
Becca termenung untuk sesaat. Bola matanya sesekali di arahkan pada Richy dan Donna yang sedang sibuk menikmati lantunan musik. Becca sudah mulai merasa bosan, mood-nya mendadak berubah. Tubuhnya otomatis berjalan keluar dari ruangan.
Becca memperhatikan mobil Jack. Dia mengira sang pemilik mobil akan berada di sana. Memang benar dugaannya, Jack sudah berada dalam mobilnya. Becca pun segera membuka pintu mobil Jack, kemudian memposisikan diri duduk di samping kursi setir. Tepat di sebelah Jack.
"Kau sudah selesai?" Jack mengerutkan dahi heran.
"Ya, lebih cepat semakin baik kan."
"Kau yakin ingin pergi sekarang?" Jack memastikan. Becca langsung merespon dengan anggukan kepala dan satu kata 'Ya' dari mulutnya. Jack lantas menjalankan mobilnya dengan pelan.
Becca menatap gedung acara yang semakin menjauh. Dia sebenarnya merasa bersalah tidak memberi tahu Ben dan Tara atas kepulangannya. Becca berniat memberitahukannya nanti saja. Sekarang ia hanya bisa duduk senyaman mungkin sambil memperhatikan pemandangan yang disuguhkan jendela mobil.
Tatapan Jack terfokus ke depan. Dia sesekali melihat-lihat ke jejeran toko yang ada di samping kanan dan kiri. Entah apa yang sedang dicari olehnya.
Setelah berhasil menemukan toko yang tepat, Jack pun segera menghentikan mobilnya. Becca langsung mengerutkan dahi, karena dia tidak mengerti dengan apa yang akan dilakukan oleh Jack.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Becca bingung.
"Belum, ayo ikut aku!" titah Jack sambil keluar dari mobil lebih dahulu. Alhasil Becca menurut saja, dan berjalan mengekori Jack dari belakang.
Jack melangkah memasuki sebuah toko sepatu. Becca yang menyadari akan hal itu sekarang mengerti.
'Mungkinkah Jack berniat membelikanku sepatu?' batin Becca seraya menunduk untuk menatap sepatu kets yang tengah dikenakannya.
"Becca!" panggil Jack mendesak. Dia kembali lagi demi menyuruh Becca agar bisa segera ikut bersamanya.
"Oke," respon Becca yang mendadak merasa salah tingkah. Dia bergegas masuk ke dalam toko sepatu. Sekarang gadis itu berjalan mengiringi Jack.
'Oh, ternyata di sini tidak hanya menjual sepatu wanita,' gumam Becca dalam hati, saat menyaksikan ada sepatu pria berjejer di samping kanannya. 'Ya, aku yakin Jack tidak mungkin membelikanku sepatu. Kenapa aku menyimpulkan terlalu cepat!' tambahnya dengan bibir bawah yang sedikit memaju.
__ADS_1
"Kau mau membeli sepatu yang mana Jack? aku mohon cepatlah, aku tidak ingin pulang terlalu larut malam!" ungkap Becca yang terus melangkah mengikuti Jack.
"Sebentar lagi," sahut Jack sembari melihat- lihat sepatu yang ada di sekitarnya. Anehnya lelaki tersebut lebih memperhatikan sepatu wanita yang ada di sekelilingnya.
"Kau mau membeli sepatu wanita?" tanya Becca yang masih kebingungan dengan perilaku Jack. Namun lelaki yang di ajaknya bicara sama sekali tak acuh. Jack masih sibuk memfokuskan atensinya pada sepatu wanita. Hingga akhirnya tangannya pun mengambil sepatu pilihannya.
Jack berbalik badan agar bisa bicara saling berhadapan dengan Becca. "Duduklah!" suruhnya sambil menunjuk kursi yang ada di dekat Becca.
"What?!" kening Becca mengernyit heran.
"Kau mau aku cepat atau tidak?" Jack melebarkan matanya. Tatapannya agak mengintimidasi, hingga Becca pun tidak punya pilihan selain duduk.
"Sekarang, lepaskan sepatu jelekmu itu!" titah Jack.
Becca yang mendengar menurut saja. Dia segera melepaskan sepatu kets dari kedua kakinya.
"Excuse me, apa ada yang bisa aku bantu?" tanya seorang pramuniaga yang sudah mendekat.
"Pilihan yang bagus Tuan, semoga saja cocok!" ucap sang pramuniaga sambil menjongkokkan badan, kemudian memakaikan sepatu high heels itu ke kaki Becca.
"Ugh! aku rasa ukurannya tidak pas dengan kakiku," Becca meringiskan wajah, ketika mengetahui sepatu pilihan Jack tidak cocok di kakinya. Sepatu tersebut terlalu besar di kaki Becca.
"Oke, beritahu aku ukuran sepatu yang pas untuk kakimu?" tanya Jack.
Mendengar penuturan Jack, Becca mendadak terkesiap. Dia merasa terbawa suasana. Tiba-tiba dia melihat seorang Jack menjadi lebih tampan dari biasanya.
"Becca? kau ingin kita cepat atau tidak?" tukas Jack, yang merasa tidak terima dirinya masih didiamkan oleh Becca.
"Oh, emm... ukuran sepatuku sekitar 23 cm," balas Becca gelagapan. Biji matanya meliar kemana-mana akibat salah tingkah.
__ADS_1
Jack kembali melakukan pencarian, sambil dibantu dengan pramuniaga. Hingga akhirnya dia menemukan sepatu yang dirasanya pas untuk Becca. Jack memilih sepasang sepatu high heels berwarna merah muda. Hampir senada dengan warna gaun yang dikenakan Becca.
Ilustrasi sepatu high heels pilihan Jack :
Becca langsung mencoba high heels yang dipilihkan Jack untuknya. Kali ini, sepatunya benar-benar cocok di kaki Becca. Jack yang melihat tersenyum puas. Matanya terpaku menatap kaki Becca yang sekarang lebih indah dipandang dari sebelumnya.
"Emm... Jack!" ujar Becca yang masih tetap diam berdiri di posisinya.
"Apa lagi?"
"Masalahnya, aku tidak terbiasa memakai sepatu setinggi ini. Rasanya aku hampir mati," keluh Becca. Dia mencoba memaksakan diri berjalan ke arah Jack.
Becca bergerak seperti robot. Seolah sangat kesulitan dengan high heels yang sekarang dipakainya.
"Kau akan terbiasa, semua wanita pernah mengalami hal yang--" Jack menjeda ucapannya, karena Becca tiba-tiba terjatuh ke arahnya. Gadis itu sekarang berada dalam pelukan Jack tanpa sengaja.
"Sorry..." ujar Becca sembari mengangkat kepalanya yang tadi sempat menabrak bagian dada Jack. Pupil matanya seketika membesar saat melihat wajah Jack begitu dekat dengan wajahnya.
Ekspresi Jack juga terlihat begitu terkejut dengan momen tidak terduga tersebut. Tangannya masih melingkar erat di pinggul Becca.
"Ehem! permisi... emm, maaf mengganggu, tetapi aku sangat ingin mengambil sepatu yang ada di belakang kalian," teguran seorang perempuan membuat Jack dan Becca menghentikan kegiatannya.
"Te-tentu, silahkan!" jawab Becca, terbata-bata. Dia segera memberikan jalan kepada perempuan tersebut.
"Kau duluan saja ke mobil!" perintah Jack, lalu berderap ke arah meja kasir. Becca lantas pergi menuju mobil Jack. Dia berusaha berjalan dengan hati-hati agar dapat terbiasa.
Becca sekarang berada di dalam mobil. Dia memegangi dada kirinya. Tepat dimana jantungnya berada. Dia berniat memastikan debaran jantungnya.
__ADS_1
'Oh, thank god! tidak berdebar seperti saat aku jatuh cinta. Ini bagus! sadarlah Becca, jangan sampai kau jatuh cinta pada Jack!' ucap Becca dalam hati. Sejujurnya pelukan dan tatapan Jack tadi telah berhasil membuat perasaannya gugup. Namun Becca menampik tegas kalau apa yang dirasakannya adalah cinta.
Di sisi lain, Jack baru selesai melakukan proses pembayaran di meja kasir. Perasaannya juga sama khawatirnya dengan Becca. Jujur saja, Jack sudah lama tidak merasakan perasaan seperti saat ia bersama Becca. Entah sejak kapan rasa tersebut tercipta. Apapun itu, Jack berjanji kepada dirinya sendiri tidak akan egois. Kalau bahwasanya apa yang dilakukannya di kota Lousiana adalah tugas paling utama.