Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti
Kau?


__ADS_3

''Lex..?!'' panggil Zoya begitu kencangnya dari ruang memasak.


Kehidupan Zoya dan Alex mereka jalani dengan cukup baik, Zoya yang selalu pulang tepat waktu setelah mengikuti pelajaran di kampus nya dan Alex yang memang akan pulang kesana setelah selesai dengan pekerjaannya.


Sedikit demi sedikit Zoya sudah mulai menguasai berbagai macam masakan karena berkat Alex yang begitu telatennya mengajarkan Zoya yang memang sangat ingin bisa memasak.


''Ya manis'' sahut Alex dari luar rumah karena baru saja mengambil pesanan susu yang Zoya sendiri memesan langsung pada penjualannya.


''Kemarilah,'' pinta Zoya dan Alex sudah dapat menduga kalau Zoya memanggil nya hanya untuk mencicipi masakannya dan mengkoreksi hasil olahannya itu sebelum ia benar-benar memindahkan masakan ke wadah dari wajan.


''Dia semakin menggemaskan,'' gumam Alex dengan tertawa kecil dan berlarian segera menghampiri istrinya itu.


Istilah pernikahan kontrak sudah tidak ada yang mengungkitnya, dari Alex maupun Zoya sendiri, mereka menjalani nya dengan normal.


''Emmm, ada yang kurang,'' cela Alex setelah mencicipi sedikit kuah santan yang di buat Zoya.


Raut wajah Zoya kian berubah karena apa yang menurutnya sudah pas tapi menurut Alex ternyata masih ada kekurangan. ''Kurang apa? haaahh,,, kapan aku bisa memasak tanpa ada koreksi,'' keluh Zoya dengan bergumam.


''Kurang ini,'' Alex menunjuk pada pipi kanannya, dengan bibir yang ia manyunkan memberikan kode agar Zoya memberikan kecupan mesra padanya.


''Dasar mesum, maniak!'' omel Zoya yang kesal karena Alex yang sering sekali menggodanya.


Ya sekarang Alex menjatuhkan hobi yang ia sangat suka dengan menggoda Zoya karena menurutnya melihat wajah Zoya yang cemberut terlebih lagi bibir Zoya yang kecil dan berisi membuat ia ketagihan untuk menyantapnya.


Tangan Zoya yang masih terus memukuli dada kekarnya segera ia tahan dengan kedua tangan besarnya, saling menatap dalam pada netra masing-masing.


''Apa kau tahu?'' Zoya pun menggeleng.

__ADS_1


''Aku sangat bahagia,'' sambung Alex.


''Kenapa?''


''Karna kau,'' Zoya tersenyum malu, tapi entah kenapa tiba-tiba saja hatinya seperti ada sesuatu yang membuat ia sedikit tersentak. Tatapan dalam Alex, senyuman lembut Alex, apakah memang miliknya? batin Zoya.


''Apa aku bisa meminta sesuatu?'' Alex yang kini mengangguk mendengar ucapan Zoya.


''Kelak, jika kita tidak lagi sejalan, aku harap kau segera melupakan semua kenangan kita-'' Alex menggelengkan kepalanya dengan cepat namun Zoya kembali melanjutkan ucapannya , ''tapi jika memang itu tidak terjadi aku mengharapkan tidak ada pertengkaran maupun kesalahpahaman antara kita. Dan aku berjanji dan menuntut janji padamu untuk menyelesaikan masalah kehidupan masing-masing jika belum ada yang selesai, dan salasatu dari kita harus siap untuk menerima itu, bagaimana?''


Alex terdiam, mencerna apa yang sebenarnya Zoya katakan itu, dan apa yang di maksud dari 'tidak lagi sejalan' apa ada maksud tertentu dari kata itu? namun melihat wajah Zoya yang menunggu jawaban nya, membuat Alex menyetujuinya dengan masih banyak pertanyaan dalam benak nya.


''Aku berharap tidak ada benteng lagi untuk kita,'' ucap Alex dalam hatinya.


Suasana sore hari yang hangat itu membuat keduanya terbawa kedalamnya, Alex memeluk Zoya dengan begitu hangatnya dan Zoya yang membalasnya begitu pula.


.


Setelah selesai dengan makan malam, Alex yang memang sudah merencanakan untuk memberikan sesuatu pada Zoya dan segera mengambilnya di kamar nya.


''Kau tunggu ya, aku akan segera kembali,''


menunggu beberapa saat dan Alex pun kembali duduk di tempatnya, mengeluarkan sesuatu dari tangannya dan memberikan langsung ke Zoya.


Sebuah kotak persegi panjang berwarna biru tua saat ini sudah berada di depan Zoya, gadis yang akan menginjak usia 20 tahun itu hanya memandang nya dengan banyak tanya dalam hatinya.


''Bagaimana ya, Emmm maaf, aku tidak pandai dalam bertutur kata dalam masalah keromantisan, tapi ini aku berikan padamu,'' Zoya menghela nafasnya ia juga tidak bisa menyalahkan Alex karena cara Alex yang memberikan hadiah padanya tidak seperti lelaki kebanyakan namun dia cukup tersentuh akan hal itu.

__ADS_1


Sebuah kalung berlian berbentuk bintang yang berkilau Alex berikan pada Zoya, tangan lentik Zoya meraih kalung tersebut mengambilnya dari kotak perhiasan berwarna biru tua. Apakah ini benar-benar untuk ku, apakah aku cocok menggunakannya? overthinking Zoya muncul lagi, merasa dirinya kecil dan tidak pantas dengan apa yang saat ini ada di dekatnya.


''Aahh ya biar aku bantu pakaikan,'' ucap Alex yang sudah akan bangun dari kursinya namun Zoya segera mencegahnya.


''Tidak apa-apa, aku akan pakai nanti.''


Makan malam romantis itupun usai begitu saja sampai Zoya yang masuk lebih dulu ke kamar, dan Alex yang pergi ke ruang kerjanya karena masih ada pekerjaan yang belum selesai.


.


Hari ini ada pertukaran pelajar maka dari itu kampus pun ramai dengan berbagai acara, Zoya yang di tunjuk sebagai panitia pun harus berangkat dari rumah sepagi mungkin dan kebetulan Alex juga akan ada perjalanan bisnis bersama Mark.


''Aku akan menghubungi mu setelah sampai, jangan terlalu lelah, hmm?'' tutur Alex yang saat ini memang mengantarkan Zoya sampai ke kampus nya.


''Aku tunggu di asrama, kau hati-hati ya.'' Balas Zoya dan merekapun berpisah di gerbang kampus.


Sebelum berpamitan Alex memberikan sebuah kartu berwarna hitam pada Zoya dan mengecup kening dengan cepat dan langsung masuk kembali ke dalam mobil menyisakan Zoya yang terpaku di tempatnya.


Sorakan beberapa gadis yang kebetulan lewat sana menyadarkan Zoya dari keterkejutannya, ada yang terbawa perasaan dengan adegan yang baru saja di lihatnya ada juga yang tidak suka menyaksikan itu.


''Zoya, kau benar-benar sudah memiliki kekasih?!'' tanya salasatu gadis yang sepertinya satu universitas dengan nya. Zoya yang mendengar pun malu untuk menjawab nya karena memang kabar dia menikah dengan seorang pria kaya raya belum tersebar luas dan hanya sebagian orang yang mengetahui itu.


Di perusahaan Violet Brand, Alex yang baru saja sampai segera naik ke ruangannya, dan menyampaikan pesan pada sekertaris wanitanya untuk memanggil Mark jika ia datang.


Menyiapkan beberapa berkas untuk ia bawa ke luar kota, matanya terus berpacu di layar monitor komputer, suara ketukan pintu terdengar dan langsung Alex persilahkan masuk.


Namun seketika jari-jarinya berhenti yang semula mengetik lincah dan matanya menatap datar pada seseorang yang datang itu.

__ADS_1


''Kau?'' ucap Alex dengan suara yang sedingin mungkin.


''Apa kabar?'' tanya orang itu namun tidak di jawab Alex, ia hanya menatap dengan mata yang tak berkedip.


__ADS_2