Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti
Terima kasih, Tuhan


__ADS_3

''Ya, istri anda sedang mengandung, apa jangan-jangan Anda tidak mengetahuinya?''


Ucapan Dokter yang menangani Zoya terus terngiang-ngiang di telinga Alex, bahkan ia tidak mampu mengatakan apapun, syok? ya mungkin itu kata yang tepat dengan apa yang di rasakan Alex.


'Aku punya anak? Zoya hamil anakku? aku akan di panggil Ayah?' pertanyaan-pertanyaan itu yang terus berkeliling di otaknya.


''Lex! Ck, kau malah melamun, apa kamu tidak senang akan memiliki anak?! Alex!!'' Mark mengomel karena kesal, begitu juga Louis yang tidak habis pikir dengan keponakannya itu.


''Kenapa kau melahirkan anak sebodoh ini, Kak.'' Louis bergumam dalam hatinya.


''Berarti benar, Anda tidak mengetahuinya ya? sekarang kandungan istri Anda menginjak usia lima belas Minggu, di trimester pertama ini kandungan nya masih terbilang rentang, maka dari itu jaga emosional nya, karena rasa sakit tadi itu di sebabkan dari faktor stress yang berlebihan, tapi Anda bisa tenang sekarang, karena kami sudah memberikan vitamin.'' Dokter itu menjelaskan secara rinci, sungguh apa yang di rasakan Alex saat ini adalah perasaan yang benar-benar bahagia.


Dadanya bergetar hebat, sama rasanya dengan jatuh cinta, mungkin itu yang bisa Alex gambarkan tentang perasaan nya saat ini. lututnya terasa lemas, matanya melirik ke arah dalam ruangan, yang pintunya terbuka sedikit dan meninggalkan celah. Wajah yang pias dapat Alex lihat. ''Dia calon ibu dari anakku?''


''Apa ini penyebab dia bersikap aneh waktu itu, astaga... kenapa aku bodoh sekali tidak menyadarinya, maafkan aku, sayang.'' Alex mencoba berdiri dengan di bantu Mark untuk masuk ke dalam sana tapi tiba-tiba Louis mendahulukan langkahnya dan ingin masuk kedalam, tetapi dengan segera ia mencegahnya.


''Paman?''


''Apa?''


''Paman, mau apa?''


''Mau kedalam lihat Zoya, kenapa memangnya?''


''Dokter tadi mengatakan hanya satu orang yang bisa masuk ke dalam, atau bisa bergantian kan?'' Louis mengangguk mengiyakan ucapan keponakannya itu.


''Lalu paman mau apa? dia kan istri ku,'' Louis memutar bola matanya dengan malas, sungguh memiliki keponakan yang menyebalkan membuat nya darah tinggi.


''Ya... baiklah, cepat masuk!''


''Idiihh... makanya paman punya istri dong...'' ejek Alex pada Paman nya yang terkejut mendengar ucapan Alex yang terkesan mengejeknya itu.


''Anak kurang ajar, awas kau!''


Alex segera masuk ke dalam sebelum benda apapun akan melayang ke arahnya. Meninggalkan Mark bersama Louis di sana, membuat Alex senang karena berhasil membuat Paman nya kesal, dan pastinya Mark yang akan menjadi bulan-bulanan dari sang Paman.

__ADS_1


Melihat wajah lelah dari Zoya, membuat Alex semakin merasa bersalah. Hampir tiga bulan ini dia bahkan tidak ada di samping istrinya, tidak ada saat Zoya merasakan mual, dan mungkin saja menginginkan sesuatu yang tak masuk akal, seperti ibu hamil kebanyakan. Alex menyeret kursi dengan pelan, karena tidak ingin menganggu waktu istirahat Zoya, tapi gadis yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu itu malah terbangun dan bergumam.


''Ssttt... Kepala ku sakit sekali,'' keluh Zoya menekan kepalanya.


''Sayang, apa yang kau inginkan, buah? atau minum, euumm... rujak?'' Zoya mengernyit heran dan beberapa detik kemudian ia mengingat sesuatu.


''Nenek? aku mau melihat nenek...'' Zoya kembali histeris, ia mencoba turun dari ranjang bahkan jarum infus pun berhasil ia cabut. Alex berusaha menenangkan nya tapi usahanya gagal, Zoya tetap keukeuh untuk kembali kerumah neneknya.


Mendengar keributan dari dalam, Louis dan Mark pun terpaksa masuk, dan melihat Alex yang sedang mencoba memberi pengertian agar Zoya istrahat tapi tidak bisa.


Mark pun di minta untuk memanggil dokter dan berkonsultasi untuk Zoya yang ingin keluar dari sana sekarang juga, dan mereka bisa bernafas lega karena dokter pun sudah mengijinkannya dengan syarat harus menjaga emosi Zoya agar tetap stabil.


Selama di perjalanan, Zoya terus saja terisak, Alex sudah mencoba menghibur nya tapi Zoya seakan tidak peduli karena dia benar-benar merasa sedih karena kehilangan sang nenek yang baru bertemu dan ketahui.


''Sayang, aku paham dengan perasaan mu, tapi ku mohon, kontrol emosi mu ya, demi dia..'' Alex meletakkan tangannya di perut Zoya yang memang terasa sedikit membuncit.


Ya, Zoya masih tidak mengerti apa yang di maksud Alex. Karena dia belum mengetahui kalau dirinya tengah mengandung anak pertama mereka. Zoya menatap tangan Alex yang berada di perut nya, mengusap air matanya seraya berkata. ''Dia siapa?''


''Dia. Anak kita.'' Air mata yang sudah ia hapus kini menetes lagi tapi dengan perasaan yang berbeda. mulutnya terbuka dengan mata yang berkaca-kaca.


...


Hari menggelap, pemakaman Dahlia sudah selesai. Tapi, Zoya dan Meher juga lainnya masih berada di area pemakaman elit itu. Menaburkan bunga mawar di atas gundukan tanah basah dan berdoa di sana agar orang tua yang meninggalkan mereka bisa tenang dan bahagia.


Zoya masih duduk dengan khusus melantunkan doa-doa untuk sang nenek, di sampingnya sudah Alex yang siap sedia menjaganya. Meher melirik ke arah Zoya, tangannya mengusap lembut kepala keponakannya itu. Dia paham betul apa yang di rasakan Zoya, baru saja mengetahui memiliki seorang nenek, tapi sang nenek malah pergi untuk selamanya.


Bahkan Zoya belum sempat berbakti pada neneknya, Meher menghapus deraian airmatanya. Dia bertekad untuk terus mendampingi Zoya sampai kapanpun, hanya Zoya lah yang dia punya, begitu juga Zoya.


'Zoya adalah tanggung jawabku'


''Zoya, kita pulang ya, lihat akan turun hujan. Ingat kamu harus menjaga kesehatan mu dan calon anakmu, hmmm?'' ucap Meher begitu hati-hati karena menurut yang di tahu, wanita hamil itu sangatlah sensitif walaupun dia juga belum pernah merasakan hal itu.


Beberapa saat Zoya memang hanya diam tapi kemudian Zoya pun mengangguk dan menuruti apa yang dia ucapkan.


''Bu, Meher janji. Meher akan terus menjaga Zoya,'' ucap Meher pada papan nisan yang bertuliskan nama Dahlia Madeva di sana.

__ADS_1


''Nyonya, eumm... maksud ku nek, akupun berjanji akan menjaga cucu Anda dengan baik, juga menjaga calon cicit mu dengan baik pula, ku harap kau di sana bisa tenang.'' Timpal Alex.


Satu-persatu mereka meninggalkan area pemakaman, karangan bunga pun berjejer rapi di luar pemakaman, Zoya melihat ke arah luar jendela mobil, ikhlas ? ya, Zoya sudah mencoba ikhlas, baginya semua adalah anugerah. Terlebih lagi ada makhluk kecil di perutnya, membuat rasa sedihnya sedikit berkurang.


''Aku hidup di keluarga yang berantakan, bahkan aku terpaksa pergi dari rumah karena menghindar dari bejatnya seorang ayah tiri, kala itu aku mengira Tuhan itu tidak adil padaku. Tapi sekarang aku memahami satu hal, Tuhan merencanakan kebahagiaan ku dengan memberikan sebuah cobaan yang membuat ku kuat dan mengerti apa arti kehidupan yang sebenarnya.''


''Tuhan membuat ku menjadi seorang istri dari pria yang tak ku kenal, melewati hari tanpa cinta, tapi lambat laun akhirnya suami ku benar-benar menyayangi ku, lalu bertemunya dengan keluarga ku yang sebenarnya, ya... walaupun setelah itu ia mengambil Nenek ku kembali dan di gantikan dengan hadirnya sebuah janin yang hanya menunggu beberapa bulan lagi, dia akan berpindah kepangkuan ku.''


''Terima kasih, Tuhan.''


...TAMAT...


...🌷🌸🌸🌸🌸🌸🌷...


**Hy para reader πŸ‘‹πŸ‘‹ ☺️ Apa kabar semuanya? ku harap kalian baik-baik saja di tengah banyaknya penyakit yang ada. Jaga kesehatan kalian yaπŸ€—


Oh ya, maaf jika bab ini adalah bab yang berakhir nya cerita Zoya dan Alex. Maaf juga jika kisah Tamatnya tidak seperti harapan kalian..


Oh ya, sebentar lagi aku akan mengeluarkan novel baru lho.. Jagan lupa mampir yaaa... Tapi sebelum itu kalian bisa membaca novel ku yang lainnya.


Seperti...


CINTA CEO ARROGANT


CINTA SI PRIA ARROGANT


HANYA ISTRI PURA-PURA


PERNIKAHAN WASIAT


MANISNYA CERITA CINTA


πŸ’œπŸŒ·πŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈπŸŒ·πŸ’œ


Sekali lagi terimakasih atas dukungan kalian semuanya πŸ€— i love you all😘**

__ADS_1


__ADS_2