
''Ada apa dengan diriku, kenapa aku merasa aneh dengan apa yang telah aku ucapkan, dan kenapa aku yang merasakan sakit,'' gumam Zoya dalam hatinya.
Alex tidak menanggapi ucapan Zoya, ia hanya menatapnya dengan sangat intens sehingga membuat Zoya terdiam dengan bibir yang gemetar gugup.
''Tidak semudah itu kau mengakhiri hubungan ini, Zoya.'' Lirih Alex dengan tatapan mata yang hangat.
''Setelah apa yang kita lalui kau meminta ku untuk menceraikan mu. Apa memang itu yang kau inginkan?'' Lanjutnya, suara Alex semakin mengecil, Zoya yang mendengarnya merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya, lalu apa ini? bahkan mulutnya pun sangat sulit untuk menjawabnya.
Alex menghela nafasnya sebentar lalu melanjutkan ucapannya. ''Dengar, kita akan saling memberikan waktu untuk berpikir, aku tahu kau mengatakan seperti itu karena emosi. Jika salasatu di antara kita sudah menemukan titik terang, jangan ada yang malu untuk memulai nya lebih dulu untuk bicara, hmmm?'' Zoya menatap mata Alex bergantian, kenapa sosok Alex yang kasar seakan sirna kali ini. Kenapa aku melihat kehangatan pada diri Alex, batin Zoya bertanya-tanya.
''Jangan pernah pergi dari rumah, biar aku yang sementara tinggal di kantor.'' Alex berbalik dan melangkah menjauh dari Zoya namun langkah nya kembali terhenti dan menoleh kembali melihat Zoya yang masih terdiam menatapnya.
Alex melepaskan jaket yang dia pakai dan melangkah mendekat ke arah Zoya, memakaikan nya pada tubuh Zoya karena memang angin laut yang berhembus kencang seraya berkata. ''Angin seperti ini tidaklah baik untuk kesehatan.'' Ucap Alex yang kemudian berlalu pergi dari sana.
Setetes air mata jatuh tanpa permisi melalui pipi Zoya yang mulus tanpa polesan make up itu. Kenapa saat ini dia benar-benar merasakan sesuatu yang sakit tertancap di hatinya, mendengar perkataan Alex yang bahkan tidak meng'iyakan ucapannya semakin membuat nya sakit.
''Apa aku terlalu berlebih?'' gumam Zoya.
__ADS_1
.
Berhari-hari pasangan suami istri itu hidup dengan berpisah tempat, Zoya yang masih di apartemen dan Alex yang tinggal di kantor nya karena memang ia juga memiliki kamar khusus untuk sekedar beristirahat di sana.
Masing-masing menenangkan dirinya, bahkan saat hari dimana launching nya produk, kedua orang itupun tidak ikut menghadiri acara nya dan Mark lah yang mewakili sebagai wakil direktur untuk meresmikan produk baru dari Violet Brand yang berbentuk sebuah parfum dengan merek Lexya.
Beberapa hari inipun Zoya tidak masuk ke kantor, entah kenapa hatinya terus saja gelisah terutama jika saat ia terbangun dari tidurnya. Yang biasanya saat matanya terbuka pastilah orang yang di lihatnya adalah Alex tapi tidak untuk beberapa hari ini.
Begitu juga Alex, walaupun dia menyibukkan dirinya dengan bekerja namun tetap saja pikiran nya terus saja tertuju pada ucapan Zoya tempo hari, meminta berpisah dengan nya, sungguh membuat dia selalu terganggu dengan bayangan suara Zoya yang berkata 'Cerai'.
''Cukup! aku sudah tidak tahan,'' ucap Alex yang baru saja akan beranjak dari tempat duduknya Namun pintu yang di ketuk dari luar membuat nya mengurungkan niatnya.
''Pemasaran Lexya berkembang pesat, penyuka parfum beralih pada produk baru kita. Dan ada pesanan dengan jumlah banyak untuk USA.'' Jelas Mark. Mereka pun membicarakan soal produk dengan sangat serius.
.
Di apartemen Zoya yang juga merasakan hal yang sama dengan Alex, memutuskan untuk pergi ke kantor, entah bagaimana nantinya dan apa yang akan dia ucapkan, saat ini yang dia mau hanya melihat keadaan Alex.
__ADS_1
Pergi dengan bus umum dan berhenti tepat di halte depan perkantoran milik keluarga Gilbert. Melangkah dengan ragu-ragu karena beberapa hari dia Alpa masuk kantor. Tapi saat dia akan menaiki lift matanya melihat seseorang yang sangat di kenalnya sedang bicara dengan seseorang di balik tembok.
Tidak berniat menguping pembicaraan mereka tapi mendengar nama Alex membuat Zoya terpaksa untuk menguping pembicaraan mereka juga.
Pria berpakaian formal dengan jas berwarna coklat pun berbicara dengan seseorang itu .''Kau sudah menjalankan tugas mu kan, untuk mensabotase pemesanan produk mereka kan?''
''Sudah, mereka akan mengalami kerugian yang besar. Anda tenang saja Tuan. Kali ini kau pasti puas dengan kinerja ku.'' Ucapnya.
''Bagus, aku pastikan, Alex akan jatuh ke dalam lumpur yang sangat kotor sampai malu untuk bangkit lagi.''
''Ya itu pasti Tuan.
''Tidak sia-sia aku berpura-pura mendekati Zoya untuk mengalihkan perhatian pria bodoh itu agar tidak terlalu fokus dengan hasil yang di sombong kan selama ini.''
Zoya menutup mulutnya dengan kedua tangannya merasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, orang yang selama ini dia anggap malaikat bahkan selalu ada untuk nya ternyata tidaklah jauh dari kata penghianat.
''Kak Aiden,'' lirih Zoya dalam hatinya. Air matanya menetes merasa bersalah karena dekat dengannya dan juga merasa bahwa dirinya lah yang harus bertanggung jawab atas apa yang akan di alami Alex nantinya jika dia tidak memberitahu Alex secepatnya.
__ADS_1
Zoya berjalan mengendap-endap, yang semula ia akan menaiki lift, ia urungkan dan pada akhirnya ia memilih untuk menaiki tangga darurat menuju lantai dimana Alex berada.
Jadi ini tujuan Aiden selama ini selalu ada dimana Zoya ada, wajah lugu Aiden bahkan mampu menyembunyikan kelicikan yang terpendam dan membuat Zoya tidak menyadari itu semua kalau dia di gunakan sebagai alat untuk Aiden mengganggu pikiran Alex agar bisa menunggu ada celah waktu Alex lengah.