Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti
Dendam yang Terpendam


__ADS_3

Berlari terus berlari, dengan kaki yang lincah Zoya berlarian menaiki anak tangga ke lantai paling atas yang pastinya akan membuat nya kelelahan tapi tidak, rasa lelah pun ia singkirkan jauh-jauh, yang dia mau hanya bertemu Alex untuk memberitahukan bahwa Aiden telah bermain kotor dengan nya.


Sembari berlari, ia juga berusaha menghubungi nomor Alex yang beberapa hari lalu ia masukkan ke daftar hitam pada catatan kontak ponsel nya. Tapi sayang sekali, dengan ia berada di sana jaringan pun sangat sulit alhasil menghubungi Alex pun tidak bisa.


Keringat sudah bercucuran di sekitar dahinya, tapi Zoya tidak menyerah dan pada saat ia menginjakkan kakinya pada lantai di bawah lantai Alex pintu darurat terbuka secara tiba-tiba.


Zoya menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba, menatap kaget seseorang yang berdiri di depannya, jantung nya berpacu dengan cepat karena habis berlari juga bertemu seseorang yang membuat jantung nya semakin berdebar takut.


''K-kak Aiden?'' sapa Zoya mencoba bersikap biasa saja walaupun dirinya ingin sekali menghajar wajah lugu Aiden saat ini.


''Yaya, kenapa kau berlarian seperti itu?'' tanya Aiden dengan senyum ramah seperti biasanya. ''Dan lihat, sampai dahi mu berkeringat.'' Lanjutnya dengan tangan yang mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, selampai? ya Aiden mengulurkan tangannya ke arah dahi Zoya untuk membantu menyeka keringatnya namun insting Zoya tiba-tiba mengatakan kalau Aiden akan melakukan sesuatu padanya.


Zoya memundurkan dua langkahnya menjauh dari Aiden, dan pria 27 tahun itu hanya tertawa kecil yang membuat Zoya semakin curiga. ''Ada lift kenapa harus memilih berlari dengan tangga sejauh ini?'' tanya Aiden lagi namun Zoya tidak dapat menjawabnya. Zoya terus saja memundurkan langkahnya dan turun tangga dengan perlahan.


Tapi Aiden juga terus mengikuti Zoya turun ke satu lantai itu, tangan Zoya yang memegang ponsel mengetikan sesuatu di belakang tubuhnya entah apa itu, hanya Zoya yang tahu karena ia berusaha agar Aiden tidak mengetahui apa yang sedang ia lakukan.


''Ada apa Zoya?'' tanya Aiden lagi dengan raut wajah yang aneh menurut Zoya yang masih berjalan dengan mundur.


''Oh hy Alex,'' Zoya pun menoleh ke arah belakang karena Aiden, dan Bruugghh. Zoya terjatuh tidak sadarkan diri di bawah lantai karena pukulan dari Aiden tepat di tengkuknya.


''Yaya maafkan aku,'' lirih Aiden yang langsung menggendong Zoya dengan sangat hati-hati.


Di ruangan direktur perusahaan Violet Brand, Alex dan Mark baru saja selesai dengan rapat pribadi mereka. Namun tiba-tiba perasaan Alex tidak menentu, ia gelisah tanpa sebab, jantung nya berdebar kencang membuat tangannya ikut gemetar.


''Lex? kau kenapa ?'' tanya Mark dengan khawatir.

__ADS_1


''Entahlah, jantung ku seperti nya bermasalah,'' jawab Alex.


''Apa perlu aku antar ke rumah sakit?''


''Tidak, kau lanjutkan saja pekerjaan mu, dan infokan pada pihak produksi agar datang ke ruang rapat 3 jam lagi.'' Ucap Alex dan di angguki Mark yang segera berlalu setelah memastikan kalau bosnya itu benar-benar baik-baik saja.


Alex terduduk lagi, perasaannya semakin tidak enak, ia gelisah namun tidak tahu penyebabnya. Tring. Sebuah pesan masuk terdengar, Alex segera meraih ponselnya Yanga ada di atas meja.


Alisnya mengernyit heran dengan isi pesan tersebut, sebuah pesan lokasi? Zoya? kenapa Zoya memberikan pesan lokasi tempat nya berada? batin Alex bertanya-tanya.


Saat ketika Alex menekan lokasi tersebut ia semakin di buat heran karena posisi Zoya yang ada di gedung itu juga, tapi kenapa ia mengirimkan tempat lokasi. Tanpa berpikir panjang lagi, Alex berlari ke tempat dimana Zoya mengirimkan pesan itu. Ya pada saat Zoya merasa terpojok, ia berusaha mengirimkan tempat ia berada saat itu pada Alex walaupun ia tahu akan sulit karena signal yang tidak masuk ke sana.


''Tangga darurat?'' gumam Alex yang semakin di buat khawatir.


Alex terus berlari mencari titik dimana Zoya mengirimkan tempat ia berada, tapi ketika sampai di titik nya, tidak ada seorang pun yang berada di sana.


''Yaya!?'' panggil nya lagi, ia semakin di buat khawatir melihat keadaan tangga darurat yang sepi karena memang tempat itu sangat jarang dilalui oleh para karyawan. Lalu kenapa Zoya berada di sana?


''Pasti ada sesuatu,'' gumam Alex. Saat ini Alex berdiri di tempat Zoya berdiri tadi, merasa ada sesuatu yang aneh, Alex mencoba menghubungi Mark namun karena jaringannya yang sulit, ia dapat mengerti kenapa Zoya malah mengirimkan pesan dan tidak langsung menghubungi nya.


Alex pun kembali keluar dari sana mencari keberadaan Mark.


Di sebuah ruangan yang minim pencahayaan, seorang gadis terbaring dengan beralaskan kardus, matanya mengerjap dan terdengar suara ringisan kesakitan karena merasa tengkuknya yang sakit.


''Sshhhh, sakit sekali,'' ringisnya.

__ADS_1


''Yaya? kau sudah bangun?'' tanya seorang pria yang sejak tadi berdiri dengan ponselnya yang tengah menghubungi seseorang. Ya dia Aiden dan yang terbaring di lantai adalah Zoya.


''Kenapa aku kau bawa kesini?'' tanya Zoya.


''Yaya aku benar-benar minta maaf, tapi tunggulah sebentar lagi, lalu setelah itu aku akan mengeluarkan mu dari sini, aku mohon.'' Ujar Aiden.


''Tapi kenapa?!'' tanya Zoya dengan sedikit emosi.


''Aku hanya ingin menghancurkan Alex, hanya itu.'' Lirih Aiden dengan sendu.


''Kau bukan kak Aiden yang ku kenal,''


''Ya aku bukan Aiden yang dulu, yang selalu mengalah pada siapapun. Aku ingin Alex merasakan apa yang orang tua ku rasakan, dia menghancurkan bisnis orang lain tanpa berpikir panjang.''


''Lalu apa bedanya kau dengan dirinya jika seperti itu? Kak.. Kaka orang baik, aku tahu itu. Aku mohon jangan lakukan itu,'' ucap Zoya dengan memohon.


''Tidak Yaya, aku tidak akan mengurungkan niat ku. Aku minta maaf karena telah memanfaatkan mu, tapi aku sudah bertekad untuk membalaskan dendam kedua orang tua ku, ayah yang terpuruk di penjara dan ibuku yang telah pergi meninggalkan ku untuk selamanya. Dan kau tahu, itu semua karena Alex!''


Zoya menghela nafasnya, kini ia mengerti kenapa Aiden melakukan itu, tapi mau bagaimanapun membalaskan dendam itu tidaklah baik, terlebih lagi kota melakukan sesuatu yang pernah orang itu lakukan pada kita, lalu apa bedanya dia dengan kita?.


''Makanlah, aku pergi dulu. Hmm?'' Aiden beranjak dari jongkok nya, mengelus kepala Zoya dengan sangat lembut dan berlalu pergi dari sana.


''Jaga dia, jangan sampai dia keluar dari sini sebelum aku yang menyuruhnya. Dan oh ya, jangan pernah menyentuh nya jika tidak ingin kuhancurkan hidup mu!'' Ucap Aiden bicara pada seorang pria dengan berperawakan tinggi besar.


''Baik Tuan,''

__ADS_1


Zoya mendengar ucapan Aiden mencoba mengerti, karena memang Aiden adalah seorang pria yang sebenarnya baik hatinya, tapi rasa dendam itu mengalahkan dan menyembunyikan rasa kasih dalam hatinya.


__ADS_2