Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti
Pergi dan Datang


__ADS_3

Lima orang itu berkumpul di satu ruangan, tidak ada obrolan di antara mereka, dan pada akhirnya Louis lah yang memulai pembicaraan itu setelah beberapa saat kemudian.


"Alex, seperti yang paman ceritakan. Mereka memang keluarga asli istrimu-''


''Apa sudah ada uji laboratorium?''


''Astaga anak ini, kami bukan orang yang asal mengambil keputusan terlebih lagi menyangkut keluarga, Zoya memang keponakan ku, anak dari kakak kandung ku. Dan kau mempertanyakan hasil lab? baik sebentar.'' Meher dengan kesal beranjak dari tempat duduknya menuju sebuah lemari kecil yang di dalamnya terdapat brangkas besi lalu mengambil sesuatu dari dalamnya.


Sebenarnya Alex percaya kalau Meher dan Dahlia adalah keluarga dari Zoya, tapi entah kenapa mengingat perusahaan Xeon Company pernah menjatuhkannya membuat ia tidak rela kalau ternyata Zoya adalah bagian dari keluarga mereka.


Meher pun kembali dengan sebuah berkas dan langsung memberikan nya pada Alex yang segera dia baca. Ya ternyata benar, disana tertulis Zoya adalah anak dari Zieye Khanza, dan juga cocok dengan DNA Dahlia selaku Nenek dari Zoya.


Alex melirik ke arah Meher yang menatapnya dengan tatapan menyebalkan menurutnya, baru saja ia akan membuka mulutnya, seorang pelayan berlarian ke arah mereka dengan nafas yang tersengal-sengal.


''Nyonya muda, nyonya besar...-'' belum selesai pelayan itu berucap, Meher sudah lebih dulu berlarian dan di susul dengan Zoya yang juga berlari mengejar Bibinya.


Louis menatap Mark dan Mark menatap Alex, dalam beberapa detik mereka saling menatap sebelum semuanya ikut berlari ke arah dimana Meher dan Zoya tuju.


''Ada apa sih?'' celetuk Mark bertanya masih dengan keadaan berlari.


''Mana ku tau, ikut saja,'' balas Alex.


Sesampainya di depan kamar yang terdapat beberapa pelayan di depannya, Alex dan Mark juga Louis berdiri di sana. Mencoba memasuki karena ingin tahu apa yang sedang terjadi sehingga membuat semua panik dan berlari tunggang langgang seperti tadi.


Alex melihat Zoya yang terduduk dengan kedua lututnya di lantai menghadap seorang wanita paruh baya yang terbaring lemah di ranjang sana. Semua mata ikut melirik ke arah tiga laki-laki itu datang.


Mata yang sayu, menatap Alex dengan lembut, tangannya bergerak mengisyaratkan agar Alex mendekat ke arahnya. Bibirnya yang sepertinya sudah sulit berbicara hanya memberikan kedipan mata untuk memintanya.


''Dia suami ku, nek...'' ucap Zoya dengan lirih.


Dahlia hanya memberikan senyuman tipis, dan lagi-lagi meminta Alex untuk semakin mendekat ke arahnya, dan Meher pun yang duduk di samping Dahlia terpaksa menyingkir sebentar untuk memberikan ruang pria yang sudah menjadi musuhnya itu sejak lama.


Tangan yang tak lagi mulus, meraih tangan Alex dan di letakkan nya di atas tangan Zoya yang masih ia genggam. Tanpa bicara pun sudah di pastikan bahwa Dahlia meminta agar mereka terus bersama dan Dahlia pun merestui itu.

__ADS_1


''Bu, sudahlah. Lebih baik Ibu istirahat ya, '' ucap Meher.


''Iya benar nek apa yang di katakan Bibi.'' Kepala Dahlia menggeleng lemah dan terus saja menggenggam tangan pasangan suami istri itu, bibirnya juga ikut melengkung dengan cantik. Dan itu yang semakin membuat Zoya dan Meher menangis.


Sebuah senyuman yang mengibaratkan sebuah perpisahan, dan itu yang terlukis jelas pada senyuman Dahlia saat ini.


Perlahan mata sayu itu terpejam sampai tak lagi terbuka setelah beberapa saat. Sontak seorang Dokter yang sedari tadi berada di sana segera mendekat dan memeriksa denyut nadi, pernapasan juga detak jantungnya. Semua ikut memperhatikan dengan khawatir berharap kalau apa yang di pikirkan mereka tidak terjadi.


Namun, isyarat yang di berikan dokter dengan gelengan kepala membuat semua mengerti, perjuangan Dahlia sudah cukup sampai disini. Dahlia sudah tidak lagi merasakan sakit, dia pergi dengan tenang untuk selamanya.


Zoya dan Meher menangis histeris, terutama Zoya yang sangat terpuruk karena baru saja ia mengetahui kalau dia memiliki seorang nenek, dan tak berselang lama, neneknya malah pergi meninggalkannya untuk selamanya.


''Nenek...!!''


''Bu... ibu pergi dengan tenang ya. Meher akan mewakili Ibu untuk menjaga Zoya anak kakak Zieye, Meher berjanji,'' ucap Meher di sela tangisnya.


''Zoya sayang... Ikhlaskan nenek mu ya, beliau sudah tenang, dia sudah tidak lagi merasakan sakit, bisa?''


Zoya terus saja menangis dengan terus memeluk tubuh dingin Dahlia, tubuh yang semula cantik dan anggun kini terbaring tak bernyawa, Tuhan menciptakan manusia dengan sedemikian rupa. Adanya pertemuan pasti ada perpisahan begitu juga kehidupan, Tuhan yang memberikan nya ruh pada jasad dan Tuah pula yang mematikan nya.


Aaaawwww!!!


Zoya berteriak dengan tiba-tiba, menekan perut nya sekuat tenaga sehingga orang-orang pun turut beralih ke arahnya. Meher yang langsung dengan sigap memapah Zoya, begitu juga Alex yang sangat khawatir dengan istrinya itu.


''Sakiiiitttt!!!'' Zoya berteriak lagi, tangannya yang satu masih memegangi tangan Dahlia dan tangan yang lainnya menekan perutnya yang dapat di pastikan kalau rasa sakit itu berasal dari sana.


''Sayang.. ada apa? kau kenapa?'' tanya Alex dan panik.


''Ss-sakit,'' Zoya berucap dengan mengigit bibirnya menggambarkan bahwa rasa sakit itu teramat hebat.


''Mark! hubungi dokter!''


''Lee, coba kau periksa, ada apa dengan keponakan ku.'' Meher ikut panik, dia di buat bingung dan khawatir, ibunya yang pergi dan Zoya, keponakan tersayang nya sedang merasakan sakit yang tidak tahu penyebabnya.

__ADS_1


Dokter mudab itu yang bernama Lee itu segera memeriksa, ya bagiamana pun dia juga seorang dokter, sedikit banyaknya pasti mengetahui hanya dari memeriksa denyut nadinya.


''Bagaimana? kenapa dia kesakitan seperti itu?''


''Astaga Nona! ini bukan keahlian, tapi aku akan menghubungi dokter khusus obgyn, nona muda harus segera di bawa kerumah sakit, sekarang juga!''


''Bawa dia kerumah sakit, aku akan mengurus pemakaman Ibu ku,'' ucap Meher pada Alex.


Mendengar hal itu yang keluar langsung dari mulut seorang dokter, merekapun segera membawa Zoya kerumah sakit dengan Zoya yang terus mengeluh kesakitan.


...


Setibanya di rumah sakit, mereka sudah di tunggu oleh beberapa perawat dan dokter kenalan Dokter Lee tadi. Di bawa dengan brangkar Alex dengan setia ikut mendorongnya.


Melihat wajah Zoya yang menahan sakit sampai berwarna pucat, membuat Alex semakin kalut, bahkan saat dokter akan membawa Zoya keruangan ICU, Alex memaksa untuk ikut masuk.


''Maaf Tuan, anda silahkan tunggu di luar,'' ucap seorang perawat wanita dengan sopan nya.


Semula Alex tidak mau, tapi karena Mark ikut bicara akhirnya ia mengiyakan nya dan berisi di depan pintu kaca dengan gelisah.


''Lebih baik kau berdoa agar istrimu baik-baik saja,'' celetuk Mark.


Dua puluh menit lamanya, Alex yang terus mondar-mandir di depan pintu berharap pintu itu segara terbuka akhirnya terbuka juga dan Alex segera menghampiri seseorang itu.


''Bagiaman istri saya?''


''Anda suaminya?''


''Ya, cepat katakan! ada apa dengan istri saya sampai kesakitan seperti itu!''


''Baik, maaf. Jadi begini, bersyukur kalian segera membawa pasien kesini, karena kalau saja terlambat beberapa detik lagi, nyawa mereka dalam bahaya.'' Jelas Dokter itu.


''Hah, mereka ?''

__ADS_1


__ADS_2