Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti
Sindiran pedas Paman


__ADS_3

Kedua pria berbeda generasi sedang berada di ruangan yang sama, namun keduanya tidak melakukan pembicaraan sedikit pun sejak 30 menit yang lalu.


Alex yang entah memang sedang benar-benar sibuk dengan pekerjaan nya dan Louis yang hanya duduk di sofa panjang dengan majalah di tangannya dan entah sudah berapa majalah yang ia baca.


Sampai ketika, Alex pun berdehem dan menghentikan aktivitasnya lalu menghampiri Louis yang duduk dengan menyilangkan kaki nya.


''Apa paman tidak ada pekerjaan lain?'' tanya Alex yang sudah duduk di kursinya.


''Aku mempunyai banyak karyawan, lalu jika aku juga harus bekerja keras, mereka gunanya apa?'' balas Louis dan Alex pun hanya diam tak berkutik.


''Ck..Lalu ada apa Paman kesini?'' Dugh


Louis melempar majalah yang ada di tangan nya ke arah Alex yang segera menangkapnya. ''Anak bodoh!''omel Louis yang Alex sendiri tidak tahu apa penyebab Omelan itu.


Alex mengangkat kedua alisnya menunggu Louis mengatakan apa yang di maksud dengan ucapkan nya. ''Apa kau kembali dekat dengan nya?''


''Sudah kuduga, ini memang pekerjaan Paman ,'' Alex tertawa kecil. ''Lalu apa Paman juga tahu tentang aku dan Zoya ?'' Louis tidak langsung menjawabnya, terlihat dari gerak-geriknya bahwa Louis tengah gugup dalam bersikap.


''T-tidak, tapi jika memang iya! apa kau menyesali nya?'' dan kini yang terdiam justru malah Alex, raut wajahnya kian berubah mendung, menyadari sesuatu atas pertanyaan Louis, Pamannya.


''Menyesal? aku bahkan tidak tahu apa itu penyesalan, yang aku tahu saat ini aku menemukan kenyamanan yang selama ini aku dambakan, paman.'' Ucapnya kemudian, Alex menghela nafasnya dengan kasar, memejamkan matanya sejenak lalu menatap Louis dengan tatapan seorang anak yang ingin bercerita banyak pada ayahnya.


''Pada siapa? Chintya atau Zoya ?''


Pertanyaan macam apa itu! sehingga membuat Alex diam seketika dengan mimik wajah masam karena merasa kesal dengan pertanyaan Louis yang menurut nya tidak masuk akal.

__ADS_1


''Ingat Lex ! Paman sudah mengantarkan mu sampai gerbang puncak, bahkan paman belum pernah mengharapkan kau bisa membalas itu, tapi Paman hanya minta satu hal padamu. Jangan pernah mengambil keputusan dengan cepat tanpa berpikir panjang !'' ujar Louis panjang lebar dengan menggebu-gebu. ''Apa perlu paman katakan yang sebenarnya sekarang juga?'' lanjutnya.


''Tidak perlu paman. Aku dapat mengerti, kelak aku minta bantuan mu untuk satu hal ,'' dan Louis pun hanya mengangguk.


Setelah adanya perbincangan antara Paman yang masih menduduki tahta tertinggi dan Alex yang menduduki posisi kedua dari paman nya, Louis pun berpamitan untuk pergi karena memiliki janji lain dengan beberapa pemegang saham.


''Aku pergi dulu, kau jaga kesehatan.'' Ucap Louis yang sudah berjalan menuju pintu namun Alex tiba-tiba memanggil nya dan Louis pun berhenti.


''Pak tua?! apa kau tidak ingin mencoba membagi hati pada seorang bibi ?!'' tanya Alex dengan sengaja meledek Louis.


''Hahah, Kalau begitu carikan aku wanita tua yang wajah nya terjebak di usia muda,'' balas Louis.


Merekapun tertawa bersama karena hal itu. Ya humor yang dimiliki Alex tak lain menurun dari Louis yang tidak ada habisnya kehilangan jawaban dari ledekan seseorang.


''Maaf Nona, apa anda memiliki ID?'' tanya salasatu di antara mereka.


''ID? Emmm maaf tuan, saya juga pernah bekerja disini,'' jawab Zoya dan terdengar suara tertawa kecil dari salasatu dari mereka.


''Maaf Nona, yang bisa masuk ke dalam hanya orang-orang yang penting, yang memiliki ID, bukan yang pernah bekerja disini.'' Zoya terdiam, ia melirik kantung plastik yang ada di tangan nya.


Zoya yang membawa makanan untuk Alex pun seketika ingin mengurungkan niatnya dan mundur dari sana namun ketika ia ingin pergi, seseorang dari arah belakang ikut bicara menimpali perkataan kedua penjaga pintu itu.


''Benar apa kata kalian, orang luar tidak ada hak menginjakkan kakinya kedalam,'' ucapnya dengan menunjukan sebuah ID pada kedua pria penjaga itu seakan-akan meledek Zoya yang menatapnya malas.


''Emmm maaf ya, karena memang peraturan disini sangatlah ketat, orang luar seperti dirimu tidak di perbolehkan untuk masuk,'' lanjutnya dengan melirik licik. ''Apalagi mereka melihat penampilan mu yang seperti itu,'' sambungnya lagi dan Zoya pun ikut memperhatikan pakaian yang di pakainya.

__ADS_1


''Apa yang salah dengan penampilan ku?'' tanya Zoya.


''Ooh bukan itu maksud ku, penampilan mu tidak ada yang salah kok, hanya saja perlu perubahan sedikit,''


''Tidak ada yang perlu di rubah!'' timpal seseorang yang datang dari dalam perusahaan dan berdiri di antara dua wanita berbeda usia itu.


''Paman?'' Zoya menyapa seseorang yang baru saja bicara itu yang ternyata adalah Louis.


Louis melirik ke arah wanita yang sedari tadi mengejek Zoya yang tak lain adalah Chintya yang saat ini sedang melihat ke arah Zoya dan Louis dengan matanya yang memercing.


''Selucu apapun seekor anjing akan tetap menjadi anjing, begitu juga secantik nya penampilan ular pasti akan memiliki bisa mematikan dan tetap akan di panggil ular!'' ucap Louis. Zoya mengernyit heran apa yang di maksud Louis bicara seperti itu.


''Hahah..!! tidak perlu kau ambil pusing, aku hanya mengingatkan jika penampilan tidak juga bisa menjelaskan siapa dirinya, jadi penampilan mu ini tidaklah perlu di rubah, karena hati mu yang sudah cantik.'' Ujar Louis mengusap kepala Zoya sembari dengan mata yang melirik tajam ke arah Chintya.


''Buat kalian berdua dan beritahukan yang lainnya, ingatlah wajah gadis cantik ini, jika dia datang tidak perlu menanyakan ID atau apapun itu, mengerti !!'' jelas Louis pada kedua pria yang tadi mencegah langkah Zoya untuk kedalam.


''M-mengerti Tuan, maafkan kami.''


Chintya mencetus kesal dan berlalu pergi meninggalkan Zoya dan Louis, niat nya untuk mempermalukan Zoya malah dirinya yang terjatuh ke dalam lumpur yang ia buat sendiri.


Zoya menatap Louis begitu juga Louis yang menatap Zoya. Tangannya mengusap sayang pada Zoya, pria 58 itu sudah benar-benar sudah menyayangi Zoya yang sudah di anggapnya sebagai anaknya sendiri.


''Kelak jika ada yang menghina mu, janganlah marah! ajak dia ke laut dan tenggelamkan ,'' ucap Louis dan sesaat keduanya terdiam kemudian Louis pun tertawa begitu juga Zoya yang tertawa bersama.


Di dalam sebuah mobil yang terparkir beberapa meter dari tempat Zoya dan Louis berdiri, seorang pria sedang memperhatikan gadis 20 itu dengan senyum tipisnya, dirinya merasa tenang karena ada seseorang yang juga masih peduli dengan nya selain dirinya dan Alex.

__ADS_1


__ADS_2