
Becca cukup lama menangis, dan membuat Jack tidak tahan lagi untuk menunggu. Jack lantas menitipkan pakaian yang dibelinya kepada seorang anak lelaki. Lagi pula dia juga tidak ingin menampakkan kepedulian yang terlalu kentara. Dengan memberikan imbalan berupa uang, si anak kecil bernama Paul tersebut langsung setuju untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh Jack.
Paul sekarang berlari menuju ke arah Becca. Sedangkan Jack mengamati dari kejauhan. Sebelum pergi ia ingin memastikan kejujuran dari Paul. Anak kecil berbadan berisi itu menyentuh pelan pundak Becca dengan jari telunjuknya.
Becca menghentikan tangisnya. Dia perlahan mendongakkan kepala, dan segera menoleh kepada orang yang telah memanggilnya dengan bahasa isyarat tubuh. Jujur saja, wajahnya masih sedikit kotor akibat percikan lumpur, bahkan mungkin sudah terkontaminasi dengan air matanya. Namun sepertinya Becca tidak mempedulikannya. Dia tetap menatap santai ke arah Paul tanpa malu sedikit pun.
Paul yang melihatnya hanya terkesiap. Matanya melebar untuk sesaat. Kemudian barulah ia menyerahkan plastik berisi pakaian kepada Becca.
"Ini untukmu!" ujar Paul, yang tentu langsung membuat dahi Becca berkerut.
"Apa ini?" tanya Becca terheran.
"Ambil saja!" Paul tidak ingin menjelaskan panjang lebar. Lagi pula dia tidak mau mengucapkan kalimat yang mengharuskannya untuk berbohong lebih jauh. Setelah memastikan plastik sudah berada di tangan Becca, Paul pun segera beranjak pergi.
Becca masih dirundung perasaan bingung, dan mencoba menengok isi dari plastik yang diberikan Paul. 'Mungkin saja dia bermaksud mengerjaiku kan?' perasaan paranoid Becca kembali muncul. Dia hanya mencoba berhati-hati dengan orang asing yang mendatanginya, meski itu adalah seorang anak kecil seperti Paul.
Sebelum membuka plastiknya, Becca terlebih dahulu menjauhkannya. Dia sengaja meletakkan plastik tersebut ke tanah, lalu mengambil ranting pohon yang lumayan panjang. Tangannya menutup hidungnya rapat-rapat. 'Bisa saja isinya adalah kotoran!' batin Becca sembari berusaha membuka kantong plastik dengan ranting pohon yang dipegangnya.
Jack yang masih mengamati dari jauh sontak menggeleng tak percaya. "Sangat berlebihan, tapi lucu juga," komentar Jack. Menurutnya, Becca sudah kembali lagi menjadi dirinya sendiri, Jack pun bisa pergi dengan tenang.
"Pakaian?" tebak Becca setelah melihat sejenis kain di dalam kantong plastik.
__ADS_1
Karena merasa sudah aman dengan isinya, dia pun bergegas meraih plastik yang tadi ditakutinya. Becca tersenyum tatkala melihat pakaian baru untuknya. Selanjutnya gadis itu mengedarkan penglihatannya ke sekitar, berharap bisa menemukan Paul. Namun ia tidak menemukan siapapun.
"Sudahlah! lebih baik aku membersihkan diri dahulu, kemudian lekas-lekas mencari Jonas. Arrrgghh! ini semua gara-gara anak itu, awas saja!" gumam Becca yang disertai amarahnya untuk Jonas.
Ketika sudah berada di toilet. Becca segera membersihkan wajahnya terlebih dahulu. Lalu berlanjut ke beberapa titik tubuhnya yang terkena lumpur. Dia sebenarnya berusaha membersihkan dressnya yang kotor. Akan tetapi tidak semudah yang dia kira. Alhasil Becca mengenakan pakaian yang diberikan Paul untuknya. Atau lebih tepatnya pakaian yang diberikan oleh Jack.
"Are you kidding me? setelan koboi?" Becca terperangah saat melihat tampilan dirinya sendiri di pantulan cermin. Pakaian yang dikenakannya sebenarnya lebih tepat dikenakan saat hari Halloween tiba. Dia hanya kekurangan topi khas koboi sebagai pelengkap. Becca hanya bisa berdecak kesal. Apalagi motif celana yang dikenakannya tampak seperti warna kulit sapi perah. Jika dia bersembunyi di antara sekumpulan sapi, mungkin dia dapat berbaur dengan mudah.
"Huhh! setidaknya ini lebih baik dari pada dress yang dipenuhi lumpur. Its okay!" Becca mencoba berpikir positif. Entah kenapa pakaian yang sekarang dikenakannya berhasil membuat mood-nya sedikit membaik.
"Wanita itu baik sekali. Harusnya aku meminta nomor ponselnya tadi..." gumam Becca, mengira kalau wanita berambut pirang tadi kembali membantunya dengan memberikan pakaian.
Becca menengok jam yang tertera di ponselnya. Sekarang waktu tengah menunjukkan jam 06.30 pm. Ia berdiri di depan bangunan dimana konser akan dilaksanakan.
"Jika dia ingin melihat konser, pasti akan lewat pintu depan!" ucap Becca kepada dirinya sendiri sembari menyilangkan tangan di depan dada.
Setelah lumayan lama menunggu. Dari jauh Becca dapat menyaksikan kehadiran Jonas. Dia terheran saat melihatnya. Sebab adik lelakinya itu sedang tidak sendirian. Ada seorang gadis yang menemaninya. Dan Becca merasa tidak asing dengan wajah gadis tersebut.
'Sepertinya aku pernah melihatnya...' pikir Becca seraya mengarahkan bola matanya ke kanan atas. Pertanda ia sedang berpikir dengan otak kanannya. Dia mencoba mengingat pengalaman-pengalaman yang telah dilaluinya. Hingga kejadian di malam Ben hampir menabrak seorang gadis remaja pun teringat. Becca sangat yakin kalau orang yang bersama Jonas sekarang adalah gadis itu. Dia bergegas berjalan menghampiri Jonas, namun sebuah tangan mencegahnya.
"Kesalahan besar, kalau kau menghampirinya sekarang. Mungkin dia akan kabur saat melihatmu!" ternyata orang yang mencegah Becca adalah Jack. Entah sejak kapan dia memposisikan dirinya berada di belakang Becca.
__ADS_1
"Jack?" mata Becca melebar saat menyaksikan Jack tiba-tiba hadir di belakangnya.
"Ayo kita bersembunyi, dan tunggu sampai Jonas mendekat!" ujar Jack. Becca pun terpaksa menuruti sarannya. Toh apa yang dikatakan Jack memanglah benar. Mungkin saja Jonas akan kabur jika melihat keberadaan sang kakak.
Jack dan Becca sekarang berlindung di balik tiang bangunan. Di sana mereka terus memperhatikan Jonas dari jauh. Keduanya sama-sama sedang berdiri, menyender ke tiang yang sama. Mereka juga tidak sengaja menyaksikan Jonas berpelukan dengan gadis yang tengah bersamanya.
"Apa mereka berpacaran?" tanya Jack yang tengah menatap serius ke arah Jonas.
"Entahlah. Baru kali ini aku melihat Jonas didekati oleh seorang perempuan!" jawab Becca seraya menggerakkan sebelah kakinya.
"Ngomong-ngomong, pakaianmu sangat bagus Nona Green!" sarkas Jack tanpa melihat ke lawan bicaranya.
"Thanks." Becca menyahut singkat. Dia sebenarnya sangat paham ejekan yang tersembunyi dibalik sebuah pujian. Seperti yang dilakukan Jack sekarang.
Jonas semakin mendekat. Becca dan Jack sudah memasang kuda-kuda untuk bersiap memergoki. Setelah merasa menemukan waktu yang tepat, Becca akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya. Hal yang sama juga dilakukan Jack.
Gadis yang bersama Jonas lebih dahulu menyadari keberadaan Becca. Dia tampak terkejut ketika melihat Jack. "Jonas! Run!" titahnya sambil berusaha berlari. Namun terlambat sudah usahanya. Tangan Jack berhasil mencegah pelariannya. Alhasil Jonas ikut berhenti dan langsung mendapat hukuman dari Becca.
"Dasar popok bayi!!" geram Becca sambil melingkarkan tangannya ke leher Jonas. Kemarahannya sudah bisa terlampiaskan sepenuhnya.
"Jangan mengejekku dengan nama itu lagi!" sahut Jonas yang tiba-tiba merasa ikut kesal. Dia berusaha melakukan perlawanan terhadap sang kakak. Keduanya asyik bertengkar satu sama lain. Hingga mereka tidak menyadari bahwa Jack dan gadis yang tadinya bersama Jonas sudah menghilang.
__ADS_1