Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti
Xeon Company


__ADS_3

Ternyata sikap aneh Zoya belum juga bisa di luluhkan oleh Alex, terbukti kalau hari ini Alex pun sudah kehabisan akal untuk memberikan pengertian pada Zoya.


Alex berangkat bekerja tanpa di antar Zoya seperti biasanya. Bahkan Zoya tidak sama sekali beranjak dari tempat tidurnya. Tidak ada sarapan ataupun kecupan manis di pagi hari.


''Sebenarnya kau ini kenapa, sayang " gumam Alex di sela-sela perjalanan nya menuju Violet Brand.


Ya, yang Alex tahu, belakangan ini Zoya tengah sibuk dengan ponselnya, tertawa dengan ponsel bahkan Zoya kerap lupa membuatkan makanan untuk Alex.


Tidak, Alex tidak sama sekali mempermasalahkan soal lupanya Zoya untuk memasakkan makanan untuk nya, karena hanya dengan ibu jarinya ia bisa memesan makanan yang bisa langsung ia dapatkan. Tapi sikap Zoya yang aneh dan berubah 85 derajat lah yang membuat Alex kelimpungan.


Melihat dari jendela kamar, mobil Alex yang sudah meninggalkan pelataran, Zoya segera beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai dengan mandi manjanya, ia pun segera memakai pakaian yang serapih mungkin bahkan penampilan Zoya kali ini persis wanita-wanita kantoran pada umumnya. Dengan rok span dan di padukan kemeja juga blazer dengan warna manis.


Zoya berputar di depan kaca yang memperlihatkan seluruh lekuk tubuhnya. Bibirnya tersungging merasa puas dengan penampilan nya kali ini.


''Untuk apa aku berkuliah jika ijazah ku tidak terpakai.'' Gumam nya dengan bibir yang di manyunkan karena mengingat Alex yang tidak menyetujui jika dirinya berkerja.


Memesan sebuah taxi, Zoya pun sudah selesai dengan berhias. Ya walaupun hanya memakai sunscreen juga pelembab bibir, tapi Zoya sudah sangat terlihat cantik.


Sebuah klakson mobil terdengar, dan Zoya pun berlarian ke luar rumah karena mobil taxi pesanan nya lah yang datang dan menunggunya.


Seorang laki-laki tua membukakan pintu mobil dengan wajah yang penuh ramah. Dan begitu juga Zoya yang membalas senyuman ramah itu. Dengan berbekal sebuah berkas di tangan nya sudah sangat terlihat bahwa Zoya akan melakukan interview kerja, namun dimana? entahlah.


Roda mobil berhenti di sebuah gedung pencakar langit dengan tertulis sebuah nama perusahaan. Xeon Company.

__ADS_1


Turun dari mobil, menghela nafasnya dengan panjang dan berjalan dengan riang ke dalam perusahaan tersebut.


''Permisi.. Aku di hubungi untuk interview.''


''Selamat pagi nona. Maaf atas nama siapa?'' sahut ramah seorang wanita yang bekerja di bagian penerima tamu perusahaan.


''Zoya Khanza''


''Baik sebentar'' wanita resepsionis itupun memeriksa sebentar '' Nona Zoya Khanza, mari saya antar.'' Ucapnya kemudian. Zoya pun mengiyakan dan berjalan mengikuti langkah wanita yang usianya lebih tua dari nya.


Masih dengan wajah yang penuh kebahagiaan, Zoya pun di tuntun ke sebuah lorong menuju ruangan. Melewati sebuah kursi yang berjejer dan terdapat orang-orang yang duduk di sana. ''Silahkan masuk Nona.'' Ucapnya setelah membukakan pintu untuk Zoya agar masuk ke dalam ruangan tersebut.


''Nona Livina?'' panggil Zoya setelah melihat nametag yang tergantung di leher wanita tersebut. ''Apa mereka juga datang untuk interview?''


''Oh iya, mereka datang untuk interview tapi bukan di posisi penting,'' jawabannya, dan Zoya hanya mengangguk dengan bibir mengucap 'oh' tanpa bersuara.


''Selamat pagi, perkenalkan saya Zoya Khanza-''


''Duduklah,'' sahut wanita itu memotong ucapan Zoya yang sedang memperkenalkan dirinya.


Tanpa berkata lagi, Zoya pun duduk di kursi yang terdapat di sana. Lama mereka saling terdiam, dengan wanita dewasa itu yang terus saja menatap dirinya dengan tatapan yang Zoya sendiri tidak mengerti arti tatapan itu.


Zoya berdehem untuk mengurangi rasa gugupnya karena di tatap seperti itu. ''Maaf, ini dokumen saya.'' Ucap Zoya kemudian yang memberikan data dirinya pada wanita tersebut.


Ada yang aneh, tapi Zoya mengusir prasangka itu. Setelah beberapa saat data diri nya di periksa tiba-tiba wanita tersebut mengulurkan tangannya menunggu Zoya menyambut jabatan tangan nya.

__ADS_1


''Selamat bergabung di perusahaan kami.'' Ucapnya setelah Zoya menyambut jabatan tangan nya.


''Hah? Aku di terima?''


''Tentu saja, apa anda tidak benar-benar untuk bekerja disini ?''


''Oh bukan seperti itu. Tapi, ah ya terima kasih sudah di terima dengan baik.'' Jawab Zoya sedikit gugup.


Zoya berlalu pergi dari ruangan tersebut. Melirik orang-orang duduk menunggu gilirannya di panggil untuk melakukan interview. Dan mengingat perkataan wanita resepsionis tadi yang mengatakan mereka juga akan interview untuk posisi yang tidak terlalu penting.


Memang terdengar sangat aneh, tapi Zoya berusaha berpikir positif akan hal itu.


Setelah mendapatkan info hari dimana dia akan bekerja, Zoya pun pergi dari perusahaan tersebut. Niat untuk langsung pulang, tapi Zoya urungkan karena mengingat bahan pangan yang ada di dalam lemari pendingin sudah sedikit akhirnya Zoya pun berniat untuk berbelanja ke sebuah swalayan.


Beberapa kali Zoya merasa ada yang terus mengawasinya, tapi lagi-lagi ia mengusir pikiran itu.


Karena merasa sudah sangat cukup dengan berbelanja kebutuhan rumah tangga. Zoya pun pergi dari sana. Mengingat bahwa dirinya agak berlebihan bersikap pada sang suami, Zoya pun berniat untuk memasakkan sesuatu untuk Alex.


Mengeluarkan belanjaan nya dan memulai untuk memasak. Zoya sedikit melamun. 'Apa aku salah mengambil keputusan ini, bekerja tanpa restu dan tanpa Alex tahu' Zoya menghela nafasnya panjang.


''Semoga Alex mengerti apa yang aku mau''


Di sebuah rumah yang mirip dengan sebuah istana negara. Dua orang wanita sedang berbincang.


Wanita dewasa yang usianya kisaran kepala empat dan wanita yang di panggil nya nenek. Sedang berbincang dengan serius. ''Dia sudah sangat besar nek. Bahkan aku melihat wajah kakak pada dirinya'' Ucapnya dengan wajah sendu.

__ADS_1


''Jangan membuat kesalahan, cari tahu lagi bahwa dia benar-benar keponakan mu. Aku tidak ingin ada kesalahan.''


__ADS_2