Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti
Ruang Rahasia


__ADS_3

Di atap gedung perusahaan saat ini Zoya berada, ia benar-benar di buat kesal karena Alex telah mengerjainya. Wajahnya memerah mengingat ucapannya yang mengatakan begitu lantang tidak ingin kehilangan nya, dan ternyata itu dapat didengar oleh Alexander Gilbert sendiri.


Dengan memandang pemandangan siang di kota itu, tangan Zoya terus bergerak menolak panggilan yang sejak tadi Alex lah yang terus menghubungi nya,


''Kenapa dia terus menelpon ku,'' gumam perempuan yang masih begitu kesal dengan sandiwara Alex juga Mark.


''Kau menyebalkan Alex,'' teriak Zoya begitu lantang bahkan ia tidak mengecilkan suaranya dengan menyebut nama orang yang paling di segani di gedung itu.


''Kali ini aku tidak akan memaafkan mu,'' cetusnya lagi, masih dengan wajah yang cemberut, ''aaahhhh'' teriak Zoya lagi menahan kekesalan dan berulang kali kakinya menendang udara karena meluapkan emosi nya.


''Maaf ya,'' suara itu terdengar dari balik tubuhnya. Dengan cepat Zoya pun menoleh dan semakin memasang wajah kesalnya.


''Kau''


''Kenapa kau disini?'' tambahnya dengan begitu ketus.


''Kenapa? gedung ini milik ku dan kau pun begitu, lalu kenapa aku tidak boleh kesini untuk mencari wanitaku.''


''Pergilah, aku sedang tidak ingin melihat wajah mu,'' Zoya berbalik lagi membuang pandangannya ke luar sana, merasa enggan melihat wajah Alex yang memasang wajah tidak bersalah nya.


Tidak mengindahkan ucapan Zoya yang memintanya pergi, Alex justru melangkah lebih dekat dan meraih kedua pundak Zoya lalu membalikan badan Zoya agar menghadap ke arah nya.''Maaf,,'' ucap Alex dengan suara yang begitu lembut.

__ADS_1


Zoya menatap wajah Alex begitu lama, terlebih lagi ada beberapa luka disana dan entah kenapa hatinya berdesir tidak karuan, air matanya menggenang, tangan nya bergerak dengan sendirinya mengusap luka yang ada di wajah Alex.


''Sakit ya?'' tanya Zoya dengan tangan yang terus mengusap wajah Alex dengan begitu hati-hati.


Tangan Zoya di genggam Alex dan bibirnya terangkat dengan lembut, lalu menggelengkan kepalanya. ''Kau juga terluka, kita obati luka mu ya,'' Alex menarik tangan Zoya dengan lembut dan pergi dari sana namun Zoya sedikit bingung karena Alex membawanya menuju pintu yang berbeda ia lalui.


''Kenapa lewat sini?'' tanya Zoya namun tidak di jawab Alex, saat Alex membuka pintu itu dan menuruni anak tangga lalu membuka pintu lagi, Zoya terkejut karena dia saat ini sudah berada di ruangan kerja Alex.


''Waahh, ternyata ada pintu rahasia juga,'' gumam gadis itu.


Dan lagi-lagi Zoya di buat kagum karena Alex membawa Zoya ke ruangan yang ada di belakang meja kerja yang pintunya sendiri dari rak-rak buku dan membuka nya hanya dengan menarik salasatu buku yang berjejer di sana. ''Waaahhh, aku pernah melihat ini di kartun Upin Ipin, ternyata ada di dunia nyata juga.'' Alex tertawa kecil mendengar gumaman Zoya. Baginya gadis itu sangatlah unik, dimana semua gadis akan bersikap jaim di depannya tapi tidak untuk dirinya.


''Duduklah, aku akan mengambil kotak obat,'' ucap Alex yang mendudukan Zoya di atas ranjang kecil yang hanya muat dua orang itu.


''Sudah melihat-lihat nya, sekarang berikan dahi mu itu.'' Dengan lembut Alex menyibakkan rambut yang menutupi dahi Zoya dan membersihkan darah yang mulai mengering itu dengan sehelai kapas yang sudah di berikan cairan berwarna kuning terang.


Kesekian kalinya Zoya dapat melihat wajah Alex dengan begitu dekatnya, ia tidak memungkiri bahwa wajah Alex memanglah begitu tampan, rahang yang tegas, hidung yang mancung juga bibir yang sedikit tebal, bulu-bulu mata yang sangat lentik menambah ketampanan seorang Alexander Gilbert.


Saat Zoya yang terpaku dengan ketampanan yang dimiliki Alex, Alex malah meniup mata Zoya sehingga membuat Zoya berkedip dan tersadar dari lamunannya. ''Sudah melihatnya, aku memang tampan.'' Ucap Alex dengan begitu percaya diri nya.


''Ceh, percaya diri sekali ''

__ADS_1


Zoya meraba keningnya yang sudah terbalut oleh perban, walaupun sebenarnya dahinya yang terluka itu tidaklah begitu terasa sakit karena hanya terbentur ujung meja, berbeda dengan Alex yang pastilah terasa nyeri karena baku hantam dengan orang suruhan Aiden itu.


''Aku akan taruh ini .'' Alex yang akan beranjak manaruh kotak putih ke tempatnya tapi Zoya segera mencegahnya.


''Sekarang aku yang akan mengobati mu.'' Ucap Zoya yang giliran mengambil kotak obat itu dari tangan Alex.


Dengan sangat hati-hati, Zoya menempelkan kapas yang sudah di berikan cairan alkohol untuk luka lebam Alex dan memberikan sebuah krim salep untuk meredakan rasa sakit agar cepat pulih.


Dan kini, Alex yang berganti memperhatikan wajah Zoya yang manis, walau sebelumnya ia selalu menampik kalau memang Zoya mempunyai wajah yang cantik, tapi kali ini ia benar-benar mengakui itu.


Hidung Zoya yang mancung kecil dengan mata yang sipit turut Alex perhatikan terlebih lagi saat ia melihat bibir Zoya yang kecil berisi, membuat jakunnya naik turun dengan sendirinya.


Ia pernah merasakan bibir kecil berisi milik Zoya namun tidak menikmatinya karena dalam keadaan emosi dan saat ini dia sangat mendambakan itu.


''Apa terasa sakit? maafkan aku, ini semua karena aku,'' lirih Zoya dengan rasa bersalahnya.


''Tidak ada yang boleh menyalahkan dirimu, kelak hanya aku satu-satunya yang harus kau ingat pertama kali nya jika terjadi apapun, hmmm?'' Zoya tersenyum dan mengangguk, kenapa ucapan itu begitu membuat hatinya tenang, tapi bagaimana dengan hubungan yang tidak nyata itu? Zoya bertanya-tanya dalam lubuk nya.


Di atas ranjang yang sama, Zoya dan Alex saling bertatapan, terbawa suasana yang hangat sehingga satu sama lain tidak sadar bahwa wajahnya semakin mendekat dan lebih dekat, mata Zoya terpejam seakan memberikan lampu hijau pada Alex agar bisa mencumbu nya, namun sial! deringan telpon yang ada di meja kerja Alex mengejutkan keduanya dan adegan romantis itu seketika sirna dan menyisakan kecanggungan.


''A-aku angkat dulu, kau istirahat disini saja.'' Jelas Alex dengan gugup dan berlalu keluar dari kamar rahasia itu lalu menutup nya dengan memberikan senyuman tipis pada Zoya.

__ADS_1


''Sial, telpon sialan! Kita lihat siapa yang menggangu ku.'' Gerutu Alex. ''Ya! ada apa!?'' tanya Alex dengan begitu ketusnya.


''Ya aku tahu. Kau harus lembur dalam satu pekan kedepan!'' Alex membanting gagang telepon ke tempat setelah menyahuti dan memberikan ulti pada si penelpon yang tidak mengerti kenapa bosnya tiba-tiba memberikan hukuman padanya.


__ADS_2