
"Maaf Tara, aku harus segera pergi!" ujar Becca, kemudian langsung mematikan panggilan telepon lebih dahulu.
Becca menggerakkan kakinya lebih cepat keluar dari toilet. Penglihatannya pun disambut dengan kesunyian. Ruangan yang tadinya dipenuhi banyak orang sekarang menjadi kosong melompong. Makanan dan beberapa barang berhamburan di lantai. Semuanya tampak berantakan bak diterpa angin topan.
Becca melepas high heels-nya, lalu hendak berjalan menuju pintu keluar. Ia sebenarnya masih berada di mulut lorong. Saat itulah matanya menangkap sosok Jack tengah menaiki tangga. Lelaki tersebut terlihat tergesak-gesak.
"Jack..." Becca memanggil terlalu pelan. Hingga suaranya tidak tertangkap oleh kedua telinga Jack. Alhasil gadis itu sekarang berjalan mengekori Jack. Dia berjalan tanpa alas kaki. Berjinjit melewati beberapa serpihan kaca yang berserakan di lantai. Kemudian melangkah menaiki anak tangga berbahan porselen.
Becca sekarang berada di lantai dua. Langkahnya terus mengiringi Jack dari belakang. Hingga dari kejauhan ia dapat menyaksikan Jack memasuki sebuah ruangan. Dahinya mengukir kerutan, lalu bergegas menyusul Jack.
Ketika sudah tiba, Becca segera membuka pintu. Ia dapat melihat Jack tengah sibuk memeriksa beberapa barang. Seolah berusaha mencari sesuatu.
Mendengar suara pintu dibuka, Jack otomatis segera menoleh. Matanya seketika membola kala menyadari Becca berhasil memergokinya.
"Jack? apa yang kau--" Becca tidak mampu menyelesaikan ucapannya kala Jack mendadak menariknya, lalu bergegas menutup pintu. Kaki Becca otomatis mengikuti arahan Jack. Jujur saja Becca semakin dirundung kebingungan terhadap aksi Jack yang terkesan aneh.
"Jack, what's wrong? apa yang--" lagi-lagi omongan Becca disanggah oleh Jack. Dia mengacungkan jari telunjuknya ke bibir ranum milik Becca.
"Diamlah..." ujar Jack pelan. Kemudian kembali melanjutkan membuka lemari yang ada di belakangnya. Becca hanya berdiri mematung. Biji matanya bergerak mengikuti kemana Jack berjalan. Dia berusaha tenang dan menyimpan rasa penasarannya terlebih dahulu. Menilik ke tiap sudut ruangan sekarang dirinya berada. Terlihat beberapa foto yang menunjukkan Aaron bersama orang-orang berbeda. Terdapat sebuah komputer dan beberapa berkas yang menumpuk di meja. Menurutnya sekarang dia berada di ruang kerja Aaron.
Sesekali Becca meringiskan wajah. Karena terkadang telapak kakinya sedikit merasakan sakit. Akan tetapi gadis itu sama sekali tidak memeriksa keadaan kakinya.
Perlahan terdengar suara derap langkah semakin mendekat. Jack awalnya membeku, karena berusaha memastikan kedekatan suara langkah kaki itu. Setelah terdengar semakin mendekat, dia pun bergegas menyeret Becca ikut bersamanya. Kemudian bersembunyi di bawah meja. Jujur saja tempat tersebut sangatlah sempit untuk memuat dua orang. Jack bahkan kesulitan berjongkok, akibat tinggi badannya.
Tangan Jack menutup rapat mulut Becca. Dia sama sekali tidak tahu kalau gadis yang sekarang berada sangat dekat dengannya, diselimuti perasaan gugup. Jantungnya berpacu lebih cepat.
Bau cologne yang dipakai Jack menguar semakin jelas dihidungnya. Becca perlahan melirik wajah Jack yang hanya berada beberapa senti di sampingnya. Membuat perasaannya semakin tidak karuan.
__ADS_1
'Jack aneh, tetapi kenapa dia terlihat sangat keren dimataku?" batin Becca terkesiap akan bentuk wajah Jack yang terlihat dari samping.
Ceklek!
Pintu sudah terdengar dibuka. Bunyi langkah kaki menggema. Tempo langkah tersebut seperti tergesak-gesak. Jack dan Becca dapat mendengar suara lemari yang dibuka. Becca semakin menjongkokkan badannya, dia berusaha bersembunyi secara maksimal.
Karena merasa penasaran, Jack perlahan mengintip. Dia ingin memastikan siapa orang yang telah masuk ke dalam ruangan. Pupil matanya membesar saat menyaksikan ternyata orang itu adalah Mike. Jack lantas melepaskan tangannya dari mulut Becca, lalu keluar dari tempat persembunyian.
"Mike? bukankah kau mengurus CCTV?" tukas Jack sembari berjalan menghampiri Mike.
"Sudah beres. Kau tidak perlu khawatir!" sahut Mike yang menatap ke belakang selintas. Tepatnya ke arah Jack berada. Namun dia harus kembali berbalik, karena matanya menangkap sosok lain bersama Jack.
"What the..." Mike terperangah kala melihat kehadiran Becca. "Jack, apa yang dia lakukan di sini?!" timpalnya merasa tak percaya.
"Kita urus masalah Becca nanti. Sekarang, apa kau sudah menemukannya?"
Suara sirine mobil polisi mulai terdengar dari luar. Becca mencoba memeriksa keadaan di luar lewat jendela. Dia berharap tidak menyaksikan kehadiran David. Namun pupus sudah harapannya tatkala melihat David menjadi salah satu polisi yang datang.
"Jack, ada David di bawah. Aku tidak ingin dia memergoki kita di sini!" ujar Becca memberitahu.
Mimik wajahnya tampak cemas.
"Oke, yang terpenting kita keluar dari sini sekarang. Ayo!" Mike membuka pintu lebih dahulu dan segera keluar ruangan.
"Ikuti aku, Becca!" perintah Jack, yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Becca. Keduanya sekarang berjalan beriringan. Mengikuti Mike yang memimpin jalan di depan.
Becca memegangi bagian belakang jas yang sedang dikenakan Jack. Dia reflek melakukannya akibat merasa takut. Detak jantungnya mengalirkan sedikit keringat di beberapa titik tubuhnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Becca, Jack dan Mike berhasil keluar dari pintu belakang. Mike tampak sudah jauh di depan.
"Jack, pokoknya setelah ini kau harus jelaskan semuanya kepadaku!" bisik Becca yang masih belum melepaskan pegangannya dari Jack.
"Aku tidak bisa berjanji." Jack membalas seraya mencelingak-celingukan kepala ke kanan dan kiri. Hingga matanya reflek terbelalak ketika melihat David berjalan ke arahnya. Jack tidak bisa bersembunyi lagi, sebab sorot mata David jelas ter-arah kepadanya.
"Jack, kenapa kita berhenti?" tanya Becca heran. Dia segera mengalihkan pandangannya ke kiri. Hingga pada akhirnya dia juga menyadari keberadaan David yang kian mendekat.
David melajukan jalannya saat menyaksikan putrinya sendiri. Semburat wajahnya tampak tegas dan geram.
"Becca, kenapa kau di sini? bukankah kau dan Jack seharusnya ada di pesta prom?" timpal David sambil menatap tajam putrinya.
"Ummm... aku--"
"Aku yang membawanya ke sini Tuan Green." Jack menyahut lebih dahulu, karena tidak tega membiarkan Becca mendapatkan omelan dari David. Alhasil sekarang dialah yang mendapatkan pelototan dari lelaki berseragam polisi tersebut.
"Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan Becca pergi bersamamu lagi!" tegas David dengan acungan jari telunjuknya ke wajah Jack. Setelahnya, dia kembali memperhatikan keadaan Becca. Matanya tertuju kepada kaki putrinya yang sedang tidak memakai alas. David dapat melihat jelas sedikit warna merah di kedua kaki Becca.
"Tunggu, kenapa kau tidak memakai sepatu?! kakimu berdarah!" ujar David khawatir, kemudian berjongkok untuk memastikan keadaan kaki putrinya. Hal yang sama juga dilakukan Jack. Dia merasa harus bertanggung jawab.
"Aku tidak apa-apa. Kalian jangan khawatir!" Becca melangkah mundur, dan berusaha menjauhi David dan Jack. Sekarang ia mendapatkan tatapan tajam dari keduanya.
"David, aku akan segera mengantar Becca pulang. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu di sini," Jack memberikan usul.
"Tidak! biar aku saja yang membawanya." David melakukan tatapan mengancam. Kemudian membawa Becca untuk ikut bersamanya.
"Jack!" David kembali menoleh ke arah Jack. "Aku sarankan kau jangan pulang, karena polisi membutuhkan penjelasanmu," tambahnya, lalu benar-benar beranjak pergi.
__ADS_1