Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 49 - Pembicaraan Empat Mata


__ADS_3

Jack tengah berada di antara para pelayat lainnya. Penglihatannya terus meliar kemana-mana. Berusaha terus mencari sosok gadis yang akhir-akhir ini menghantui pikirannya. Ada beberapa orang yang mengajaknya bicara. Bergumul dalam cerita mengenai malangnya kehidupan gadis yang bernama Tara Pauline.


Masa berkabung terus berlanjut dan semakin memuncak. Terutama ketika jasad Tara dimasukkan ke dalam tanah. Suasana cerah menemani prosesi pemakaman saat itu. Sehingga keadaan tidak begitu diliputi keadaan kelam.


Becca berdiri di samping Ben. Dia kembali tidak mampu menahan deraian air mata. Terutama ketika dirinya menyaksikan keadaan Tara susah ditutupi oleh gundukan tanah.


Sekarang cerita dari sisi Tara telah berakhir. Walau kenangan tentang dirinya selalu melekat dalam sanubari orang-orang terdekatnya. Hari pemakaman berjalan lancar. Bahkan Ellie pun dapat melewati semuanya dengan baik. Sosok wanita paruh baya tersebut sepertinya mencoba merelakan kepergian putrinya. Meskipun begitu, dia tidak akan membiarkan pelaku yang membunuh Tara lepas begitu saja. Ellie berniat akan membawa para tersangka ke jalur hukum, agar mereka dapat menerima hukuman yang setimpal.


...༻❀༺...


Satu minggu berlalu setelah kematian Tara. Selama itu juga Becca menyembunyikan diri di kamar. Namun sepertinya dia sudah puas melampiaskan semua rasa sedihnya. Gadis tersebut tengah mengenakan pakaian yang rapi.


Becca berniat ingin mencari pekerjaan. Dia sudah merasa lelah terus-terusan berada di rumah. Apalagi setelah dirinya kehilangan sahabat perempuan terbaiknya. Mungkin saja dengan suasana baru dia akan lebih mudah melupakan kesedihannya.


"David, dimana kau menyembunyikan kunci mobilku?" tukas Becca, yang baru saja turun dari tangga. Dia berjalan dengan langkah cepat untuk menghampiri ayahnya. David terlihat sedang menunggu seduhan kopinya di dapur.


"Kau mau kemana?" bukannya menjawab, David malah berbalik tanya. Dia memperhatikan pakaian Becca yang tampak rapi dari biasanya.


"Seperti yang kau inginkan. Aku akan mencari pekerjaan!" sahut Becca sembari mengapitkan tas yang melingkar di bahu kanannya.


David menggelengkan kepala pelan. Dia menelan salivanya terlebih dahulu dan berucap, "Becca, keadaan kota Lousiana sedang tidak aman. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mencari pekerjaan."


"Apa?!" Becca terperangah. Dia berfirasat kalau dirinya akan kembali melakukan perdebatan dengan David.


"Dengar, aku tahu ini memang sulit. Tetap aku tidak ingin ada hal buruk terjadi kepadamu. Apalagi setelah insiden pesta Aaron dan juga Tara. Sekolah Jonas bahkan mendapatkan penjagaan ketat oleh polisi. Kota ini sedang kacau sekarang!" David menjelaskan dengan panjang lebar. Berusaha membuat Becca tetap berada di rumah untuk sementara.


"Baiklah." Becca memutar bola mata jengah. Dia terpaksa menurut. "Tetapi, berikan kunci mobilku terlebih dahulu!" Becca membuka tangannya lebar-lebar. Tatapannya pun tampak memancarkan kilat yang mengancam.

__ADS_1


"Maafkan aku--"


"Apa-apaan David!" mata Becca terbelalak. Giginya menggertak kesal. Tanpa pikir panjang, dia pun bergegas berjalan menuju pintu keluar. Gadis itu kembali menyematkan tas yang tadi sempat terlepas dari bahunya. Dia sudah tidak mau peduli dengan aturan David. Apa yang dilakukannya selalu salah dimata ayahnya itu.


"Becca! hei! apa yang kau lakukan!" David berusaha mencegah. Dengusan kesal keluar dari mulutnya. Dia akhirnya berlari mengejar Becca.


Prang!


Akibat tergesak-gesak David tidak sengaja memecahkan sesuatu. Yang tidak lain adalah secangkir kopi seduhannya sendiri. Alhasil David menyempatkan diri sebentar untuk membuang pecahan kaca besar. Dia melakukannya karena takut Jonas akan terluka karena kecerobohannya itu.


Bagi David keinginan Becca seperti jebakan. Memang benar Becca setuju berada di rumah dengan syarat kunci mobilnya diberikan, namun bukan berarti gadis tersebut tidak akan menggunakan mobilnya. Becca pasti punya alasan dibalik kegigihannya dalam mendapatkan kembali keinginannya.


Becca berlari secepat mungkin dan langsung bersembunyi di balik mobil Jack. Bertepatan dengan keluarnya David dari rumah. Lelaki paruh baya tersebut mengedarkan pandangannya ke berbagai arah. Termasuk ke arah kediaman Jack.


Karena keadaan rumah Jack tampak sunyi, David akhirnya memilih jalan yang berlawanan dari keberadaan Becca. Dia berpikir putrinya itu pergi keluar dari lingkungan Eden Street.


Jack baru saja terbangun dari tidurnya. Suara bel yang terus-terusan berbunyi mengharuskannya melangkah untuk membukakan pintu. Sebelum itu, dia menengok ke layar CCTV, untuk sekedar berjaga-jaga. Apalagi maraknya kriminalitas di kota Lousiana sedang meningkat drastis.


Pupil mata Jack seketika membesar saat menyaksikan penampakan Becca tengah berdiri di depan pintu. Jack mencoba memastikan penglihatannya dengan cara mengucek-ngucek matanya sendiri.


"Becca?" gumam Jack. Tangannya langsung gelagapan menyisir rambut dengan jari-jemari. Kemudian membaui pakaian yang sedang dikenakannya. Sehingga Jack berkesimpulan bahwa kaos hitam yang sekarang dipakainya sedikit berbau tidak enak. Lelaki itu akhirnya berlari kembali ke kamar untuk mengganti baju, lalu mengusapkan sedikit cologne ke badannya.


'Tunggu? kenapa aku sangat berlebihan?' batin Jack mencoba mengingatkan dirinya sendiri. Dia semakin tersadar dengan suara gedoran di pintu. Pertanda Becca sudah tidak sabar lagi menunggu.


Ceklek!


Jack membuka pintu, dahinya langsung berkerut, saat Becca tidak mengucapkan sepatah kata pun, tetapi malah masuk begitu saja ke dalam rumahnya. Gadis itu juga segera menutup pintu kembali.

__ADS_1


"Kau kenapa? dikejar penjahat?" tanya Jack masih terheran.


"Ya, penjahat yang sangat dipenuhi oleh obsesi!" sahut Becca, ngeloyor begitu saja semakin masuk ke dalam. Dia menghempaskan tubuhnya ke sofa empuk milik Jack.


"Benarkah?" Jack menganggap ucapan Becca serius. Hingga raut wajahnya menampakkan kekhawatiran. Dia melakukan tatapan yang seolah menuntut jawaban.


Becca hanya terdiam, lalu membalas tatapan Jack. Setelah beberapa detik, akhirnya dia sadar dengan ekspresi serius yang ditunjukkan Jack.


"David..." ucap Becca memberitahu. Hanya dengan satu kata itu Jack langsung paham. Lelaki tersebut lantas menyandarkan badannya ke sofa. Kemudian mendengus lega.


"Ayola Becca, sampai kapan hubunganmu dan David akan membaik?" ujar Jack seraya mengangkat kedua tangan heran.


"Entahlah. Tetapi sekarang aku hanya ingin pergi dari rumah," balas Becca sambil memangku dagu dengan sebelah tangannya.


"Pergi dari rumah untuk ke rumah tetanggamu maksudmu?" timpal Jack berseringai.


"Ya! karena tetanggaku itu banyak berhutang penjelasan!" perkataan Becca sontak membuat Jack membisu. Apalagi gadis tersebut menatapnya dengan lekat. Membuat Jack tidak kuasa lagi menghentikan debaran di jantungnya. Namun Jack berusaha mengabaikannya dengan bersikap tenang. Dia memang ahli melakukannya.


"Kau mau aku menjelaskan apa?!" Jack bertanya seraya melebarkan kedua kelopak matanya.


"Pertama, aku ingin kau jelaskan tentang kejadian di pesta Aaron!" Becca menggeser dirinya semakin dekat dengan posisi Jack. Dia memasang telinga lebar-lebar untuk mendengarkan penjelasan dari Jack.


"Bukankah aku sudah menjelaskan perihal itu?" Jack nampaknya enggan bercerita. Dia bahkan menghela nafas dan membuang muka dari Becca.


"Kau hanya memberitahu secara singkat. Bagaimana aku paham?" kening Becca ikut mengernyit. Dia mengamati semburat yang ada diwajah Jack. Terlihat kesal dan bosan.


"Oke, kalau kau tidak mau menjelaskan tentang itu. Bagaimana jika jelaskan saja mengenai apa yang kita lakukan setelah pesta itu?" Becca kembali menimpali. Ucapannya menyebabkan Jack menyalangkan mata. Lelaki itu agak terkejut dengan penuturan gadis yang tengah duduk di hadapannya. Jack sangat paham, kalau Becca berniat membicarakan perihal hubungan satu malam yang pernah terjadi di antara keduanya.

__ADS_1


__ADS_2