
Becca sudah menunggu sangat lama di dalam mobil. Meskipun ada Mike yang menemaninya, dia tetaplah merasa bosan. Ditambah dirinya terlalu penasaran dengan apa yang ada di dalam bangunan. Tanpa diduga, gadis itu lantas turun dari mobil. Dia melakukannya ketika Mike sedang asyik menyandarkan badan dan memejamkan mata.
"Hey!" Mike seketika membuka mata kala mendengar suara pintu mobil terbuka. Penglihatannya segera disambut dengan pelarian Becca yang tengah berniat masuk ke dalam bangunan.
Ceklek!
Becca lekas-lekas membuka pintu. Dia sedikit kaget, karena pintunya kebetulan tidak dikunci. Gadis tersebut otomatis melangkahkan kakinya untuk masuk. Berjalan mengendap-endap sambil mengedarkan pandangan ke segala penjuru.
Telinga Becca perlahan mendengar sebuah perdebatan. Suara itu dijadikannya sebagai penunjuk jalan. Hingga langkahnya pun terhenti ketika dirinya sudah mampu melihat siapa orang yang berdebat.
Mata Becca membulat sempurna saat menyaksikan Jack sedang menodongkan pistol ke arah seorang lelaki. Mereka tampak menegosiasikan sesuatu.
Sebuah tangan tiba-tiba menutup mulut Becca rapat-rapat. Kemudian membisikkan sesuatu, "Kau memang gadis yang tidak mudah menurut ya." Ternyata orang tersebut adalah Mike. Dia segera membawa Becca kembali keluar, sebelum ada satu orang pun yang menyadari keberadaan mereka. Akan tetapi, langkah keduanya seketika terhenti, karena ada satu lelaki berkulit hitam menghadang di depan pintu keluar. Pria tersebut tampak memiliki badan kekar dan besar.
Mike dengan sigap melakukan perlawanan. Dia melayangkan sebuah tinju dan tendangan sekuat tenaga. "Cepat lari, Becca!" titah Mike sembari menyibukkan dirinya bergulat dengan pria berbadan kekar yang dilawannya.
Becca yang sudah ketakutan bergegas membuka pintu. Tangannya juga reflek merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. Dia ingin segera melakukan panggilan darurat. Namun sebelum dirinya menelepon, polisi beserta mobil-mobil hitam sudah berdatangan satu per satu. Entah siapa orang yang telah memanggil mereka ke sini lebih dahulu dari Becca.
"Kumohon tolong! teman-temanku sedang dalam bahaya!" Becca menghampiri seorang wanita berpakaian serba hitam. Wanita berambut pendek sepunuk itu segera membawa Becca masuk ke mobil.
"Tenanglah, kami akan mengurus kekacauan yang terjadi di sini..." tutur wanita berambut pendek tersebut. Kemudian pergi bersama yang lain memasuki bangunan. Cara mereka masuk benar-benar sama seperti para aktor pada film-film laga biasanya. Mengendap sambil memegangi senapan dan senjata di tangan mereka.
Kini Becca menunggu sendirian di mobil. Seluruh badannya gemetaran. Dia merasa bersalah sekaligus takut.
'Harusnya aku tidak lari. Aku harusnya melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Jack dan Mike...' gumam Becca dalam hati. Bola matanya terus mengarah ke arah bangunan. Satu tangannya dibiarkan menangkup mulutnya yang telah merengek.
__ADS_1
Dor! Dor! Dor!
Bunyi tembakan yang terdengar saling bersahut-sahutan menambah kekhawatiran Becca. Sekarang gadis itu hanya bisa berharap semua orang yang disayanginya selamat, dan pastinya akan baik-baik saja.
Setelah lumayan lama menunggu, semua orang berdatangan satu per satu. Melihatnya, Becca bergegas keluar dari mobil dan menanyakan keadaan semua temannya.
"Jack, dia baik-baik sa--" belum sempat orang yang ditanya selesai bicara, Becca malah beranjak pergi begitu saja. Sebab dirinya menyaksikan kemunculan Jack. Gadis tersebut langsung berlari masuk ke dalam pelukan Jack. Mendekap erat sosok yang tadi sempat membuatnya cemas. Kala itu mata Becca juga tidak sengaja melihat Mike keluar dari pintu. Dia sangat bersyukur semuanya terasa baik-baik saja.
"Kau gila, Jack!!" geram Becca yang sudah melepas pelukannya. Menatap Jack dengan nanar melalui sorot matanya.
"Becca, bukan aku yang harusnya kau khawatirkan..." lirih Jack. Terlihat menunduk sendu.
"Kenapa?" dahi Becca berkerut dalam.
Tidak lama kemudian, mata Becca menangkap sosok lelaki yang sedang terbaring lemah. Ditandu oleh dua orang polisi. Jantungnya serasa disambar petir, karena lelaki itu adalah David. Ayahnya sendiri.
"Apa yang telah terjadi kepadanya?! tolong seseorang katakan padaku!!" teriak Becca hiteris. Air matanya mulai mengalir deras. Jack lantas berusaha menenangkan Becca, dengan memeganginya dari belakang.
Mobil ambulan sudah berdatangan, David pun segera dibawa ke rumah sakit. Ternyata masih ada banyak orang yang terluka selain dari ayah kandung Becca tersebut.
Bangunan yang telah menjadi tempat David ditemukan, merupakan salah satu tempat bisnis narkotika. David disekap karena dalam perjalanan pulang dia dihadang oleh sekumpulan orang. Alasan dibawanya David, karena kepala kepolisian itu sudah terlalu banyak mencampuri urusan bisnis mereka.
Aaron selaku pemilik bisnis narkotika yang ada, sudah dibekuk oleh aparat kepolisian. Hukumannya akan diproses secepat mungkin. Sepertinya semua bukti sudah ditemukan. Hal itu disebabkan, Aaron tidak hanya memiliki satu tempat saja untuk membuat obat-obatan terlarang di kota Louisiana.
***
__ADS_1
Jack dan Mike sekarang sama-sama melangkahkan kaki memasuki gedung tinggi nan mewah. Keduanya langsung mendapatkan tepuk tangan saat masuk ke dalam sebuah ruangan. Seorang wanita berambut sepunuk yang sering dipanggil Jill tersenyum bangga menatap mereka.
"Kerja bagus. Kalian berdua melakukannya dengan baik..." puji Jill sambil berjalan semakin mendekat. Hingga berhenti tepat di hadapan Jack dan Mike.
Mike terlihat tersenyum lebar. Tetapi berbeda dengan Jack, yang tengah menampakkan raut wajah datar. Seolah keberhasilannya tidak berarti apa-apa.
"Are you okay, Ethan?" Jill menatap serius ke arah Jack. Dia memanggil Jack dengan nama aslinya.
Jack memaksakan diri tersenyum. Berpura-pura menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja.
"Syukurlah kalau begitu." Jill menepuk pelan pundak Jack. "Aku sangat berterima kasih, kalian sudah mau bekerja sama dengan FBI. Sekarang kalian bisa kembali ke kehidupan yang sebenarnya..." Jill menyalami Jack dan Mike secara bergantian. Dia melakuannya sebagai salam perpisahan.
"Kami sudah mentransfer uangnya ke rekening bank kalian, dan pastinya... rumah yang kalian impikan selama ini, telah siap untuk ditinggali!" begitulah ucapan terakhir Jill, sebelum Jack dan Mike benar-benar beranjak pergi dari pintu keluar.
Jack dan Mike akan segera pergi keluar negeri. Ke tempat impian mereka, agar bisa menjalani kehidupan yang menenangkan. Keduanya kini sedang berada di bandar. Duduk di ruang tunggu untuk menunggu pesawat mereka siap. Namun Jack mendadak berdiri dan membawa kopernya menuju pintu keluar bandara.
"Jack, oh... maksudku Ethan!" Mike terkekeh. Dia sudah terlalu terbiasa memanggil kawannya tersebut dengan panggilan Jack.
Jack berhenti dan menoleh.
"Semoga berhasil!" ucap Mike, yang tentu sangat paham dengan niat Jack saat ini, yaitu menemui Becca. Gadis yang terus mengganggu pikirannya hingga sekarang. Sampai-sampai uang pun juga tidak sanggup membuatnya bahagia.
"Jangan salah paham Mike. Aku hanya akan mengucapkan salam perpisahan kepadanya, tidak lebih." Jack memberikan penjelasan.
"Kita tidak pernah tahu, mungkin saja kau nanti berubah pikiran?" respon Mike sembari kedua mengangkat bahunya sekali.
__ADS_1
Jack hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya lagi. Dia bertekad hendak menemui Becca untuk yang terakhir kalinya. Atau seperti itulah yang Jack pikirkan sekarang.