
Makanan yang terlihat sangat enak sudah berjejer rapih di atas meja, Zoya yang sudah berkeringat tersenyum puas melihat hasil masakannya. Menanti datangnya Alex dengan tidak sabar.
Mencium sesuatu yang tidak enak, Zoya mengangkat tangan nya dan mendekatkan Indra penciuman nya ke sana. Tertawa sendiri karena memang aroma yang tidak sedap itu berasal dari dirinya.
''Hihi... baunya dari aku ternyata. Kalau begitu aku akan bersih-bersih dulu.'' Ucapnya yang segera berlalu ke dalam kamar yang ada di lantai atas.
Selang beberapa menit, Alex yang baru saja memasuki rumah mengedarkan pandangannya, menghirup aroma yang sangat sedap terlebih lagi perutnya yang ikut berbunyi karena bau masakan itu.
Bibirnya tersenyum dan segera pergi ke dapur untuk mencari keberadaan Zoya, namun yang ia lihat hanya ada beberapa masakan yang sudah siap saji di atas meja, dan terlihat masih ada kepulan asap yang berasal dari makanan yang menandakan bahwa makanan itu baru saja matang.
''Apa mood nya sudah kembali?'' gumamnya.
Berjalan melewati meja makan menuju lemari pendingin untuk mengambil air mineral dengan terus menatap lapar pada makanan tersebut.
''Alex kau sudah pulang ?'' Zoya yang datang dari arah dalam segera menghampiri Alex dengan bibir yang tersungging.
Alex sedikit tercengang, meneguk air liur nya karena melihat Zoya yang kini dengan rambut yang basah dan tergerai terlebih lagi raut wajah Zoya yang berseri-seri. Ya! senyum itu yang di rindukan Alex beberapa hari ini.
"Kau pasti lapar, makan yuk'' ajak Zoya yang kini sedang menyendokan nasi putih ke piring untuk Alex.
Seperti kerbau yang di cocok hidung nya, Alex duduk di kursinya dengan mata yang terus menatap ke arah Zoya, memakan apa yang Zoya ambilkan.
''Enak nggak?'' Alex mengangguk.
''Nggak keasinan kan?'' Alex menggeleng.
''Sungguh?" Alex mengangguk lagi.
Ya hanya itu yang dapat Alex lakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Zoya untuk nya, jangankan menjawabnya bersuara pun tidak bisa karena mulutnya yang penuh dengan makanan.
Zoya hanya memberikan senyuman dengan diikuti matanya yang mengecil, merasa senang karena masakannya di lahap dengan baik oleh suaminya.
"Besok, aku ikut dengan mobil mu ya.''
Yang semula Alex fokus dengan makanan, tiba-tiba mulutnya berhenti mengunyah, menoleh dengan mata yang memicing. ''Besok? kamu mau kemana?"
''Kerja, aku sudah di terima-''
__ADS_1
Trank!
Alex meletakkan sendok dan garpu di piring dengan sedikit membantingnya. Menatap dingin ke arah Zoya yang juga menatapnya.
''Apa ucapan ku tidak sama sekali kau anggap, Zoya ?!''
Zoya menelan sisa makanan dengan seketika, terlebih lagi, Alex yang memanggilnya dengan hanya namanya saja
''Aku sudah melakukan interview, dan aku di terima. Maafkan aku Alex, aku benar-benar sangat ingin bekerja'' suara Zoya kian mengecil, menundukkan kepalanya merasa bersalah karena memang tindakan nya yang salah.
''Sebenarnya apa yang kau inginkan, aku melarang mu bekerja, hanya karena tidak ingin kau kelelahan, lagipula aku mampu memberikan apapun yang kau mau.''
''Ini semua kamu tidak akan mengerti, Lex. Aku hanya ingin bekerja karena merasa bosan terlebih lagi ijazah ku yang sama sekali tidak terpakai jika harus berdiam diri saja.''
Alex terdiam sejenak, meminum air dengan tenang. menghela nafasnya dengan panjang, sungguh saat ini dia sedang mengontrol diri agar tidak membentak Zoya karena tidak ingin menyakiti hati orang yang di cintai nya ini.
''Perusaan mana yang kau datangi?'' tanya Alex tanpa melihat ke arah Zoya.
''X-Xeon Company'' Alex menoleh dengan cepat, terkejut, ya hanya itu yang dapat Alex ekspresikan karena mendengar jawaban Zoya.
Zoya mengangguk lemah.
''Kau tahu sayang. Itu perusahaan yang pernah ingin menghancurkan perusahaan ku. Dan sekarang kau mengatakan kalau ingin bekerja di sana?!''
Zoya ternganga, sungguh ia tidak tahu menahu kalau Xeon Company ternyata rival dari Violet Brand.
''Aku tidak tahu, sungguh.''
Alex hanya menghembuskan nafasnya ke udara, seraya berkata ''aku sudah kenyang'' lalu berlalu pergi dari sana meninggalkan Zoya seorang diri di meja makan.
Zoya hanya bisa menyesali keputusannya, dan untuk membatalkan perjanjian kerja itu tidaklah mungkin karena dia juga sudah mentanda tangani kontrak kerja sama itu dengan pihak perusahaan XC tersebut.
jikalau mungkin Zoya benar-benar ingin membatalkan kontrak, dia harus membayar sebuah pinalti yang nilainya cukup besar. Dan apa dia harus membebani Alex lagi? tidak! Zoya tidak ingin hal itu terjadi.
''Ya hanya tiga bulan. Kontrak itu berjalan. dan selanjutnya aku yang berhak menentukannya lanjut ataupun tidak''
''Aku akan bicara pada Alex , semoga ia mengerti''
__ADS_1
Sejak saat itu, sikap Alex terhadap nya sangat dingin, dan bahkan Alex kerap tidak pulang kerumah mereka dan bermalam di kantor. Zoya juga sudah berusaha untuk bicara namun Alex tetap dengan sikapnya.
Keseharian pasangan suami istri itu tidak lain hanya bekerja. Keharmonisan rumah tangga semakin lama terkikis, terlebih lagi sikap Alex yang terus saja dingin terhadap Zoya.
Ya rupanya rasa kecewa Alex pada Zoya sudah benar-benar melampaui batas. Alex merasa dirinya tidak berguna, dan tidak di hargai sebagai seorang suami.
Sehari-hari Alex di kantor hanya sibuk bekerja, bahkan ia sangat memporsir waktu kerjanya. Dan itu dapat Mark rasakan. Mark merasa Alex tengah berubah, sikap nya yang terlampau dingin tidak seperti biasanya, yaaa walaupun memang Alex kerap bersikap acuh tapi bukan seperti ini.
Di XC, Zoya yang juga sedang di ruangan kerjanya, yang bahkan ia tidak menyangka pekerjaan nya hanya duduk dan menunggu berkas-berkas yang di bawa kepada nya hanya untuk diberikan tanda tangan.
Sudah 3 pekan lamanya Zoya bekerja di sana, dan hanya itu yang Zoya lakukan, tapi terkadang memang dia harus memeriksakan sebuah data dan itu tidak sama sekali melelahkan bahkan ia sering merasa bosan dengan pekerjaannya.
Di sana tertulis manager pemasaran, yang seharusnya ia di sibukkan dengan tuntutan ide-ide yang mampu meningkatkan suatu penjualan atau transaksi di dalam sebuah perusahaan. Tapi tidak! dia bahkan hanya duduk manis dengan bolpoin sebagai teman kerjanya yang paling berguna itu.
''Sebenarnya aku ini kerja apa sih, kenapa aku merasa seperti pemilik perusahaan. Yang hanya di perlukan tanda tangan nya saja.'' Gerutu Zoya yang semakin merasa bosan.
Seorang wanita yang terlihat seusianya memasuki ruangan, dengan tersenyum wanita itu menghampirinya dengan sebuah berkas di tangan nya yang sudah di tebak oleh Zoya untuk ia tanda tangani.
''Maaf Nona Zoya, saya perlu tanda-''
''Tangan ku kan?'' potong Zoya yang langsung mengambil alih berkas itu. Wanita itu hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.
''Oh ya, Nona Retno. Apa aku bisa meminta izin untuk keluar?''
''Panggil saya Retno saja , nona'' lirih wanita itu dengan ekspresi yang membuat Zoya heran.
''Bailah, Retno.''
''Eum, Jika nona ingin keluar kantor, saya rasa tidak perlu izin. Tidak masalah bahkan .''
''Hah? maksud mu bagaimana ?''
''Iya, nona tidak perlu mendapatkan izin, lagipula ini kan-''
''Retno! kau sudah mendapatkan tanda tangan nya?''
Suara seseorang yang masuk keruangan itu membuat Zoya dan Retno menoleh, dan membuat Retno tidak lagi bisa melanjutkan ucapannya.
__ADS_1