Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti
Seperti istri simpanan


__ADS_3

''Kau sudah makan?'' tanya Alex dengan canggung, entah kenapa semenjak hubungan mereka mulai menghangat, seakan tidak ada topik untuk nya mengajak bicara Zoya.


''Sudah, tadi bibi Devi masak nasi biryani, baru pertama kali ini aku mencobanya,''


''Enak?''


''Banget, rasanya aku ingin bilang tambah, tapi malu.'' Zoya bercerita bagaikan anak kecil sedang berdongeng pada orang tuanya sehingga membuat Alex semakin gemas melihat nya.


Tangan Alex mengelus rambut Zoya dengan lembut, dan dengan tangan satunya mengemudi dengan sangat lihainya.


Zoya di buat heran saat ini karena Alex membawanya bukan untuk pulang ke apartemen tapi menuju kota sebelah Utara dekat dengan kampus nya.


''Mau apa kita kesini ?'' tanya Zoya.


''Nanti juga kau akan tau,'' Zoya mencebikan bibir nya, Alex melihat itu dengan bibirnya yang tersenyum.


''Jangan memancing ku,'' ucapnya dengan tangan mengusap bibir Zoya menggunakan jari telunjuknya.


Alex menghentikan mobil di sebuah rumah minimalis namun terlihat sangat nyaman, entah kenapa Zoya di bawa kesana, dan rumah siapa itu? batin Zoya bertanya-tanya.


''Sebentar lagi, semester kedua mu, dan waktu magang mu juga akan segera selesai. Kau tidak perlu tinggal lagi di asrama,''


''Lalu?''


''Rumah ini akan kita gunakan untuk rumah kedua kita, jika kau lelah untuk pulang ke apartemen, kamu bisa pulang kesini, dan aku akan datang juga kesini.'' Ujar Alex dengan berharap senyuman manis Zoya tapi tidak, Zoya malah terdiam dengan wajah murung yang membuat Alex menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


''Kenapa? apa kau tidak suka rumah yang kubeli ini? baiklah kita akan membeli rumah yang lebih besar, hmmm? jangan bersedih lagi ya.''...


''Bukan itu,''


''Lalu?''


''Dengan membeli rumah ini, kenapa aku merasa, aku seperti istri simpanan,'' lirih Zoya. Alex terbelalak merasa tidak percaya dengan pikiran istrinya itu, berharap hadiah yang di berikan nya di sambut dengan pelukan hangat justru malah Zoya berpikiran macam-macam tentang dirinya.


''Astaga Zoya, jangan pernah berpikiran seperti itu, aku hanya ingin memudahkan mu, jangan pernah berpikir seperti itu lagi ya.'' Alex membawa Zoya kedalam pelukannya, sungguh tujuannya bertolak belakang dengan apa yang Zoya pikirkan tentang nya.


Rumah yang tidak terlalu besar namun pastinya impian sebagian orang, karena Alex sengaja mendesain nya dengan lengkap sebuah rumah kaca khusus tanaman-tanaman yang Zoya sendiri sangat suka tumbuhan.


Masuk ke dalamnya sudah lengkap dengan perabotan yang tentunya bukan perabotan rumah yang biasa, Alex pun memilihnya dengan kualitas yang bagus, entah kabar burung dari mana bahwa Alex pria yang angkuh juga senang bermewah-mewah, dan pada kenyataannya ia sangat suka yang sederhana namun berkualitas.


Lama Alex mengajak Zoya berkeliling di sekitar rumah, sampai mereka pun tiba di kamar mereka, Alex membukakan pintu untuk Zoya agar masuk lebih dulu. Kamar tidur dengan interior dinding kamar yang sangat indah dan pastinya nyaman terlebih lagi warna cat yang dominan warna hijau yang memang warna favorit Zoya.


''Tapi apa?''


''Kenapa tidak ada sofa seperti di apartemen, apa kita akan tidur di s-sana.'' Wajah Zoya memerah dengan pertanyaan nya sendiri, begitu juga Alex yang seketika salah tingkah dengan pertanyaan Zoya.


''Emmm, kemarilah,, lihatlah pemandangan dari balkon, sangat bagus kan?'' Zoya memicingkan mata ia tahu saat ini Alex sedang mengalihkan pertanyaan nya.


Berdiri di tralis besi pembatas balkon kamar, suasana yang indah karena langsung menghadap ke halaman belakang yang terdapat kolam ikan juga rumah kaca, sungguh ini yang sangat di inginkan Zoya dahulu kelak dia akan membeli rumah nya sendiri, dan impiannya di kabulkan oleh Alex.


''Terima kasih.'' Lirih Zoya masih dengan menatap hamparan rumput yang hijau.

__ADS_1


Alex meraih kedua bahu Zoya, menatap nya dengan dalam, tangan kanannya naik ke tengkuk Zoya mendorong kepala Zoya agar lebih dekat dengan nya. Matanya terus menatap mata dan bibir Zoya dengan bergantian, Zoya pun sudah memejamkan matanya, sampai ketika jarak di antara mereka pun hanya tertinggal beberapa senti lagi tapi suara deringan ponsel yang ada di meja nakas karena memang Alex menaruhnya di sana sembari mengisi daya yang habis lagi-lagi mengganggu nya.


Alex memejamkan matanya menahan dirinya yang kesal, Zoya membuka matanya dan ada tatapan kekecewaan di sana namun dia juga merasa lucu dengan raut wajah Alex.


''Ssshhh, sekarang apa lagi,'' geram Alex. ''Tunggu sebentar ya, kita akan melanjutkannya .'' Tambahnya dengan bisikan di akhir kalimat nya.


Zoya tertawa kecil, dia tidak menyangka gunung yang menghalanginya dan Alex benar-benar sudah mulai runtuh, namun perasaan nya yang ia sendiri tidak mengerti akan di bawa kemana, sulit mengakui, sulit juga untuk terbuka lebar-lebar karena status dirinya yang hanya istri kontrak.


Aku menikah dengan nya hanya karena wanita mempelai itu pergi di hari pernikahan nya, tapi apakah dia masih mencintai wanita itu, bagaimana jika kelak wanita itu kembali, apa aku akan di lupakan nya begitu saja. Zoya terus bermonolog dengan dirinya sendiri.


Ada rasa takut di hatinya, takut kalau Alex tiba-tiba membunuhnya begitu saja, takut Alex hanya menaruh harapan palsu untuk nya, dan inilah alasannya yang tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan seorang pria sejak dulu, karena menurutnya sebuah hubungan jika sudah berpisah tidak bisa lagi sedekat seperti sebelumnya.


''Yaya?! polisi menemukan sesuatu di tapi sungai dekat jurang, aku akan kembali, kau jangan kemana-mana ya, aku pamit.'' Cup Alex berpamitan dengan kecupan singkat pada bibir Zoya yang membuat darah gadis manis itu berdesir tidak karuan.


Tangannya meraba bibir nya sendiri, wajahnya memerah, walau bukan pertama kalinya bibirnya bersentuhan langsung dengan bibir tebal Alex, tapi kali ini membuat hal yang berbeda pada perasaan nya, tapi apa ?


Di jurang tempat Aiden terjatuh, Mark yang sudah menghubungi Alex karena polisi menemukan sesuatu yang sepertinya potongan dari pakaian Aiden, dan sesampainya Alex, hasil yang diinginkan nya akhirnya membuat ia senang.


Benar saja, tidak jauh dari potongan pakaian Aiden, jasad Aiden pun di temukan juga dengan keadaan tewas dan mulai membusuk. Alex dan Mark bisa bernafas lega karena itu, tidurnya yang tidak teratur pun karena ikut melakukan pencarian tidaklah sia-sia.


Bukan berarti kedua pria itu jahat mengharapkan kematian seseorang hanya saja ia takut jika Aiden menyakiti orang lain lagi.


Beberapa bulan kemudian.


Di bandara, seseorang yang baru saja menginjakkan kakinya di sana, berjalan dengan anggunnya, memakai kacamata hitam juga masker yang menutupi sebagian wajahnya. Berjalan dengan terus bertelepon ria pada seseorang dan menaiki sebuah taxi yang sepertinya sudah di pesan nya lebih dulu.

__ADS_1


''Ke Violet Brand dahulu,'' ucapnya begitu tegas.


__ADS_2