Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 8 - Perasaan Ben Untuk Becca


__ADS_3

Becca berdiri di depan cermin dengan beberapa tetes cairan bening yang berhasil lolos dari kedua matanya. Dia sebenarnya hanya lelah dengan apa yang telah terjadi kepadanya sekarang. Becca berusaha menunjukkan dirinya sedang baik-baik saja. Namun pada kenyataannya ia menyimpan kekecewaan yang begitu mendalam. Dia meratap sendirian. Hanya ada gema suara tangisannya yang menemani.


Tanpa sepengetahuannya, David sedang berdiri di depan pintu kamar mandi tepat dimana Becca berada. Dia bisa mendengar jelas suara rengekan putrinya. David tiba-tiba merasa bersalah.


'Aku yakin Becca melewati banyak masalah yang berat. Tetapi yang aku lakukan hanyalah memarahinya, bahkan semenjak kedatangannya kemari. Mungkin aku harus cuti beberapa hari untuk meluangkan waktuku liburan bersama Becca dan Jonas,' gumam David dalam hati. Kemudian beranjak pergi untuk bekerja. Sebelum itu, David mengambil ponsel ke saku celananya. Dia mencoba menghubungi teman dekat Becca. Kebetulan sekarang hari minggu, jadi kemungkinan Ben dan Tara sedang tidak bekerja.


David sendiri bekerja sebagai polisi, jadi dia tidak libur pada hari minggu.


Ben yang mengetahui kabar mengenai sahabatnya, langsung meluncur ke rumah Becca. Apalagi ketika David memberitahukannya bahwa Becca sedang butuh seorang teman.


Becca terlihat sedang membilas rambutnya dengan handuk. Dia baru selesai membersihkan diri. Jujur saja, masih ada rasa pusing yang tersisa.


"Becca!" Ben mendadak muncul dari depan pintu. Dengan senyuman yang terpatri tulus dari semburat wajahnya. Becca yang mendengar sontak menoleh ke arahnya.


"Ben?" Becca tampak bingung dengan kehadiran Ben. Dia menatap penuh tanya kepada lelaki tersebut. Namun Ben hanya terpaku menatap Becca.


Dengan rambut setengah basahnya, Becca terlihat sangat cantik dan mempesona. Wajah tanpa make up itu berhasil menggetarkan jantung seorang Ben. Setidaknya begitulah yang Ben rasakan kala dirinya berhadapan dengan Becca.


"Ben!" Becca memanggil sekali lagi, dan membuat Ben langsung tersadar dari lamunannya.


"Maafkan aku Becca, aku tiba-tiba memikirkan hal lain." Ben berkilah dan mentertawakan dirinya sendiri.


"Hal lain? mesum?" tebak Becca blak-blakkan, hingga berhasil menyebabkan mata Ben melebar.


"A-apa maksudmu, aku bukan lelaki seburuk itu!" tegas Ben dengan terbata-bata.


"Mungkin saja kan. Pikiranmu kan hanya dirimu saja yang tahu."


"Tetapi aku pastikan aku tidak memikirkan hal itu. Mana mungkin aku berpikiran mesum kalau melihat gadis sepertimu!" ujar Ben seraya mendudukkan dirinya ke kasur.


"Apa?! sialan kau Ben!" Becca mengarahkan tendangannya kepada Ben. Dia hanya bermaksud mengancam dan sama sekali tidak berniat menendang betulan. Ben hanya bisa tertawa geli ketika melihat luapan amarah sahabatnya.


"Seburuk itukah aku?" Becca mendadak memasang raut wajah serius. Ekspresinya membuat Ben tertegun.

__ADS_1


"Apa maksudmu? kenapa kau tiba-tiba menjadi serius begitu?" respon Ben terheran.


"Maksudku, seburuk itukah gadis sepertiku Ben?" Becca menundukkan kepala seolah kecewa.


"Bu-bukan itu maksudku. Aku hanya bercanda Becca, kau jangan menganggapnya serius! apa suasana hatimu seburuk itu sekarang?" Ben menatap nanar ke arah Becca. Dia begitu mengkhawatirkan sahabatnya tersebut.


"Sangat buruk!" Becca menjawab dengan suara yang bergetar karena kembali ingin menangis. Gadis itu kembali merasa kecewa kepada dirinya sendiri, apalagi setelah mendengarkan penuturan sahabatnya tadi terhadapnya.


Ben yang melihat segera berdiri. Dia merasa harus bertanggung jawab terhadap candaannya tadi. Lelaki tersebut langsung meraih tangan Becca, dan membawanya keluar dari kamar.


"Eh! kau mau membawaku kemana?" tanya Becca sambil menghapus air matanya yang hampir berjatuhan.


Ben menghentikan langkahnya ketika berada di halaman rumah Becca. Dia berbalik, agar dapat bicara saling berhadapan dengan sahabatnya.


"Ayo kita ke danau, mungkin dengan ke sana, pikiranmu bisa lebih mendingan!" ajak Ben yang sudah tidak sabaran.


"Baiklah. Tetapi aku butuh obat pengarku lebih dahulu." Becca memegangi bagian kepalanya.


"Kau semalam mabuk?" tanya Ben khawatir.


"Jack? wine? kau minum bersamanya?" Ben semakin dirundung perasaan cemas. Apalagi mendengar nama lelaki lain langsung keluar dari mulut Becca.


"Hanya kebetulan Ben, lagi pula itu semua kesalahanku!" sahut Becca sembari mencari obat pengar dari dalam kotak yang berisi kumpulan butir-butir berbahan kimia.


"Tapi kau tidak seharusnya minum bersama orang asing begitu, Becca!"


"Tenanglah Ben, Jack tidak seburuk itu. Buktinya, setelah aku tidak sadarkan diri, dia langsung memberitahukan keadaanku kepada David." Becca sekarang memasukkan obat pengarnya ke dalam mulut, kemudian membiarkannya larut bersama air mineral yang dia minum.


"Apa?! tidak sadarkan diri. Bagaimana kau bisa seyakin itu kalau Jack tidak melakukan apa-apa?!" Ben merasa tak percaya.


Becca yang baru saja selesai meminum obatnya membalas, "Kau kenapa sangat berlebihan?! sudah kubilang tidak ada apa-apa yang terjadi!" dia mengerutkan dahi, seakan menunjukkan kepada Ben bahwa dirinya sudah tidak mau lagi membahas lebih dalam tentang apa yang sedang dibicarakannya sekarang.


"Aku harap begitu. Kau harus berhati-hati, Becca." Ben menciut.

__ADS_1


"Aku bisa menjaga diriku sendiri. Jadi, apa kita sekarang benar-benar akan pergi ke danau?" Becca berjalan mendekati Ben.


"Tentu saja!" Ben langsung setuju. Dia dan Becca pun segera berjalan berbarengan menuju tempat yang pernah menjadi memori penting terhadap masa kecilnya.


"Tara sedang sibuk?" tanya Becca seraya menyamakan langkahnya dengan Ben. Keduanya sudah memasuki area hutan, tepatnya di jalanan setapak.


"Di hari minggu biasanya Tara membantu ibunya membuat roti. Kau tahu kan?" jawab Ben. Dia terus mencuri-curi pandang kepada Becca.


"Masih? aku kira ibunya sudah berhenti menjual roti."


"Tadinya, tetapi karena pesanan semakin ramai, ibunya Tara merasa harus meneruskan usahanya."


"Pffft! aku yakin Tara sedang menggerutu kesal sekarang." Becca menebak yakin.


"Tentu saja! dia sudah seratus kali lebih mengeluhkan hal itu." Ben ikut tertawa kecil bersama Becca. Mereka sekarang telah tiba di danau. Tempat tersebut sangat tenang dan sejuk. Meskipun sekitaran danau terdapat daun-daun kering betebaran. Akan tetapi tidak mengubah sama sekali suasana nyaman yang ada di sana.


"Tempat ini tidak pernah berubah!" ucap Becca seraya melangkahkan kaki menyusuri jembatan yang tersedia.


Ilustrasi danau dan jembatan Eden :



Becca sekarang duduk di ujung jembatan. Dia melepaskan sandalnya terlebih dahulu, lalu menjuntaikan kedua kakinya ke bawah. Kakinya sekarang mengenai dinginnya air danau.


Ben yang melihat lantas segera memposisikan dirinya duduk di sebelah Becca. Namun dia enggan membasuh kedua kakinya ke air. Lelaki tersebut duduk bersila seraya menghirup aroma pepohonan yang terasa sejuk.


"Kalau lebih pagi pasti akan terasa segar!" ucap Ben.


"Ish! tapi dinginnya akan lebih parah!" sahut Becca seraya memainkan kakinya di dalam air. Dia tidak tahu lelaki di sebelahnya sedang menatapnya lekat.


Ben hendak bicara. Sebelum itu, dia menenggak salivanya terlebih dahulu dan berkata, "Becca, bolehkah aku mengatakan sesuatu?"


"Hmm?" Becca langsung menoleh ke arah Ben. Mereka sekarang saling bertukar pendang.

__ADS_1


Deg! Deg! Deg!


Jantung Ben semakin berdebar tidak karuan.


__ADS_2