Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 31 - Bodyguard?


__ADS_3

Becca sekarang sudah berada tepat di hadapan bagasi mobil Jack. Benda itu terus bergerak-gerak tidak karuan. Jantungnya mulai merasa tidak tenang. Meskipun begitu, Becca tetap memberanikan diri, kalau-kalau sesuatu dalam bagasi tersebut adalah manusia. Jika benar, maka dia mungkin bisa membantu.


"Halo?" ucap Becca, berharap mendapatkan respon.


"Hei! aku di sini!" perempuan yang ada dalam bagasi menyahut.


"Tunggu, aku akan--"


"Apa yang sedang kau lakukan?!" Jack tiba-tiba keluar dari rumah. Ia langsung berjalan menghampiri. Becca sontak terkaget dengan kemunculannya.


"Bukankah aku yang harus bertanya begitu? apa yang kau lakukan dengan seorang perempuan di dalam bagasi?!" timpal Becca sembari menjaga jarak. Akan tetapi Jack malah berusaha mendekatinya. Sorot mata Jack sangat tajam dan sedikit membuat nyali Becca menjadi ciut.


"Berhenti!!" Becca mencoba sebisa mungkin menjauh dari Jack. Semuanya demi keselamatan dirinya sendiri. "Aku akan menelepon polisi!" ancamnya yang sudah menggenggam ponsel di salah satu tangannya.


"Hei! bisakah kalian keluarkan aku dahulu?! Jack?!!" perempuan dalam bagasi melakukan protes, karena sedari tadi ia belum ditolong juga.


Jack menghela nafas panjang, kemudian segera membuka bagasi mobilnya. Tampaklah Anna yang langsung malayangkan pelototan untuk Jack.


"Anna?" Becca mengerutkan dahi keheranan.


"Apa yang kau lakukan Jack! kau sungguh gila!" Anna mendorong Jack dengan kasar.


"Hei! ada apa ini? apa masalahnya?!" pekik Becca, menuntut jawaban pada dua orang di hadapannya.


"Mungkin kita harus memberitahu yang sebenarnya Jack. Sepertinya kau dan Becca ditakdirkan bersama," ujar Anna menatap Jack dengan ujung matanya. Namun Jack hanya membisu sambil menekan jidatnya sendiri.


"Oke, aku akan menganggap kau setuju." Anna memutuskan sendiri tanpa harus menunggu persetujuan dari Jack. Dia sekarang mengalihkan pandangannya ke arah Becca dan berucap, "Dia bisa dibilang semacam bodyguard-ku, Becca!"


"A-apa?" Becca masih kebingungan. Dia sepenuhnya tidak mampu mencerna pernyataan Anna.


Jack terlihat diam saja seraya menyilangkan tangan di dada. Matanya menatap manik hazel milik Becca yang tampak membesar.


"Anna benar, jadi..." Jack menjeda ucapannya untuk berjalan mendekati Becca. Dia perlahan mendekatkan mulut ke telinga Becca dan berbisik, "Jadi diamlah, dan bersikaplah seolah tidak tahu."

__ADS_1


Becca membeku. Setelah mendengar pengakuan Jack, dia sekarang percaya bahwa apa yang dikatakan Anna memanglah benar.


"Apa kau bercanda? kalian mau berciuman tepat di hadapanku? Jack, ternyata kau tidak ada bedanya denganku!" timpal Anna yang merasa dirinya diabaikan.


"Hentikan Anna! apa hukumanmu tadi masih belum cukup? kapan kau akan sadar?!" balas Jack yang sudah tidak kuasa menahan emosinya lagi.


Anna hanya memanyunkan bibirnya saat mendengar ungkapan Jack. Setelahnya bola matanya beralih menatap Becca.


"Becca, pekerjaan Jack di sini tidak hanya menjadi bodyguard, tetapi juga--"


"Aku akan mengantarmu pulang sekarang!" ucap Jack sambil menutup rapat mulut Anna. Kemudian menyeretnya untuk masuk ke dalam mobil.


"Kau juga pulanglah!" suruh Jack kepada Becca. Dia dan Anna segera beranjak pergi dengan mobil.


Becca mendengus kasar. Kakinya melangkah menuju kediamannya. Jelas sudah asal-usul Jack dimata Becca. Sekarang dia paham gelagat aneh yang selama ini ditunjukkan oleh Jack.


Panggilan telepon menyadarkan Becca dari renungannya. Dia langsung mengangkat panggilan dari Tara tersebut.


"Tadi pagi aku bertemu dengan Jack. Dan kau mau tahu hal mengejutkan yang lain? Richy mengajak Jack bicara!" Tara memberitahu dari seberang telepon.


Becca membulatkan mata. Telinganya terbuka lebar untuk terus mendengarkan penjelasan dari Tara. Entah kenapa hatinya serasa berdebar. Pikiran Becca mulai berlarian kemana-mana. Apalagi saat Tara mengatakan kalau Jack dan Richy tampak berbicara sangat serius.


"Menurutmu mereka membicarakan apa?" tanya Tara. Namun Becca hanya terdiam. Benaknya terlena untuk menerka-nerka.


"Becca!" panggil Tara dengan nada tinggi. Becca lantas tersadar. Dia pada akhirnya merespon dengan gelagapan.


"Maaf Tara. Aku tiba-tiba memikirkan hal lain." Becca menjelaskan.


"Ya, seperti mengira Richy masih menyukaimu kan?"


"Tidak! aku tidak..." Becca kebingungan bagaimana caranya untuk membantah.


"Oke." Tara berusaha mengabaikan. "Jadi, kau akan pergi ke acara prom reuni?" lanjutnya.

__ADS_1


"Iya, Jack setuju untuk ikut!" Becca tanpa sengaja mengukir senyuman puas.


"Really?" Tara kembali mengagumi sosok Jack. "He so sweet, aku tahu sejak awal dia lelaki yang baik," sambungnya merasa ikut senang.


"Iya, aku juga tak menyangka," balas Becca. Tara pun mengangguk pelan meski tidak bicara secara berhadapan dengan Becca. Pembicaraan mereka berakhir disitu. Becca melanjutkan aktifitasnya dengan cara membersihkan diri di kamar mandi.


Di sisi lain Jack masih dalam perjalanan mengantar Anna pulang. Keduanya sama sekali tidak bicara setelah pergi meninggalkan Becca. Hanya ada suara gemercik hujan yang menghantam mobil cadillac Jack.


"Kau menyukai Becca?" Anna akhirnya bersuara. Dia penasaran dengan hubungan Jack dan Becca.


"Tidak!" sahut Jack singkat.


"Tapi dia berhasil membuatmu tersenyum. Aku bisa melihatnya saat kejadian di lampu merah tadi," tutur Anna. Dia mengingat kejadian ketika Jack menghentikan mobil karena lampu merah. Kala itu Anna sebenarnya merebahkan diri di kursi belakang. Dia memergoki Jack tersenyum sendiri setelah menengok mobil yang ada di sebelahnya. Akibat penasaran, Anna pun mencari tahu siapa orang yang telah berhasil membuat Jack tersenyum. Hingga siluet tidak asing dari mobil sebelah memunculkan kesimpulan bahwa orang tersebut adalah Becca.


"Tentu saja aku tersenyum. Gadis pembuat masalah itu berlagak seperti orang gila," bantah Jack seraya fokus menghentikan mobil secara perlahan. Dia sudah tiba di depan rumah Anna.


"Ya, aku tahu. Tetapi setidaknya dia telah berhasil membuat orang sepertimu tersenyum." Anna melakukan tatapan menyelidik.


"Masuklah!" balas Jack tak acuh.


"Sebenarnya aku tahu mengenai fotomu dan Becca sedang..." Anna melanjutkan penuturannya melalui bahasa isyarat. Dia memegangi area bibirnya dengan jari telunjuk.


"Itu tidak seperti yang kau pikirkan." Jack menyalang tegas ke arah Anna.


"Aku tahu. Tapi menurutku, kalian sangat cocok!"


"Jadi kau akan turun atau tidak?!" tukas Jack, tidak mau peduli dengan pernyataan gadis remaja di sebelahnya. Alhasil Anna pun bergegas keluar dari mobil dengan ekspresi merengut.


Jack memejamkan mata sejenak untuk menenangkan diri. Dia sangat kesal, karena sedikit identitasnya sudah diketahui oleh Becca. Padahal dirinya sudah berusaha berbaur sebisa mungkin agar tidak terlalu kentara. Tetapi ketika di hadapan Becca, rasanya Jack selalu tidak mampu menahan kesabarannya. Gadis itu satu-satunya orang yang paling sering berkeliaran di sekitarnya.


Ketika di Grand Isle pun begitu. Jack tidak pernah menyangka akan bertemu Becca di saat ia harus melakukan tugas penting. Jack bahkan sempat mengira Becca adalah seorang mata-mata yang sedang mengintainya. Namun ketika menyaksikan kelakuan Becca dan raut wajahnya yang terkesan alami. Jack menepis jauh pikirannya yang berlebihan.


'Bagaimana bisa aku menganggap gadis seperti Becca sebagai mata-mata.' Jack menggeleng sambil memegangi kepala.

__ADS_1


__ADS_2