Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti
Otak Kotor Mark


__ADS_3

Mark! kau?!!!


Mata Chintya seakan ingin lepas dari tempatnya karena memelototi Mark yang berdiri dengan wajah datarnya dan tidak ada tatapan persahabatan di sana, yang ada kebencian semata dari diri Mark pada Chintya.


''Apa hak mu disini! jika Alex tau, pasti dia akan menendang mu dari perusahaannya.''


Bukan mendelik takut, Mark malah tertawa dengan sebelah bibirnya, merasa lucu dengan apa yang di ucapkan Chintya saat ini. Bahkan raut wajah wanita itu tak membuat dia gentar.


''Nona, apa kau sudah bangun dari tidur mu? semestinya kau sadar bahwa saat ini sangat berbeda dari yang lalu. Kau yang mengambil keputusan, dan Alex pun sudah bahagia dengan ISTRINYA! kau paham ?''


Mark berlalu begitu saja setelah menegaskan di kata 'Istrinya' pada Chintya agar wanita yang usianya sebaya dengannya sadar akan hal itu.


''Mark!! Mark!!''


Tanpa mempedulikan keanggunan nya yang semula ia jaga, Chintya terus berteriak seperti orang yang tidak waras, sehingga membuat orang-orang terus memperhatikannya dan menonton nya yang terus berteriak tidak jelas itu.


''Apa! kenapa kalian menatapku! bubar!!!''


Nafas Chintya terus saja memburu karena merasa lelah berteriak akhirnya iapun pergi dengan keadaan yang kacau, rambut yang semula tergerai rapih sudah sedikit berantakan bahkan make up yang cetar sudah ada yang luntur karena air mata yang bercampur keringatnya.


''Sungguh aku tidak akan melupakan kejadian ini, kau lihat saja, Mark !'' gumam Chintya penuh dengan amarah dendamnya.


Chintya terus saja mencoba menghubungi Alex tapi tetap saja tidak berubah yang terdengar hanya sahutan dari seorang operator. Ya Chintya tidak sama sekali menduga kalau dirinya telah di blacklist Alex dari hidup nya.

__ADS_1


.


Di ruangan sang presiden Direktur, yaitu Alexander Gilbert pemimpin perusahaan Violet Brand saat ini. Zoya yang hanya di minta untuk duduk tentu merasa bosan, karena kerap terlihat Zoya yang terus saja melirik jarum jam yang tertempel di dinding kantor.


Sudah lima jam ia hanya duduk dengan hanya membaca majalah yang ada di meja sana dan tidak melakukan apapun lagi terkecuali hanya melihat Alex yang bekerja dengan serius.


Berulang kali juga Zoya menghela nafasnya, matanya melirik ke arah meja Alex yang dia sendiri sedang sibuk dengan pekerjaannya, lalu untuk apa dia di sana?


''Apa dia meminta ku ikut hanya untuk melihatnya bekerja?''gumam Zoya dengan jengkel.


''Kenapa? apa kau merasa bosan, istri ku yang manis?'' tanya Alex yang sepertinya mendengar gumaman Zoya.


''Ya tentu saja, untuk apa aku disini. Aku benar-benar bosan ..''


Alex tersenyum dan menutup berkas yang sedang ia baca lalu berdiri menghampiri Zoya di sofa panjang itu. Duduk di sebelahnya lalu tiba-tiba merebahkan kepalanya di paha Zoya dengan manjanya.


''Karna ada kau..'' jari Alex mencolek hidung mancung Zoya dan tersenyum dengan manis pada istrinya yang sudah benar-benar gugup karena sikapnya.


''Emmm, A-Alex.. nanti ada yang masuk..''


''Siapa? Mark, si jomblo akut itu. Biarkan saja, aku sedang merasa nyaman saat ini, tidak apa kan?'' Zoya pun mengangguk dengan lemah, jantungnya terus saja berdegup kencang walaupun bukan pertama kalinya ini ia sedekat itu dengan Alex tapi semakin lama ia merasa jantungnya kian bermasalah karena melihat senyuman Alex juga menerima sikap manis pria yang sudah menikahinya sebanyak dua kali itu.


Karena merasa nyaman meletakan kepalanya di paha Zoya, Alex pun tertidur pulas di sana begitu juga Zoya yang sudah tertidur dengan posisi duduk dan memangku kepala Alex.

__ADS_1


Mark yang sejak tadi mengetuk pintu tidak membuat keduanya terbangun, merasa penasaran akhirnya Mark sedikit membuka pintu dan mengintip dari celah semula otaknya berpikir kotor tapi kemudian setelah melihat ke dalam ternyata pikirkan kotornya tidaklah terbukti karena yang di lihatnya Alex yang sedang tertidur di pangkuan Zoya dan begitu juga Zoya yang tertidur dengan posisi duduk.


''Astaga,,, kenapa juga aku berniat untuk mengintip mereka.'' Mark tertawa kecil karena otak kotornya yang kemudian ia menutup pintu kembali tanpa ingin mengganggu pasangan itu.


Mendengar pintu yang di tutup, Alex pun terbangun dari tidurnya tidak dengan Zoya yang masih pulas dengan posisi yang mungkin saja akan membuat nya kram otot pada lehernya.


Dengan perlahan Alex mengangkat kepalanya dari paha Zoya merutuki kebodohannya yang bisa saja membuat Zoya kesakitan nantinya. ''Bodoh sekali aku, dia sampai tertidur dengan posisi yang tidak nyaman ini.''


Dengan sedikit mengendap-endap ia berjalan menuju pintu kamar pribadinya yang ada di belakang mejanya, membuka nya terlebih dahulu kemudian kembali menghampiri Zoya lalu membawanya ke dalam gendongannya.


Dengan sangat hati-hati Alex melangkah membawa Zoya ke kamar dan meletakkannya di ranjang yang tidak terlalu besar itu, kemudian menyelimutinya dengan sangat posesif.


Tidak buru-buru pergi dari sana, Alex pun terus memandangi Zoya yang tengah tertidur lelap,tersirat rasa bersalah karena pernah bersikap kasar padanya, tapi Zoya tidak pernah bersikap sebaliknya padanya. ''Aku beruntung bertemu nya dengan mu saat itu. Entah jika bertemu dengan gadis lain, mungkin saja dia akan memanfaatkan ku seperti dia.'' Gumam Alex yang masih menatap Zoya.


''Aku berjanji akan membuat kau merasa aman dan nyaman hidup dengan pria seperti ku,'' sambungnya yang kemudian berlalu dari sana untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


.


Di sebuah ruangan yang minim cahaya, Chintya sedang berbincang dengan dua orang pria yang terlihat menyeramkan karena terlihat dari penampilannya yang urakan.


Bukan tempat ia bekerja, tetapi ruangan itu terlihat seperti gudang tempat para preman berkumpul yang di buatnya seperti basecamp oleh mereka.


''Cari tahu dia? cari tahu dimana orang tuanya tinggal, kabarkan aku jika kalian sudah menemukan informasi tentang gadis yang ada di foto itu.'' Ucap Chintya memerintah dua preman itu yang langsung di angguki dengan hormat dari dua preman tersebut.

__ADS_1


Keluar dari sana dengan berlenggak-lenggok, entah apa saat ini yang sedang ia rencanakan tapi wanita seperti Chintya memanglah tidak bisa di anggap remeh karena seperti yang Louis katakan, Ular tetaplah akan menjadi ular, walaupun secantik apa penampilan dia.


Tanpa Chintya sadari juga, seorang pria sedang mengawasi nya dari jarak yang cukup jauh dari dalam mobil hitam. Entah apa yang saat ini masing-masing dari mereka rencanakan tapi pria itu terlihat menatap tajam pada Chintya seakan-akan tahu apa yang akan di lakukan wanita itu nantinya.


__ADS_2