Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 24 - I Really Like You, But...


__ADS_3

Ben dan Jack menghentikan pembicaraan ketika sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah keluarga Green. Atensi mereka sontak tertuju pada mobil itu.


Sementara di dalam mobil, David dan Jonas sama-sama langsung melihat ke arah Becca. Keduanya ingin memastikan ekspresi yang ditunjukkan oleh gadis tersebut. Bahkan Jonas sengaja mencondongkan kepalanya ke depan, hanya untuk menyaksikan semu yang ditunjukkan raut wajah kakak perempuannya.


"Apa?!" ketus Becca menatap David dan Jonas secara bergantian.


"Apa kau lihat? dua opsi ada di depan mata!" ucap Jonas sembari menunjuk ke arah Jack dan Ben berada.


"Jonas! bisakah kau berhenti? aku sudah benar-benar muak!" geram Becca dengan dahi yang berkerut.


"Hentikan Jonas! Becca sepertinya serius!" suruh David.


"Awas saja, kalau kau jatuh cinta kepada salah satu di antara mereka nanti." Jonas melakukan tatapan menyelidik kepada Becca.


"Never!" ucap Becca yakin.


David turun lebih dahulu dari mobil. Dia langsung mematri senyuman untuk menyapa dua lelaki yang kebetulan berdiri di depan rumahnya. Baik Jack maupun Ben, keduanya sama-sama menyapa David dengan ramah.


"Ada apa ini? apa kalian sengaja menyambut kedatangan kami?" ujar David sambil berjalan menghampiri Jack dan Ben.


"Anggap saja begitu Tuan Green," balas Jack.


"Apa liburannya lancar?" tanya Ben.


"Hmm... bisa dibilang begitu." David menyahut seraya memasukkan kunci ke lubang pintu. Mereka bertiga terlihat saling berinteraksi. Setidaknya begitulah yang dilihat Becca dari kejauhan.


Ketika Becca hendak keluar dari mobil, Jonas tiba-tiba saja mencegah. Hal itu tentu saja membuat Becca seketika geram, namun ia tetap memusatkan perhatiannya terhadap adik lelakinya.


"Aku akan sebutkan keinginanku sekarang!" ucap Jonas dengan kilatan mata berapi-api.


"Say it!" tantang Becca.

__ADS_1


Jonas segera menangkup mulutnya dan berkata, "Cium Jack di hadapan Ben!"


Plak!


Becca langsung melayangkan cap lima jarinya ke pipi Jonas. Dia tidak percaya adiknya tersebut akan mengatakan permintaan seperti itu.


"Hei! kau kenapa menamparku?! bukankah kita sudah sepakat akan melakukan apa yang diminta sang pemenang?" Jonas memegangi area pipinya yang terasa sakit.


"Permintaanmu sangat kekanak-kanakan bodoh! aku tidak akan melakukannya!" tegas Becca, lalu segera keluar dari mobil. Dia melangkahkan kaki menuju keberadaan Ben yang masih berdiri di depan pintu. Berbeda dengan Jack yang tidak bisa menolak ajakan David untuk masuk ke dalam rumah.


Becca langsung merangkul pundak Ben, dan membawannya ikut bersamanya. Gadis tersebut menyeret sahabatnya menuju kamar, dan melingus begitu saja melewati Jack. Becca masij kesal, karena Jack meninggalkannya dan Jonas begitu saja di taman bermain.


"Becca, kau sepertinya melupakan kejadian di cafe," sapa Jack yang sepertinya tak terima dirinya diabaikan. Penuturannya membuat David dan Ben mematung dan menatap ke arahnya.


Sedangkan Becca reflek melebarkan mata. Terlintas jelas dalam ingatannya mengenai apa yang telah dilakukannya terhadap Jack saat di cafe. Tanpa sengaja bayangannya memperlihatkan jelas bagaimana cara bibirnya dan bibir Jack saling bersentuhan. Becca segera menggeleng tegas untuk menyadarkan diri, kemudian menoleh ke arah Jack.


"Maksudmu minum kopi bersama kan?" Becca mengedipkan matanya dua kali. Berharap Jack dapat mengerti maksudnya, bahwa dia tidak ingin apa yang telah terjadi di cafe diketahui oleh semua orang.


"Hahaha! itu lucu sekali Jack. Hal terbodoh yang pernah kudengar!" David yang tadinya serius mendengarkan pembicaraan Jack dan Becca, akhirnya berakhir dengan tawa. Dia merasa lega, karena tidak ada kejadian serius yang menimpa putrinya.


Becca yang mendengar berdecak kesal. Dia segera melanjutkan langkahnya menuju kamar. Dengan di ikuti Ben dari belakang.


Ben yang sedari tadi terdiam, sebenarnya hanya merasa tersingkir dengan kehadiran Jack. Dia takut kalau sahabat yang sudah dicintainya sejak lama akan jatuh hati lagi. Bukan kepadanya melainkan terhadap lelaki lain.


Ben sekarang sudah berada di kamar Becca. Lagi-lagi dia menyaksikan sahabat perempuannya itu berganti baju di hadapan matanya.


"Becca! harusnya kau suruh aku keluar kalau mau mengganti baju!" Ben memekik sambil memejamkan kedua matanya.


"Kenapa? bukankah aku sudah sering begini?" Becca berucap sembari merapikan kaos yang sudah menempel di badannya.


"Karena aku juga seorang lelaki! apa hal itu tidak pernah terlintas dalam pikiranmu?"

__ADS_1


"Pffft!" Becca tertawa kecil lalu melanjutkan, "aku melakukannya karena aku tahu kau lelaki yang baik!"


"Bagaimana jika aku berbuat kesalahan!" Ben yang tadinya duduk tenang mendadak berdiri, dan berderap mendekati Becca.


"Maksudmu apa? kenapa kau menjadi sangat serius?" Becca membulatkan mata, apalagi saat Ben terus mendekatkan wajahnya. Sekarang ia terpojok ke meja rias yang ada di belakangnya. Sedangkan Ben masih memasang wajah seriusnya.


"Ben, awas saja kalau kau mengerjaiku!" Becca mempertemukan jidatnya dengan dahi Ben, seakan tidak takut dengan sahabat lelakinya tersebut. Sebab ia yakin Ben tidak akan berani berbuat hal yang tidak-tidak terhadapnya. Jarak wajah di antara mereka sekarang hanya beberapa senti.


Kelakuan Becca yang berani, menyebabkan jantung Ben tidak kuasa menahan debaran yang kuat. Bukannya memberikan ketegasan, malah dirinya yang merasakan gugup. Ben menenggak saliva-nya sekali.


"I love you, Becca..." tanpa sadar kalimat tersebut keluar dari mulut seorang Ben. Becca yang mendengar lantas menampar pipi Ben lumayan kuat. Hingga menyebabkan Ben reflek membelalakkan matanya.


"Jangan bercanda, aku tidak akan tertipu lagi kali ini!" ucap Becca, lalu melayangkan pantatnya untuk duduk di kasur.


Ben hanya terdiam seribu bahasa. Dia sangat paham terhadap alasan Becca, yang menganggap ungkapannya hanya sebagai omong kosong. Hal tersebut dikarenakan ia juga pernah mengatakan kalimat yang sama ketika masih SMA. Namun saat itu, dia bertindak seolah-olah mengerjai Becca. Padahal alasan Ben melakukannya karena tahu Becca sedang sakit hati karena baru putus dengan Richy. Ben mengira dia dapat mengambil kesempatan tersebut untuk mendapatkan hati Becca, tetapi sama sekali tidak berhasil.


"Kau kenapa masih berdiri di sana?!" tegur Becca kepada Ben yang masih melayangkan pikirannya ke masa lalu.


"Tidak ada." Ben lantas memposisikan diri duduk di sebelah Becca. "Kenapa?" tanya-nya.


"Lihat! bitcoinku sudah banyak." Becca menunjukkan gambar yang ada di layar ponselnya. Di sana tertera jumlah bitcoin yang dimilikinya. Ada sekitar 300 bitcoin, yang berarti jika di uangkan, maka Becca akan mendapatkan sekitar 10 juta Dollar.


"Shi*t! kau akan apakan uang itu?" tanya Ben yang merasa tak percaya.


"Aku ingin ke Las Vegas, dan memperbanyak uangku lagi di sana." Becca mengarahkan bola matanya ke atas. Membayangkan dirinya tengah berada di kota yang terkenal sebagai tempat judi terbesar di dunia tersebut.


"Oh my god! jangan lakukan itu. Takutnya kau nanti malah kehilangan semua uangmu!" Ben menegaskan.


"Kau bisa membantuku kalau mau!" balas Becca tak peduli dengan nasehat sahabatnya.


"Becca, please! stop it!" Ben menghela nafas panjangnya. Sebenarnya dia tahu betapa nekatnya kelakuan seorang Becca. Gadis yang dianggapnya tidak pernah kenal takut tersebut, selalu memiliki rencana yang nyeleneh. Mungkin itulah salah satu alasan Becca selalu tidak pernah lepas dari sebuah masalah.

__ADS_1


"Pffftt! kau kenapa hari ini sangat serius. Aku hanya bercanda!" ucap Becca sembari tertawa kecil. "Pergi ke Las Vegas adalah pilihan akhirku, jika aku sudah benar-benar putus asa dengan hidupku," tambahnya yang dilanjutkan dengan cara kembali sibuk pada layar ponselnya.


__ADS_2