
Jack hanya tersenyum datar, ketika mendengar pertanyaan gadis di sebelahnya. Selanjutnya dia hanya fokus pada si jago merah kecil yang ada di depannya.
Malam semakin larut. Maka tambah dingin pula cuaca. Jack bahkan sudah sekitar dua kali menambahkan kayu bakar ke perapian. Tetapi rasa dingin masih berhasil menyebabkan kobaran api menyusut.
"Sekarang bagaimana?" tanya Becca, cemas.
"Lebih baik kita memeriksa keadaan jendela dan pintu sekali lagi. Mungkin saja ada yang belum ditutup rapat!" usul Jack sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kemudian melangkah menuju tangga dan menaikinya.
Becca mengikuti tindakan Jack. Dia mencoba membantu. Sampai keduanya berada di ruangan yang ada di atap. Benar saja, jendela kecil yang ada di sana masih tampak terbuka lebar. Jack bergegas memeriksa.
Ternyata jendela kecil itu punya alasan terbuka dengan sendirinya. Engselnya rusak dan butuh perbaikan. Ruangan di atap juga terlihat dipenuhi sedikit salju. Pantas saja hawa rumah serasa begitu dingin.
"Oh my god, bagaimana bisa selama ini kita tidak menyadarinya!" gumam Becca yang segera mengambil kain penutup lemari tua di sebelahnya. Kemudian menggerakkan kakinya dengan laju. Sekali lagi gadis tersebut harus terpeset dan terjatuh.
Bruk!
"Ouch!" Becca meringis kesakitan. Jack yang masih bergumul dengan jendela, terpaksa mengabaikan Becca terlebih dahulu. Dia terus mencoba sebisa mungkin untuk menutup jendela dengan rapat. Jack mengerahkan semua tenaganya, sampai akhirnya dirinya benar-benar berhasil. Jendela kecil itu kini tertutup, dan tidak ada lagi salju yang menyusup masuk.
Jack membalikkan badan. Dia menyaksikan Becca telah berdiri dan menunggunya. Badan gadis itu terlihat sudah menggigil. Namun dia tetap nekat menemani Jack.
"Kau harusnya tidak perlu ikut ke sini!" geram Jack sembari menggertakkan gigi. Dia lantas membawa Becca keluar dari ruangan.
Jika tadi sebelumnya Ben yang kena hipotermia, siapa yang menduga kalau sekarang Becca yang akan menjadi korban selanjutnya. Sekujur badan Becca terasa kaku. Wajahnya pun perlahan berubah menjadi pucat pasi.
Bukannya pergi ke perapian, Becca malah memilih berlari masuk ke kamarnya. Di sana dia menenggelamkan tubuhnya dengan selimut tebal. Meninggalkan Jack, yang ternyata mengekorinya sedari tadi.
Jack duduk di ujung kasur. Menyilakan kakinya di samping Becca.
"Jack!" mata Becca terbelalak saat menyaksikan kehadiran Jack tengah duduk tenang bersamanya. Di atas tempat tidurnya pula.
__ADS_1
"Jangan salah paham, aku hanya ingin memastikan keadaanmu." Jack memberikan alasan.
Becca sebenarnya ingin merespon ucapan Jack dengan kalimat yang menohok, tetapi kondisinya sekarang sedang tidak mendukung. Dia lantas diam dan merebahkan diri ke kasur. Membiarkan kepalanya tidak ditutupi oleh selimut.
Meski satu satu jam berlalu. Jack masih duduk mematung di tempatnya. Mengerjapkan mata beberapa kali sambil menatap ke arah jendela. Melihat kepingan-kepingan salju yang masih tampak lebat.
"Jack..." lirih Becca dengan suara paraunya. "Bisakah kau beritahu, apa alasanmu menjadi buronan? apa kejahatanmu sangat parah?"
Jack menoleh ke arah Becca. Gadis tersebut ternyata bicara sambil memejamkan mata. Menyebabkan Jack tidak kuasa untuk menahan senyuman tipisnya. Dia juga berpikir, mungkin inilah saatnya dirinya mengatakan semuanya kepada Becca. Lagi pula Jack juga penasaran dengan respon yang akan diberikan oleh gadis itu.
"Kau tahu Becca, jika kau mengetahui kebenarannya, kemungkinan besar kau akan membenciku," balas Jack seraya merebahkan diri tepat di sebelah Becca.
"Just tell me! (Cepat beritahu aku!)" desak Becca. Sebelah tangannya mencengkeram kerah baju Jack. Matanya masih menutup rapat.
Jack perlahan melepaskan tangan Becca dari kerah bajunya. Kemudian berkata, "Oke, aku akan cerita."
Becca membuka matanya lebar-lebar. Agak terkejut dengan perkataan Jack. "Apa kau bercanda?!" tanya-nya tak percaya.
"Tentu saja tidak. Andai aku bukan buronan, mungkin aku tidak akan pernah menjadi tetanggamu," jelas Jack yang sontak membuat Becca terdiam seribu bahasa. Gadis itu menggeser badannya agak menjauh dari Jack.
"Sudah kuduga, kau pasti takut." Jack menoleh ke arah Becca. Melakukan tatapan serius.
Becca seketika salah tingkah. Dia tidak tahu harus bagaimana merespon ucapan Jack. Salivanya tanpa sengaja tertelan sendiri.
"Aku punya alasan melakukannya. Semuanya hanya karena amarah..." sambung Jack lagi memberikan penjelasan. Perlahan dia menhadapkan badan ke arah Becca. Menggunakan satu tangannya sebagai bantalan kepala.
"Aku membunuh orang-orang yang telah..." Jack tidak kuasa melanjutkan kalimat terakhirnya. Raut wajahnya terlihat berubah sendu. Seakan mengingat kenangan buruk yang telah menimpanya.
"Membunuh keluargamu?" tebak Becca. Dia kembali mendekatkan diri dengan Jack. Ekspresi yang ditunjukkan lelaki tersebut membuat ketakutannya berubah menjadi empati. Sebab Becca bisa melihat adanya penderitaan yang mendalam dari semburat wajah Jack.
__ADS_1
"Jadi, kau tidak punya keluarga lagi sekarang?" tanya Becca. Entah kenapa cerita Jack membuat kondisinya sedikit membaik. Seolah memberikan kehangatan baginya.
"Begitulah. Tidak ada satu pun."
"Bahkan kerabat seperti paman, atau sepupu?" tanya Becca lagi dengan nada pelan.
"Sebenarnya ada. Tetapi, mereka membenciku," terang Jack. "Kemungkinan alasan mereka membenciku, karena aku telah melakukan kesalahan dan melarikan diri."
"Hidupmu ternyata lebih rumit dariku," komentar Becca menunjukkan mimik wajah sendu. Seakan terbawa suasana.
"Makanya kau mengingatkanku dengan diriku yang dahulu. Tidak bisa mengendalikan diri saat ditinggal orang terdekat." Jack melanjutkan ceritanya. Dia juga memberitahu kalau dirinya melarikan diri ke Rusia, dan bergabung menjadi anggota mafia di sana. Namun itu hanya berlangsung sekitar tiga tahunan. Karena pekerjaan mafia yang terbilang ekstrim dan berbahaya, Jack memilih berhenti dan keluar dari organisasi terlarang tersebut.
Becca memasang telinganya baik-baik. Mendengarkan setiap kata demi kata yang dilantunkan mulut Jack.
"Aku sempat tinggal sendirian di Los Angeles dan banyak bertemu orang baru. Aku bertemu Aaron di sana."
"Aaron? maksudmu pengusaha kaya itu?" Becca mendadak mengangkat kepalanya, akibat merasa tertarik dengan topik yang dibicarakan Jack. Apalagi David sempat memperingatkannya perihal Jack yang ternyata memiliki hubungan dekat dengan Aaron.
"Yes. Tetapi, dia bukan orang baik, Becca. Sekarang kami sedang mengurus Aaron agar dia dapat segera mendapat hukuman yang setimpal." Jack menghela nafasnya sejenak.
"Kami? Jack, jujur ceritamu masih rumit. Maksud dari kami itu siapa?" timpal Becca yang sekarang memegangi area jidatnya.
"Aku dan Mike," jawab Jack singkat. Ambigu dan masih belum jelas untuk Becca. Jack sebenarnya hanya merahasiakannya. Sebab dia tidak bisa memberitahu agen rahasia yang telah mempercayakan pekerjaan penting kepadanya.
"Becca, sebentar lagi aku akan pergi--" kalimat Jack terputus saat Becca meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
Jack terkesiap dan menatap Becca dengan debaran jantung yang mulai bergema. Dia mengira Becca akan melayangkan sebuah ciuman untuknya. Akan tetapi, sekali lagi perkiraannya salah. Ternyata gadis tersebut sedang berusaha tidur.
"Aku sudah mengantuk, terima kasih ceritanya Jack..." lirih Becca. Lalu menguap dengan mulut yang menganga lebar.
__ADS_1