Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti
Ada apa dengan dirimu?


__ADS_3

"Alex, aku ingin bekerja!" Zoya kembali melontarkan pernyataan yang sudah berulang kali Alex tolak karena alasan yang sama, dia tidak ingin istrinya akan kelelahan.


Di kamar dengan jendela kaca raksasa, Alex berdiri membelakangi Zoya yang masih saja merengek ingin bekerja. Alex memejamkan matanya sesaat dan menurunkan kedua bahunya merasa tidak habis pada istrinya yang semestinya merasa senang karena tidak perlu lagi bekerja, hanya perlu duduk manis menunggu transferan masuk ke rekeningnya, tapi tidak dengan Zoya Khanza.


''Sayang, aku mohon jangan bahas hal yang sama dulu''


Alex menahan suaranya berusaha agar tetap dalam kesadarannya karena hari ini dia sudah cukup lelah dengan pekerjaannya belum lagi saat pulang kerja menuju rumah mereka, ia harus menghadapi jalanan yang padat, entah karena apa, diapun tidak mengerti.


''Kau hanya perlu menyetujui nya kan!'' entah setan apa yang merasuki tubuh Zoya, kali ini ia bahkan berani meninggikan suara nya pada Alex yang sudah sangat sabar dengan nya.


Alex masih tetap diam, dia masih berusaha agar dirinya tetap tenang, tapi BALM! perkataan Zoya setelah nya membuat Alex seketika memutar tubuhnya dan menatap tajam ke arah istrinya.


''Terserah, setuju ataupun tidak! aku akan tetap bekerja, bukan di tempat mu, tapi di tempat yang sama dengan teman-teman ku!''


Mata mereka bertemu di udara, cukup lama keheningan itu terjadi tapi kemudian Zoya pergi dari kamar mereka begitu saja setelah beradu tatap oleh Alex. ''Sayang kembali!'' panggil Alex namun tidak sama sekali Zoya dengar.


''Zoya!!''


Merasa panggilan nya tidak sama sekali di idahkan, akhirnya Alex meninggikan suara nya naik satu oktaf dan itu dapat di dengar oleh Zoya yang sudah menghentikan langkahnya sejenak namun beberapa saat kemudian ia melanjutkannya kembali.


Tidak, Zoya tidak pergi dari rumah melainkan ia pergi ke dapur untuk mencuci piring-piring yang bahkan sudah bersih dan sudah di susun di rak kecil khusus. Mencucinya kembali bukan tanpa alasan, ya itu bentuk salasatu wanita saat dirinya tengah marah.


Zoya pun tidak mengerti kenapa dirinya sangat sensitif belakangan ini tapi mengingat tanggal rawannya yang akan kedatangan tamu bulanan, memang besoklah tepat jadwal ia datang bulan.


Alex berjalan cepat mencari keberadaan Zoya, dan iris matanya melihat Zoya yang sedang mencuci sesuatu di wastafel sana dengan sedikit membanting saat meletakkan barang yang telah di cuci nya.


''Sebenarnya ada apa dengan dirimu ?'' Alex bertanya dengan tegas namun Zoya hanya diam sambil tangannya mengoyok spons untuk ia basuhi ke piring yang sudah bersih itu.


''Zoya aku bertanya?!'' tangan besar Alex menarik sedikit kasar pada lengan Zoya agar, Zoya menghadap ke arah nya yang sedang bertanya.

__ADS_1


''Apa!''


''Apa?''


''Ya, apa lagi? apa ucapan ku kurang jelas tadi?'' Zoya meletakkan spons cuci piring dan mencuci tangan nya kemudian pergi dari sana meninggalkan Alex yang masih tidak mengerti dengan sikap menyebalkan Zoya.


''Astaga..


''Kenapa dia sekarang menyebalkan begitu'' gumam Alex dengan pelan, namun seperti telinga tikus yang mendengar suara pemburu, Zoya menyahutinya dengan berteriak.


''Ya, aku memang menyebalkan!''


Mata Alex melebar, merasa kagum dengan pendengaran Zoya yang sangat luar biasa, padahal dia bergumam dengan sangat pelan. ''Bagaimana bisa?''


Merasa belum puas berbicara dengan istrinya itu, Alex kembali menyusul Zoya yang pergi ke kamar mereka. Bak tikus dan kucing, Alex terus mengikuti kemana Zoya pergi hanya untuk menyelesaikan pembicaraan yang belum selesai.


''Jangan mendekat! aku ini menyebalkan! kau tidak perlu repot-repot mengikuti wanita menyebalkan seperti ku !''


''Tidak sayang, bukan begitu. Baik, baik. Kau tidak perlu marah lagi oke, sekarang katakan apa yang kau mau''


Baru saja Zoya akan membuka mulutnya, lagi-lagi Alex memotong nya kembali. ''Kecuali bekerja, semua akan ku kabulkan'' Zoya kembali memasang wajah kesalnya.


''Kau egois!'' Zoya menarik selimut dan menutup seluruh tubuh nya. Alex menghela nafasnya dengan berat kemudian beranjak dari sana untuk membuat kopi yang bahkan sangat jarang sekali ia konsumsi tapi saat ini ia membutuhkan minuman berkafein itu.


'Apa aku harus mengizinkan nya saja? tapi aku tidak tega jika dia merasakan lelah kalau bukan rasa lelah dengan ku'


Alex menyeruput kopi buatan nya itu yang terasa getir di indra perasanya. Buah jakunnya naik turun turut merasakan pahit dari kopi hitam tanpa sebutir gula pun itu. Berulang kali ia menghembuskan nafasnya ke udara merasa belum juga menemukan kata-kata ya pas untuk ia katakan pada Zoya agar istrinya itu mengerti apa maksudnya.


Tangannya merogoh saku celananya dan mengeluarkan gawai dari sana, menekan sebuah kontak 'Mark' lalu ia tekan kata panggil kemudian dia dekatkan pada daun telinga nya.

__ADS_1


Tidak menunggu lama panggilan pun tersambung dan mendapatkan sahutan dari sahabat sekaligus asisten pribadinya dan sekaligus wakil nya di perusahaannya.


'Ada apa Lex, apa kau tidak kenal waktu, ini sudah sangat larut' ucap Mark dengan nada yang jengkel.


''Mark, istriku hari ini sangat aneh, bahkan ia berani meninggikan suara nya padaku,''


Tanpa mempedulikan perasaan Mark yang kesal terhadapnya karena telah mengganggu waktu istirahat nya, Alex malah bercerita apa yang terjadi pada Zoya.


'Meninggikan suaranya?'


''Ya, aku juga bingung, apa kau tau alasannya?''


'Lex dia istrimu, bukan istriku. Jika memang dia bersikap begitu hanya kau yang tau'


Ucapnya yang kemudian langsung memutuskan sambungan telepon tanpa permisi pada Alex. Alex tidak marah ia hanya berdecak karena Mark pun tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Di sebuah apartemen, Mark yang baru saja terbangun karena mendapatkan panggilan telepon dari bosnya itu yang dia kira ada sesuatu yang darurat namun ternyata hanya kerisauan masalah rumah tangga, Mark pun tidak bisa lagi kembali tidur.


Dia beranjak dari ranjangnya menuju wastafel yang ada kamar kecilnya, mencuci wajahnya kemudian pergi menuju lemari pendingin mengambil sebuah minuman kaleng.


Entah kenapa wajah Kiandra tiba-tiba melintas di ingatan nya. 'lho kenapa dia?' Mark mengusir apa yang terlintas itu.


Tapi raut wajah yang tiba-tiba berubah setelah menerima sebuah panggilan, membuat Mark tidak berhenti memikirkannya. 'Apa panggilan itu dari kekasihnya? apa dia sebenarnya sedang bertengkar dengan pasangan nya?' Mark terus menduga-duga sesuatu yang tidak nyata adanya.


Tangannya mengambil gawainya yang ia taruh di atas meja kitchen set sebelah lemari pendingin nya, matanya memicing karena ternyata ada sebuah panggilan yang tidak terjawab dari nomor Kiandra.


'Dia menelpon ku?' gumamnya lagi.


Dengan jari yang ragu-ragu untuk menekan telpon balik atau tidak, akhirnya dengan mata yang ia pejamkan akhirnya dengan sendirinya ibu jarinya menekan icon hijau untuk menghubungi balik panggilan Kiandra yang tidak ia jawab itu.

__ADS_1


'Tidak aktif?'


__ADS_2