
Keheningan sejenak melanda ruangan bernuansa modern itu. Zoya yang sabar menanti Louis melanjutkan ucapannya namun tiba-tiba seseorang menekan bellnya kembali sehingga membuat keduanya menoleh secara bersamaan.
Zoya berjalan menuju pintu, tanpa melihat siapa yang bertamu, Zoya sudah membukakan pintu dan ternyata adalah Meher lah yang saat ini berdiri di sana.
Kepala Meher dimiringkan sedikit, mencoba melihat siapa yang saat ini bertamu selain dirinya. Alisnya mengernyit, tanpa permisi Meher melewati tubuh Zoya lalu berdiri di samping Louis yang juga sedang melihat ke arahnya.
''Sedang apa anda disini?'' tanya Meher tanpa basa-basi.
''Saya hanya berniat mengunjungi istri dari keponakan saya, apa salah ?'' Louis menjawabnya dengan pertanyaan lagi sehingga membuat Meher membuang nafas nya dengan kesal.
Zoya mendekat ke arah keduanya, matanya kian bergantian melihat Meher dan Louis seraya berkata.
''Kalian saling kenal?''
Meher maupun Louis tertegun sejenak, mereka sama-sama bingung harus di mulai dari mana mengatakan semuanya pada gadis manis itu.
''Paman? nyonya Meher?'' Zoya menunggu keduanya bicara.
Louis berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan Meher yang bertubuh tinggi seperti dirinya. ''Zoya, kamu bukanlah anak yatim-piatu. Kamu masih memiliki keluarga,'' jelas Louis yang masih membuat Zoya mengernyit heran.
''Biar saya yang menjelaskannya, Anda tidak perlu ikut campur!'' sinis Meher.
Louis hanya diam, sungguh ia tidak berselera jika hanya sekedar berdebat oleh seorang wanita. Terlebih lagi wanita seperti Meher.
''Zoy, kau duduklah. Biar aku jelaskan.'' Zoya pun mengangguk dan duduk di sofa lain, di susul dengan Louis juga Meher yang duduk dengan berjauhan.
Masih melanda keheningan beberapa saat dan Meher pun berdehem berniatan menghidupkan suasana.
''Apa yang di katakan dia benar. Kamu masih memiliki keluarga.''
''Keluarga? apa maksudnya?''
''Ibu mu, Zieye Khanza adalah Kakak kandung ku.'' Zoya tertegun mendengarnya, sungguh!? apa yang di dengarnya benar adanya? dia yang selama ini mengira tidak memiliki siapapun entah mimpi apa semalam, tiba-tiba ada seseorang yang mengatakan hal demikian.
__ADS_1
Terkejut? pasti. Ya itu yang Zoya rasakan kini. Tidak menyahut ataupun melontarkan pertanyaan juga penolakan, Zoya hanya diam mematung tidak percaya.
''Zoya? apakah kau tidak percaya?'' tanya Meher dengan menyentuh punggung tangan Zoya. Dan lagi-lagi tidak ada jawaban dari Zoya.
''Aku mengerti, tidaklah mudah mempercayai yang terdengar secara tiba-tiba begini. Tapi ini memang nyata adanya. ini, lihatlah .'' Meher mengeluarkan sebuah amplop putih dari tasnya lalu memberikannya kepada Zoya.
Dengan perlahan Zoya membuka amplop putih itu, ada secarik kertas dengan berlogo sebuah rumah sakit dengan catatan laboratorium di sana. Tertuliskan namanya dengan nama sang ibu juga nama satu orang lainnya yang tidaklah asing di matanya. Yaitu, Dahlia.
Matanya berkaca-kaca, sangat sulit menggambarkan apa yang dia rasakan saat ini. Rasa haru, bahagia juga sedih karena mengingat sang ibu yang telah tiada bercampur menjadi satu. Tapi jika Meher mengetahui itu semua, kenapa harus menyembunyikan nya selama ini.
Zoya menatap Meher dan wanita berkepala empat itu sangat mengerti arti dari tatapan Zoya untuknya.
''Aku mengerti kamu pasti bertanya-tanya kenapa kami menyembunyikan ini semua dari mu. Itu semua karena kami ingin memastikannya terlebih dahulu.''
''Tapi kenapa selama ini, seakan-akan pertemuan kita sudah di rencanakan. Apa itu juga sebuah kebetulan. Dan nasihat Anda tempo hari itu kenapa seperti ingin memisahkan ku dengan suamiku?'' Zoya mencecar pertanyaan demi pertanyaan pada Meher.
''Nasihat ku kala itu perlu kau pikirkan, bukan kau justru tuduhkan padaku. Aku tidak sama sekali berniat memisahkan kalian walaupun aku sangat ingin kalian pisah! Tapi tetap saja, kebahagiaan mu adalah nomor satu.''
Zoya terdiam, benar apa yang di katakan Meher. Tapi kenapa dia merasa seperti orang yang paling bodoh, yang tidak menyadari kalau selama ini keluarganya berada di dekatnya.
Sebuah deringan ponsel menyeruak membelah keheningan sejenak itu, ya itu adalah suara ponsel milik Meher yang langsung di jawabnya.
''Ibu? baik saya akan segera datang.'' Meher menutup sambungan telpon dan segera bergegas untuk pergi, tapi langkahnya terhenti dan kembali menoleh ke arah Zoya.
''Zoy... aku tidak berharap lebih pada usia nenek mu. Tapi apa kau tidak ingin melihatnya?'' Seketika Zoya menolehkan kepalanya begitu cepat.
''Aku ikut!'' Zoya pun beranjak dari tempatnya berniat untuk pergi tapi ada yang di lupakan yaitu keberadaan Louis di sana.
''Paman?''
''Tidak apa Zoya, kau ikutlah dengan bibi mu. Paman akan kembali kerumah kalian, untuk memberitahu Alex.'' Zoya mengangguk yakin kemudian berlalu pergi menyusul langkah Meher yang sudah keluar dari pintu.
Di lain tempat, Alex yang baru saja terbangun dari tidurnya sudah di kejutkan oleh seseorang yang sudah duduk di sofa tepat di depannya dengan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1
''Brengsek kau Mark! Sedang apa kau disana?''
''Rupanya kau masih mengenali ku, Lex.''
''Ck, bicara apa kau ini.''
''Cepat pergi mandi! kau harus merapihkan dirimu dengan senormal mungkin sebelum bertemu dengan istri mu.'' Mark melemparkan sebuah handuk tepat kewajah Alex.
''Hah?! apa maksudmu?''
''Aku hitung sampai sepuluh, jika kau belum juga pergi dari sini untuk lekas mandi, aku urungkan niat baikku.'' Tanpa ba-bi-bu, Alex melompat dari tempatnya dan berlari ke kamar mandi yang ada di kamarnya.
.
Di sebuah mansion mewah pemilik kerajaan Xeon Company, tepatnya disebuah kamar yang bernuansa klasik. Dahlia yang sedang di periksa oleh seorang dokter keluarga terus mencari keberadaan Meher.
''Dimana Meher? dimana dia?'' suara serak itu terus saja bertanya.
''Nyonya besar, nona muda sedang dalam perjalanan. Sebaiknya Anda jangan banyak bergerak ya,'' ucap seorang dokter muda yang sekian kalinya membenarkan selang infus yang terlepas.
''Jangan memerintah ku! aku ingin Meher segera datang dengan membawa cucuku!'' Dokter muda itu hanya bisa menghela nafasnya dengan pasrah.
Tak lama kemudian suara deru kaki yabg berlarian terdengar, dan benar saja Meher pun datang yang langsung menuju ranjang ibunya.
Terlihat dari raut wajah Meher yang sangat khawatir. Tapi Meher tetap mencoba tegar. ''Bagaimana keadaan ibu ku?'' tanya Meher tanpa menoleh ke dokter muda itu.
''Keadaan Nyonya besar sudah lebih baik. Tapi saya sarankan jangan membuat beliau stress apalagi kelelahan,'' jelas dokter tersebut.
Sedang Meher dan dokter itu berbincang, Dahlia malah terus celingukan seperti mencari seseorang.
''Ada apa, Bu?''
''Dimana dia? apa kau tidak membawanya?'' Meher tersenyum dengan lembut, berbarengan matanya memberikan isyarat ke arah pintu, Zoya melangkah masuk ke dalamnya.
__ADS_1
Tidak, Zoya tidak sama sekali bergeming, ia hanya diam mematung di dekat pintu. Seakan belum juga mempercayai apa yang telah dia dengar. Tapi inilah kenyataannya. ''Cucuku... Kemarilah, nak.'' Tangan Dahlia meminta Zoya agar lebih mendekat dan Zoya pun melangkah dengan perlahan.
''Nenek...,''