
Kau!
Bibir seseorang itu tertarik sebelah tersenyum licik pada Alex yang sepertinya terkejut melihat kedatangan nya.
''Apa kabar?'' tanyanya begitu menyebalkan, duduk di kursi sebrang meja Alex tanpa tau etika.
Penampilan yang berbeda, lebih menonjolkan cara berpakaian juga juga harus wajah yang sangat berbeda namun Alex masih mengenali orang itu.
''Apa begitu terkejutnya kau, melihat aku karena beberapa hari lalu kalian menemukan jasad yang katanya itu aku.''
Ya! orang yang saat ini berada di depan Alex adalah Aiden, dengan penampilan yang berbeda. Tapi bagaimana mungkin? jelas-jelas Alex melihat sendiri kalau para polisi dan yang lain nya menemukan jasad dengan pakaian yang di kenakan Aiden kala itu. Ya, walaupun dia juga tahu kalau wajah jasad yang di temukan itu sudah berbeda karena proses pembusukan.
''Mau apa kau? jangan pernah berpikir untuk mencoba menyakiti Zoya, kau mengerti !'' ujar Alex dengan suara menahan amarahnya walaupun sesungguhnya ia sangat ingin menghabisi Aiden saat itu juga.
''Haha.. menyakiti Zoya, aaahh mungkin maksud mu itu Yaya ku kan,'' tawa mengejek Aiden pun pecah.
''Jangankan untuk menyakiti, untuk berkata kasar pun aku tidak akan pernah mau melakukan itu pada Yaya, kau mau tau kenapa? karena dia gadis yang ku anggap sebagai Dewi kehidupan ku.'' Sambung Aiden dengan tegas.
Alis mata Alex menyatu dengan sempurna, jika memang itu benar, lantas untuk apa dia datang lagi? apa dendam itu masih ada di hati Aiden untuk nya? benak Alex terus bergumam.
Tapi tidak dapat di pungkiri, Alex merasa sedikit tenang karena memang sebenarnya yang Aiden incar bukan Zoya melainkan dirinya, dan itu dapat Alex tangani dengan hati-hati.
''Lalu mau apa kau kesini?''
''Apa kau takut, tuan Alex!'' ejek Aiden namun Alex hanya melirik nya dengan tajamnya.
''Aku kemari untuk mengatakan dua hal. Pertama, aku hanya ingin memberikan kabar bahwa aku baik-baik saja dan kelak kau harus hati-hati. Yang kedua, aku memberikan peringatan keras padamu!'' tutur Aiden dengan menekan ucapannya.
''Jangan berbasa-basi, katakan intinya saja.'' Tegas Alex yang sudah malas meladeni keberadaan Aiden di sana.
__ADS_1
''Tidak perlu terburu-buru Tuan muda Alex Gilbert. Aku hanya ingin memperingati mu, jika kelak aku tahu kau membuat Zoya mengeluarkan air mata nya yang berharga itu, aku akan mengambilnya dengan paksa dari mu!'' jelas Aiden dengan tegas dan langsung berlalu pergi dari sana dengan mata yang penuh kewaspadaan dengan kembali memakai kacamata hitamnya.
Tidak berselang lama Aiden berlalu pergi, Mark pun tiba dengan beberapa berkas di tangan nya, Alex memilih untuk bungkam sementara, selamatnya Aiden dan kembalinya dia menganggu dirinya untuk saat ini Alex hanya ingin mengawasinya seorang diri.
Apa sebegitu peduli nya Aiden pada Zoya, sehingga ia mau repot-repot datang mengatakan kalau dirinya baik-baik saja dan memberikan sebuah peringatan keras untuk Alex? tapi Alex tidak menemukan tatapan mata yang menyiratkan bahwa Aiden hanya mengatakan hal omong kosong, di sana yang di lihat hanya kekhawatiran pada seseorang yaitu Zoya.
Peringatan dari Aiden ternyata membuat konsentrasi Alex sedikit terganggu karena terlihat dari cara ia bekerja dan menangani klien-kliennya.
Berulang kali Alex harus di tepuk Mark untuk tetap tersadar, dan fokus pada niat mereka yang saat ini berada di luar kota untuk memenangkan tender besar yang menguntungkan bagi perusahaannya.
Di ruangan khusus, Alex yang di berikan waktu untuk beristirahat pada investor asing karena dia tahu Alex saat ini tidak seperti biasanya, dan kebetulan investor itu mengenal baik Alex, walaupun akhirnya dia harus profesional dalam bisnis memilih dengan sportif.
''Lex?'' panggil Mark yang menerobos masuk ke ruangan itu dengan perasaan kesal pada bosnya itu.
''Kau sadar tidak, kita hampir saja kehilangan kesempatan emas itu hanya karena berulang kali kau melamun sendiri dengan tiba-tiba. Haaah,, tapi bagusnya tuan Wiliam memberikan waktu istirahat untuk kita.'' Omel Mark yang seperti biasanya yang melupakan posisinya sebagai asisten Alex bukan pemilik perusahaan.
''Bukan seperti itu, aku hanya tidak ingin perusahaan mu hancur dan kau pun gagal mendapatkan hak sepenuhnya untuk menjadi pemilik Violet Gilbert brand.'' Jelas Mark. ''Tapi Sebenarnya apa yang menganggu pikiran mu tadi?'' sambung Mark lagi.
''Tidak, aku hanya merindukan Zoya,'' jawab asal Alex yang membuat Mark heboh.
''Hahah, benar apa kata pepatah, jangan terlalu membenci seseorang karena akan timbul rasa suka dan kemudian cinta.''
''Cinta?''
Mark pun berlalu dengan menggedikan kedua bahunya.
Rencana Alex yang akan pulang dengan segara tidaklah terjadi karena ternyata besok ada rapat kedua untuk mereka menentukan siapa pemenang tender besar itu.
Alex sudah mengganti kostum nya dengan pakaian tidur yang di siapkan Zoya waktu sebelum Alex berangkat kemarin, duduk di kursi yang langsung menghadap jendela kaca Alex sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
Tapi kemudian raut wajah Alex yang ditekuk menandakan bahwa dirinya tengah kesal karena berulang kali ia menghubungi Zoya tidak sama sekali ada jawaban dan di kirimkan pesan chat pun hanya Zoya baca.
''Apa kau sengaja memperlakukan ku seperti ini untuk mendengar langsung aku berkata rindu padamu begitu? jangan harap istri ku yang jelek, aku yang akan membantu mu mengatakan itu lebih dulu.'' Gumam Alex begitu yakin nya tapi pastinya berbeda dengan apa yang terjadi.
Alex kelimpungan menunggu balasan Zoya, berulang kali ia melihat layar ponselnya berharap ada pesan masuk dari Zoya, namun tidak! ya tandai disini Alex melupakan karakter Zoya yang bisa bersikap secuek mungkin terlebih lagi kalau sedang bersama teman-teman nya.
''Dia benar-benar menyiksa ku!'' gerutu Alex.
Di asrama kampus, Zoya yang memang sudah mengatakan pada teman-teman nya untuk tidur di sana, saat ini para gadis itu sedang bersenda gurau seperti biasanya, sampai membuat Zoya mengabaikan telepon Alex dan tidak berniat membalas pesan suaminya itu.
Sampai ketika pintu kamar asrama pun di ketuk keras dengan seseorang.
tok tok brak!
Keempat gadis itu seketika terdiam mendengar ketukan pintu yang kencang itu, mengira kalau mereka terlalu berisik sehingga membuat penghuni sebelah kamar pun terganggu.
Zoya yang terpaksa untuk membukakan pintu karena teman-temannya yang terus meminta nya, dengan perasaan yang takut dia pun membuka nya dengan kepala yang tertunduk.
'' Emmm maaf kalau berisik, kami akan mengecilkan suara kam..i-'' Zoya melihat sepasang pantofel pria berdiri di depannya, perlahan kepalanya ia angkat dan menatap orang itu dari sepatu sampai naik ke wajahnya.
Sepasang pantofel lengkap dengan jas hitam, pria itu berdiri dengan wajah datar dan dengan sebuah lebam di ujung matanya.
''Maaf apa anda salah orang? kau buka kurir kan?'' tanya Zoya terus terang.
''Benar Nona, saya kesini untuk menyampaikan pesan tuan Alex. Kalau beliau tidak pulang hari ini dan besok kemungkinan beliau baru menjemput anda.'' Ujarnya dengan nada seformal mungkin.
''Alex?''
''Dan satu lagi, beliau meminta untuk anda membalas pesannya atau menjawab panggilannya, kalau begitu saya permisi.'' Ucap nya setelah membungkuk dengan hormat pada Zoya yang tengah kebingungan itu.
__ADS_1