
Kata orang, jangan pernah menganggap orang diam itu lemah, dan akan menerima apapun yang di tentukan untuk nya. Salah! ya, Zoya Khanza bentuk nyata yang memang memiliki sifat pendiam, namun hatinya sering tertanam memiliki rasa dendam juga tidak bisa menerima begitu saja dengan perkataan yang menurutnya menyebalkan.
Mengingat perkataan Chintya tempo hari yang mengejeknya dengan penampilan nya yang sederhana jauh dari kata elegan seperti Chintya, tidak membuat Zoya menganggap kalau itu hinaan, melainkan Zoya merasa tertantang dengan adanya ejekan seperti itu.
Melihat isi lemari yang hanya ada pakaian sehari-hari nya, seperti Hoodie juga celana jeans dan sejenisnya, Zoya teringat pakaian-pakaian yang di belikan louis untuk nya hari itu.
Zoya menoleh ke arah laci kecil berwarna putih dan melangkah ke sana, mengambilnya lalu mengeluarkan nya dari dalam paper bag coklat.
Sebuah dress-dress cantik yang memiliki model-model berbeda juga warna yang nude, Zoya berpikir apakah dia pantas menggunakan nya, namun tekatnya tengah bulat.
Zoya pergi ke kamar mandi untuk mencoba pakaian-pakaian itu, dan alhasil bibirnya mengucap kagum tanpa sadar akan dirinya yang saat ini memakai pakaian wanita feminim atau bisa di sebut dengan style classic. Style klasik menunjukkan kesan yang elegan, rapi, dan stabil. Busananya biasanya memiliki warna yang simpel, dengan jahitan yang rapi, dan warna yang tidak terlalu mencolok serta match dari atas sampai bawah.
Berulang kali ia berputar melihat dirinya dari pantulan cermin. kepercayaan diri nya seketika muncul dengan sendirinya, rambut yang semula ia terus ikat, kali ini ia gerai dengan sebuah sentuhan kepang tipis pada sisi samping poninya.
Alex yang baru saja selesai melakukan lari pagi rutinnya, merasa heran karena rumah dan kamar yang terlihat sepi, saat ia ingin pergi ke ruangan khusus pakaian kotor, Alex tercengang karena melihat Zoya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang berbeda tidak seperti biasanya.
Zoya bersandar di dinding melihat Alex yang menatapnya tanpa berkedip. Bibirnya bungkam diam seribu bahasa, matanya menatap Zoya tanpa ingin mengalihkan pandangannya, dan Zoya yang di tatap seperti itu tentunya merasa malu juga gugup.
''A-apa kau akan pergi mandi?'' tanya Zoya yang tidak menerima sahutan langsung dari Alex yang masih diam di tempatnya.
__ADS_1
''Kalau begitu aku akan keluar, menyiapkan sarapan untuk kita,'' ucap Zoya lagi yang segera berlalu dari sana.
Alex menatap Zoya yang berjalan keluar kamar, dan ketika Zoya menutup pintu, Alex baru menyadari kalau dirinya sedari tadi melamun karena mungkin terpanah, tercengang akan penampilan Zoya saat ini.
''Apa dia benar-benar Zoya? gadis yang aku nikahi?'' gumam Alex setelah menggeleng kepalanya.
Di meja makan, Zoya yang sudah menyiapkan makanan yang dia beli melalui aplikasi ponselnya, tidak menyadari kalau sejak tadi Alex terus saja memperhatikannya. Mata mereka bertemu sesaat dan Zoya langsung membuang pandangannya, tidak dapat di pungkiri kalau tatapan mata Alex saat itu membuat ia gugup bercampur malu.
Tanpa berkata apa-apa, Zoya hanya tersenyum dan memulai sarapan nya dengan di susul Alex yang masih saja tidak berkedip melihat nya. Menelan makanan terasa sulit karena mata elang Alex terus tertuju padanya dan pada akhirnya Zoya pun mengakhiri sarapan paginya.
''Aku sudah kenyang, kalau begitu aku pamit ya.''
''Tunggu! biar aku antar .'' Zoya pun mengangguk setuju dan merekapun pergi bersama dengan Alex yang mengantarkan Zoya terlebih dahulu ke kampus nya.
Sementara Zoya yang menunggu Alex di dalam mobil, Alex pun pergi bersiap-siap. Di dalam mobil, Zoya yang menunggu Alex tidak sengaja melihat sesuatu yang tergeletak di kursi belakang. Tangannya terulur meraihnya dan ternyata itu sebuah album yang terlihat terawat.
Dengan perlahan Zoya membuka nya selembar demi selembar, terlihat potret-potret yang menampilkan seorang pria dan wanita yang menggunakan pakaian era sebelumnya, yang Zoya pastikan bahwa mereka adalah kerabat ataupun orang terdekat Alex, Zoya juga tidak dapat melihat jelas wajah yang ada di gambar tersebut karena potret yang sepertinya sudah lama dan agak buram.
Di sana juga terdapat anak kecil yang berada di gendongan seorang wanita berambut pendek.
''Apa ini dia?'' gumam Zoya dengan bibir yang tersenyum karena merasa gemas dengan wajah anak laki-laki yang sepertinya usianya baru saja 3tahun itu.
__ADS_1
Tapi saat dia akan membalik ke lembar selanjutnya Alex sudah datang dan melihat Zoya yang sedang memegang album itu.
''Jangan melihat nya, aku tidak terlalu tampan di sana.'' Ucap Alex yang langsung mengambil album tersebut dari tangan Zoya yang sudah memanyunkan bibirnya.
Alex segera melajukan mobilnya dengan sebuah musik yang ia pasang pelan pada mobilnya, sesekali ia melirik ke arah Zoya yang sedang menikmati alunan musik dan terlihat Zoya pun ikut bernyanyi dengan pelan.
''Apa itu juga Paman ku yang membelikan nya?'' tanya Alex dan Zoya hanya mengangguk.
''Tidak terlalu buruk, sedikit pantas untuk mu,'' sambungnya dan Zoya hanya memutar matanya dengan malas meladeni ucapan Alex.
Sesampainya di kampus, Zoya yang langsung keluar mobil tanpa berpamitan dengan Alex, segera di susul Alex. Namun ketika Alex akan keluar dari mobilnya, seorang pria sebaya dengan Zoya sudah menghampiri Zoya, istri nya.
Matanya memicing karena merasa tidak asing dengan laki-laki itu, dan pada akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk keluar dari sana dan mendengarkan pembicaraan kedua orang itu.
''Zoya kau terlihat berbeda hari ini,''
''Benarkah ? apa aku terlihat buruk dengan pakaian ini?''
''Tidak! justru kau terlihat sangat cantik, kelak kau harus terus seperti ini, hmmm?'' Zoya hanya tertawa kecil menanggapi pujian laki-laki itu tanpa menyadari seseorang yang masih berada di dalam mobil sana sudah menekan kemudi dengan sangat kencang sehingga menampilkan urat-urat pada buku tangan nya.
''Terima kasih atas pujian mu, tapi tidak perlu berlebihan seperti itu, oke?'' Balas Zoya setelah tertawa bersama. Merekapun pergi dari sana menjauh dari mobil Alex.
__ADS_1
Alex yang sedari tadi melihat, memperhatikan, juga mendengar mereka berinteraksi merasa benar-benar kesal, terlebih lagi seakan-akan dirinya tidak ada di sana. Tidak di anggap ada! ''Bahkan dia berani tertawa bersama pria lain. Apa katanya, cantik? cih, dia berani memuji istriku!!'' geram Alex yang langsung menancapkan pedal gas nya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.