Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti
Truth or Dare


__ADS_3

Mengetuk pintu dengan pelan dan Zoya pun masuk tanpa menunggu sahutan Alex karena memang Alex sudah melihatnya.


Zoya melangkahkan kakinya menghampiri Alex dan duduk di sofa yang sama dengan nya. Berdehem sebentar seraya bertanya. ''Apa ada yang salah?''


Namun Alex tetap diam masih dengan wajah yang di tekuk. ''Emmm.. Apa siang tadi kau makan makanan mu?'' Alex tetap diam, Zoya pun menghela nafasnya mencoba lebih bersabar.


''Apa tadi ada yang datang sebelum aku?''


Berbeda dari sebelumnya, pertanyaan Zoya kali ini membuat Alex seketika menoleh kearahnya dengan raut wajah yang menyiratkan bahwa dirinya terkejut. Alis Zoya terangkat menunggu jawaban dari Alex atas pertanyaannya tadi.


''Kenapa kau bertanya seperti itu?'' tanya balik Alex dan Zoya hanya tersenyum tipis yang kemudian menjawabnya dengan sesantai mungkin.


''Tidak apa-apa, aku hanya bertanya.''


''Tidak! tidak ada yang datang!'' Alex menjawabnya dengan tergesa-gesa, raut wajah yang semula di tekuk kian berubah seiring dengan pertanyaan Zoya.


Zoya hanya diam dengan senyum yang sangat tipis dan nyaris tidak terlihat oleh Alex. Alex memperhatikan Zoya yang membungkam, merasa ada yang tidak beres dengan Zoya, tapi apa? apa Zoya melihat Chintya? tidak ! tidak mungkin. Batin Alex bergejolak takut.


''Emmm, apa ada sesuatu sampai membuat kamu kesini ?'' tanya Alex lagi dengan canggung. Zoya pun mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikan nya pada Alex.


''Apa ini?''


''Aku ingin memberi tahu mu soal kepergian ku besok, karena kau wali ku saat ini.'' Alex pun membaca lembaran kertas itu.


''Akan ada perjalanan, mungkin 1 pekan aku baru kembali.'' Alex menoleh dengan cepat.


''Tidak! lama sekali..''


''Aku akan tetap pergi, karena ini penting bagiku.''

__ADS_1


''Baik jika memang kau tetap ingin pergi, aku akan ikut.'' Mata Zoya terbelalak, dia tidak mengira kalau Alex menyetujuinya dengan bersyarat.


''Tidak! mau apa kau ikut, aku tidak menyetujuinya. Aku pamit!'' Zoya bangun dari duduknya dan pergi begitu saja dari sana tidak mempedulikan panggilan Alex yang terus berbunyi.


''Dia begitu keras kepala, tapi tidak apa-apa. Aku akan tetap ikut!'' keukeuh Alex.


Keesokan hari nya, Zoya yang sudah bersiap-siap dengan tas ransel yang di gendong nya, sudah akan melangkah keluar rumah tanpa mengetahui kalau Alex pun sudah siap untuk membuntutinya.


Zoya pergi ke kampus menggunakan bis seperti biasanya, sesampainya di depan gerbang kampus, ternyata Arhan sudah menunggu Zoya. Mereka saling sapa dan saling tersenyum dan itu dapat di lihat dari mata elang Alex yang menajam menatap mereka dari balik kaca mobil.


Perjalanan menuju sebuah desa tujuan kampus untuk mengadakan acara pun berjalan dengan lancar, terlebih lagi para mahasiswa yang terus bersenang-senang didalam bis sana. Ada yang memimpin bernyanyi, dan ada yang bersorak gembira menanggapi nya.


Posisi Zoya and the geng duduk di kursi paling belakang, dan itu dapat di lihat jelas oleh pengendara mobil yang berjalan di belakangnya begitu pula Alex yang memang saat ini membuntut tepat di belakang bis.


Alex beberapa kali tersenyum melihat Zoya yang terus saja tertawa karena teman-temannya, ya dia sangat jarang sekali melihat Zoya bisa sebebas itu tapi tiba-tiba, raut wajah Alex kembali di tekuk karena melihat Arhan yang terus saja berusaha mendekati Zoya.


''Bocah ini, benar-benar menguji kesabaran ku!'' geram Alex dengan mengeratkan gigi-giginya.


Kaki Zoya berpijak di tanah yang berumput, rasa lelah perjalanan pun hilang seketika setelah menghirup udara segar di sana. ''Zoya, biar aku bantu bawakan ,'' ucap Arhan yang langsung mengambil tas Zoya yang tersangkil di pundaknya.


''Oh , terimakasih Han.'' Balas Zoya dengan manis.


Dan ingat! itu semua terekam jelas di mata Alex yang masih mengikuti Zoya secara diam-diam. ''Dasar benalu !!'' tangan Alex sudah mengepal namun ia masih dalam batas kesabarannya.


Di sebuah vila yang lumayan besar, para mahasiswa berniat untuk bermalam di sana, sebagian sudah ada yang menempati kamar tidur nya masing-masing dan sebagian masih asik mengobrol di halaman belakang vila.


Suasana di sana terbilang cukup dingin, beruntung Oya sudah menyiapkan baju-baju hangat. Melihat teman-teman nya yang sedang berebut ranjang Zoya pun keluar berniat untuk berjalan-jalan. Matanya terus berkeliling seperti sedang mencari sesuatu.


Kakinya berhenti tepat di depan sebuah rumah tua yang sepertinya memang tidak pernah di jamah oleh siapapun karena terlihat sudah ada daun-daun yang merembet di beberapa bagian dinding. Mata Zoya membasah mengingat sesuatu seraya berkata. ''Akhirnya aku kembali ke tempat dimana aku di besarkan.'' Gumam Zoya dengan lirih.

__ADS_1


''Kau pasti merindukan mereka,'' ucap seseorang yang tiba-tiba sudah ada di belakang Zoya yang tak lain adalah Arhan.


''Maaf Zoya, aku baru mengetahui kalau bibi sudah tiada. Tapi Paman-''


''Aku mohon jangan bahas itu sekarang,'' potong Zoya dengan suara yang pelan.


''Emmm baiklah, aku minta maaf. Kalau begitu biar aku temani kau berjalan-jalan?'' Zoya pun mengangguk.


Ya, desa Setia Mulya. Desa tempat Zoya dan Arhan berasal, namun karena sebuah alasan yang mengharuskan Zoya pergi dari sana meninggalkan sang ibu dan tidak pernah lagi melihat sang ibu sampai akhir hayatnya dan itu membuat Zoya menyesali keputusannya.


Acara api unggun dengan alunan musik akustik yang di mainkan oleh para mahasiswa dan panitia acara menambah keseruan malam itu, semua mahasiswa duduk dengan mengelilingi api yang berkobar tinggi membentuk segitiga itu.


Setelah bernyanyi bersama, panitia pelaksana acara pun mengadakan sebuah permainan truth or dare dengan cara menyeleksi sasaran secara bernyanyi dengan sebuah lagu. Lagu pertama sudah di nyanyikan dan semua mendapatkan giliran bertanya dan menjawab dan giliran Zoya yang tertunjuk karena lagu berhenti padanya. ''Baik, siapa yang akan memberikan pertanyaan pada Zoya Khanza?'' ujar panitia.


Dan Arhan menunjuk dengan jarinya tinggi-tinggi lalu semua pun bersorak-sorai karena sudah tersebar bahwa Arhan mahasiswa baru yang dekat dengan Zoya salasatu gadis populer di akademiknya.


''Truth or dare ?''


Dengan yakin Zoya pun menjawab. ''Truth!''


''Apa kau sedang dekat dengan seseorang ?'' tanya Arhan secara lantang dan membuat semua mahasiswa menyorakinya.


''Ya, aku sedang dekat dengan seseorang.''


''Apa kau menyukainya?'' tanya Arhan lagi yang langsung di potong Rini teman Zoya.


''Wiiihh, cukup ! Pertanyaan hanya satu tidak boleh lebih,'' protes Rini dan di ikuti sebagain orang.


''Tidak apa-apa, aku akan menjawabnya.'' Ucap Zoya ya g kemudian menghela nafasnya dengan berat.

__ADS_1


''Ya, aku cukup menyukainya tapi aku tidak terlalu berharap lebih untuk balasan darinya.'' Sambungnya dengan menatap Arhan dan membuat semua orang salah paham dengan itu termaksud seorang pria yang berdiri di balik pohon sejak tadi.


__ADS_2