Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti
Dimana kau, sayang..


__ADS_3

"Dimana kau, sayang?"


Semalaman Alex tidak sama sekali bisa mengistirahatkan mata juga pikiran nya, ya! bukan hanya berdiam diri saja saat melihat orang yang di cintai nya pergi meninggalkan nya. Bahkan tadi malam Alex sudah menyusuri jalan dan pergi ke beberapa tempat hanya untuk mencari keberadaan Zoya.


Semula ia hanya memperhatikan Zoya dari jarak jauh dan setelah gadis dua puluh tahun itu menaiki taxi, Alex pun sempat membuntuti dari belakang. Tapi setelah ada sebuah rambu yang mengharuskan nya berhenti, di situlah dia kehilangan jejak Zoya sehingga membuat nya terus mencarinya semalaman suntuk.


Asrama, rumah teman-temannya sudah ia jelajahi, dan ketika ia pergi kerumah Kiandra, perasaannya semakin cemas karena mendengar dari penjaga gerbang yang mengatakan Zoya sempat ke sana namun sudah pergi lebih awal dan itu yang membuat Alex semakin frustasi.


Alex terus menghubungi Zoya namun nomor Zoya tidak sama sekali bisa tersambung. GPS yang dia pasang di cincin Zoya pun tidak bisa ia gunakan karena cincin itu ternyata sengaja Zoya tinggal di atas meja rias sesaat sebelum ia pergi meninggalkan rumah mereka.


Mark pun sudah ikut membantu mencari keberadaan Zoya bahkan ia juga meminta bantuan pada Kiandra tapi bak di telan bumi, Zoya tidak bisa di temukan malam itu juga.


Keesokan nya, tepatnya jam delapan pagi. Waktu nya para karyawan berbondong-bondong menuju tempat mencari nafkah. Alex sudah berada di perusahaan XC bahkan semenjak subuh tadi dan menunggu nya sampai seorang penjaga membuka pintu utama perusahaan besar itu.


Dari mobilnya Alex dengan khawatir memperhatikan setiap orang yang memasuki pintu masuk utama, berharap ia bisa melihat Zoya. Namun sudah beberapa waktu ini dia bahkan tidak melihat istrinya itu.


Dengan yakin, Alex turun dari mobil dan menghampiri meja resepsionis. Bertanya dengan wanita yang bekerja di sana tentang keberadaan Zoya, tapi ternyata Zoya memang hari ini sedang mengambil cutinya untuk beberapa hari kedepan.


"Cuti?"


"Iya tuan cuti. Tapi kalau saya boleh bertanya, anda?"


"Saya suami dari Zoya Khanza!"

__ADS_1


Wanita dengan pakaian formal itu tersentak karena dia tahu betul siapa Alex, pemilik Violet Brand dan Zoya? istrinya? sungguh membuat wanita bernama Santi itu hanya bisa terdiam tidak menyangka.


"Sejak kapan dia mengambil cutinya?" tanya Alex yang tidak mendapatkan langsung jawaban dan Alex perlu mengetuk meja untuk menyadarkan wanita bernama Santi itu.


"Ya? oh maaf tuan!"


"Sejak kapan dia mengambil cutinya?" ucap Alex mengulangi pertanyaannya.


"Sejak dua hari lalu, dia mengatakan pada saya untuk pergi berlibur dengan suaminya karena merindu.. maaf tuan"


Santi membungkam mulutnya karena merasa terlalu lancang untuk mengatakan itu. Tapi Alex? dia semakin merasa bersalah pada Zoya, karena sudah mengabaikannya dan membuat hati perempuan yang di cintai nya terluka karena ulahnya.


Tanpa mengucapkan apapun, Alex berlalu begitu saja, memikirkan dimana ia bisa menemukan Zoya. Karena memang mengingat Zoya tidak memiliki siapapun terkecuali sahabat dan dirinya.


Meher mengatakan kalau itu adalah kamar tamu, tapi yang di lihatnya kamar ini terlalu berlebihan jika sekedar untuk seorang tamu, bahkan lebih pantas untuk seorang pemilik kamar sesungguhnya karena di lihat interior dan fasilitas nya.


Zoya pun sama tidak bisa memejamkan matanya karena pikirannya terus saja tertuju pada Alex, yang rupanya hati kecilnya memang sudah terkurung pada diri lelaki menyebalkan itu.


Di ruang makan, Zoya di tuntun seorang pelayan untuk menuju ke sana. Dan di sana sudah ada Meher dan seorang nenek yang baru saja ia lihat malam tadi.


''Selamat pagi, maaf saya telat bangun" lirih Zoya dengan kepala yang tertunduk karena merasa tidak enak.


"Tidak apa. Duduklah sayang.." jawab nenek dengan lembut. Meher melirik ke arah nenek dan terus bergantian pada Zoya.

__ADS_1


''Terima kasih, nyo.. eumm ne-nek..'' nenek itupun tersenyum.


Makan dengan hening, dan itu membuat Zoya sudah paham karena bukan pertama kalinya juga ia makan di tengah-tengah keluarga konglomerat. Dengan aturannya yang sudah tertanam, makan tidak boleh bersuara, tidak ada pembicaraan terlebih lagi masalah pekerjaan sebelum semuanya benar-benar selesai makan, yang ada hanya suara dentingan alat makan yang terdengar samar-samar.


Beberapa saat kemudian setelah semua nya selesai dengan makan paginya. "Zoya, berhubung kamu masih mengambil hari cuti. Kamu bisa beristirahat di sini atau saya bisa minta tolong temani nenek, bagaimana?" ujar Meher dan di angguki Zoya.


''Dan.. oh iya. Nantinya kamu tidak perlu pergi ke kantor yang ada di Semanggi, kamu bisa bekerja ke kantor cabang saja. Saya sudah membuat surat pemindahan mu dari kantor pusat ke cabang"


"Kantor cabang? kalau boleh saya tahu, kenapa?"


"Karena saya membutuhkan orang dari pusat langsung untuk mengawasi kinerja karyawan di sana, dan itu cocok untuk mu"


''Baiklah.''


''Kalau begitu kamu bisa membersihkan dirimu, dan pakaian mu sudah di pindahkan di dalam lemari''


''Baik nyonya Meher, kalau begitu saya pamit untuk ke kamar sebentar setelah itu bisa menemani nenek.''


Zoya pun berlalu dari ruang makan meninggalkan Meher dan nenek.


Kedua perempuan berbeda generasi itu saling melemparkan senyuman. Tangan Meher meraih tangan neneknya seraya berkata "sekarang apa ibu sudah benar-benar yakin?"


''Ya! sangat yakin, wajah dan kepribadian Zieya ada pada nya. Andai saja Zieya masih ada, mungkin dia merasa ibu paling bahagia karena memiliki anak yang baik dan manis.''

__ADS_1


Mata yang kendur itu sudah banjir dengan air mata dan siap luruh, begitu juga Meher yang tertunduk dengan sedih karena mendengar ucapan wanita tua itu. Tapi tunggu! Ibu? kenapa tiba-tiba Meher memanggilnya ibu, bukankah wanita tua itu nenek nya? ya ada sebuah rahasia yang hanya di ketahui oleh keduanya dan itu masih tersimpan dengan baik.


__ADS_2