Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 38 - Kekacauan Di Pesta


__ADS_3

Becca memejamkan mata. Seolah membiarkan Jack untuk terus memberikan sentuhan lembut dibibirnya. Jantungnya sungguh tidak kuasa diam. Bagaikan gendang yang ditabuh. Rona merah malu pun sudah mencapai kedua telinganya. Entah kenapa Becca berharap waktu dapat berhenti untuk sesaat.


Jack perlahan melepaskan tautan bibirnya. Dia menatap Becca yang masih sibuk memejamkan kedua matanya. Jantungnya juga berdebar hebat. Rasanya dia ingin membawa Becca jauh dari keramaian, dan menciumnya lebih lama lagi. Sudah sekian lama Jack tidak merasakan debaran seperti sekarang. Terakhir kali Jack ingat, jantungnya berdebar ketika dirinya berada di SMA. Dan itu sekitar betahun-tahun yang lalu.


"Jack!" suara panggilan Mike membuyarkan segala pemikiran Jack.


Becca terlihat sudah membuka matanya lebar. Dia tidak mampu mengucapkan satu kata sedikit pun. Otaknya seakan mengalami disfungsi, karena gebu dalam jantung dan hatinya.


"Ayo Becca." Jack mengajak Becca untuk berjalan menghampiri Mike.


"Jack, aku mau ke toilet sebentar." Becca berucap sambil melepaskan genggaman tangan Jack.


"Baiklah," jawab Jack yang perlahan melepaskan pegangannya dari tangan Becca.


Jack sudah berada di sisi Mike. Dia menghela nafas melalui mulutnya. Jujur saja, ada sedikit debaran yang tersisa akibat satu sentuhan beberapa menit lalu. Jack menatap kosong ke lantai. Pikirannya kembali berlarian, bahkan melupakan tujuan utamanya datang ke pesta.


Mike sebenarnya sudah menyaksikan semuanya. Termasuk apa yang dilakukan Jack dan Becca saat berdansa. Dia merasa khawatir terhadap temannya itu. Tangannya menggenggam gelas berisi wine berwarna kemerahan. Mike menggerakkannya seakan membentuk sebuah kurva.


"Apa kau memikirkan Becca?" Mike menatap Jack dengan ekor matanya.


"Entahlah, rasanya aneh." Jack berterus terang dengan singkat.


"Jack, kita harus fokus dengan pekerjaan sekarang," Mike mengingatkan. Dia mengatakannya secara pelan. Bola matanya mencoba menyorot keberadaan Aaron. Lelaki berambut keperakan tersebut tampak berdansa dengan seorang wanita.


"Lihat lelaki tua itu, wanita ke berapa yang sedang berdansa dengannya?" Mike bertanya dengan nada berbisik. Dia membicarakan perihal Aaron.


"Aku rasa yang ketiga." Jack ikut memandangi Aaron dari jauh. Kedua tangannya menyilang di depan dada. Sedangkan badannya disandarkan ke dinding yang ada di belakang.


"Sungguh kehidupan yang sempurna," komentar Mike sembari memandangi gelasnya yang telah kosong. Dia sekarang meletakkannya ke atas nampan yang kebetulan sedang dibawa oleh pelayan. Kemudian mengambil lagi segelas koktail dengan hiasan jeruk nipis dan daun mint.

__ADS_1


"Ya, tetapi dia terlalu banyak menghancurkan kehidupan orang. Bahkan anak-anaknya sendiri." Jack berbicara dengan nada pelan. Dia menatap Mike yang tengah asyik meneguk koktailnya.


"He's an assh*ole! aku harap seseorang menembakkan peluru ke kepalanya." Mike mengumpat kesal. Sekarang sorot matanya beralih menatap Marion. Wanita yang telah dibawanya sebagai pasangan ke pesta. Marion tampak menikmati hidangan sendirian.


"Marion sangat bersemangat," Mike menjeda ucapannya sejenak, lalu mendekatkan mulut ke telinga Jack. "Aku rasa, ini adalah pertama kalinya dia mendatangi pesta orang kaya..."


"Dia pasti jatuh cinta kepadamu, karena kaulah yang membawanya ke sini." Jack tersenyum miring.


"Bukankah yang jatuh cinta itu kau dan Becca?" balas Mike tak ingin kalah. Dia melanjutkan dengan putaran biji mata malasnya. Sebenarnya Mike tidak ingin membahasnya, namun karena Jack memulai lebih dahulu, tentu dia mengeluarkan jurus mematikan yang dapat membuat lidah Jack kelu. "Aku bisa menyadarinya dari tatapan kalian berdua," ucapnya lagi.


"Bisakah kita membicarakan hal lain?" balas Jack seraya mengambil segelas koktail dengan sigap dari nampan pelayan. Setelahnya dia langsung menenggak habis minuman dengan paduan rasa lemon dan blueberry tersebut.


Mike yang mendengar Jack berkilah, hanya terkekeh. Dia semakin yakin kalau Jack memang sudah mempunyai perasaan untuk Becca. Namun Mike memutuskan membahas hal itu lain kali saja.


"Penjaga itu tidak mau pergi dari tempatnya. Haruskah kita lakukan sesuatu?" ujar Mike kesal saat melihat anak buah Aaron masih berjaga di tangga. Lantai dua memang dijadikan Aaron sebagai area terlarang. Dia tidak membiarkan siapapun pergi ke sana. Bahkan rekannya sendiri.


"Aku sudah mengetahui seluk beluk rumah ini. Sekarang kita hanya perlu waktu yang tepat."


Jack mengalihkan pandangannya ke arah meja tempat jejeran botol wine diletakkan. Atensinya tertuju pada seorang pelayan lelaki yang tampak mencurigakan. Sebelah tangannya terlihat dimasukkan ke saku celana. Seolah ada sebuah benda yang sedang dipegangnya. Matanya menatap ke arah Aaron yang telah selesai berdansa.


Perlahan pelayan tersebut mengeluarkan benda yang sedari tadi disembunyikannya. Mata Jack seketika membulat kala mengetahui benda itu adalah sebuah pistol.


"Mike!" pekik Jack sembari menunjuk kepada pelayan lelaki yang sedari tadi diperhatikannya. Kemudian segera berlari ke arah Aaron. Jack tahu, menyelamatkan korban sasaran lebih penting dibanding harus mencegah pelaku yang akan menembakkan peluru. Lagi pula jarak Aaron darinya lebih dekat dibandingkan pelayan tersebut. Jack tentu telah melakukan perhitungan sebelum bertindak.


Dor!!!


Sebuah peluru telah meluncur tepat ke arah Aaron. Butir peluru itu melesat laju menuju sasaran. Namun untung saja, Jack mampu menyelamatkan Aaron tepat waktu. Keduanya sekarang sama-sama terhempas ke lantai.


Semua orang yang ada di pesta sontak dibuat panik. Mereka saling berdahuluan untuk menyelamatkan diri. Suasana pesta yang tadinya elegan dan mewah seketika berubah menjadi kekacauan.

__ADS_1


Jack segera membawa Aaron ke tempat aman. Sedangkan Mike bergegas menghampiri pelayan lelaki yang belum berhenti menembakkan peluru ke arah Aaron.


Dor! Dor! Dor!


Tembakan berhenti, saat Mike berhasil merebut pistol dan melayangkan sebuah pukulan tinju ke wajah pelayan itu.


...***...


Becca masih betah berada di toilet. Sebelah tangannya memegangi bibirnya sendiri. Kepalanya terus memikirkan yang dilakukan Jack terhadapnya.


Deg! Deg!


Jantung Becca kembali berdegub kencang. Matanya mengedip beberapa kali. Sungguh Becca tidak ingin dirinya jatuh cinta kepada Jack. Tetapi lagi-lagi dia tidak mampu mengendalikan perasaannya. Di sebelah tangannya terdapat ponselnya sendiri. Dia berhasil mengambil ponselnya kembali karena kebetulan menyaksikan para penjaga sedang lengah. Becca bukan tipe gadis yang menyia-nyiakan kesempatan bagus begitu saja. Apalagi jika berkaitan dengan barang pribadi miliknya.


Drrrt... drrrt...


Ponsel Becca bergetar. Pertanda sebuah pesan telah masuk. Dia pun segera memeriksa pesan yang dikirim oleh Tara tersebut.


...'Becca, kau dimana? jangan bilang kau sudah pulang?'...


Begitulah bunyi pesan teks yang dikirimkan Tara. Becca mengernyitkan kening. Dia sekarang menggigit jarinya sendiri akibat merasa tidak enak dengan Tara. Alhasil Becca pun memilih berbicara secara langsung melalui telepon.


"Kau dimana?" timpal Tara dari seberang telepon.


"Maaf Tara, aku punya janji yang harus ditepati," jelas Becca ambigu.


"Janji apa? dengan siapa?"


"Ummm..." Becca membisu. Tidak tahu harus menjawab apa. Hening terjadi untuk sesaat. Becca hanya tidak ingin mengatakan kalau dirinya sedang bersama Jack. Saat itulah telinganya menangkap suara tembakan dari luar. Dia yang semula duduk di atas closet otomatis bangkit dan berdiri. Mata Becca membulat sempurna, sekarang jantungnya bukan berdetak karena cinta lagi, tetapi akibat rasa takut.

__ADS_1


"What the hell? keributan apa itu?" tanya Tara, yang juga dapat mendengar jelas suara tembakan.


__ADS_2