
Pencarian terkait jasad Aiden dalam seminggu ini pun belum juga membuahkan hasil, karena terbatasnya kedalaman jurang yang curam dan cuaca yang selalu buruk, ya belakangan ini badai hujan selalu deras namun Alex tidak menyerah bahkan ia juga ikut mencarinya bersama tim polisi juga Basarnas.
Perasaan Alex benar-benar di buat kalut, bukan ia takut akan dirinya yang celaka, tapi ia mengkhawatirkan keadaan Zoya, tidak menutup kemungkinan jika Aiden masih hidup akan mencelakakan Zoya karena gagal mencelakainya.
Alex belakangan sangat jarang pulang kerumah, dan dengan Zoya, ia menaruh pengawalan dengan begitu ketatnya untuk berjaga di sekitaran apartemen. Hari ini Alex baru saja terbangun dari tidurnya, ya tidur di mobilnya yang terparkir sekitar tempat kejadian kecelakaan Aiden.
Entah mengapa hari ini dia sangat ingin pulang, merasakan hal yang aneh pada dirinya, sangat ingin melihat wajah Zoya saat ini juga. Keluar dari mobil dan hanya menanyakan perkembangan pencarian Aiden, karena memang belum juga menemukan tanda-tanda Aiden telah tewas, Alex memperluas pencarian tidak hanya di sekitar jurang, ia juga mencari di tepian sungai yang juga ada di sana.
''Lex?'' panggil Mark yang terus menghampiri nya.''Kau akan ke kantor?'' sambung nya.
''Tidak, aku ingin pulang sebentar,'' sahut Alex yang berlalu tanpa menghentikan langkahnya seakan-akan tidak sabar ingin segera pergi dari sana.
''Apa ini urusan rindu merindu!'' ledek Mark yang tidak di ladeni sama sekali oleh Alex.
Sepanjang perjalanan Alex terus saja bersenandung bahkan sesekali bibirnya mengeluarkan suara siulan yang asik di dengar, jari-jarinya terus mengetuk kemudi mengiringi siulan bibir nya.
Pagi ini keadaan jalanan lumayan senggang sehingga membuat Alex begitu lancar mengemudikan mobilnya membelah jalanan dan hanya beberapa menit telah sampai ke gedung apartemen tempat tinggalnya bersama Zoya.
Menekan beberapa tombol lalu membukanya kemudian masuk ke dalam tanpa bersuara sedikit pun, ''dimana dia?'' mata Alex mencari-cari keberadaan Zoya yang entah ada dimana.
Suara gemercik air terdengar jelas dari lantai bawah, Alex naik untuk pergi ke kamarnya dan memang ternyata Zoya lah yang saat ini sedang bermain di dalam kamar sana.
Alex duduk di sofa sebrang ranjang, dengan bibir yang terus tersenyum, ingatan nya berputar pada hari dimana ia melihat jelas punggung mulus Zoya, dan kali ini ia berharap lagi bisa melihat wajah **** Zoya dengan sisa-sisa air di wajahnya terlebih lagi dengan rambut terurai basah.
''Ssshhh, dia lama sekali di dalam sana,'' ucap Alex dengan gemas.
__ADS_1
Klik , Pintu kamar mandi terbuka, Alex tidak sabar melihat Zoya yang akan keluar dari sana dengan rambut basah, membayangkan nya saja membuat ia sangat gila.
''Alex?''
Mata Alex terbelalak, kakinya lemas. Ya! harapannya ternyata tidaklah terwujud, yang saat ini berdiri didepan nya dengan handuk yang dililitkan di tubuhnya dan tersenyum kearahnya bukan lain ialah Louis, Paman nya sendiri.
Wajah Alex menganga tidak percaya, yang dia kira tubuh molek Zoya yang akan ia lihat namun ternyata tubuh pria bertubuh tinggi dengan banyak bulu di sekitar dada juga kaki dan tangan nya.
''Paman?!''
''Kau sudah pulang ternyata,''
''Kenapa paman yang keluar dari sana?''
''Lalu, kau kira siapa? istri mu? Hahahaha,,'' Louis tertawa dengan sangat keras merasa geli melihat wajah kecewa Alex sekaligus merasa kasihan karena keponakannya yang pasti berharap lebih untuk pagi ini.
''Semalam dia tidak tidur disini-''
''Apa! kenapa tidak ada yang mengabari ku! bagaimana jika-''
''Dia tidur di rumah temannya, paman sudah meminta pengawalan untuk istri mu, kau tidak perlu khawatir. Itu, dia menitipkan catatan padamu karena ponsel mu yang tidak bisa di hubungi katanya.'' Jelas Louis memotong ucapan Alex.
Alex mengikuti arah tunjuk Louis yang mengarah ke meja rias milik Zoya dan di sana terdapat sebuah kertas kecil yang bertuliskan sebuah alamat dengan note yang menggemaskan menurutnya.
Suami ku Alexander, jika kau baca ini, segera datang padaku ya. Istri mu.
__ADS_1
Alex mengulumkan senyuman, merasa tersipu karena note yang di buat Zoya untuk nya, Louis tertawa kecil melihat keponakannya yang ternyata benar-benar bahagia dengan kehidupan barunya itu.
''Aku senang apa yang seharusnya terjadi, memang terjadi saat ini,'' gumam Louis dengan kata-kata yang menyimpan sebuah misteri didalamnya.
Tanpa mengucapkan apapun Alex berlari keluar begitu saja dari kamar dan Louis hanya menggelengkan kepalanya karena sikap tidak sopan Alex yang kerap membuat ia jengkel namun untuk kali ini ia dapat maklumi.
''Apa aku tidak seharusnya berada di sini? Haaahhh,, baiklah, sore nanti aku akan berpamitan dengan mereka.'' Gumam Louis lagi yang sedang memakai pakaian, ''Ssshhhh aku tidak sabar menimang cucu dari mereka,'' lanjutnya.
Alex mengemudi dengan sangat gila, bibir nya terus saja tersenyum dan juga sesekali ia berteriak kencang meluapkan rasa bahagianya, hatinya begitu berbunga-bunga hanya karena tulisan tangan ya g di buat Zoya untuk nya walaupun dia tahu Zoya menulis itu sengaja karena Louis sedang berada di apartemennya.
Dengan berbekal alamat yang di tinggalkan Zoya untuk nya, Alex dapat mudah menemukan alamat tersebut, sebuah rumah yang tidak terlalu besar, Alex menekankan bel pada pagar depan dan seorang pengurus kebun rumah tersebut pun menghampiri nya dengan sopan.
''Saya Alex-''
''Tuan Alexander Garot,'' potong tukang kebun itu dengan menyebutkan nama Alex dengan lengkap dan lucunya hanya nama depannya yang benar dan nama belakangnya yang di sebut dengan nyeleneh.
Alex tertawa kecil dan mengangguk mengiyakan ucapan pria tua itu yang mengenalnya walau tidak terlalu hapal nama lengkapnya.''Aku sangat beruntung bertemu dengan anda, aku sering membaca majalah yang ada gambar mu di sampulnya, tapi aku tidak bisa membeli parfum buatan mu, hehe.'' Ujar tukang kebun itu dengan polosnya.
''Terima kasih jika anda senang melihat-lihat majalah ku, kalau kau mau aku ada parfum sempel,''
''Ya Tuan, saya mau!'' sambut tukang kebun itu dengan senang.
''Kalau begitu bisa tolong sampaikan pada penghuni rumah ini, jika aku sedang menunggu seorang gadis cantik yang ada di dalam sana.''
Tukang kebun rumah itupun segara pergi karena permintaan Alex, gosip yang beredar bahwa Alex adalah pria yang angkuh juga arogan hari ini terbantahkan karena sikap ramahnya dengan si tukang kebun.
__ADS_1
Tak berselang lama orang yang di tunggu pun datang dengan senyuman dan lambaian tangan, berdiri saling menatap dan melupakan ada orang lain juga di sana. ''Hei kalian berdua kira aku ini nyamuk kebon!'' Celetuk Lili dengan wajah jengkel.