
''Nona?'' Mark tercengang melihat seorang wanita yang berdiri dengan mata yang berkaca-kaca.
Alex yang masih terdiam dengan memasang wajah datar seketika tidak ada tawa lagi yang tersisa. Mark menoleh ke arah Alex dan bergantian menatap wanita cantik itu.
''Lex?'' panggil Mark, dan Alex hanya diam dengan tatapan mata yang tajam.
''Mau apa kau?'' tanya Alex pada wanita itu.
''Mark, bisa kau tinggalkan kami berdua ?'' pinta wanita tersebut dengan suara yang mendayu-dayu.
''Tidak perlu, katakan saja!'' sela Alex lagi yang menahan kepergian Mark dari sana.
''Aku mohon,'' lirih wanita itu.
''Kalian selesaikan saja urusan yang belum selesai, aku akan tunggu di luar.'' Ucap Mark yang langsung berlalu pergi dari sana meninggalkan Alex dengan wanita tersebut.
Mark menutup pintu dengan rapat memberikan ruang untuk mereka berbicara walaupun Mark juga merasa khawatir jika Zoya, istri Alex akan datang dan apa yang harus ia jelaskan nantinya pada gadis malang yang mengikhlaskan dirinya untuk menjadi mempelai pengganti secara tiba-tiba itu.
Lama Alex dan orang itu saling terdiam, Alex yang membuang pandangannya ke arah luar jendela dan wanita itu yang masih duduk dengan menundukkan kepalanya. ''Alex,,'' lirihnya.
''Apa masih ada yang ingin kau katakan ?'' ucap Alex begitu dingin.
''Maaf..-''
''Chintya! aku minta kau segera pergi dari sini!'' bentak Alex dengan sangat keras sehingga membuat wanita yang ternyata adalah Chintya, mantan kekasih Alex yang pernah meninggalkan pria itu di hari pernikahan mereka.
''Lex kumohon, aku-''
''Cukup Chintya! jika kau tidak ingin pergi, aku yang akan pergi.'' Alex sudah berjalan menuju pintu namun langkahnya terhenti karena wanita bernama Chintya itu mengatakan sesuatu.
''Aku di paksa !'' jerit nya, ''ya aku di paksa untuk pergi kalau tidak-''
__ADS_1
''Apa?''
''Aku melakukan itu semua demi kamu,''
Alex berbalik dengan raut wajah penuh tanya, apa yang sebenarnya ingin dia katakan, dan siapa yang memaksa nya? benak Alex.
Gadis cantik berpakaian dengan elegan itu berdiri dan menghampiri Alex, berdiri dengan jarak satu langkah, menatap langsung netra Alex, mencari titik cinta yang ia harap masih tersisa untuk nya.
''Paman mu,'' alis mata Alex menyatu heran. ''Ya paman Louis lah yang memaksa ku untuk pergi meninggalkan mu, kalau aku tidak pergi dia akan mengambil perusahaan ini dari tangan mu.''
Bagai Guntur di siang bolong, Alex terkejut mendengarnya, perasaan nya tidak karuan, apa yang dia katakan benar atau tidak, dan apa benar paman yang selama ini ku anggap ayah ku sendiri bisa berbuat setega itu?
Alex masih terdiam, Chintya yang saat ini sudah menangis pun melangkah lebih dekat dan memeluk tubuh Alex yang tinggi berotot itu. Menangis pilu di pelukan pria yang dulu selalu mencintai nya, pria yang memposisikannya sebagai ratu di hati nya.
''Omong kosong! aku tidak percaya ,'' ucap Alex dengan nada penuh kekecewaan.
''Aku bicara yang sebenarnya, aku menyimpan semua pesan masuk dari Paman.'' Ucapnya dengan suara yang terisak-isak.
''Seperti yang aku bilang tadi, aku melakukan itu demi dirimu, tapi.. tapi..-''
''Lantas kenapa kau malah kembali !!'' bentak Alex lagi dengan melepaskan tangan Chintya yang memeluk nya dengan erat itu begitu kasarnya.
''Karena aku baru menyadari, aku benar-benar tidak bisa jauh darimu, Lex!'' Jawab Chintya dengan suara naik satu oktaf dari sebelumnya. ''Lihat ini, ini dan ini!'' Lanjutnya dengan menunjukan beberapa lebam pada tubuhnya dan sekitar wajahnya.
Alex terbelalak melihat nya, apa yang sebenarnya terjadi, Alex pun ikut memeriksa lebam-lebam itu.
''Kau lihat kan, ini bukti ku yang mencoba kembali kepada mu tapi orang-orang suruhan paman mu malan menyiksa dan mengancam ku, hiks...'' Tangis Chintya pecah lagi, merasa tidak tega akhirnya Alex pun memeluk nya dan membawanya ke sofa.
''Duduklah, aku akan meminta Mark untuk melaporkan kepada pihak yang berwajib atas tuduhan kekerasan-''
''tidak Lex, aku hanya butuh dirimu.'' Cegah Chintya.
__ADS_1
''Tapi ini sudah termaksud tindakan kejahatan,''
''Aku sudah memaafkan nya, lagipula dia adalah Paman mu, aku tidak mau jika nama baik keluarga Gilbert rusak karena tindakannya.'' Ucapnya begitu manis, Alex meraih kotak obat yang tersimpan rapih di laci meja dan mengambil sebuah krim untuk lebam-lebam Chintya.
Memakaikan nya dengan begitu lembut sampai ketika ia akan mengoleskan krim itu pada wajah Chintya, wajah dimana ia selalu cintai, ia selalu rindukan namun pergi begitu saja menyisakan luka dalam tapi dengan tiba-tiba saat ini wajah itu kembali ia lihat.
''Lex.. aku merindukan mu.'' Ucap Chintya yang kembali memeluk Alex.
Di luar ruangan, seseorang berdiri melihat Alex dan Chintya yang sedang berpelukan, tidak ada ekspresi yang menunjukkan bahwa dirinya tengah kecewa alias hanya datar.
Ya dia adalah Zoya, Zoya melihat itu, dari mula Alex mengoleskan krim sampai mereka berpelukan, gadis pendiam itu hanya tertawa kecil dengan melirik rantang yang ada di tangan nya.
Mark sudah berusaha mencegah Zoya untuk tidak masuk dengan alasan ada tamu penting namun entah karena memang kecerobohan Mark, baju Mark yang terjepit di pintu dan ketika ia bergerak pintu itupun terbuka dengan sendirinya dan alhasil menampilkan adegan itu walaupun hanya dengan sedikit celah.
''Nyonya bos..?'' panggil Mark dengan perasaan yang amat merasa bersalah.
''Tidak apa tuan Mark.. Ini, tolong berikan pada taun Alex ya, kalau begitu aku permisi pergi.'' Ucap Zoya dengan senyum tipisnya yang memberikan rantang makanan tersebut pada Mark kemudian berlalu pergi dari sana.
Ekspresi yang di tunjukkan Zoya memang terlihat baik-baik saja namun itu yang membuat Mark benar-benar merasa bersalah, ia juga menyesal memberikan kesempatan dan menghasilkan moments yang tidak sengaja di saksikan dengan Zoya.
''Ny-nyonya?!'' panggil Mark yang kemudian berlari menyusul Zoya.
''Ini semua tidak seperti yang anda pikirkan ,'' coba Mark menjelaskan pada Zoya.
''Anda tidak perlu repot-repot menjelaskan nya tuan, karena aku sendiri sudah sangat mengerti .''
''Benarkah?'' Zoya hanya mengangguk dan kembali melangkah pergi.
Membuang nafasnya ke udara, walaupun bibirnya berkata tidak apa,namun tidak dengan hati kecil nya. Zoya menekan dadanya dengan sangat kencang mencoba menerima itu tapi sepertinya ada sesuatu yang menusuk hatinya.
''Dan pada akhirnya pemilik yang sebenarnya pun kembali ,'' lirih Zoya dengan senyuman pahitnya.
__ADS_1
Menaiki bis dengan asal, entah mengapa perasaannya sangatlah kacau, ia mencoba bersikap seperti biasanya, tidak perduli dengan sekitar tapi sulit untuk kali ini. Jantungnya berdetak tidak karuan, kakinya gemetar lemas. Ada apa ini? ucap Zoya dalam hatinya, dan jarinya menyela air mata yang jatuh tanpa permisi itu.