Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti
Merindu


__ADS_3

Suasana haru bahagia yang ada di kamar Dahlia membuat kehangatan itu kembali pada hati Zoya yang beberapa waktu ini terasa dingin.


Zoya masih berada di pelukan hangat Dahlia, seakan tidak ingin melepaskannya karena tidak ingin kehilangannya lagi. ''Aku nenek mu, nenek mu...'' Zoya mengangguk-angguk karena memang hanya itu yang dapat ia lakukan, entah bibir terasa keluh, dan kaku. Dia masih bingung harus berbicara apa.


''Dan dia, dia bibi mu. Maafkan nenek, karena sudah sangat terlambat menemukan mu.''


''Ya Zoya. Maafkan kami, andai saja kami lebih awal menemukanmu, mungkin saja kamu tidak akan merasakan kepahitan hidup selama ini,'' timpal Meher dengan linangan air mata yang siap kapan saja luruh ke pipi mulusnya.


''Tidak nyonya-''


''No! bibi! bukan nyonya, oke?'' sambar Dahlia memotong ucapan Zoya.


''Iya Nek, Bi. Kalau kalian menemukan ku lebih awal, mungkin aku tidak akan merasakan proses ku yang amat berharga ini. Terima kasih sudah berusaha untuk mencari ku.''


Ketiga wanita berbeda generasi itu, saling meluapkan keharuannya, sedangkan di lain tempat, Alex dan Mark masih saja berdebat perihal rambut yang tumbuh di area wajah Alex yang sangat menganggu penampilannya itu, menurut Mark.


Penampilan yang sudah lama tidak di rawat, membuat Alex tampak sedikit tua, dan kuyul. Yang biasanya Alex selalu tampil menawan tapi tidak untuk beberapa waktu ini, ''Cepat Alex! bersihkan brewok mu!'' teriak Mark dari luar kamar mandi yang sedari tadi menunggu Alex bersiap.


''Aku terlihat menawan dengan brewok ini,'' balas Alex dari dalam sana.


''Menawan pala kau! kau bahkan lebih mirip tukang cimol yang ada di depan kantor.''


''What! cimol? what is cimol?''


Mark hanya menghela nafasnya dan memutar matanya malas. Ya karena Mark paham, tahu apa Alex tentang jajanan tradisional seperti itu.


Lama menunggu Alex keluar dari kamar mandi, Mark pun berniat untuk mengambil minuman dingin di minibar sana. Tapi sebuah bunyi pintu yang terbuka membuat ia mengurungkan niatnya, yang ternyata adalah Louis lah yang datang dan langsung menghampirinya mencari Alex.


''Dia masih di kamar mandi, Paman,'' ucap Mark menjawab pertanyaan Louis.

__ADS_1


Louis berdecak kesal, karena dari ia menghubungi Mark untuk menyuruh mengurus anak nakal itu sudah terhitung 2 jam lamanya. Lantas kenapa Alex masih juga belum siap.


''Maaf Paman, ada sedikit kesulitan membujuk dia.''


''Tidak, bukan salah mu Mark. Memang anak itu yang menyebalkan, pantas saja dia di tinggalkan istrinya,'' celetuk Louis dengan geram.


''Zoya tidak meninggalkan ku, dia hanya sedang merajuk padaku,'' ujar Alex membela diri.


Mark dan Louis hanya berdecih malas mendengar nya. Tanpa berkata apapun lagi, Louis berlalu keluar rumah dengan di buntuti Mark dan Alex yang berusaha mengimbangi langkah Mark yang sudah hampir sampai ke belakang Louis.


Melakukan perjalanan yang lumayan jauh, Louis dan Alex yang duduk di kursi penumpang dan Mark yang bagian menyetir. Dengan berbekal petunjuk dari Louis Mark pun memainkan stir mobil dengan lihainya.


Tibalah mereka di sebuah kota tepatnya di pekarangan rumah yang lebih pantas nya di sebut mansion atau istana. Bahkan lebih besar dari rumah Louis yang juga merupakan sebuah mansion.


Alex yang sedari tadi terus bertanya akan di bawa kemana dia, dan tidak satu orang pun yang menjawabnya, bahkan setelah sampai di sana pun, ia masih bingung, rumah siapa ini yang mereka datangi.


Semula Louis mengatur nafasnya karena butuh tenaga ekstra untuk berbicara pada keponakannya itu yang menurutnya sangat amat menyebalkan.


Lalu Louis pun berkata, ''Zoya ada disana. Aku harap kau bisa meminta maaf dengan benar.''


''Zoya? apa kau yakin, buat apa Zoya ada disini?''


''Sudahlah Alex! lakukan saja apa yang di katakan Paman mu!'' sambar Mark yang sudah terlalu kesal dengan tingkah sahabatnya itu.


Louis keluar dari mobil dan di susul dengan dua pemuda itu. Berjalan dengan gaya bak sebuah circle yang sangat cocok. Ya walaupun Louis usianya jauh di atas Alex dan Mark. Penampilan Louis bahkan tidak kalah jauh modisnya dengan kedua lelaki itu.


Di sambut oleh tiga pelayan wanita kemudian di tuntun juga untuk duduk di ruangan khusus tamu. Di suguhkan beberapa cemilan juga minuman, tapi tidak satupun dari mereka menjamah suguhan tersebut.


Terlihat jelas Alex yang tampak gelisah berbeda dengan dua lainnya. Louis yang santai sembari memainkan ponselnya begitu juga Mark.

__ADS_1


''Dimana istri ku. Apa kalian telah membohongi ku!?'' tuduh Alex tapi keduanya hanya diam mengunci mulutnya masing-masing.


Merasa di abaikan, Alex pun kesal dan berniat untuk pergi dari sana. Tapi suara hentakan dari sebuah sepatu wanita di sisi selatan mengurungkan niatnya.


Matanya memicing, merasa tidak asing dengan sosok wajah wanita itu. Bibirnya bergumam menyebutkan nama wanita itu. ''Nyonya Meher?''


''Apa ini sikap tamu yang bahkan belum menemui pemilik rumah ini hendak pergi begitu saja tanpa permisi?'' ucap Meher dengan melipat tangan nya di atas perut, menatap mata Alex begitu sinisnya.


''Mau apa kalian datang ke sini?'' tanya Meher lagi.


''Tidak perlu ikut campur, yang terpenting kami datang kesini bukan untuk menemui Anda!'' Mendengar jawaban Alex ,Mark hanya bisa menepuk jidatnya, merasa tidak bisa lagi berdaya karena tidak tahu apa yang akan terjadi karena ulah Alex itu sendiri.


''Jaga sikap mu, Alex! hormati dia!'' seseorang datang dari arah tangga, yang tak lain adalah Zoya. Alex tertegun melihat istrinya yang sudah beberapa bulan ini pergi meninggalkan rumah tanpa kabar.


''Yaya..?''


''Untuk apa kau datang kesini? dan Paman, aku lihat keadaan Alex tidak seburuk yang Paman ceritakan padaku.'' Louis tidak bergeming. Ya! apa yang di ceritakannya dengan keadaan saat ini memang sangat berbeda. Dan dia tidak menyadari kalau itu akan menjadi sebuah pertanyaan dari mulut Zoya sendiri.


Alex beranjak dari tempat duduknya, menghampiri Zoya yang masih berdiri memasang wajah masamnya. Sungguh! menahan ekspresi untuk tetap stay agar tidak terlihat bahwa ia tengah merindukan Alex sangat sulit.


'Kenapa kau terlihat kurus, apa benar yang di ceritakan Paman tentangnya. Aku rindu dekapan mu, Lex.' Zoya bergumam dalam hatinya.


Saat ini lelaki yang membuat dia merasakan penyakit merindu tengah berdiri di hadapannya, dengan memasang wajah penuh rindu, penuh cinta.


''Jangan mencoba pergi dari ku lagi,'' lirih Alex dengan suara yang terdengar sangat hangat.


''Dia tidak akan pergi jika kau memperlakukan nya dengan baik!'' sindir Meher dengan sarkas.


Alex memicing tajam melihat hal itu Zoya segera mengusap wajah Alex seraya berkata, ''dia bibi ku. Jangan memasang wajah buruk mu seperti itu.''

__ADS_1


__ADS_2