Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 19 - Meneruskan Kebohongan


__ADS_3

Langkah Becca sekarang hanya tertuju kepada bangunan besar yang berada di tengah taman bermain. Tempat itu adalah lokasi dimana konser akan dilaksanakan. Namun ketika sudah tiba di sana, ia malah mendapat kabar bahwa konser akan di mulai jam tujuh malam. Tepat dua jam lagi dari sekarang.


'Lalu dimana Jonas? mungkinkah dia sedang menghabiskan waktunya dengan menaiki beberapa wahana bermain?' batin Becca sembari mengedarkan penglihatannya ke sekeliling. Dia lantas menggerakkan kakinya ke arah yang acak. Berharap dapat melihat kehadiran Jonas dengan bermodalkan keberuntungan.


Becca sudah menjelajah taman bermain cukup lama. Hingga setengah jam berlalu. Dia memperhatikan wajah remaja-remaja yang ditemuinya dengan seksama. Namun bukannya menemukan Jonas, Becca malah menyaksikan kehadiran Jack. Lelaki berbadan jangkung tersebut tampak mencelingak-celingukan kepalanya, seakan mencari-cari sesuatu.


'Bukankah tadi dia bilang akan menunggu di mobil?' gumam Becca dalam hati, sambil mengernyitkan kening keheranan. Selanjutnya dia segera melajukan jalannya untuk menghampiri Jack.


"Bukankah tadi kau bilang mau menunggu di mobil saja!" tegur Becca.


Jack menghela nafas kala melihat penampakan Becca dan membalas, "Aku hanya kasihan denganmu, kau sepertinya kesulitan mencari Jonas di tempat yang ramai begini," dia berkilah dan hanya mengucapkan kebohongan belaka.


"Kau aneh, apa kau memiliki dua kepribadian?" tukas Becca yang merasa belum memahami jati diri Jack sepenuhnya.


"Lebih baik kita fokus mencari Jonas saja." Jack sengaja mengubah topik pembicaraan.


"Becca, kau di sini juga?" tiba-tiba suara seorang lelaki dari arah belakang menyapa. Becca dan Jack reflek menoleh.


Becca langsung dibuat kaget dengan kedatangan Richy. Dia terlihat masih bersama kekasihnya. Sepertinya mereka menghabiskan waktu kencannya ke taman bermain.


Becca hanya tersenyum kecut untuk membalas sapaan Richy. Namun lagi-lagi jantung dan matanya tak kuasa berbohong. Jantung Becca masih berdebar saat menyaksikan kehadiran Richy. Meski sakit hati, tetapi rasa rindunya tidak mampu dikendalikan.


"Sepertinya kalian sudah berbaikan?" ucap Richy lagi. Tangannya menyentuh pundak Jack dengan pelan.


Jack hanya mengerutkan dahi heran. Sekarang ia sepenuhnya terjebak dalam situasi tersebut. Pandangannya di alihkan ke arah Becca. Gadis itu terlihat menunjukkan raut wajah masam, seolah tidak tahu harus berbuat apa. Membuat Jack tak kuasa untuk meninggalkannya begitu saja.

__ADS_1


"Apa kalian berdua baik-baik saja?" tanya Richy lagi, karena ucapannya tidak kunjung dijawab oleh Jack maupun Becca.


"Ya! we just..." Becca tidak tahu harus menjawab apa. Otaknya serasa tidak mampu mencari alasan yang tepat kala perasaannya berkecamuk akan cinta dan cemburu. Kedua tangannya bergerak tidak karuan.


"Menonton konser!" Jack akhirnya ikut bersuara. Sepertinya ia tidak bisa membiarkan Becca tersudut akan perasaannya sendiri. "Kedatangan kami ke sini hanya ingin menonton konser!" tambahnya memberikan penjelasan lebih tepat.


Becca yang mendengar penuturan Jack sebenarnya agak terkejut. Dia tidak menyangka Jack akan bersedia membantunya. Pikiran Becca mulai bertanya-tanya kembali mengenai sikap Jack yang sebenarnya. Tetapi untuk kali ini ia merasa terenyuh dengan apa yang telah dilakukan Jack untuknya.


"Oh, benarkah? kami juga akan pergi menonton konser. Kebetulan sekali ya!" balas Richy dengan kerlingan mata bersemangat. "Tapi kami sengaja naik beberapa wahana bermain dahulu agar tidak bosan menunggu. Ini masih sekitar dua jam lagi," sambungnya.


"Ya, ikutlah bersama kami. Kita bisa double date!" Donna ikut menimpali.


"Maaf, kami sepertinya hanya ingin menunggu sambil makan-makan saja..." sahut Becca, lalu melangkah pergi sambil menarik tangan Jack.


"Atau, Becca masih merasa tidak nyaman melihat wajahmu. Dia mungkin belum bisa melupakanmu. Aku bisa melihat dari tatapan matanya." Donna menatap Richy serius.


"Entahlah, aku tidak mau peduli." Richy mengangkat bahunya sekali, kemudian merangkul pundak Donna dengan lembut. "Yang penting kita berdua bisa bersenang-senang sekarang!" ucapnya lagi seraya menyeret Donna pergi ke wahana bermain yang menarik perhatiannya.


Sementara itu, Becca segera melepaskan tangannya dari lengan Jack. Dia segera berbalik badan agar dapat bicara berhadapan.


"Maaf, sekali lagi aku membawamu untuk ikut berbohong..." lirih Becca yang perlahan menundukkan kepala.


"Tidak apa-apa, aku mengerti." Jack memperhatikan semburat kekecewaan pada ekspresi wajah yang ditampakkan Becca. "Kau baik-baik saja?" tanya-nya. Becca hanya merespon dengan gelengan kepala. Kemudian menggerakkan kakinya ke arah yang acak.


"Emm..." Becca kembali menoleh ke arah Jack dan melanjutkan, "aku akan mencari Jonas sendiri, kau bisa menunggu di mobil saja. Aku tidak mau membuatmu tambah kerepotan."

__ADS_1


Jack membisu kala mendengar perkataan Becca. Namun dia juga tidak lupa untuk melanjutkan tujuannya yang sebenarnya ke taman bermain. Jack mencoba berpikir positif, bahwa Becca bisa menghadapi semuanya. Alhasil dia pun kembali melakukan pencariannya.


Becca mencoba fokus untuk menemukan Jonas kembali. Dia menyisir beberapa area di taman bermain. Penglihatannya ditajamkan ke berbagai penjuru. Hingga fokusnya terhenti pada dua sejoli yang menarik perhatiannya. Dialah Richy dan Donna, yang tengah asyik berciuman di dalam wahana bianglala.


Hati Becca serasa sesak. Dia malah terpaku untuk terus melihat mantan kekasihnya yang masih belum berhenti bermesraan. Mata Becca mulai berembun. Sedih, cemburu, kesal bercampur aduk menyelimuti perasaannya. Becca membekap mulutnya sendiri seraya terus berusaha menahan air matanya. Kakinya perlahan melangkah mundur. Hingga dirinya tidak menengok lagi kubangan lumpur yang tepat berada dibelakangnya.


Bruk!


Becca terpeleset dan jatuh ke dalam cairan lunak berwarna kecokelatan tersebut. Baju dan sebagian tubuhnya sontak kotor dan berbau lumpur. Beberapa orang yang ada disekitarnya malah sibuk mentertawakan. Meskipun begitu, masih ada satu orang baik yang bersedia membantu Becca untuk bangkit.


"Kau tidak apa-apa?" tanya wanita berambut pirang yang membantu Becca. Dia berhasil membuat Becca kembali berdiri.


"Ya..." jawab Becca dengan suara bergetar. Rasa gusarnya semakin mendalam. Hingga mengakibatkan kesedihannya semakin bertambah.


"Oke, kalau begitu--"


"Terima kasih, tapi aku harus pergi," potong Becca. Menyebabkan sang wanita berambut pirang tidak mampu melanjutkan kalimatnya, dan membiarkan Becca pergi dengan keadaan badan dan pakaian yang masih kotor.


Becca berjalan sendirian membelah keramaian. Meskipun tampilannya berhasil menarik atensi semua orang, dia tak acuh. Dirinya hanya ingin menemukan tempat yang tenang. Jujur saja, Becca masih terus berusaha menahan air matanya. Sebab ia tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya kepada orang lain.


Tidak lama kemudian, sampailah Becca di area belakang bangunan wahana bermain yang sepi. Di sana Becca langsung mendudukkan diri di tanah. Kemudian merengek sendirian. Tangisnya pecah seketika. Kedua tangan memeluk kakinya sendiri. Becca membenamkan wajahnya.


Tanpa sepengetahuan Becca, Jack ada di belakangnya. Entah sejak kapan dia mengikuti. Jack sengaja bersembunyi untuk menunggu waktu yang tepat untuk mendekat. Dia menyenderkan badannya ke dinding sambil terus memperhatikan Becca dari jauh. Di tangannya terdapat sekantong plastik berisi pakaian lengkap yang sengaja dibelinya untuk Becca.


'Harusnya kau tidak peduli Jack,' batin Jack yang merasa tidak percaya dengan pilihannya sendiri. 'Oke, aku pastikan ini yang terakhir. Setelah kembali pulang nanti, aku tidak akan berurusan lagi dengan Becca!' lanjutnya sembari mendengus kasar.

__ADS_1


__ADS_2