
Kehidupan Zoya dan Alex sudha tidak lagi berwarna seperti sebelumnya. Saat mereka masih bersama. Memang! di antara mereka tidak ada yang mengucapkan kata perpisahan namun tidak terasa sudah hampir tiga bulan ini mereka berpisah yang Alex sendiri belum juga mengetahui keberadaan Zoya dimana.
Zoya yang memang memiliki karakter yang tenang dan tegar, tidak menunjukan pada siapapun tentang perasaan nya. Tapi Alex? dia justru semakin di buat kalut, terlebih lagi Mark yang di perintahkan untuk mencari Zoya malah mengibarkan bendera putih yang artinya menyerah. Karena memang keberadaan Zoya bak di telan bumi sampai Kiandra sendiri pun tidak juga bisa membantu.
Wajahnya yang bersih karena pria 28 itu memang sangat menyukai kerapihan tapi tidak untuk beberapa waktu ini. Rambut-rambut halus yang tumbuh di wajahnya menandakan bahwa dia tidak lagi memperdulikan penampilan nya lagi karena yang sangat dia inginkan hanya kehadiran Zoya.
''Lex! kau jangan seperti ini. Kalau Zoya mengetahui kamu begini apa dia tidak akan sedih, hah!?''
Mark yang sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak memprotes sikap Alex yang seakan tidak ada lagi semangat menjalani kehidupan nya. Alex hanya bisa berdiam di rumah dengan beberapa botol minuman yang setiap harinya bisa habis sepuluh dan bisa lebih ia tenggak.
Sebagai seorang sahabat, Mark melihat Alex seperti itu turut prihatin juga khawatir. Dan Mark pun terpaksa menghubungi paman Louis untuk membantunya menangani perusahaan karena tidak bisa di kondisi seperti ini Alex memegang peranan di perusahaan.
Di tempat lain, di sebuah kota yang letaknya cukup jauh dari tempat Alex berada. Zoya dengan wajah yang sedikit pucat sedang berjalan santai di trotoar jalan. Ya belakangan ini dia merasa tubuhnya tidak bisa di ajak kompromi. Melakukan apapun serba salah, dan di sorenya hari ini entah kenapa ia sangat ingin berjalan kaki di kota tersebut dan seperti baru saja menelan vitamin, tiba-tiba tubuhnya terasa membaik dan segar kembali.
Tapi tiba-tiba tubuhnya mematung karena tidak sengaja bertemu oleh seseorang yang sangat familiar di matanya.
Langkah nya terhenti seketika, wajah nya datar dengan tatapan mata yang teduh. Di depannya seorang pria yang usianya tidak lagi muda sedang menatapnya dengan raut wajah yang hangat.
''Bagaimana kabar mu nak? lama tidak melihat mu, berat badan mu seperti nya menambah?'' suara berat itu terdengar sangat hangat, membuat hati Zoya berdesir.
''Paman?'' lirih Zoya.
Ya dia adalah Louis, paman dari Alex. Pria yang di anggapnya sudah seperti orang tuanya sendiri karena sikap Louis yang sangat lembut dan perhatian layaknya seorang ayah pada anak gadisnya.
Di sebuah kedai kopi saat ini Zoya dan Louis berada. Mereka memutuskan untuk berbincang di sana, tempat yang lumayan nyaman ketimbang di pinggir jalan.
__ADS_1
''Paman sudah mendengar semuanya?''
Louis membuka suara lebih dulu sebelum keheningan yang melanda mereka. Zoya yang sedang menyibukkan tangannya mengaduk jus mangga seketika terhenti dan kepalanya terangkat.
Membuang nafas dengan pelan, kemudian menjauhi gelas nya kedepan. ''Maafkan Zoya, paman..'' lirih Zoya.
''Maaf?''
Sungguh saat ini yang ingin Zoya lakukan adalah menghilang dari pandangan siapapun, karena merasa bersalah dan malu. Ya! dia menyadari kalau dia juga salah terhadap Alex.
''Kenapa kamu yang meminta maaf. Justru yang seharusnya meminta maaf itu si brengsek Alex! hanya karena kamu ingin bekerja, dia semarah itu? ada-ada saja.''
Zoya kaget karena ternyata Louis tidak menyalahkan nya melainkan justru menyalahkan keponakannya sendiri.
''Paman tidak menyalahkan ku?''
''Kontrak kerja ku telah selesai, yang seharusnya sebelum perpisahan kami, aku sudah merencanakan sesuatu untuk Alex tapi...''
''Sudah, sudah. Jangan lagi di pikirkan, sudah benar kau meninggalkan pria egois seperti dia. Agar dia juga bisa mengerti dan mendewasakan diri nya. Kau tau nak! setelah kau pergi seharusnya dia mengambil sebuah pelajaran dari permasalahan rumah tangga kalian, tapi dia malah hanya berdiam diri dan setiap hari nya hanya meminum alkohol.''
Zoya menunggu kelanjutan cerita dari Louis yang membuat dia sedikit penasaran dan was was.
''Apa dia tidak sadar kalau perlahan dia sedang menghancurkan dirinya sendiri. Makan jarang, tidur apalagi. Haaahhh... entahlah apa yang sebenarnya dia inginkan. Sampai Mark pun menyerah dan akhirnya meninggalkannya juga.''
''Selama tiga bulan ini dia terus mencari mu, tapi dasar si Alex itu, dia mala yg menyerah dan begitulah sekarang''
__ADS_1
Jleb' ada sesuatu yang membuat hatinya sakit mendengar penuturan Louis tentang keadaan Alex sekarang. Ya, dia cukup lega karena Louis tidak menyalahkan nya tapi di balik itu dia sangat merasa khawatir dengan kondisi Alex sekarang.
Hari sudah mulai gelap karena senja yang mengikisnya. Louis mengangkat lengan jaket kulitnya , melirik jarum jam yang melingkar mewah di sana.
''Sudah ingin malam, sebaiknya kau pulang, biar paman antarkan, kau tinggal dimana sekarang?''
''Komplek itu'' tunjuk Zoya pada sebuah perkomplekan apartemen yang ada di sebrang jalan.
''Ya sudah, biar paman antarkan. ayok!''
Merekapun berjalan dengan beriringan yang sangat terlihat seperti pasangan ayah dan anaknya. Dan tiba di depan salasatu gedung, Zoya pun menghentikan langkahnya kembali. Louis mengangkat alisnya, bertanya dengan isyarat.
''Sampai disini saja Paman.''
''Oh begitu ya, baiklah. kalau begitu paman pamit ya, kau jaga diri baik-baik'' tangan Louis terangkat mengusap puncak kepala Zoya dengan sayang.
''Zoya!'' sapa seseorang yang berlalu melewati mereka.
''Iyaa..!''
Louis menoleh dan tersenyum ramah pada orang itu lalu kembali melihat Zoya, hatinya sudah tenang karena istri keponakannya hidup dengan baik walaupun jauh dari suaminya.
''Rupanya kau cukup terkenal ya?'' goda Louis dan Zoya pun hanya tersenyum tipis.
Louis pun berpamitan pergi dan Zoya terus berdiri sampai punggung Louis menghilang dari pandangannya. Tapi entah mengapa setelah punggung lelaki yang lebih pantas nya menjadi ayah nya itu menghilang, suaranya tidak serta lenyap dari ingatannya. Suara yang menceritakan tentang keadaan Alex sekarang. Hatinya cemas, dadanya terasa sakit.
__ADS_1
'Apa iya? Mark pun meninggalkan, lalu siapa yang menjaganya ?'
Zoya bimbang, dalam hati kecilnya dia pun sangat merindukan sosok Alex, tapi keegoisan pada diri perempuan juga lebih besar menguasai nya.