
Sebelum benar-benar keluar dari rumah yang di beli Alex untuk nya itu, Zoya kembali menolehkan kepalanya namun tidak sampai menatap langsung berdirinya Alex. Kakinya sangat ingin melangkah keluar namun hatinya sangat ingin di teriaki Alex hanya untuk sekedar mencegahnya pergi.
Dan harapannya pun sia-sia, seakan pria yang di cintai nya itu memang mengharapkan kepergian nya, Alex bahkan tidak sama sekali bergeming di tempatnya. Dan itu membuat hati perempuan berusia dua puluh tahunan itu terluka.
Dengan berat ia meyakinkan dirinya untuk benar-benar pergi dari sana. Di malam yang sunyi nan sepi, Zoya berdiri di sebuah halte yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah nya.
Mau kemana Zoya selarut ini? bahkan dia tidak memiliki siapapun hanya untuk menenangkan diri nya. Kia! tiba-tiba ia mengingat satu nama sahabat nya yaitu Kiandra. Sebuah taxi yang kebetulan lewat pun ia segera hentikan.
Menyebutkan sebuah alamat, Zoya duduk dengan gusar. Ya walaupun ia memiliki beberapa sahabat tapi baginya hanya Kia lah yang benar-benar dapat di andalkan.
Roda mobil taxi berwarna biru itupun berhenti tepat di bangunan rumah yang lumayan besar, dengan pembatas gerbang yang tinggi, Zoya berdiri saat ini.
Tangannya menekan sebuah tombol yang beberapa saat kemudian ada seorang laki-laki dengan seragam yang sepertinya dia adalah penjaga gerbang rumah Kiandra.
"Tuan maaf, apa saya bisa bertemu dengan Kiandra?"
"Nona Kiandra? oh maaf non, nona Kiandra sudah lama tidak pulang ke sini. Bahkan rumah ini sudah dua pekan kosong"
Alis Zoya mengernyit heran, yang dia tahu Kiandra memang tinggal disini, dan apa? sudah lama tidak pulang? kemana Kiandra saat ini.
Dengan senyum yang di paksakan, Zoya pun mengucapkan kata terima kasih pada sang penjaga gerbang. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, sahabat nya yang selalu ada pun saat ini tidak ada.
melangkah dengan berat, Zoya kembali menyeret kopernya menjauh dari gerbang yang menjulang tinggi itu. Putus asa? mungkin iya, namun Zoya hanya bisa berpasrah diri dan mencoba tenang.
Baru beberapa meter ia melangkah, ada sebuah mobil yang berhenti di dekatnya. Mobil hitam metalik, mata Zoya berbinar karena mengira kalau itu adalah Alex, tapi tidak! ternyata yang keluar dari mobil itu adalah seorang wanita. Ada rasa kecewa di hatinya tapi kemudian dia juga merasa heran untuk apa wanita itu ada di sini selarut ini?
"Nyonya Meher?"
Zoya melangkah mendekat ke arah mobil itu yang terdapat seorang wanita yang berdiri dengan senyum tipisnya.
"Sedang apa kamu malam-malam begini, di jalanan?"
"Euumm.. aku hanya ingin keluar saja"
__ADS_1
"Dengan koper itu?"
Zoya mengikuti arah pandang wanita yang bernama Meher itu, yang saat ini sedang menatap heran ke arah minikoper nya.
"Oh ya!? nyonya sendiri kenapa malam-malam begini ada di sekitar sini?" tanya Zoya balik karena ingin mengalihkan pertanyaan wanita tersebut.
"Saya? tentu saja ingin pulang kerumah"
"Ooh, eheh..." Zoya terdiam kembali setelah tertawa kecil, sungguh ia merasa canggung karena saat ini ia sedang berhadapan dengan atasannya, persisnya direktur utama XC tempat ia bekerja.
"Ada apa? seperti nya kau sedang ada masalah?"
Zoya terdiam, ternyata dia tidak pandai menyembunyikan perasaannya yang ternyata sangat mudah di tebak oleh orang lain.
"Tidak ada, kalau begitu hati-hati ya nyonya-"
Zoya sudah berbalik ingin menjauh dari Meher, tapi langkahnya terhenti karena panggilan nya lagi.
"Tunggu! aku butuh bantuan mu, ada berkas yang perlu kau tanda tangani dengan segera"
"Berkas itu ada di rumah, kau bisa ikut dengan ku"
Tanpa menunggu persetujuan Zoya, wanita dewasa bernama Meher itu sudah membukakan pintu mobil untuk Zoya, dan dengan isyarat ia meminta agar Zoya segara naik ke mobilnya.
Berpikir sejenak, dan akhirnya Zoya pun mengangguk lalu masuk ke dalam mobil tersebut. Meninggalkan tempat yang tamaram dari cahaya itu menuju sebuah perkomplekan mewah.
Dengan baik roda mobil pun berhenti tepat didepan pintu besar rumah, aahh lebih bisa di katakan sebuah mansion. Zoya terperanjat melihat rumah yang super besar itu. Memang! bukan baru kali ini ia melihat rumah sebesar ini karena sebelumnya ia juga pernah menginjakkan kakinya ke sebuah tempat yang mirip istana yaitu tempat kediaman paman Louis, paman Alex. 'Tapi sungguh ini lebih besar dari istana milik Paman Louis.' Gumam Zoya dalam hatinya.
"Zoya! ayo masuk!" ajak Meher yang sedikit berteriak karena memang sedari tadi Zoya hanya melamun di samping mobil dengan terus memperhatikan sekelilingnya.
"Oh iya, maaf"
Tanpa henti Zoya terus mengagumi isi dari mansion itu, pajangan yang pastinya bernilai fantastis, serta perabotan yang benar-benar mewah semua tak luput dari perhatian Zoya.
__ADS_1
Begitu membuka pintu, Meher sudah di sambut dengan beberapa perempuan yang berpakaian persis, ya mereka berpakaian seragam ala-ala pelayan di drama yang pernah di lihat Zoya.
"Nyonya, apa anda tinggal sendirian?" tanya Zoya penasaran.
"Tidak, disini banyak penghuninya, seperti yang kamu lihat tadi para gadis, dan ada nenek ku juga"
Zoya hanya mengangguk-angguk, perasaan yang sedih tadi sejenak sirna karena teralihkan oleh pesona mansion itu.
''Meher! kau baru pulang?"
Suara berat khas seorang wanita yang usianya sudah cukup rentah terdengar dan membuat Zoya juga Meher menoleh ke asal suara itu.
"Nek.. kau belum tidur?"
"Belum. Siapa dia?"
"Aahh dia Zoya, manager pemasaran di perusahaan"
"Salam kenal nyonya besar, saya Zoya"
'Panggil dia nenek saja, dia tidak senang dengan panggilan itu!' bisik Meher dan di iyakan Zoya.
"Salam kenal nek.. Saya Zoya" ucapnya Langi meralat panggilannya untuk perempuan tua itu.
Wanita tua itu melangkah mendekat ke arah Zoya, tatapan nya tidak teralih dan hanya menatap ke wajah manis Zoya yang membuat Zoya gugup karena nya.
"Panggil saya nenek, kamu tumbuh dengan cantik "
"Nenek..?" panggil Meher dan wanita tua itu langsung pergi dari sana.
Zoya terdiam, ada yang aneh dengan ucapan nenek itu, kenapa suaranya lirih saat mengatakan kata terakhir nya tadi? 'Dan kenapa seperti nya aku melihat beliau meneteskan air mata?' gumam Zoya dalam hatinya.
"Zoya?"
__ADS_1
"Maaf ya, nenek saya memang agak sensitif karena usianya yang memang sudah tidak muda"
"Iya, saya mengerti" jawab Zoya dan diapun mengiyakan apa yang di katakan Meher karena memang di usianya sangat mudah sensitif.