
Kesibukan melanda perusahaan Violet Gilbert brand, ada sebuah virus yang menyebar pada komputer-komputer para pegawai, bahkan berkas-berkas penting yang tersimpan di dalamnya pun ikut raib, entah gangguan apa yang terjadi. Mark yang sedang di pusingkan dengan permasalahan yang ada harus merelakan makan pagi juga siangnya yang tidak sama sekali ia santap.
Perut terasa perih namun ia tidak sama sekali berselera untuk memakannya, ''Sial! Alex dimana sih..'' cebik Mark yang sedari tadi menghubungi Alex namun tidak sama sekali di jawab sang pemilik perusahaan tersebut.
Beberapa kali pintu di ketuk dan beberapa orang silih berganti memasuki ruangan Mark hanya untuk melaporkan perkembangan yang belum juga di dapat, virus yang menyebar komputer-komputer pun belum terdeteksi, dan Mark melupakan sesuatu! ya, tiga jam lagi akan ada pertemuan dengan para pemegang saham, jika kekacauan yang ada belum juga selesai tertangani mungkin saja besar kemungkinannya akan ada kerugian besar menimpa perusahaan Violet Brand itu.
Di rumah, Alex yang masih saja bersenda gurau dengan Zoya tidak sama sekali menyadari kalau sedari pagi tadi ponselnya telah berdering yang tak lain adalah Mark lah yang terus menghubungi nya. Entah karena sedang benar-benar kasmaran karena hubungan yang baru saja bermekaran itu sehingga ia melupakan tanggung jawab lainnya yang dia sendiri lah peran utama untuk mengatur itu.
Saat ini Alex dan Zoya sedang makan bersama, bisa di katakan sudah beberapa kali ia menyantap makanan sesudah aktivitas panasnya. Bagaikan candu bagi Alex, ia bahkan tidak pernah merasa cukup untuk menjamah Zoya yang sebenarnya sudah benar-benar kelelahan hari ini. Rambut yang keduanya masih basah menandakan bahwa baru saja ada peperangan antara suami dan istri di atas ranjang sana.
Baru saja selesai dengan santapan sekian kalinya, suara bel pintu pun berbunyi, dengan berdecak kesal karena merasa terganggu, Alex pun berjalan dengan terus menggerutu menuju pintu.
Membuka pintu dengan sedikit kasar, alis mata nya mengernyit heran karena seseorang yang tak asing saat ini berada di depan matanya, ya orang yang bekerja di kantor miliknya. ''Chen?''
''Selamat sore Tuan, maaf saya menganggu waktu Tuan yang berharga,'' ucapnya sedikit melirik ke belakang Alex yang terdapat Zoya sedang berjalan ke arah mereka.
''Ada apa? saya sudah katakan untuk tidak mengangguk waktu saya hari ini!'' ucap Alex dengan ketus.
''Maafkan saya tuan, tapi saya kesini atas perintah tuan Mark,''
Belum selesai pria berdarah Chinese itu berbicara, Alex sudah memotongnya dengan nada yang sedikit meninggi. ''Mark! sial.. Apa dia tidak sama sekali mengerti apa yang ku katakan!'' mendengar bosnya marah, Chen pun menundukkan kepalanya dengan rasa was-was. ''Ma-af sekali lagi Tuan, ta-tapi ini ada sesuatu yang mendesak-''
__ADS_1
''Ck, mendesak? apa semuanya harus aku yang kerjakan, lalu gunanya kalian apa?!'' sembur Alex lagi, Zoya yang melihat suaminya tengah mengomeli pegawai nya, ia berusaha menenangkan Alex dengan mengusap lembut pundaknya karena merasa kasihan dengan pria yang tertunduk pucat itu.
''Ada yang retas semua komputer yang ada di bagian Devisi pengembangan, dan kami kesulitan untuk menanganinya, bahkan tiga jam lagi akan ada pertemuan penting antara pemegang saham.'' Ujar Chen yang berusaha memberanikan dirinya untuk berbicara.
Alex terdiam, rahang nya mengeras, bahkan tangannya sudah mengepal kuat. Zoya yang tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres memahami apa yang di rasakan Alex saat ini. ''Kau harus ke kantor, sayang.'' Ucap lembut Zoya dan Alex pun mengangguk.
''Kau tunggu di mobil, aku akan berganti pakaian.'' Ucap Alex yang kemudian berlalu pergi ke dalam rumah untuk mengganti pakaiannya.
Zoya yang masih berada di depan pintu, berusaha bersikap ramah dengan lelaki yang ada didepannya yang saat ini masih dengan wajah yang pucat. ''Apa kau butuh sesuatu? minum?'' ucap Zoya menawarkan minum.
''Ti-tidak nyonya bos, terima kasih. Saya akan tunggu di mobil, permisi.'' Sahut Chen dengan mata yang tak berani menatap langsung wajah nyonya bos nya.
Beberapa saat kemudian, Alex yang sudah berganti kostum, yang biasa ia pakai untuk kekantor, berjalan menuju pintu, tanpa ada senyuman lembut seperti biasanya, Alex hanya mengecup singkat kening Zoya dan berlalu melewati nya tanpa berkata apapun.
''Semoga tidak terjadi hal yang serius.'' Gumam Zoya dengan harap.
Dua jam telah berlalu, penyebab kerusakan komputer pun belum juga terdeteksi, Alex semakin di buat kalut karena satu jam lagi para pemegang saham pun akan segera berkumpul untuk pembicaraan hasil mereka menanam saham di sana.
Ahli-ahli IT pun telah di datangkan namun belum ada kemajuan yang signifikan
Khawatir itu pasti namun Alex berusaha bersikap tenang di hadapan para bawahannya.
__ADS_1
Berulang kali Alex melirik jarum jam di pergelangan tangannya ada waktu 15 menit lagi untuk mereka menangani permasalahan yang ada dan jika memang tidak bisa lagi diselamatkan berkas-berkas penting tersebut Alex akan berusaha memberikan pengertian untuk para pemegang saham.
Satu persatu rekan bisnis pun berdatangan dan berbarengan Zoya pun datang yang langsung menuju ruangan Alex, melihat suaminya yang sedang kacau Zoya berniat untuk memberikan semangat agar Alex tidak menyerah. Ketika mata Alex menatap Zoya yang berdiri di depan pintu ruangannya tersirat ada sebuah isyarat bahwa saat ini Alex sedang tidak baik-baik saja dan itu dapat dipahami langsung oleh wanita itu.
Zoya melangkah pelan menuju kursi Alex berdiri di samping nya memberikan ucapan lembut pada punggungnya. perlahan Alex pun ikut berdiri dan memeluk erat tubuh langsing istrinya.
Tidak ada ucapan apapun yang keluar dari mulut Alex ia hanya memeluk dan memeluk bahkan Zoya bertanya pun tidak sama sekali Alex jawab. Merasa khawatir Zoya pun berusaha melepaskan pelukan suaminya namun Alex terus menahannya seraya berkata dengan lembut ''Aku mohon diamlah, aku sedang marah dengan keadaan, jangan bicara dulu. Izinkan aku untuk memeluk mu agar marah serta rasa khawatir ku berkurang.''
Zoya tersenyum di balik tubuh kekar Alex, ia hanya memberikan anggukan tepukan di punggung Alex untuk menenangkan pikiran Alex yang kacau itu.
Di ruangan meeting sana, semua orang sudah berkumpul, terlihat sedikit kacau karena pemimpin perusahaan belum juga hadir di ruangan tersebut.
Mark yang masih saja khawatir di luar ruangan meeting melihat seorang wanita yang berjalan ke arahnya. ''Nona Kiandra?'' gumamnya. Ya ia baru ingat kalau ada satu orang lagi yang akan menghadiri rapat penting itu, yaitu Kiandra.
''Selamat sore Tuan-'' sapa Kiandra dengan heran menatap wajah Mark yang sepertinya sedang kebingungan. ''Ada apa? apa ada masalah ?'' tanya Kiandra.
''Ti-tidak, anda masuk saja.'' Jawab Mark dengan ketus. ''Entahlah bagaimana nantinya,'' gumam Mark kemudian dengan pelan, dan ternyata di dengar oleh Kiandra.
''Apa ada yang bisa saya bantu? sepertinya anda sedang ada masalah,''
''memangnya kau bisa apa? aku sudah pusing dengan permasalahan yang ada, jangan menambah beban pikiran ku lagi ,'' ucap Mark tanpa sadar, Kiandra yang mendapatkan ucapan tidak enak itu tidak sama sekali tersinggung.
__ADS_1
Kiandra memerhatikan kondisi di sana, dan ada beberapa karyawan yang membicarakan tentang masalah yang terjadi, iapun menjauh dari Mark dan memanggil seseorang yang kebetulan lewat di depannya. Setelah bertanya ia pun mengerti dan kembali menghampiri Mark.
''Saya bisa membantu anda,'' ucap Kiandra tiba-tiba dengan senyum tipisnya.