
Zoya sudah selesai berpakaian, dengan memakai pakaian masa kini ya, yaitu style Classik. Baju dan sepatu berwarna senada sedikit sentuhan rambut yang di jepit menambahkan kesan manis pada gadis 20 tahun itu.
Alex yang sedang duduk di tepi ranjang dengan bermain ponsel seketika mematung sehingga ia tidak sadar kalau ponselnya sudah terjatuh ke lantai. Pipi Zoya bersemu merah karena Alex yang menatapnya tanpa berkedip.
''Apa ada yang salah dengan penampilan ku?'' tanya Zoya dengan pelan namun Alex tidak menjawabnya ia hanya diam mematung tanpa berkedip sekalipun.
Zoya melangkah mendekat ke arah Alex dan mata Alex terus saja mengikuti kemana Zoya melangkah, tangan Zoya terangkat melambai tepat di depan wajah Alex bermaksud untuk menyadari Alex karena sedari tadi hanya diam melamun.
''Hei!!'' panggil Zoya lagi.
''Iya kau cantik!'' ucap Alex tanpa sadar yang tentunya membuat Zoya tertawa kecil.
''Memangnya biasanya aku jelek ya?''
''Hah? Emmm kalau begitu aku pergi mandi dulu,'' ucap Alex yang merasa malu karena terpergok melamun.
Beberapa saat kemudian setelah Alex selesai mandi dan keluar dari kamar kecil hanya dengan celana pendeknya dengan kata lain saat ini ia sedang bert*lanjang dada. Melirik Zoya yang tengah asik dengan ponselnya di depan meja rias.
Memiliki sifat usil, Alex pun berencana untuk membalas dendam pada Zoya karena telah membuat nya terpanah akan penampilannya. Alex sengaja melangkah mendekati Zoya berharap Zoya juga akan terpanah seperti dirinya.
''Ekhemmm...'' Alex berdehem namun Zoya tidak sama sekali menoleh.
''Khemm..'' Alex pun berdehem lagi namun Zoya masih saja tidak bergeming, yang membuat Alex kesal dan mengambil cara lain untuk Zoya agar melihat dirinya.
Jika wanita lain mungkin saja akan benar-benar terpanah akan penampilan Alex saat ini yang terbilang seksi, menampilkan langsung dada dan perut yang berkotak itu serta bulu-bulu halus yang tumbuh di sana, di tambah rambut Alex yang basah, bukankah siapapun akan terbelalak dengan mulut yang terbuka jika melihat pria tampan dengan keadaan seperti itu.
Alex berdiri di belakang Zoya, mendekatkan wajahnya ke samping Zoya dan... Huuffttt.. Alex meniup telinga Zoya dengan lembut yang tentunya membuat Zoya terkejut dan menoleh kesamping.
Tanpa di duga, bibir merekapun bersentuhan, beberapa detik memang mereka hanya terdiam namun Alex yang bertekad untuk memulainya, dari membuka mulutnya perlahan sampai Zoya pun hanyut dalam buaian Alex yang begitu lembut dan ikut serta mengikuti permainan bibir Alex.
__ADS_1
Alex menghentikan aksinya sebentar, melihat reaksi Zoya yang seperti terlihat kecewa, dengan semakin lembut Alex kembali mencumbu Zoya dengan bibir tebalnya.
Kini keduanya sudah saling berhadapan satu sama lain. Tangan Alex meraba tengkuk leher Zoya yang semakin membuat Zoya gila karena nya.
Sepuluh menit berlalu, Zoya pun mengakhirinya karena tipis nya oksigen yang dia punya. Nafas keduanya saling memburu seakan berebut oksigen yang ada. Kening mereka masih menempel mata mereka juga saling menatap, bibir Zoya tersenyum tipis begitulah juga Alex yang senang karena reaksi Zoya yang menerima apa yang di perbuat nya.
''Aku sangat ingin lebih, tapi aku tahu kau belum siap untuk itu.'' Ucap Alex begitu pelan.
''Maaf..'' balas Zoya yang merasa bersalah karena memang dia belum siap untuk melakukan hal yang lebih dari apa yang mereka lakukan tadi.
Alex dapat mengerti apa yang di rasakan Zoya, pria 28 tahun itu membawa Zoya kedalam pelukannya, mendekapnya dengan hangat mengecup kepala Zoya begitu lembut, tidak ada penolakan dari Zoya karena gadis 20 tahun itupun merasa nyaman atas perilaku hangat Alex saat ini.
.
Perjalanan menuju suatu tempat yang Alex sendirilah yang mengemudikan mobilnya. Ke duanya memang tidak berbincang namun mereka terus saja melirik satu sama lain dan saling tersenyum. Pipi Zoya terus bersemu begitu juga Alex yang terus saja salah tingkah karena terlihat beberapa kali Alex mengulumkan senyumannya.
Tapi suasana bahagia itu tidak berjalan lama karena berawal dari sebuah deringan ponsel Zoya, saat dia melihat layar ponselnya dan tertera sebuah nama yang di benci oleh Alex, yaitu 'Arhan'. Zoya pun segera mematikan nya karena melihat Alex yang sudah menekuk wajah karena kesal.
''Emmm.. Aku akan menghapus nya-'' tapi sebelum Zoya benar-benar menghapus nama Arhan pada buku kontak ponselnya, Alex merebut nya dan melakukan sesuatu pada handphone milik Zoya.
''Kamu mau apa dengan handphone ku?''
''Menghapusnya saja tidak cukup,'' ujar Alex yang memberikan kembali ponsel Zoya, dan dia melihat Alex yang ternyata bukan hanya menghapus nama Arhan melainkan memblokir nomor Arhan sehingga Arhan pun tidak bisa lagi menghubungi nya.
Zoya tidak merasa keberatan akan hal itu tapi beberapa saat kemudian kini giliran ponsel milik Alex lah yang berdering yang langsung tersambung ke head unit mobilnya. Tanpa melihat siapa yang menelpon, Alex pun langsung menekan tombol hijau dan terdengar suara wanita dari sebrang sana.
''Alex.. kau dimana? aku merindukan mu..''
Alex yang terkejut langsung melihat ke arah Zoya yang sudah memasang raut wajah kecewanya. Tanpa menjawab Alex langsung mematikan sambungan telepon dan menepikan mobilnya ke bahu jalan.
__ADS_1
''Yaya?'' panggil Alex yang tak sama sekali mendapatkan sahutan dari Zoya.
''Aku minta maaf, aku bahkan lupa untuk menghapus akses nomor dia untuk tidak bisa lagi menghubungkan ku. Aku akan melakukan nya, hmmm?'' Ucap Alex yang langsung mengotak-atik ponselnya sebentar dan lalu menunjukkan nya pada Zoya bahwa ia telah memblokir nomor Chintya pada ponsel nya.
''Apa kau senang?'' tangan Alex meraih pipi Zoya agar Zoya mau melihat kearahnya.
Zoya pun tersenyum tipis seraya berkata.''Sebenarnya kita tidak perlu memblokir siapapun, karena orang yang ada di masalalu tidak akan lenyap dengan hanya memblokir kontak nya. Disini kau maupun aku hanya perlu menaruh rasa saling percaya. Itu saja ku rasa sudah cukup'' Alex tersenyum mengiyakan apa yang Zoya katakan, karena memang faktanya bahwa masalalu akan selalu ada dan semestinya kita harus berterimakasih pada masa lalu. Karenanya lah kita bisa lebih memahami apa yang harus kita hindari.
Alex membelai kepala Zoya dengan sayang, dan melanjutkan lagi perjalanan yang hanya dia sendiri yang mengetahuinya akan membawa Zoya kemana.
Roda mobil Alex berhenti di sebuah dam yang langsung menghadap ke hamparan pasir putih yang indah. Zoya mengernyitkan keningnya merasa bingung untuk apa Alex membawanya ke sana.
Zoya terdiam merasa kalau outfitnya saat ini tidaklah cocok jika untuk bermain air di pantai, wajah murung Zoya dapat di lihat Alex yang menyadari apa yang dipikirkan gadis itu.
''Turunlah, hmmm?'' Alex membukakan pintu mobil dan mengulurkan tangannya menunggu sambutan tangan Zoya.
''Tapi-''
''Tidak apa, ikutlah dulu dengan ku,'' Zoya pun manut dan memberikan tangan nya pada genggaman tangan Alex.
Zoya melangkahkan mengikuti langkah Alex karena saat ini, Alex telah menutup mata Zoya dengan kain kecil yang sengaja ia bawa di saku celana nya.
Beberapa meter mereka melangkah dan saat Alex menghentikan langkahnya, Alex pun segera membuka penutup mata Zoya. Sesaat Zoya mengerjapkan matanya dan kemudian ia terkejut karena yang ada di depannya adalah sebuah altar pernikahan yang terdapat beberapa orang yang sudah menunggu nya di sana termaksud Mark yang langsung menghampiri keduanya.
''Silahkan Tuan, Nyonya.''
Zoya menatap Alex meminta penjelasan untuk apa dia di ajak ke sana. ''Siapa yang akan menikah? anda tuan Mark?'' Mark hanya tertawa kecil mendengar nya.
''Aku akan menikahi mu sekali lagi, tanpa ada surat perjanjian apapun itu.'' Mulut Zoya terbuka karena terkejut, ia bahkan tidak mengira kalau Alex akan melakukan itu.
__ADS_1
'' Will you marry me ?''