
Entahlah bagaimana bisa seseorang yang jatuh dari ketinggian 20 kaki bisa selamat tanpa cindera sedikit pun. Ya! Zoya Khanza saat ini tengah berdiri menatap Alex dengan tajam, sehingga Alex yang di tatap pun bertingkah gugup.
Sisi lain yang Alex baru ketahui dari Zoya, yaitu gadis itu bisa juga bersikap kejam oleh seseorang yang tak lain adalah ayah sambung nya sendiri yang telah ia lukai dengan tangannya sendiri menggunakan senjata api yang menembus tulang kering kaki Amos saat ini.
Zoya melangkah mendekat ke arah Alex masih dengan tatapan mata yang tajam, dekat dekat semaksimal dekat, Alex yang merasa bulu kuduk nya merinding berniat untuk memundurkan langkahnya namun Zoya sudah lebih dulu menahan jaketnya.
''Kenapa?'' tanya Zoya.
ex yang mendapatkan pertanyaan pun merasa kebingungan untuk menjawabnya, ''kenapa? ma-maksud mu ?''
''Kenapa wajah mu pucat begitu ? apa baru saja melakukan kesalahan ?''
Alex tahu arah pembicaraan Zoya namun ia juga tidak sanggup untuk mengatakan nya, karena mendapatkan tatapan yang tidak biasa dari Zoya.
Zoya menoleh ke arah Chintya yang sudah terkapar dengan darah yang mengalir dari dadanya yang di akibatkan dari Alex sendiri, Zoya kembali menatap Alex seraya berkata. ''Apa tadi aku salah dengar, bukankah kau memilih nya ketimbang aku?''
Ya benar saja, saat ini Zoya mempermasalahkan perkataan Alex saat Chintya memberikan pilihan. Tapi itu semua memang Alex sengaja untuk mengalihkan perhatian Chintya namun tetap saja wanita ular itu keukeuh dengan pendiriannya untuk menyingkirkan Zoya dari Alex.
''Sayang, kau pasti mengerti kenapa aku mengatakan demikian..'' Alex memeluk Zoya dengan manjanya, berharap gadisnya akan luluh dengan sikap manisnya.
''Tetap saja apa yang kau katakan itu, melukai hati ku!'' cetus Zoya dengan ketus.
''Baik, baik.. aku minta maaf, hmmm?'' Alex meriah dagu Zoya yang terbelah, menatapnya dengan lekat, sesaat memang Zoya masih diam dengan wajah yang di tekuk tali kemudian dia pun tidak kuasa mendapatkan tatapan mata Alex yang berbinar-binar.
Melihat kedua orang yang sedang bermesraan di hadapannya dan seolah-olah dia tidak ada di sana, Aiden pun bergegas pergi dari sana dengan para anak buahnya yang sedang mengurus jasad Chintya dan empat pesuruhnya.
__ADS_1
''Kak tunggu!'' panggil Zoya menghentikan Aiden.
Aiden menoleh dengan alis yang terangkat sebelah.
''Terima kasih atas bantuan kakak tadi, jika tidak ada kakak mungkin saja aku juga sudah menjadi jasad karena terjatuh dari sana.''
''Ya, benar apa yang di katakan ISTRIKU. aku juga berterima kasih atas bantuan mu.'' Sambung Alex dengan menekankan pada kalimat 'istriku' pada ucapan nya.
Aiden tertawa kecil mendengar apa yang di katakan Alex, dia tahu kalau pria 28 tahun masih menganggap nya sebagai saingan, rival atau semacamnya tapi yang ia lakukan itu semua hanya untuk Zoya, gadis yang ia anggap sebagai adiknya sejak dulu.
''Anggap saja apa yang ku lakukan ini, sebagai penebus kesalahan ku tempo dulu. Dan kau Lex! jangan lagi menganggap ku sebagai rival mu, tapi jika suatu saat nanti aku dengar kau menyakiti nya, aku akan kembali untuk merebut nya darimu!'' ujar Aiden dengan sedikit tegas. ''Yaya, kakak pamit. Jaga dirimu baik-baik.'' Sambung nya dengan mengelus kepala Zoya dengan sayang lalu berlalu pergi dari sana.
''Ck, apa dia baru saja mengancam ku? dan kenapa juga harus menyentuh mu!'' Alex bergerutu dengan tangan nya yang sibuk mengelus kembali kepala Zoya bekas jejak tangan Aiden tadi seakan-akan tidak rela jika orang lain menyentuh istrinya terkecuali dia.
.
Hubungan mereka juga semakin hari semakin dekat, kebiasaan Alex yang di mulai dari membuka matanya harus mendaratkan kecupannya pada kening Zoya harus di lakukan nya setiap hari bahkan pernah ia lupa akan hal itu dan sudah dalam perjalanan menuju perusahaan, Alex pun kembali pulang ke rumah hanya untuk melakukan kewajibannya untuk mengecup kening Zoya.
Mungkin sebagian orang menganggap kebiasaan baru Alex sangatlah berlebihan, tapi Alex sudah memutuskan kalau kebiasaan nya itu adalah kewajiban bagi dirinya, walaupun Zoya juga belum sepenuhnya miliknya karena mereka memang belum menyatukan cinta mereka seperti pasangan suami istri kebanyakan.
Dua hari lagi, Zoya akan menghadiri acara wisudanya dan akan mendapatkan gelar sarjana di bidang seni dan desain. Zoya yang masih bingung untuk memakai pakaian apa untuk acaranya itu tidak berniat berbagi pada Alex.
Tapi bukanlah Alex juga tidak mengetahui keresahan Zoya, bahkan ia tahu apa yang saat ini Zoya khawatirkan. Maka dari itu ia diam-diam untuk memberikan Zoya sebuah hadiah sebuah gaun cantik berwarna Salem untuk dikenakan Zoya nantinya yang sudah di letakan di atas meja riasnya lengkap dengan perhiasan cantik serasi dengan gaun tersebut.
Ya, Zoya bukan tipe gadis yang sangat gampang untuk berbagi perasaan nya pada siapapun, baginya jika dirinya masih sanggup dia tidak akan pernah meminta bantuan nya pada siapapun itu.
__ADS_1
''Kau sudah menyiapkan pakaian untuk kelulusan nanti?'' tanya Lili si gadis gempal.
''Sudah. Kau, Yaya ?'' tanya Rini pada Zoya.
''Emmm, entahlah.. Aku masih bingung.''
''Sudhalah, tidak perlu ambil pusing, aku juga belum memikirkan itu,'' sambung Kia.
''Ya kau tidak ambil pusing, pasti kamu nantinya hanya menggunakan pakaian andalan mu, jins dan kaus longgar mu. hahahah..'' timpal Rini meledek Kia.
Para gadis itu sedang berbincang dengan sedikit guyonan, namun tiba-tiba terdengar ketukan pintu kamar asrama mereka yang Lili sendiri yang membukakan nya.
Seorang kurir mengirimkan sebuah paket besar yang saat ini berada di tangan Lili yang membuat ketiga gadis itu bertanya-tanya. ''Apa itu? untuk siapa?'' tanya Rini.
''Untuk nyonya Alexander..'' teriak Lili meledek Zoya yang sudah bersemu merah.
Merasa penasaran, merekapun heboh karena ingin tahu isi dari kotak besar itu dan Zoya sendirilah yang membukanya dan ternyata isi dari kotak itu adalah m, sebuah gaun cantik khusus untuk Zoya.
Dengan sebuah catatan kecil di sana dan di bacakan Rini dengan keras-keras.
Zoya, kuharap kau senang menerima hadiah ini. pria mu.
Semua bersorak mendengar nya terkecuali Zoya yang merasa heran dengan catatan yang di bacakan Rini yang katanya dari Alex.
Zoya meraih lagi kotaknya dan membacanya kembali nama yang ada di depan kotak yang memang tertulis untuk nya yang bertuliskan 'Nyonya Alexander' tapi tidak ada nama si pengirimannya.
__ADS_1
''Yaya! kau kenapa ? apa kau tidak senang mendapatkan kejutan ini?'' tanya Rini yang merasa aneh dengan Zoya.
''Hah? senang kok..'' sahut Zoya dengan tersenyum.