
Xeon Company adalah sebuah perusahaan yang terus berkembang sampai ada julukan perusahaan baja. Karena para pembisnis akan kalah jika bersaing dengan Xeon Company, terkecuali Violet Brand yang di anggap sebanding dengan Xeon Company. 2 perusahaan itu terus bersaing dengan nama mereka masing-masing dengan meluncurkan produk terbarunya.
Bahkan Violet Brand pernah akan bangkrut karena kalah dari XC yang meluncurkan produk yang hampir sama dengan nama yang juga hampir sama dengan yanh VB luncurkan.
Entah XC ini sejak kapan mereka ada, yang Alex tahu, mereka tiba-tiba berdiri dan bersinar secara cepat.
Seperti biasa, Alex pulang dari kantor sudah sangat larut, bahkan ia kerap tidur di kamar tamu semenjak rasa kecewanya itu diakibatkan Zoya bekerja tanpa seizinnya.
Malam ini, Zoya sudah bersiap dengan pakaian tidurnya. Entah kenapa ia sangat merindukan sosok Alex yang penyayang dan selalu lembut kepadanya. Belaiannya, tutur katanya yang selalu mendayu-dayu sampai sering membuat nya mabuk kepalang.
Zoya menghela nafasnya, matanya terus saja melihat ke arah jarum jam yang bergerak di dinding sana.
"Huuhhh, sudah jam sebelas malam, tapi kenapa Alex belum juga pulang" gumam Zoya dengan rasa khawatirnya.
Brakk..
Zoya mendengar samar-samar suara pintu yang di tutup sedikit kasar. Beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamar, matanya berkeliling memperhatikan seluruh ruangan. Zoya pun keluar dari kamar menuju lantai bawah dan ke pintu utama yang masih tertutup rapat.
Dengan tangan kirinya ia meraih knop untuk membuka pintu rumah dan matanya melihat ada mob yang terparkir yang tidak lain mobil itu adalah milik Alex.
Dengan bahu yang merosot, dan wajah yang penuh kecewa, Zoya menoleh ke arah pintu kamar tamu yang ada di sebelah kamar mereka berdua.
"Apakah Alex tidur di sana lagi?" lirih Zoya dengan pilu.
__ADS_1
Sungguh rasanya sakit sekali di abaikan seperti ini, tapi Zoya mengerti alasan di balik sikap Alex ini, karena memang kesalahan nya sendirilah bekerja tanpa seizinnya.
Melangkah dengan lemas, Zoya menyusuri anak tangga yang berjumlah 26 pijakan. Dengan ragu pula ia mengangkat tangan nya ingin membuka pintu kamar tamu itu, tapi ia urungkan. Dia takut kalau Alex akan lebih marah padanya.
Badannya berbalik ingin meninggalkan daun pintu kamar tamu menuju kamar mereka berdua, tapi sungguh ia tidak tahan lagi kalau harus berlama-lama berjauhan dengan suaminya.
Dengan berat hati, tangannya terangkat ragu lagi tapi bukan membuka pintu melainkan mengetuknya terlebih dahulu.
Tiga kali ketukan, tidak ada sahutan. Wajah Zoya sudha benar-benar murung, ia benar-benar sedih malam ini, pasalnya dari sore tadi ia telah menyiapkan dirinya, bersolek secantik mungkin untuk menyambut Alex di atas ranjang namun kenyataannya tidak demikian, Alex malah tidak sama sekali pergi ke kamar mereka berdua melainkan pergi ke kamar tamu.
Air mata nya luruh begitu saja, bahkan punggung nya seakan ingin jatuh ke bawah lantai. Baru saja Zoya melangkah pintu kamar tamu pun terbuka dan sosok Alex lah yang saat ini berdiri di sana dan wajah dingin tidak ada senyum kehangatan seperti kemarin-kemarin lah yang Zoya lihat.
"Alex-..'' lirih Zoya tertahan karena tanpa ingin mendengar suara Zoya dan melihat kehadiran istrinya, Alex berlalu melewati tubuh Zoya begitu saja dan pastinya menambah hancur perasaan rapuh perempuan manis itu.
''Alex?'' panggil Zoya lagi dengan suara yang gemetar namun Alex tidak sama sekali menghiraukan nya.
''Alex!?'' panggilnya lagi dengan nada yang sedikit lebih tinggi dan cukup berhasil membuat Alex menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya.
''Apa kau sudah tidak lagi menghargai ku, Zoya? aku sedang bertelpon-''
''Ada apa dengan mu, Alex!?'' potong Zoya dengan segera.
Alex hanya diam dengan tatapan dingin, bahkan Zoya sedikit tidak mengenal sosok pria yang ada di depannya ini.
__ADS_1
''Apa aku tidak terlihat oleh mata mu? apa kau anggap aku ini tidak ada, atau kau memang menganggap ku sudah mati!! iya!''
Amarah bercampur kecewa. Ya! itulah yang saat ini Zoya rasakan, tapi apa dia juga memikirkan bagaimana perasaan Alex, entahlah? tapi bagaimanapun, dan wanita manapun pastinya akan memiliki sifat egoisnya tidak terkecuali.
Air mata Zoya seakan meminta Alex untuk mengusapnya oleh jari tangan nya, tapi tidak! Alex hanya diam menatap mata Zoya yang sudah basah itu.
''Aku tau kau marah padaku, tapi apa aku juga tidak memiliki hak untuk meminta maaf padamu? apa aku tidak lagi memiliki hak untuk menjelaskan sesuatu padamu? Ya aku sadar aku yang memang berasal hanya mempelai Pengganti dari pengantin wanita mu, tapi aku juga berhak mengambil keputusan bukan?''
Alex tetap diam, membiarkan Zoya meluapkan emosinya, mengeluarkan unek-uneknya selama ini.
"Tapi jika memang begitu, aku yang akan menyerah. Aku menyerah, Alex !!'' Zoya berbalik dan masuk ke dalam kamar tidur mereka yang asli, kamar yang sebenarnya tempat favorit keduanya.
Degh'
Alex terperanjat, hatinya merasa tidak nyaman mendengar perkataan Zoya padanya. Apa maksudnya ? menyerah? menyerah dalam artian apa?
Otak Alex seakan sedang mencerna perkataan Zoya, yang beberapa saat kemudian barulah ia mengerti setelah melihat Zoya keluar kembali dari kamarnya dengan penampilan yang berbeda, tidak ada lagi baju tidur yang seksi, yang tadi dia kenakan.
Ya! saat ini Zoya memakai pakaian lengkap, di tambah Hoodie nya yang tebal. Dan apa! koper? Alex melirik ke arah koper berukuran sedang yang saat ini Zoya seret.
''Kau mau kemana selarut ini?''
''Aku minta maaf jika memang aku mengecewakan mu, tapi aku pun sudah lelah karena permintaan maaf ku tidak sama sekali membuat mu luluh padaku. Aku pamit.''
__ADS_1