Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti
Cara Louis


__ADS_3

Sebuah mobil keluaran Jerman terparkir apik di pelataran rumah milik Alex. Dengan di susul sepasang kaki yang turun dari kursi belakang.


Seorang pria dewasa dan berkarisma memperhatikan pintu dan setiap sudut rumah tersebut dengan alis yang bertautan. Dengan jelas dari luar rumah, tidak ada satupun cahaya yang terlihat dari pantulan beberapa jendela dan mungkin siapapun akan mengira kalau rumah itu tidak ada penghuninya.


Louis pun berniat untuk kembali masuk ke dalam mobil. Namun, tiba-tiba terdengar suara pecahan sebuah benda yang di lempar ke dinding yang membuat Louis mengurungkan niatnya untuk kembali masuk ke mobil.


Sungguh!


Louis sangat mengkhawatirkan keadaan Alex.


Pria yang usianya tidak lagi muda itu berlarian ke arah pintu dan membukanya secara paksa walau pintu tersebut memang tidak di kunci oleh pemiliknya.


''Alex?!!" Panggil Louis dengan berteriak. Pandangan-nya ia edarkan ke seluruh ruangan dan ada sebuah ruangan yang pintunya terbuka menyisakan sedikit cela.


Saat Louis membuka pintu tersebut, yang pertama kali ia lihat adalah. Alex yang sedang terduduk di lantai dengan tangannya yang mengucurkan darah segar.


Louis melangkah perlahan ke arah dimana Alex berada. Benar! itu keponakannya, yang selama ini terus bersikap santai, selalu menunjukan kesombongan tapi tidak untuk kali ini.


Berjongkok menyamakan posisi Alex. Tangannya terulur menepuk pundak ringkih keponakannya itu.


''Alex?''


Alex pun menoleh. Dan betapa terkejutnya Louis dengan raut wajah Alex yang lusuh, kantung mata yang kendur dan menggelap seakan pria yang tidak memiliki semangat hidupnya lagi.


''Berdiri!'' Tegas Louis tapi tidak Alex hiraukan dan membuat Louis mengulangi perintahnya dengan sedikit membentak.


''Berdiri!!''


Alex pun berdiri dengan susah payah karena keadaan-nya yang memang sudah sedikit tidak sadar karena pengaruh minuman keras yang di minum-nya.


Louis membantu memapah Alex agar duduk di sofa lalu menyingkirkan botol-botol minuman yang berserakan di bawah lantai.


'Dion? segeralah masuk!'


Louis menghubungi ajudannya yang berada di luar rumah agar masuk menemuinya dan tidak membutuhkan waktu lama laki-laki yang di panggil Louis dengan nama Dion itu datang.

__ADS_1


''Tolong bersihkan ini semua, menjijikkan!''


Terlihat dari raut wajah Louis yang memendam rasa kesal pada keponakannya itu. Sungguh ia membenci pemabuk walaupun dia juga peminum handal.


''Paman?'' panggil Alex dengan bergumam di alam bawah sadarnya.


''Aku tidak ingin dia pergi..'' Lanjutnya. Louis berdecak kesal karena dari jarak mereka satu meter pun aroma menyengat itu tercium sangat tidak enak yang menandakan banyaknya minuman yang Alex tenggak.


''Sudah sepantasnya Zoya meninggalkan mu! Anak orang kau kekang tidak boleh bekerja. Lalu kau kira dia mati-matian bekerja untuk biaya berkuliah hanya untuk pajangan dan kenang-kenangan? iya?!'' Omel Louis yang dia tahu tidak ada gunanya karena Alex pun sedang tidak sadar.


''Lalu apa aku salah?'' Alex berucap lagi dengan nada yang di seret dan Louis pun menghela nafasnya dengan kasar.


''Tidak! yang salah itu ibu mu! melahirkan anak bodoh seperti mu!''


Dion yang sedang memunguti botol-botol kosong tertawa mendengarnya. Karena memang memarahi orang yang tidak sadar karena pengaruh minuman keras itu hanyalah sia-sia.


Jam sudah menunjukkan pada tengah malam, Alex yang sudah tertidur lelap di bawah selimut yang tebal karena Louis yang di bantu Dion, ajudannya. Sedari tadi merekalah yang mengurusnya. Dari mula membersihkan seluruh ruangan, membersihkan wajah Alex yang kusam belum lagi drama Alex yang mengotori pakaian pamannya itu dengan muntahan nya.


Sungguh jika bukan karena Alex itu keponakan satu-satunya. Pria 45 tahun itu tidak akan mau mengurusnya sampai seperti ini.


''Semoga Zoya memikirkan apa yang aku katakan sehingga membuat nya berpikir, untuk kembali kepada mu.''


Di tempat lain, Zoya yang ternyata belum juga bisa memejamkan matanya karena pikirannya yang terus mengingat ucapan Louis.


Zoya beranjak dari tempat tidurnya menuju ruangan kecil yang terdapat di dalam kamar tidurnya. Tapi belum juga ia melangkah masuk ke kamar mandi, bel pintu berbunyi beberapa kali.


Mata Zoya melirik ke arah jarum jam yang sudah memasuki tengah malam. Merasa penasaran akhirnya Zoya pun berlalu keluar dari kamar menuju pintu utama.


Jarinya ia tekankan ke sebuah tombol yang ada di layar intercom, dan terlihat seorang wanita cantik yang berdiri di balik pintu unit apartemennya.


''Nyonya Meher?" Ucapnya setelah membuka pintu.


Tanpa menunggu Zoya mempersilahkan masuk, wanita 35 tahun itu sudah melangkah masuk melewati Zoya yang masih berdiri di depan pintu.


''Ada apa? kenapa belum juga tidur ?''

__ADS_1


''Hah? Oh tidak, hanya belum mengantuk saja.''


Meher hanya mengangguk-angguk lalu duduk di sofa dengan di susul suara helaan nafas yang panjang.


''Mobil ku tiba-tiba mogok, untung saja berada di sekitar sini.''


''Apa kau berjalan kaki, nyonya?''


''He'um.. Kaki terasa kebas,'' keluh Meher.


Zoya melangkah ke arah dapur berinisiatif mengambilkan minum untuk Meher karena memang terlihat, bosnya itu kelelahan.


Entahlah sejak kapan hubungan mereka seakrab itu. Tapi memang sikap Meher pada Zoya tidak umumnya kepada bawahan ataupun seorang karyawan. Dan begitu juga Zoya sebaliknya. Entah mengapa, diapun merasa akrab pada Meher tanpa adanya aba-aba.


''Aku akan menyiapkan kamar untuk mu, nyonya-''


''Tidak perlu! aku bisa berbagi kamar dengan mu. Lagipula aku sedang butuh teman bicara.''


''Baiklah..''


Merekapun berbincang, membicarakan pekerjaan yang Meher berikan proyek itu pada Zoya. Sampai suatu ketika, Meher bercelatuk perihal kontrak kerja Zoya yang memang berakhir tepat hari ini.


''Kontrak mu berakhir hari ini bukan?'' Zoya mengangguk.


''Apa kau berniat hengkang?'' Zoya terdiam. Sesungguhnya dia sudah sangat nyaman bekerja di perusahaan XC. Tapi dia juga sangat merindukan Alex.


''Mengingat perjuangan mu untuk berkuliah, apa tidak pantas untuk mu menikmati hasilnya? terlebih lagi, dulu kau harus bekerja paruh waktu untuk biaya pendidikan mu yang lainnya kan?''


Zoya masih terdiam, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sungguh hatinya merasa bimbang.


''Aah sudahlah, kau pikirkan itu baik-baik. Aku lelah...'' Meher pergi ke kamar meninggalkan Zoya seorang diri di ruang tamu. Apa yang di katakan Meher memang betul adanya.


Tapi ada yang aneh! Dari mana Meher tahu kalau dia berjuang untuk berkuliah dengan cara bekerja paru waktu? sedangkan dia tidak pernah mengatakan apapun pada orang lain. Juga tidak pernah berbagi mengenai dirinya pada siapapun terkecuali pada Alex dan para sahabatnya.


Zoya menyusul ke kamar berniat untuk bertanya langsung namun ternyata Meher sudah terlelap di atas kasur sana.

__ADS_1


__ADS_2