
"Sepertinya ini pertanda kalau aku harus segera pergi!" ungkap Jack. Dia bangkit dari tempat duduknya.
"Aku benar-benar minta maaf dengan kelakuan Becca, dia memang sering berbuat ulah!" tutur David, yang tentu membuat wajah Becca langsung merengut.
"Kenapa kau membicarakan anakmu begitu Tuan Green. Lagi pula biasanya yang sering bikin ulah adalah orang yang paling sering dirindukan, iyakan Becca?" respon Jack seraya menoleh ke arah Becca, lalu tersenyum tipis. Becca pun membalas senyumannya. Sedangkan David hanya terdiam mendengar pernyataan menohok yang dilontarkan Jack kepadanya.
"Ya sudah, aku harus berangkat bekerja. Kau juga akan mengantar Jonas kan? dia sepertinya sudah sangat terlambat!" ucap Jack lagi sambil berjalan menuju pintu keluar.
"Kau benar Jack, ngomong-ngomong biasanya jam berapa kau akan berangkat ke kantor pusat?" David menyamakan langkahnya dengan Jack. Mereka berjalan semakin jauh.
"Aku biasanya akan pulang..." suara Jack tidak terdengar lagi setelah pintu depan benar-benar ditutup. Sekarang Becca tertinggal sendirian. Dia menangkup wajahnya sendiri. Gadis tersebut terlalu malu mengingat kejadian tadi. Terutama saat melihat ekspresi Jack kala dirinya tidak sengaja menyemburkan susu ke wajahnya.
"Kemarin aku mencurigainya, sekarang aku merasa bersalah kepadanya. Huhh!" gumam Becca yang berakhir dengan dengusan kasarnya.
Kruk! kruk!
Perut Becca tiba-tiba keroncongan, gara-gara insiden tadi, dia hampir lupa mengisi perutnya. 'Ugh! benar juga, tujuanku ke dapur kan ingin makan? astaga, aku hampir lupa!' keluhnya sembari memegangi area perutnya. Dia pun lantas mengambil beberapa roti untuk dimasukkan ke toaster.
Becca menikmati harinya sendirian di rumah. Dia menghabiskan waktu dengan cara menonton film. Jika sudah puas melakukannya, maka gadis itu akan melanjutkan aktifitasnya dengan bermain game di komputer.
Seperti biasa, Becca selalu memainkan game bertema horor dan misteri. Dia sangat tertantang ketika memainkan game tersebut. Sekarang dirinya tengah memainkan game resident evil biohazard. Mengikuti petualangan Ethan sang karakter utama dalam game.
Becca sesekali menggerutu sendiri, ketika dirinya harus melawan beberapa penjahat di dalam game. Dengan gaya ala penganggurannya, yaitu hodie dan celana olahraga, dia berlagak sangat sibuk. Seolah apa yang sedang dilakukannya begitu penting.
Sudah lebih dari lima jam Becca bermain game. Kebetulan dia bermain di kamarnya. Di sebelah kanannya terdapat jendela, tempat ia bisa mengamati rumah Jack dengan jelas.
Ketika sudah merasa lelah, Becca menyandarkan diri dan menggeliatkan badannya. Dia menengok keluar jendela, agar matanya bisa berisitirahat dari layar komputer. Kebetulan ia menyaksikan Jack berdiri di depan rumah. Lelaki itu terlihat banyak membawa kantong plastik, persis seperti yang diberikannya kepada David tadi pagi.
Becca menyipitkan matanya, karena rasa penasarannya kembali muncul. Dia hanya mampu melihat gerak-gerik Jack melalui jendela ruang tamu, karena tirainya sedang setengah terbuka.
Jack menghilang sejenak dari penglihatan Becca. Tidak lama kemudian, dia muncul lagi tetapi dengan menggunakan pakaian yang berbeda. Setelahnya Jack keluar dari rumah sembari membawa kantong plastik. Becca meyakini isinya adalah beraneka ragam buah yang lumayan banyak.
'Sepertinya dia berniat mengambil hati semua warga di sini. Sampai segitunya?' batin Becca seraya mengarahkan bola matanya ke kanan atas. Dia kembali merasa ada yang janggal dengan perilaku Jack.
__ADS_1
"Aaarghh!" Becca mengacak-acak rambutnya histeris. Dia benar-benar frustasi dengan rasa keingin tahuannya. "Haruskah aku memberitahu Tara?" gumamnya.
Pada akhirnya Becca pun mengambil ponselnya karena berniat menghubungi Tara. Tidak butuh waktu yang lama untuk menunggu Tara mengangkat telepon.
"Halo Becca, ada apa?" sapa Tara dari seberang telepon.
"Apa kau sibuk?" tanya Becca sambil menghempaskan badannya ke kasur.
"Tentu, apalagi sekarang sedang jam makan siang!"
"Benarkah? ya sudah kalau be--"
"Katakan saja ada apa? aku punya waktu kok! jangan membuatku penasaran!"
"Teruskan saja pekerjaanmu, aku tidak--"
"CEPAT! KATAKAN!" Tara memekik, suara lantangnya berhasil membuat sebagian pelanggannya terperanjat. Namun dari semua orang itu, Becca-lah yang paling tersiksa dengan suara teriakannya. Dia mengelus-elus kupingnya untuk beberapa saat seraya menggertakkan gigi kesal.
"KAU TIDAK PERLU BICARA SENYARING ITU!!" Becca membalas memekik. Namun dia kalah telak, sebab Tara sudah memprediksi kelakuan sahabatnya tersebut. Sebelum Becca berteriak, Tara sudah sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. Tara yang merasa puas pun tergelak.
Becca menghela nafas panjang dan segera bicara, "Kau tahu kan Jack?"
"Banget! makhluk setampan Leonardo DiCaprio muda itu kan, sepertinya ibunya memang sengaja menamakannya Jack, karena dia sangat mirip dengan Jack di film Titanic. Astaga, aku berharap aku adalah Rose-nya!" Tara malah terbuai berceloteh karena dalam pikirannya sedang terbayang wajah Jack. Becca yang mendengar langsung merengut.
'Sia-sia membicarakan Jack dengannya, aku yakin Tara tidak akan fokus!' ucap Becca dalam hati, lalu mematikan telepon secara sepihak.
"Jadi, sekarang--"
Tut... tut... tut...
Tara menjeda perkataannya kala mendengar bunyi telepon sudah dimatikan oleh sahabatnya. Dia sekarang hanya bisa menggeleng tak percaya, kemudian kembali menyibukkan diri melayani pelanggannya.
Becca berniat menyelidiki Jack sendirian terlebih dahulu. Lagi pula dia juga punya alasan yang jelas untuk mendatangi hunian lelaki tersebut. Selain modus karena penasaran, Becca juga ingin meminta maaf perihal insiden yang terjadi tadi pagi.
__ADS_1
"Aku akan memesan pizza saja!" gumam Becca. Dia bermaksud menjadikan pizza itu sebagai pertanda permintaan maafnya.
Setelah menunggu beberapa saat, pizza-nya pun datang. Becca menyambut dengan sumringah. Dia sekarang bersiap melangkah menuju tempat tinggal Jack. Namun Becca segera menghentikan pergerakan kakinya, karena dia teringat kalau Jack sedang tidak ada di rumah. Jadi gadis itu pun duduk di sofa sambil memfokuskan atensinya ke arah rumah Jack. Dia mengamati dari balik jendela lagi.
Becca langsung menegakkan badannya ketika menyaksikan Jack sudah kembali lagi ke rumah. Dia sengaja menunggu beberapa saat agar gerak-geriknya tidak terlalu kentara.
Setelah lima belas menit kemudian, barulah Becca bangkit dan berderap menuju rumah Jack. Dia sekarang telah berada di depan pintu.
Tok! tok! tok!
Becca mengetuk pintu terlebih dahulu. Sekotak pizza berada dalam genggamannya.
Ceklek!
Jack sudah muncul dari balik pintu. Senyumannya merekah seketika kala melihat penampakan Becca.
"Becca?" sapanya dengan kening yang mengernyit heran.
"Jack, aku ingin minta maaf perihal ketidaksopananku tadi pagi." Becca menyerahkan sekotak pizza untuk Jack.
"Kau memberiku pizza?" Jack terkekeh. Sebab baru kali ini dia menemui orang yang membawakan pizza datang ke rumahnya. Terkecuali untuk tukang pizza sendiri.
"Maaf, aku tidak pandai memasak, jadi..." Becca tersenyum enggan, dia mengusap tengkuknya tanpa alasan akibat merasa sangat malu.
"Aku sebenarnya tidak memakan makanan cepat saji, tapi aku akan menerimanya demi dirimu," tutur Jack seraya mencoba meraih sekotak pizza yang ada di tangan Becca.
"Benarkah? kalau begitu tidak usah deh! aku tidak mau membuatmu jatuh sakit!" Becca mempertahankan pizzanya dalam genggaman.
"Bukan begitu, aku hanya--"
"Tidak Jack! jujur aku tidak ingin membuat masalah lagi!" Becca bersikeras. Sekarang dia dan Jack saling berebutan sekotak pizza.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya menjaga kebugaran badan. Tetapi jika memakannya sekali-kali tidak apa--"
__ADS_1
"Jangan Tuan Robinson, aku akan memberikan hidangan lain saja!" Becca menarik kotak pizzanya sekuat tenaga. Hal yang sama juga dilakukan Jack.
"HENTIKAN! AKU BILANG, AKU TIDAK APA-APA!" Jack tiba-tiba membentak, sepertinya dia sudah tak kuasa menahan amarahnya lagi. Dia berhasil membuat Becca sangat terkejut. Mata gadis itu membulat sempurna. Apalagi sekarang kotak pizza yang tadi diperebutkan jatuh begitu saja ke lantai.