
Malam yang dingin dengan sisa-sisa air hujan yang membasahi tralis besi pembatas balkon, Zoya berdiri dengan segelas teh jahe favoritnya. Menatap bintang yang mulai menunjukan kehadirannya setelah tertutup awan-awan hitam malam.
Suara pintu terbuka tidak juga membuat ia menoleh, karena dia tahu kalau itu Alex yang baru saja datang, ia melirik jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 22.30, Zoya tersenyum getir setelah nya.
Menghela nafasnya dengan pelan dan masuk dengan senyum tipisnya menyambut Alex yang baru saja pulang entah dari mana, Zoya pun tidak ingin ambil pusing.
''Kau sudah pulang?'' Alex hanya mengangguk, dan tersenyum lembut kemudian berlalu ke kamar mereka.
Dalam hati nya tidak ada sama sekali untuk ia menyusul Alex ke kamar, Zoya melangkah ke sofa dan meletakkan gelasnya di meja lalu meraih remote tv. 30 menit kemudian, Alex yang keluar kamar sudah dengan pakaian tidur dan terlihat sudah lebih segar melangkah menuju dapur dan mengambil soda di lemari pendingin.
Alex yang melihat Zoya tengah menonton sebuah drama di televisi berniat menyusulnya, tapi baru saja ia akan mendudukkan bokong nya, Zoya malah mematikan tombol merah pada remote tv tersebut seraya berkata ''Aku akan pergi tidur, selamat malam.''
''Apa kau sudah benar-benar mengantuk?'' tanya Alex dengan sedikit berteriak karena memang Zoya yang sudah akan masuk ke dalam kamar namun tidak terdengar sahutan dari Zoya.
Fyuuuhhhh... Alex menghembuskan nafasnya ke udara, tangannya mengusap kasar wajah dan rambut nya.
Bukan tidak tahu kenapa istrinya bersikap seperti itu.
Karena Mark yang mengantarkan rantang padanya yang dia sendiri tahu kalau rantang itu milik Zoya dan di dalamnya ada masakan hasil Zoya sendiri.
flashback sore tadi. Pada saat Alex yang sedang bersama Chintya, tanpa mengetuk ataupun mengatakan satu katapun, Mark masuk begitu saja dan meletakkan rantang bersusun tiga di atas meja tepatnya depan Alex dan Chintya kemudian berlalu begitu saja dari sana.
Alex yang paham dengan sikap Mark dan tahu betul rantang siapa yang di bawa Mark, Alex juga menduga kalau Zoya sudah datang dan sudah melihat dirinya sedang bersama Chintya saat itu.
''Kenapa Mark bersikap tidak sopan seperti itu?'' cetus Chintya dengan wajah kesal.
''Kau pulanglah, karena aku ada rapat sebentar lagi.'' Jawab Alex tanpa menjawab pertanyaan Chintya.
__ADS_1
''Tapi aku masih merindukan mu, Lex,'' dengan percaya dirinya, Chintya memeluk Alex dengan manja.
''Chintya bersikaplah dewasa, meeting ini penting bagiku.'' Alex mendorong tubuh Chintya dengan lembut dan berdiri membetulkan jass nya.
''Baiklah..'' dengan wajah yang di tekuk Chintya pun berpamitan untuk pergi tapi sebelum itu, Chintya menoleh kembali dan mengecup pipi Alex tanpa rasa malu.
Tidak ada ekspresi wajah yang di tunjukan Alex, ia hanya menatap datar kepergian Chintya, dan pergi ke mejanya untuk menyibukkan dirinya dengan bekerja.
Tidak berselang lama, Mark pun kembali masuk dan memberikan sebuah berkas ke meja Alex. ''Aku minta tanda tangan mu, bos.'' Ucap Mark dengan formal tidak seperti biasanya.
Alex yang tidak ambil pusing, segera meraih berkas tersebut dan membukanya lalu membacanya sebentar, tapi kemudian alis matanya menyatu dengan berbarengan keningnya yang mengernyit heran. ''Surat permohonan pengunduran diri?'' Alex menatap Mark dengan banyak pertanyaan.
''Ya, aku meminta kau menyetujui itu, tapi tenang saja sebelum aku keluar dari sini, aku akan menyelesaikan pekerjaan ku yang belum beres.''
''Kau jangan bercanda, Mark !''
''Apa maksud mu?''
''Hari ini aku melakukan sebuah kesalahan, dan membuat seorang gadis yang tidak tahu apa-apa mengelus dadanya dengan wajah tersenyum. Kau tahu betul aku sangat membenci siapapun yang menyakiti seorang wanita!'' jelas Mark dengan tatapan yang tidak seperti biasanya, yang sepertinya menyimpan banyak luka di sana dengan adanya kenangan buruk di masalalu nya.
''Apakah Zoya yang mengantarkan itu?'' tanya Alex dengan menunjuk rantang menggunakan ujung matanya.
''Tidak perlu ku jawab karena kau juga mengetahui nya, kalau begitu aku permisi untuk menyiapkan bahan meeting 30 menit lagi.'' Mark pun berlalu dari sana meninggalkan surat pengunduran dirinya yang masih di meja Alex.
Flashback off.
____
__ADS_1
Matahari sudah menunjukkan dirinya, jendela yang tidak ditutup dengan rapat membuat sinar mentari masuk dan membangunkan gadis manis yang tengah tertidur pulas itu.
Merenggangkan otot-ototnya dan bangun dari tempat tidurnya, melirik ke sudut lain tempat tidur kemudian hanya menggedikan kedua bahunya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlibat dahulu.
Setelah selesai dengan berpakaian rapih lengkap dengan tas miliknya, Zoya Khanza yang merupakan gadis tersebut keluar dari kamarnya, tapi tiba-tiba langkah nya terhenti melihat seorang pria yang tertidur di sofa ruang tamu dengan keadaan tv yang masih menyala.
''Alex? bangunlah..Jika masih ingin tidur, pergi ke dalam kamar.'' Ucap Zoya membangunkan Alex.
''Kau sudah rapih? kalau begitu aku siap-siap dulu, biar ku antar ke kampus-'' Alex yang akan bangun dari sofa tapi duduk kembali karena Zoya yang menyela ucapannya.
''Tidak perlu, aku sudah memesan taxi, dan dia sudah menunggu di luar sana. Aku pergi dulu, kau jangan lupa sarapan''
Zoya berlalu begitu saja dan Alex hanya menatapnya dengan tatapan sayunya. Alex tidak bisa membedakan sikap Zoya yang tengah marah ataupun sedang baik-baik saja karena pintarnya Zoya yang bisa menyembunyikan perasaannya dengan sikap cueknya.
Lalu bagaimana yang di katakan Mark kemarin sore, Zoya yang mengelus dadanya dengan wajah yang tersenyum, apa itu bentuk kecemburuan atau yang lainnya? sungguh ia tidak mampu menebak apa yang saat ini Zoya rasakan.
Baru saja Zoya keluar dari rumah, bukan supir taxi yang dia pesan yang saat ini menghampirinya namun seorang wanita dengan pakaian yang sangat elegan berbeda jauh dengan dirinya yang saat itu hanya menggunakan pakaian santai, jins dengan hoodie.
''Apa kau Zoya ?'' tanyanya dengan wajah yang menunjukkan keramahan.
''Ya? ada apa pagi-pagi begini datang kerumah ku?''
''Apa Alex sudah siap? ah pasti sudah, kalau begitu aku akan masuk, kau hati-hati ya,'' tanpa tau rasa malu, wanita itupun melewati tubuh Zoya untuk masuk ke dalam rumah tapi tidak di sangka Zoya malah menahan tangan nya.
''Tunggu?'' langkah wanita itu yang tak lain adalah Chintya, terhenti dan mundur beberapa langkah kembali pada posisi awalnya.
''Ada apa?'' raut wajah yang ramah itu sudah tidak terlihat lagi berganti dengan raut menunjukkan ketidaksukaan karena Zoya menahannya.
__ADS_1
''Kau tahu ini rumah ku, apa sopan jika pemilik rumah ada di luar dan kau sebagai orang luar masuk begitu saja.'' Chintya ternganga mendengar apa yang dikatakan Zoya saat itu, matanya memicing tidak suka dan dengan kasar melepaskan tangan Zoya yang masih menggenggam lengannya.