
Becca dan Jack hening beberapa saat. Terpaku pada cakrawala yang telah menghitam. Namun lampu-lampu kota berhasil menghiasi keindahan kegelapan tersebut. Becca berbalik badan dan menyenderkan pinggulnya ke bagian depan mobil Jack.
"Apa kau pernah mempunyai rencana tentang hidupmu?" tanya Becca, kembali memulai pembicaraan.
Jack segera menoleh ke arah Becca. Namun ia masih setia berdiri di tempatnya. Sebelah tangannya masih bertautan erat dengan pagar. "Tentu saja, Becca. Mana ada seseorang bisa menjalani hidup tanpa ada rencana dan tujuan yang jelas," tuturnya.
"Itu aku..." lirih Becca.
Jack sudah mengangakan mulutnya karena hendak membalas, tapi urung karena Becca lebih dahulu bersuara. "Sejak ibuku meninggal, aku merasa kosong." Becca berterus terang.
Jack semakin berempati. Apalagi saat dirinya menyaksikan adanya kesenduan di raut wajah Becca. Dia sekarang berjalan menghampiri gadis tersebut. Kemudian memposisikan diri berada di sebelahnya. Jack ikut bersandar ke kap mobilnya sendiri.
"Kau beruntung hanya ibumu yang pergi..." ungkap Jack menatap kosong ke gemerlap pemandangan kota.
"Maksudmu?" Becca menuntut jawaban.
"Aku kehilangan kedua orang tuaku saat masih remaja. Persis seperti dirimu, jadi aku sangat paham dengan apa yang kau rasakan sekarang. Makanya aku terus memberitahumu bahwa, kau sangat beruntung masih memiliki David dan Jonas di sisimu," Jack menoleh, membalas tatapan Becca yang sedari tadi memandanginya dari samping.
"Benarkah itu?" tanya Becca dengan nada lembut. "I'm so sorry Jack..." matanya sekarang menampakkan binar nanar kepedulian.
"Tidak apa-apa. Sekarang aku sudah lebih baik. Aku bercerita, agar kau tidak memiliki kehidupan yang payah sepertiku," ungkap Jack dengan senyuman singkat.
"Payah? dari yang kulihat, kau mengalami kehidupan sangat baik." Becca berpendapat. Ia menilik Jack dari ujung kaki hingga kepala. Memastikan seberapa mahal pakaian yang dikenakan lelaki berperawakan jangkung tersebut. Dan Becca tahu, kalau Jack tengah memakai pakaian bermerek ternama.
"Dari segi apa? kehidupan itu umum. Bisa tentang harta, mental, kasih sayang, cinta, keluarga, pekerjaan--"
"Oke, aku paham. Kau tidak perlu menjelaskannya sedetail itu." Becca memanyunkan mulutnya.
__ADS_1
"Kehidupan yang baik tidak bisa dinilai dari penampilan seseorang, Becca." Jack menjelaskan singkat.
Becca hanya bisa mengangguk-anggukan kepala. Dia mengerti dengan apa yang dimaksud Jack. Sehingga pemikirannya hanya bisa menyimpulkan kalau Jack kemungkinan pernah mengalami kehidupan yang sulit.
"Aku rasa sebentar lagi akan pagi, kau tidak ingin pulang?" Jack bertanya sambil melipat tangan di depan dada. Sepertinya badannya mulai merasa semakin dingin.
"Emm... ya, kita bisa pulang sekarang." Becca menyetujui. Lagi pula ia sadar kalau Jack sedang kedinginan. Sebab jas milik lelaki itu sudah dipakaikan untuk menghangatkan tubuhnya. Mereka pun masuk ke dalam mobil. Kemudian beranjak pergi untuk pulang.
Becca memandangi Jack melalui sudut matanya. Tanpa sengaja lengkungan di bibirnya memunculkan sedikit senyuman. Dia tengah berpikir tentang lelaki yang sedang sibuk menyetir di sampingnya. Sorot mata hazel-nya menampakkan binar penuh kekaguman.
"Kau kenapa menatapku begitu? membuat tidak nyaman saja," tegur Jack setelah memastikan tatapan Becca yang terus tertuju kepadanya. Jantungnya berdebar tidak karuan karena merasa terbawa suasana dengan tatapan Becca.
"Aku hanya tidak menyangka, kau ternyata adalah pendengar yang baik. Karena kau, sekarang aku merasa lega, dan tidak cemas untuk bicara dengan David," terang Becca seraya mengalihkan atensinya ke depan. Tepat ke arah jalanan beraspal yang dihiasi dengan jejeran pohon di samping kanan dan kiri.
"Kau mengingatkanku dengan masa lalu, Becca." Jack menyahut sambil memutar setir mobilnya. Dia dan Becca sudah memasuki wilayah Eden Street.
"Pikirkanlah apa yang kau mau," jawab Jack ambigu. Namun malah memunculkan kembali senyuman tipis diwajah Becca. Entah kenapa gadis itu merasa sangat senang bisa menghabiskan waktu yang manis bersama Jack.
...***...
Di depan rumah Becca, ada sebuah mobil hitam terparkir rapih. Sudah sekitar dini hari keberadaan mobil tersebut terlihat. Di dalamnya terdapat seorang lelaki dan perempuan, yang tidak lain adalah Ben dan Tara. Mereka tengah mencemaskan keadaan Becca. Kali ini Tara terlihat duduk di depan setir. Sedangkan Ben ada duduk di sebelahnya.
Tara terus saja mengeluhkan kekesalannya, karena Becca tidak kunjung mengangkat panggilan teleponnya. Dia juga beberapa kali menyinggung perihal keributan yang didengarnya saat sedang bicara dengan Becca di telepon.
Ben dan Tara mengetahui keberadaan Becca setelah menghubungi David. Keduanya bahkan sempat mendatangi kantor polisi. Namun David menyarankan mereka untuk menunggu di rumah saja. Apalagi setelah dirinya mengetahui Becca sudah pulang lebih dahulu. Meskipun begitu, David masih tidak mengetahui Becca pulang bersama Jack.
"Kenapa Becca lama sekali? apa dia bercumbu dengan Jack?" Tara menggerutu. Ia memang tidak bisa tenang, jika sedang mengkhawatirkan sesuatu.
__ADS_1
Mendengar perkataan Tara, Ben langsung menyalangkan mata. Dia tidak ingin apa yang dikatakan sahabat perempuannya itu benar-benar terjadi.
"Aku harap tidak!" ucap Ben yang sekarang mengalihkan perhatiannya ke arah depan. Tepatnya ke halaman depan rumah Jack.
"Ya, aku harap begitu." Tara menciut dan berusaha memahami pendapat Ben. Dia sadar, tidak seharusnya dirinya bebicara begitu saat di depan Ben.
Mobil Jack tampak muncul dari kejauhan. Kemudian berhenti di depan rumahnya sendiri. Becca perlahan keluar dari mobil berwarna biru tersebut. Mimik wajah yang ditunjukkannya terlihat sumringah. Dia berjalan mengitari mobil dan menghampiri Jack.
Becca menangkup wajah Jack dan memberikan sentuhan dari bibir ke bibir. Keduanya jelas sedang tidak melakukan ciuman singkat. Penampakan itu sontak menyebabkan mata Ben dan Tara terbelalak.
Deg!
Jantung Ben serasa disambar petir. Berdebar hebat akibat saking terkejutnya. Hatinya begitu sesak, hingga mulutnya tak mampu berkata-kata lagi. Ben segera menundukkan kepala, karena tidak sanggup menyaksikan kemesraan Becca bersama Jack.
"Sebaiknya kita pulang saja," usul Tara sembari menyalakan mesin mobil. Mimik wajahnya begitu kecut. Sama halnya dengan Ben, ia juga tidak kuasa berkomentar sedikit pun. Gadis berperawakan berisi tersebut segera menjalankan mobil dan berlalu pergi meninggalkan kediaman Becca.
Tara menghela nafas panjang ketika dirinya berhasil membawa Ben untuk pulang. Dia berada di posisi yang terbilang sulit. Di satu sisi, Tara tidak bisa membela Becca. Sedangkan di sisi lainnya, ia juga tidak dapat melakukan apapun atas perasaan Ben yang jelas sedang sakit. Menurutnya, diam mungkin adalah pilihan terbaik.
"Entah kenapa, ketika Becca bersama lelaki lain, keinginanku untuk menyatakan perasaan selalu menggebu..." lirih Ben, yang akhirnya bersuara. Menatap kosong ke jendela mobil. Tepatnya pada bulir-bulir embun yang menetes di bagian kaca luar. Semburat kekecewaan nampak jelas diwajahnya. Ben perlahan menyandarkan diri ke kursi yang sekarang didudukinya.
"Aku tahu, Ben." Tara merespon sebisa mungkin. Dia sepenuhnya sudah kehabisan cara untuk menghibur Ben dengan kata-kata. Keadaan terasa begitu canggung baginya.
"Apakah menurutmu waktunya tepat?" tanya Ben serius.
"Maksudmu menyatakan perasaanmu?" Tara berbalik tanya untuk memastikan. Namun diamnya Ben otomatis membuatnya langsung mengerti. "Menurutku kau bisa mencobanya. Tetapi lakukanlah dengan serius. Dan jika sudah dilakukan, kau tentu harus bisa menerima resiko apapun," sambungnya memberikan wejangan terbaiknya.
Ben menganggukkan kepala. Dia mendengus kasar sambil memejamkan kedua mata. Mencoba melupakan apa yang dilihatnya beberapa menit lalu.
__ADS_1