
Alex kembali ke ruangan kamar rahasia itu, dan ternyata Zoya sudah terlelap dalam tidur, dengan perlahan Alex merapihkan selimut yang tidak menutupi tubuh Zoya dengan benar dan kembali beranjak namun tangannya di tahan Zoya.
''Kau mau kemana?'' tanya Zoya dengan mata sayu.
Alex tersenyum dan duduk di samping Zoya.
''Aku akan kembali, ada urusan yang harus aku urus ,''
''Bagaimana dengan Aiden ?'' Wajah Alex berubah sendu
''Apa kau menghawatirkan nya?''
''Bukan begitu.''
''Aku pergi untuk mengurus nya, tapi polisi mengabarkan kalau Aiden melarikan diri, kau tenang saja ya, aku akan mengurusnya .'' Zoya pun mengangguk mengerti, Alex beranjak dan kemudian mengecup kening Zoya dengan hangat lalu pergi dari sana.
Zoya sedikit terkejut karena Alex mengecup kening nya tanpa permisi, pipi dan telinga nya memerah ia merasa malu karena mendapatkan kecupan mesra walaupun hanya sekejap itu.
''Ck sadarlah Zoya, kau hanya istri kontrak, jangan pernah berharap lebih dari ini,'' gumam Zoya dengan suara pelan dan berniat untuk melanjutkan tidurnya karena mata yang sudah tidak bisa menahan kantuk nya.
Kabar perkelahian antara pemimpin perusahaan Violet Brand dengan pemimpin perusahaan Smith Qua tersebar luas, terlebih lagi di tambah suara ledakan dari senjata api dari Aiden, membuat seluruh kantor gempar membicarakan nya.
Louis yang berada di luar negeri mendengar berita tersebut pun segera berniat pulang ke negaranya untuk melihat keadaan Alex keponakannya yang menjadi korban tembak dari rival bisnis nya.
Alex berjalan dengan kawalan beberapa polisi juga orang suruhan Mark hanya untuk sekedar berjaga-jaga karena Aiden yang masih belum ketemu keberadaan nya itu.
Walaupun sebenarnya Alex merasa risih di kawal seperti itu tapi Mark lah yang memaksa nya karena tidak ingin terjadi hal yang tidak di inginkan pada bosnya, dan di tambah menjadi pusat perhatian seluruh karyawan membuat Alex semakin jengah.
Luka lebam-lebam di sekitar wajahnya pun turut menjadi saksi jika desas-desus perkelahian sengit telah terjadi di gedung tersebut.
''Heei ku dengar, Direktur Alex dan tuan Aiden berkelahi karena seorang wanita,''
__ADS_1
''Ya dan ku dengar Direktur Alex rela di tembak karena seorang wanita, apa dia kekasihnya ?''
''Ck, apa kalian tidak tahu kabar bahwa direktur kita itu sebenarnya sudah menikah.''
Para karyawan terus membicarakan tentang perkelahian antara Alex dan Aiden. Bahkan tidak ada habisnya sampai wanita yang di maksud mereka pun turut mereka bicarakan, dan sampai ada yang mencari tahu siapa sebenarnya wanita beruntung itu yang menjadi istri bos meraka dan membuat kedua pria hebat itu bertengkar, tanpa tahu sebab mereka bertengkar itu apa.
Dendam, ya hanya masalah dendam lah sebagai alasan utamanya, Aiden yang memang belum lama menggeluti dunia bisnis ketimbang Alex yang memang sejak usia remaja sudah berada di lingkungan perbisnisan, Aiden tidak begitu mengerti kalau bisnis itu sudah biasa dengan untung dan rugi persaingan, dan merasa marah saat perusahaan orang tuanya hancur ketika Alex membongkar kebusukan ayah Aiden yang sudah memalsukan kontrak kerjasama dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di jeruji besi di tambah sang ibu yang meninggal karena serangan jantung, ya sebab itulah perasaan dendam itu terbentuk dengan alaminya.
Alex belum benar-benar tenang jika Aiden belum juga di temukan, terlebih lagi ia sangat khawatir jika Zoya lah yang akan menjadi incaran selanjutnya Aiden.
Ddrrtttt Drrtttt. Handphone Alex bergetar di saku celananya dan segera ia angkat karena nomor salasatu dari pihak kepolisian lah yang saat ini menghubungi nya. ''Ya?'' jawab Alex yang kemudian terus mendengarkan apa yang di katakan pada polisi itu. ''Baik, saya akan ke lokasi sekarang juga,'' tambahnya, dan menutup sambungan telepon nya.
''Ada apa Lex ?'' tanya Mark yang sedang memegang kemudi.
''Ke jalan Cakrawala, polisi sudah menemukan si brengsek itu.'' Tanpa mengatakan apapun, Mark pun segera menancapkan pedal gas nya dengan sedikit lebih kencang karena dia juga sangat ingin menghajar wajah Aiden.
Sesampainya mereka di sana, mobil polisi sudah berkumpul pada satu titik namun Alex dan Mark merasa aneh karena ada banyak pecahan kaca mobil yang berceceran di aspal. Alex dan Mark mendekat ke lokasi dan langsung di hampir salasatu seorang polisi pria.
''Maksud anda?'' tanya Mark dengan kesal
''Maaf tuan Mark, saat dalam pengejaran, mobil pelaku kehilangan kendali sehingga menabrak pembatas jalan dan membuat penumpang itu terpental ke dalam jurang dan kecil kemungkinannya korban sekaligus pelaku itu akan selamat .'' Jelas polisi lagi, Mark dan Alex berlari untuk melihat keadaan mobil dan Aiden yang katanya terjun ke dalam jurang yang dalam itu.
''Sial, aku bahkan belum sempat melayangkan pukulan pada wajah lugunya itu,'' sesal Mark.
''Kau benar, tapi aku cukup tenang karena dia tidak akan mengganggu hidup Zoya lagi.''
''Tapi apa dia benar-benar mati?'' Mark melongok ke bawah jurang.
''Jika kau yang jatuh, apa kau akan hidup atau langsung mati?'' tanya balik Alex.
''Apa kau berharap aku mati di kedalaman jurang ini '' ketus Mark.
__ADS_1
Walaupun Aiden sudah dipastikan tidak akan selamat karena terpental ke dalam jurang, tapi tetap saja Alex meminta polisi untuk menemukan jasad Aiden bagaimanapun caranya, karena menurutnya sebelum ia benar-benar bisa memastikan bahwa Aiden telah tewas, hatinya belum sepenuhnya tenang.
Keadaan kantor sudah cukup sepi karena memang hari ini Mark meminta para karyawan pulang lebih awal, ketika Alex kembali ke ruangan nya dan melihat Zoya yang sudah bangun dari tidurnya namun masih di atas ranjang, Alex segera menghampirinya.
''Kau baru bangun?'' tanya Alex yang duduk di tepi ranjang. Zoya mengangguk sambil tangannya mengusap matanya yang masih sayu.
''Bagaimana, apa polisi sudah menemukan Aiden ?''
Alex terdiam sejenak, dan membuang nafasnya
''Sudah, tapi Aiden di kabarkan tewas karena terpental ke dalam jurang setelah melarikan diri dalam pengejaran,'' Zoya terdiam setelah mendengar penuturan Alex. Alex memperhatikan raut wajah Zoya yang kian berubah mengira kalau Zoya bersedih akan kepergian Aiden.
''Jangan bersedih, aku akan mencarinya jika memang kau tidak ingin kehilangan nya,'' seru Alex dengan lesu.
''Bukan begitu ,''
''lalu?''
''Hanya saja aku merasa kasihan dengan nya, hanya karena dendam ia bisa berbuat sejauh ini.''
''Jadi kau tidak bersedih karena nya?'' Zoya pun menggeleng dan membuat Alex tersenyum senang.
''Aku hanya berdoa agar di kehidupan selanjutnya ia terlahir sebagai orang yang baik tanpa ada rasa dendam pada siapapun ,'' harap Zoya dan di angguki Alex.
Hubungan di antara mereka mulai mencair, tembok yang terbentang di antara mereka perlahan mulai runtuh, namun Zoya masih merasa dirinya tidaklah berhak sepenuhnya atas diri Alex karena status dirinya yang memang hanya istri kontrak.
Pagi yang indah, Zoya yang bangun lebih dulu segera menyiapkan makanan yang hanya perlu memanaskan nya saja di microwave dan memindahkannya ke dua piring untuk dirinya dan Alex.
Alex yang baru saja membuka matanya terkejut dan panik karena melihat ranjang yang kosong, yang seharusnya ada Zoya di sana, karena masih teringat Zoya yang di sekap oleh orangnya Aiden, Alex pun berpikiran macam-macam tentang itu.
''Astaga, Zoya. Aku akan menyelamatkan mu,'' ucap Alex yang berlarian keluar kamar namun langkahnya terhitung karena melihat Zoya yang sedang membuat jus buah di ruang memasak.
__ADS_1
Masih dengan piyama dan muka bantalnya, Alex mengucek matanya, rasa khawatirnya hilang dan berganti lega karena ternyata apa yang di takuti tidak terjadi. Berlebihan memang, tapi begitulah yang di rasakan orang yang baru saja mengalami sesuatu yang serius.