Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti
Terus Curiga


__ADS_3

Hari dimana produk yang diluncurkan perusahaan akan launching esok hari, dan tentunya membuat semua karyawan di buat sibuk begitu juga Alex, sang direktur Violet Brand. Luncur nya produk perusahaan tentu saja Zoya ada ikut andil di dalam nya.


Ya Zoya lah yang membuat desain produk sehingga membuat nya semakin terlihat menarik karena mereka sudah melakukan uji pemasaran dan hasilnya sangat memuaskan, 70 dari seratus persen pelanggan merasa tertarik dengan packaging yang ide dari itu adalah Zoya sendiri.


Alex yang masih sibuk mengurus semua berkas yang menandakan kalau produk tersebut benar-benar brand dari perusahaan nya dan juga layak untuk di pasarkan. Ketika jam makan siang tiba, Alex memanggil Mark untuk mencari Zoya karena ada berkas yang harus Zoya tanda tangani atas kontrak karya ide packaging yang di buatnya akan di pakai.


Mark yang langsung berlalu untuk mencari Zoya merasa heran dengan Alex, apa dia melupakan masalahnya dengan Zoya sehingga bersikap seperti biasanya saja, bagaikan tidak terjadi apa-apa di antara mereka tadi malam.


''Apa dia sudah tidak lagi datang untuk konsultasi pada Tuan Arga? biar aku tanyakan nanti,'' gumam Mark yang masih melangkah menuju lantai dimana tempat Zoya bekerja.


Sesampainya di sana, Mark langsung menuju Devisi pengembangan, semua orang tengah sibuk dan ketika ia sampai di meja yang seharusnya ada Zoya di sana namun meja itu terlihat kosong dengan komputer yang masih keadaan mati.


''Hei kau, gadis magang disini dia kemana?''


''Oh Zoya, hari ini dia tidak izin karena sakit dan tidak masuk kantor, padahal banyak pekerjaan yang harus ia pegang,'' jawab karyawan tersebut dengan sedikit nyinyiran.


''Urus pekerjaan mu sendiri, jangan mencela orang terlebih lagi pada nya.'' Ujar Mark yang memperingati karyawan yang bekerja tepat di sebelah meja Zoya karena merasa kesal atas jawaban wanita itu.


''Ba-baik Tuan Mark, saya minta maaf,'' ia pun berlalu dari sana kembali ke mejanya meninggalkan Mark yang masih menatapnya dengan tajam.


''Apa masalah di antara mereka benar-benar serius, sampai nyonya bos tidak masuk hari ini?'' gumam Mark dalam hatinya.


Mark pun pergi dengan terus berusaha menghubungi nomor Zoya namun sama sekali tidak tersambung, yang tentunya membuat dia khawatir dengan hubungan antara suami istri itu.


''Alex.. apa yang kali ini kamu perbuat pada gadis malang itu.'' Mark berlarian menuju lift yang pastinya mengundang banyak tanya tanya pada orang-orang yang melihatnya terlebih lagi raut wajah Mark yang terlihat sangat khawatir.


''Lex?!'' panggil Mark yang masuk begitu saja ke ruangan Alex.


''Ck, kau benar-benar lupa cara-''

__ADS_1


''Jangan lanjutkan,'' potong Mark yang berusaha mengambil nafasnya kembali yang habis karena berlari. ''Zoya tidak ada di kantor.'' Lanjutnya.


''Oh kemana dia? pasti sedang makan siang dengan pria sialan itu,'' balas Alex dengan acuh.


''Dia memang tidak masuk kantor karena izin sakit.''


''Sakit!?'' Alex yang semula fokus pada layar komputer seketika berdiri dengan wajah terkejut.


Tanpa menunggu lama, Alex pun bergegas pergi dari sana meninggalkan Mark yang masih mengatur nafasnya, menyadari dirinya seorang diri di ruangan itu, Mark pun menyusul Alex dengan cara berlari lagi dan terus mengomel sendiri.


''Benar-benar pasangan yang merepotkan! mereka yang berumah tangga aku yang lelah, dan akan cepat tua lalu mati, dan mereka hidup bahagia.'' Gerutu Mark dengan kesal.


Apa yang di lakukan Alex sama dengan Mark, yang terus mencoba menghubungi Zoya namun tetap saja tidak ada jawaban dan hanya ada suara operator yang mengatakan kalau pemilik nomor tidak bisa menerima panggilan.


Dari kontak Zoya, Alex beralih menghubungi orangnya yang memang ia taruh di dekat apartemen hanya untuk berjaga-jaga. ''Cepat pergi ke atas, periksa istri ku!'' perintah Alex pada orang suruhannya di sebrang telpon sana.


''Lex biar aku yang menyetir.'' Ucap Mark dan di angguki Alex.


Mark sangat paham dengan bosnya itu, dengan keadaan hatinya yang sedang khawatir karena terlihat dari rautnya, Alex akan membawa mobil dengan seenaknya dan itu membuat Mark juga ikut khawatir karena Alex.


Tujuan Alex hanya apartemen miliknya karena memang yang dia tahu Zoya akan tetap di sana, ya tadi pagi saat dia mengambil pakaian ia melirik pakaian Zoya yang masih berada di tempatnya, dan tentu tidaklah mungkin jika Zoya pergi jauh darinya.


Sesampainya di depan gedung apartemen, Alex yang baru saja akan masuk ke dalamnya, namun sudah di dahului orang suruhannya yang kemudian segera menghampirinya. ''Maaf bos, nyonya tidak ada di manapun.'' Ucap pria bertubuh besar dan tinggi itu.


Wajah Alex bertambah khawatir dan itu bisa di lihat dengan mata Mark. ''Baiklah, kau kembali ke pekerjaan mu,'' jawab Alex dengan suara melemah.


''Lex, sebenernya apa yang terjadi di antara kalian kemarin malam?'' tanya Mark dengan hati-hati.


''Entahlah Mark, seingat ku, aku memarahi nya karena lagi-lagi dia dekat dengan Aiden- aahh ya, pasti Zoya sedang bersama Aiden.'' Ucap Alex yang tangannya segera mengambil kembali ponsel nya namun dengan cepat Mark merebut nya dari tangan Alex.

__ADS_1


''Cukup Lex, bukan saatnya kau terus mencurigai Zoya dan Aiden. Aku lihat Zoya bukan wanita seperti itu.''


Alex terdiam menatap intens Mark, tapi kemudian ia berdecak kesal. ''Tapi aku melihat mereka selalu saja bersama, bahkan kau tahu Mark! Zoya memanggil Aiden dengan panggilan kakak dan memanggil ku dengan panggilan Tuan, padahal aku suaminya.'' Ujar Alex mengatakan keluhannya selama ini.


''Tapi hubungan kalian tidak nyata Lex.'' Sarkas Mark dan lagi-lagi membuat Alex terdiam seribu bahasa. Dia tidak menyalahkan ucapan Mark karena memang itu benar adanya, tapi kenapa hatinya seakan menuntut berbeda dari kenyataan.


''Lebih baik kita mencarinya dengan berpencar sekarang juga, ini.'' Mark memberikan kunci mobil milik Alex dan segera pergi dari sana begitu juga dengan Alex yang sudah menancapkan pedal gasnya untuk mencari Zoya.


Di sebuah dermaga, Zoya yang sedang bersama kedua temannya, Rini dan Kia. Mereka sedang berbincang dengan asik. Zoya yang ingin menenangkan hati dan pikiran nya menghubungi teman-temannya untuk sekedar berjalan-jalan walaupun dengan izin karena sakit di kantor.


''Sayang sekali Lili tidak bisa kesini, padahal aku juga merindukan dia,'' ucap Zoya.


''Merindukan pipi gembul nya ya,'' timpal Rini dan mereka pun tertawa bersama. Interaksi anak gadis seusianya sangat seru tapi tidak menutup kemungkinan bahwa sebenarnya Zoya juga masih memendam rasa sedihnya walaupun ia tutupi dengan tawanya.


Obrolan mereka terhenti kala mendengar suara deringan ponsel milik Zoya dan nama Aiden lah yang tertera di sana. Lalu mengapa Alex dan Mark tidak bisa menghubungi nya? dengan ragu Zoya menggeser icon hijau pada layarnya dan segera menempelkan nya di telinga.


''Iya kak?''


''Oh aku sedang bersama teman-teman ku.''


''Tidak apa-apa kak, aku tutup dulu. Tidak enak Jia aku sibuk dengan ponsel karena sedang bersama mereka.''


Kedua teman Zoya masih terdiam menunggu Zoya mematikan sambungan telepon karena bentuk saling menghargai di antara mereka memanglah kuat.


''Kaka? siapa ?'' Tanya Rini yang tidak sengaja mendengar panggilan Zoya untuk si penelpon.


''Kalian ingat aku pernah bercerita tentang pemuda di masa lalu ku?''


''Oh yang selalu kau ganggu?'' Zoya mengangguk dan mereka kembali berbincang-bincang layaknya sekumpulan anak gadis.

__ADS_1


__ADS_2