seraya mengambil kembali dompet yang ternyata milik Jack. Dia sekarang mengedarkan pandangannya ke berbagai arah. Sebab mungkin saja dia akan menemukan keberadaan Jack.
"Ah! sudahlah. Aku bisa mengembalikannya saat sudah pulang ke rumah!" gumam Becca seraya melangkahkan kakinya untuk maju.
Tanpa diduga, Jack muncul dari arah depan. Mata lelaki berbadan jangkung itu tampak membola saat menyaksikan kehadiran Becca. Setelahnya dia langsung berusaha berbalik badan, seolah ingin menghindari Becca.
"Jack!" panggil Becca, hingga membuat Jack terpaksa menghentikan langkahnya.
Melihat Jack berhenti, Becca pun bergegas menghampirinya. "Jack, aku mau--"
"Becca? apa itu kau?" suara seorang perempuan dari arah belakang menegur. Membuat atensi Becca dan Jack sontak teralih kepadanya. Ternyata perempuan tersebut adalan Emily, teman seangkatan Becca saat SMA. Emily sendiri adalah gadis populer yang cantik dan angkuh. Dia selalu pensaran dengan kehidupan pribadi orang lain. Makanya ia sangat tertarik melihat kehadiran Becca saat ada di hadapan matanya. Apalagi dengan kehadiran Jack yang kebetulan berdiri di samping Becca.
"Emily..." Becca menatap malas. Jujur, hal yang paling dia inginkan sekarang adalah melarikan diri sejauh mungkin. Namun tidak bisa, karena harga dirinya pasti akan jatuh. Alhasil Becca berusaha menghadapi Emily yang sedang berjalan semakin mendekat.
"Kau memilih berkencan di super market ya? menarik sekali," bola mata Emily perlahan melirik ke arah Jack. Dia sudah berdiri di depan Becca dan Jack.
"Begitulah..." respon Becca, yang tentu membuat Jack langsung melotot tajam ke arahnya.
__ADS_1
"Menghabiskan waktu di super market memang sedang tren sekarang." Emily merespon dengan malas. "Kau tidak akan mengenalkanku dengan pacarmu?" lanjut-nya sambil sesekali menatap Jack.
"Iya benar, kenalkan Emily ini Jack. Dan Jack dia--" Becca tidak mampu meneruskan kalimatnya, karena Jack beranjak pergi begitu saja. Hal tersebut tentu menyebabkan dahi Emily berkerut bingung.
'Sial, aku tidak bisa terus menyetujui kebohongan Becca. Semuanya menjadi berlebihan. Apa gadis itu tidak tahu malu?' gerutu Jack dalam hati, sembari berderap pergi meninggalkan Becca.
"Apa dia marah kepadamu?" tanya Emily menebak dengan nada ragu.
"Sepertinya begitu. Ya sudah, aku harus pergi, bye!" ujar Becca yang sepenuhnya merasa panik. Dia mencoba pergi meninggalkan Emily sambil mendorong troli-nya dengan sekuat tenaga.
"Becca! tunggu!" panggilan Emily mengharuskan Becca untuk menghentikan jalannya. Dia pun menoleh ke arah Emily.
"Ada apa lagi Em?" tanya Becca dengan senyuman singkat.
"Minggu depan ada acara prom reuni angkatan kita. Kali ini kau akan datang kan?" ujar Emily bersemangat. Tetapi Becca hanya terdiam dan mengedipkan matanya beberapa kali.
"Kau sudah beberapa kali melewatkan momen itu! apa kau tahu? semua orang mengira kau melakukannya karena masih belum bisa melupakan Richy!" ucap Emily lagi.
"Kalau begitu datanglah. Ajaklah Jack untuk ikut, oke?" Emily menepuk pundak Becca pelan. Kemudian segera menyibukkan dirinya dengan cara memilah-milih barang yang ingin dibelinya.
Becca terdiam sejenak. Dia akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengembalikan dompet Jack. Perlahan dompet itu dimasukkannya ke saku celana. 'Mungkin aku bisa menjadikan dompet ini untuk meminta bantuan Jack!' batinnya seraya tersenyum miring.
Becca menghentikan langkahnya saat sudah berada di hadapan meja kasir. Tepatnya di belakang Jack yang tengah sibuk meraba-raba tiap bagian saku pakaiannya.
"Kau kenapa Jack?" tanya Becca berlagak tidak tahu. Padahal dompet Jack jelas sedang berada dalam saku celananya. Tertutupi dengan hodienya yang panjang hampir menutupi seluruh bokongnya.
Jack yang masih kesal pada Becca membisu. Raut wajahnya bahkan merengut. Namun tatapan sinis seorang kasir di depannya agak membuatnya risih dan terdesak.
"Kau akan beli atau tidak?" timpal sang kasir dengan ekspresi datarnya.
"Tunggu!" Jack masih sibuk mencari dompet di setiap jengkal tubuhnya. Dia tidak tahu antrian di belakangnya semakin panjang.
__ADS_1
Becca akhirnya maju dan membayar semua belanjaan Jack. Dia sengaja tidak mengembalikan dompet Jack karena suatu alasan yang berkaitan dengan rencananya.
"Aku akan membayar belanjaannya!" ujar Becca percaya diri sembari memberikan beberapa lembar dollar kepada kasir.
"Aku tidak akan menerimanya, jika kau memiliki maksud tertentu untuk melakukan ini." Jack kembali melayangkan tatapan tajam. Namun Becca sama sekali tidak hirau, dan malah asyik menyerahkan barang-barang belanjaannya ke meja kasir. Alhasil Jack hanya bisa memutar bola mata jengah, lalu beranjak pergi.
"Begitukah caramu berterima kasih?" tegur Becca, tetapi tidak berhasil menghentikan langkah kaki Jack.
Setelah melakukan pembayaran, Becca bergegas keluar dari super market. Kepalanya celingak-celingukan ke berbagai arah. Dia mencari-cari Jack. Nihil, Becca tidak menemukan keberadaannya. Mungkin Jack sudah pulang lebih dahulu.
Becca sekarang ada di dalam mobil. Dia sedang memeriksa isi dompet milik Jack. Anehnya Becca hanya menemukan sebuah kartu tanda pengenal dan juga kartu kredit di dalam dompetnya. Sedangkan uang tunai yang terdapat di dalamnya hanya sekitar $100.
"Hanya ini? tidak bisa dipercaya! Jack ternyata lebih menderita dari yang aku kira. Dia pasti kesulitan mencari uang," gumam Becca. Dia mendadak berempati kepada Jack. "Mungkinkah alasan dia tinggal sendirian karena kabur dari rumah?" lanjutnya dengan segala praduga.
"Ugh!" Becca menepuk jidatnya sendiri. "Kenapa aku terlalu memikirkannya!" ucapnya lagi sambil menyalakan mesin mobil.
Atensi Becca kala itu teralihkan kepada Emily yang sedang sibuk berbincang dengan kedua temannya. Becca yang tidak ingin lagi tertangkap basah bergegas menjalankan mobil.
Setibanya di rumah, bukannya langsung pulang Becca malah berderap menuju rumah Jack. Sebab penampakan mobil cadillac yang terparkir di depan kediaman Jack, menandakan kalau sang pemilik telah pulang.
Becca menekan bel beberapakali. Dia juga sesekali mengetuk pintu untuk mendesak Jack keluar.
Ceklek!
Jack membuka pintu. Dia menyambut kedatangan Becca dengan mimik wajah cemberut.
"Kau kenapa?!" Becca bertanya sambil mengangkat dagunya sekali.
"Bukankah aku yang harus bertanya begitu?" Jack menyilangkan tangan di dada. "Hentikan Becca, kau sudah berlebihan! kenapa kau terus membuatku terlibat?" tambahnya dengan tatapan seolah mengancam.
"Aku butuh bantuanmu!" sahut Becca.
__ADS_1
*to be continued...