
"Duduklah!" titah Jack seraya kembali melayangkan pantatnya ke kursi.
Becca pun menarik kursi yang ada di dekat Jack, dan duduk di sana. Mike yang merasa terganggu dengan kehadirannya sontak melayangkan tatapan sinis.
"Jack!" ucap Mike tanpa bersuara. Gerakan mulutnya jelas menyebut nama Jack. Dia memberikan isyarat kepada temannya, agar segera menyuruh gadis yang sekarang bergabung di mejanya untuk menjauh.
Becca tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah Mike. Instingnya sepertinya merasakan kalau dirinya sedang dibicarakan.
"Hai!" sapa Becca kepada Mike.
"Hai!" Mike terpaksa membalas sapaan Becca.
"Kau terlihat tidak asing." Becca menyipitkan matanya. Dia mencoba menelusuri ingatannya, untuk mengingat pertemuannya dengan lelaki berkulit hitam yang sekarang ada di hadapannya. Namun Mike hanya membalasnya dengan senyuman kecut.
"Kenalkan aku Becca." Becca mengulurkan tangannya ke arah Mike. Senyuman tipis menghiasi wajahnya.
"Mike." Lelaki berkulit hitam itu hanya membalas singkat. Dia bahkan tidak menyambut tangan dari lawan bicaranya.
Becca pun kembali menarik tangannya dengan canggung. Setelahnya, dia kembali menatap Jack dan berkata, "Jack, aku sangat minta maaf dengan perlakuanku tadi. Aku benar-benar terbawa suasana."
Becca sesekali menoleh ke arah Richy. Lelaki berambut brunette tersebut terlihat santai dan menikmati hidangannya bersama Donna.
"Apa dia mantan pacar yang ingin kau buat cemburu?" tanya Jack serius.
"Iya." Becca menjawab singkat. Raut wajahnya tampak sendu.
"Aku rasa kami harus pergi. Iyakan Jack?!" ujar Mike sembari berdiri lebih dahulu. Dia tidak akan membiarkan pembicaraan Jack dan Becca berjalan lebih jauh.
"Ayo Jack!" desak Mike. Dia melayangkan tatapan yang mengancam.
Jack yang mengerti lantas segera bangkit dari tempat duduknya. "Benar, kami harus pergi!" ujarnya. Kemudian berusaha melangkahkan kaki berbarengan dengan Mike. Namun tangan Becca dengan sigap memegangi lengan Jack.
__ADS_1
"Aku ikut!" kata Becca sambil bangkit dari tempat duduknya. Dan berhasil membuat Jack dan Mike kembali terperangah.
"Hai Becca, kau tidak mau memperkenalkan pacarmu kepadaku?" tanpa diduga Richy datang menghampiri. Becca tentu saja dibuat begitu kaget.
"Ke-kenalkan, namanya Jack!" Becca menarik Jack lebih dekat, lalu melingkarkan tangannya ke lengan lelaki itu. Mike yang sudah tidak tahan lagi, akhirnya keluar lebih dahulu dari cafe.
Jack hanya menampakkan ekspresi datar. Namun raut wajah yang ditunjukkannya terkesan seolah tengah marah.
"Hai, senang berkenalan denganmu." Richy menyodorkan tangannya kepada Jack. Dia berniat ingin bersalaman. Namun sama sekali tidak mendapat balasan dari Jack. Bahkan dengan ucapan sekali pun.
"Jack!" Becca menyenggol Jack, agar segera merespon Richy. Akan tetapi dia sama sekali tidak mendapatkan hirauan. Jack malah melepaskan tangan Becca, lalu bergegas pergi keluar dari cafe.
"Ma-maaf, Richy. Sepertinya Jack masih marah kepadaku. Di-dia sering begitu jika aku terlambat datang." Becca menjelaskan dengan enggan. Ia mengusap tengkuknya tanpa alasan. "Oke, bye!" tambahnya seraya lekas-lekas pergi menyusul Jack.
Hujan telah sedikit reda. Sekarang hanya ada bau khasnya yang semerbak. Memberikan kesegaran untuk penduduk pinggir pantai yang lebih sering menikmati terik sinar matahari. Becca tampak sudah keluar dari cafe. Dia melajukan langkah kakinya untuk mengejar Jack. Apalagi ketika dirinya melihat Richy dan pacarnya berada di meja kasir, pertanda keduanya sebentar lagi akan ikut keluar dari cafe.
Becca yang sudah terlanjur basah mengaku berpacaran dengan Jack, tentu saja tidak mau mengalah. Jack terlihat sudah di dalam mobil. Duduk santai di depan setir. Dia tengah menunggu Mike yang kebetulan sedang berbicara lewat telepon genggamnya.
"Apa yang kau lakukan?" Jack menatap tajam ke arah Becca. Untuk yang pertama kalinya, dia berbicara dengan nada dingin. Tidak seperti versi Jack yang ramah. Namun atensi Becca yang hanya tertuju kepada Richy, membuatnya sama sekali tidak menyadari perubahan diri yang ditunjukkan oleh Jack.
"Sebentar saja Jack, aku akan keluar saat Richy dan pacarnya pergi!" ujar Becca yang masih saja terus mengamati pergerakan mantan pacarnya. Alhasil Jack hanya bisa terdiam. Mungkin dia sudah lelah menghadapi kelakuan gadis aneh yang sedang duduk di sampingnya.
Mike telah selesai berbicara lewat teleponnya. Dia berjalan menuju mobil. Tangannya perlahan meraih pintu, dan ketika dia membukanya, lagi-lagi Mike harus dikejutkan dengan kehadiran Becca.
"Hai." Becca tersenyum kecut sembari mengangkat sebelah tangannya.
"Kau lagi?" Mike menggeleng tak percaya. Dia juga menatap ke arah Jack karena saking herannya. Berbeda dengan Becca, yang hanya memperdulikan aksi Richy terhadap keadaannya. Sekarang mantan pacarnya itu sudah pergi jauh dengan mobilnya. Becca pun segera turun dari mobil.
"Terima kasih Jack. Aku tidak akan melupakan ini!" ujar Becca. "Oh iya Mike, kau sekarang sudah bisa masuk!" tambahnya yang sekarang berbicara kepada Mike.
"Oke, jagalah dirimu baik-baik." Jack membalas dengan nada datar. Seakan apa yang diucapkannya hanya sebuah kalimat tak bermakna.
__ADS_1
"Apa kau akan kembali ke resor?" tanya Becca, yang sepertinya hendak mengambil kesempatan untuk pulang tanpa menggunakan sepeda.
"Tidak!" sahut Jack tegas. Selanjutnya dia pun langsung menjalankan mobilnya. Meninggalkan Becca sendirian dengan perasaan kalutnya.
"Dia benar-benar gadis gila!" keluh Mike sambil menggertakkan gigi kesal. "Menjauhlah darinya Jack! sepertinya dia gadis pembuat masalah!" sambungnya. Namun Jack hanya membisu dan tidak merespon perkataan yang dilontarkan oleh Mike.
"Kau tidak tertarik kepadanya kan?" tanya Mike, setelah tidak mendapat respon pasti dari temannya.
"Sedikit. Dia mengingatkanku dengan diriku yang dulu." Jack berterus terang.
"Aah... begitu?" Mike menghela nafas panjang, lalu melanjutkan, "Benar juga, aku tidak bisa membantah hal itu. Bahkan kelakuanmu dulu lebih buruk darinya. Tetapi sekarang kita sedang mengurus hal penting Jack!"
"Aku akan menjaga diriku Mike. Kau tahu kan, aku selalu hebat dalam perihal mengabaikan perasaan?" balas Jack yakin.
"Aku tahu. Makanya Tuan William mempercayakan tugas ini kepadamu." Mike memegangi bahu Jack pelan. "Aku hanya takut kebohongan yang dilakukan Becca tadi akan berbuntut panjang, dan bisa saja nanti dia mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya!" tambahnya sembari melihat ke kaca mobil yang ada di hadapannya.
"Aku akan mengurusnya dengan rapi Mike. Percayalah kepadaku." Jack meyakinkan. Mike pun tersenyum dan menganggukkan kepala, pertanda ia percaya sepenuhnya dengan ucapan Jack.
Sementara itu, Becca sudah menaiki sepedanya. Perasaannya sedang berkecamuk. Dia hanya ingin lekas-lekas tiba di villa-nya. Namun mendadak sebuah mobil muncul, dan berjalan di sampingnya. Perlahan kaca jendela mobil tersebut terbuka. Ternyata orang yang ada di dalamnya adalah Richy dan Donna.
"Becca? kau tidak pulang bersama pacarmu?" tegur Richy, yang sepertinya sudah mencurigai kebohongan Becca.
"Apa dia sangat marah kepadamu? sampai tidak mengantarmu pulang?" Donna ikut menimpali. Becca yang mendengar sontak merasa semakin sedih. Matanya tampak sudah berembun, tetapi dia berusaha sebisa mungkin menahan tangisnya.
"Kau mau ikut kami saja?" tawar Richy.
"Ti-tidak! aku ingin mengurus sesuatu!" sahut Becca seraya melajukan sepedanya.
Richy pun menggidikkan bahu seakan memaklumi penolakan dari mantan pacarnya. Dia segera melajukan mobil dan meninggalkan Becca.
"Aku tidak percaya, kau pernah memacari gadis seperti itu. Pffft!" komentar Donna dengan tawa kecilnya.
__ADS_1
"Berhentilah mengejekku!" respon Richy yang pada akhirnya ikut terkekeh bersama Donna.