
Zoya menghela nafasnya, setelah melihat panggilan yang tidak terjawab dari nomor yang sama, yaitu Alex, si tuan Devil. Ya Zoya belum juga mengganti nama kontak yang ia berikan awal-awal mereka mulai satu rumah.
''Yaya? ada apa?'' tanya Lili yang heran karena Zoya masih berada di depan pintu.
''Tidak,''
''Tadi itu siapa? kenapa wajahnya terlihat menyedihkan,'' timpal Rini.
''Lupakan saja, aku ingin tidur, besok hari terakhir acara kampus, kita juga harus datang lebih awal kan,'' ucap Zoya yang sudah menaiki ranjangnya dan merebahkan tubuhnya dan di susul dengan ketiga temannya.
Kamar asrama yang di tempati Zoya dan teman-temannya terdapat dua ranjang berukuran sedang, Zoya yang kebetulan satu ranjang dengan Kia, gadis yang selalu bersikap dewasa ketimbang dua yang lainnya. Merasa belakangan ini ada sesuatu yang Zoya pikirkan dan hanya dia yang merasakan itu.
Lampu kamar sudah di padamkan, Rini dan Lili yang tidur di satu kasur pun sudah terlelap tidur, tapi tidak dengan Zoya yang sedari tadi bergerak gelisah di bawah selimut nya, merasa serba salah dengan posisi tidur nya.
''Zoya, kau belum tidur?'' tanya Kia sedikit berbisik.
''Kenapa ranjang ini berbeda dari sebelumnya,'' jawab Zoya yang sudah terduduk.
''Bukan ranjang ini yang berbeda, tapi kau yang saat ini sedang gelisah. Ada apa?'' Zoya terdiam, ia lupa kalau temannya yang bernama Kia itu memang tingkat kepekaan nya tinggi terhadapnya, Kia juga teman pertama yang dia miliki saat masuk ke universitas itu.
''Dia, emm.. maksud ku Alex. Alex memberikan ku sebuah kalung berlian yang pastinya bukan kalung murahan.'' Tutur Zoya yang menunjukan kalung tersebut pada Kia yang ia simpan di tasnya.
''Lalu? apa yang kau khawatirkan?''
''Aku takut jika perasaan ku ini terlalu dalam untuk nya, lagipula aku mana merasa tidak pantas memakai nya.'' Kia menghela nafasnya, kini ia mengerti apa yang saat ini tengah di khawatirkan temannya. Zoya yang sedari dulu ia kenal dengan gadis penyendiri, pemalu juga sering overthinking dengan siapa dirinya pastilah merasa tidak pantas menerima barang mewah seperti itu.
''Pantas atau tidak pantas, bukan di lihat dari nilai harga suatu barang tapi ketulusan si pemberi itu. Dan satu lagi, jika kau merasa takut perasaan mu terlalu dalam, itu hal yang sangat wajar, tapi perlu kau ketahui kalau pria itu benar-benar tulus padamu dan kau harus menghargai itu.''
__ADS_1
Nasihat Kia ternyata bisa langsung di terima baik oleh Zoya, ya hanya Kia yang ia percaya dengan kerisauan hatinya tapi bukan berarti dia tidak percaya dengan kedua temannya yang lain, hanya saja posisi Kia berbeda satu tingkat lebih tinggi dari Rini dan Lili di hati Zoya.
''Sudahlah, kita harus tidur kalau tidak mau kena tegur Kak Neci.'' Ucap Kia lagi dan di angguki Zoya.
Kia kembali merebahkan dirinya merasa sudah tenang karena Zoya sudah mengerti apa yang dia katakan, Zoya pun juga merasa lega, kalung tersebut pun ia lingkarkan di leher jenjangnya merasa senang dan nyaman ketika kalung berlian biru itu sudah bertengger di dadanya.
Di kota lain, tepatnya di sebuah hotel. Alex yang masih juga belum mendapatkan balasan Zoya terus saja mengomel sendiri. Dia sangat ingin marah dengan gadis itu namun hatinya tidak menerimanya. Mengingat wajah Zoya yang tanpa ekspresi saat menatapnya saja membuat ia menggelinjang tidak karuan.
''Baiklah, sikap ini yang ku nobatkan sebagai sikap mu yang ku suka.'' Ucap Alex yang menyerah menunggu balasan Zoya dan meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian diapun pergi untuk tidur karena memang sudah terlalu larut.
.
Cahaya matahari sudah mulai menembus ke celah-celah gorden, Zoya mulai membuka matanya dan segera bergegas untuk membersihkan dirinya sebelum teman-teman nya bangun dan akan berebut kamar mandi dengan nya.
Dan benar saja setelah ia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, Rini dan Lili sedang bergelut untuk bisa lebih dulu masuk ke kamar mandi setelah Zoya, dan Kia yang sudah terbiasa menjadi penonton kedua gadis itu yang saling dorong di depan pintu kamar mandi.
Zoya yang sudah berpamitan pada teman-temannya untuk pulang ke rumah barunya dengan Alex, pergi ke halte yang jaraknya tidak terlalu jauh dari gedung kampus.
Ponselnya yang sedari malam ia simpan di dalam tas berbunyi lagi dan dengan malas Zoya pun mengambilnya dari tasnya. Nama Tuan Devil lah yang lagi-lagi menghubungi nya.
''Ya?''
''Kau kemana saja, kenapa baru menjawabnya?!'' tanya Alex dengan nada sedikit tinggi.
''Aku baru saja selesai, dan ini sedang dalam perjalanan pulang kerumah,''
''Kalau begitu aku akan menyuruh orang ku untuk menjemput mu-''
__ADS_1
''Tidak perlu, aku sudah menaiki bus,'' potong Zoya yang memang sudah mulai masuk ke bus yang berhenti di depannya.
''Kau selalu saja begitu, oh ya, setelah menghadiri rapat, aku langsung kembali ke perusahaan, apa bisa kau bawakan aku makan malam, nanti Mark yang akan menjemputmu.''
''Apa kau sudah mulai miskin Tuan, untuk makan saja meminta ku untuk membawakan nya.'' Alex tertawa terbahak-bahak dari sebrang sana mendengar ucapan Zoya yang meledeknya itu.
''Baiklah, kau tidak perlu meminta Mark menjemput ku, aku akan naik taxi untuk kesana. Aku tutup dulu ya.'' Dan seperti biasa, sebelum Alex menjawab Zoya sudah menekan icon merah pada layar ponselnya.
Sesampainya di halte pemberhentian yang jaraknya tidak jauh dari rumah, Zoya malah membelokan langkahnya menuju minimarket yang ada di sebrang jalan. Berniat membeli beberapa sayuran juga bahan pangan lainnya karena dia akan memasak untuk Alex .
Ya walaupun dia sudah belajar memasak dengan Alex, dia juga sering menggunakan aplikasi untuk lebih memperluas wawasan nya dalam masakan, Zoya gadis yang cerdas dia sangat suka dengan mencoba beberapa hal.
Dan kali ini dia memilih untuk memasak makanan khas Indonesia, tepatnya di sebelah barat sumatera, yaitu Rendang. Dan dia memilih daging bagian topside yang merupakan bagian terluar dari paha belakang sapi berkualitas.
Dengan hanya berbekal video tutorial dan nekat, Zoya melakukannya dengan sangat hati-hati sampai makanan pun rampung semuanya dalam waktu 4 jam lamanya.
''Astaga lelah sekali, aku akan istirahat sebentar.'' Ucapnya, yang langsung berlalu pergi ke kamar nya setelah mencuci tangannya.
Di Perusahaan, Alex yang baru saja tiba dengan hati yang bahagia karena dia dan Mark telah memenangkan tender yang bernilai fantastis. Berjalan dengan bangganya melewati para karyawannya dan menjawab ketika para karyawan menyapanya.
Membanting diri di kursi kebesarannya, merasa puas dengan apa yang mereka usahakan. Mark pun cukup senang karena Alex senang. Karena menurutnya kebahagiaan Alex yang terpenting baginya.
''Mark, aku akan memberikan bonus padamu karena kemenangan kita ini.'' Ucap Alex dengan wajah yang ceria.
''Aku terima dengan senang hati .'' Keduanya tertawa bersama sampai ketika keduanya seketika terdiam karena kedatangan seseorang.
''Nona?'' ucap Mark yang langsung berdiri tidak percaya.
__ADS_1