
Zoya!? panggil seseorang yang berlari ke arahnya.
Seorang pria sebayanya, menebarkan senyuman untuk Zoya, tapi Zoya hanya diam menatap heran, siapa dia? ucapnya dalam hati.
''Arhan,'' jawab pemuda itu yang menyadarkan kalau Zoya yang tidak mengenal nya, lagi.
''Arhan? oh astaga... ya! maafkan aku, aku melupakan mu,''
''Lagi!'' cetus Arhan dan Zoya pun tertawa kecil mendengar nya.
Mereka pun berjalan masuk ke area kampus dengan terus berbincang dan tanpa di sangka, Alex yang baru saja berlalu melihat itu semua dari kaca spion yang ada di atas kepalanya sehingga membuat nya seketika menghentikan laju mobilnya.
Menatap dengan mata elangnya, buku-buku tangan nya mengepal kuat kemudi sampai menyisakan urat-urat yang mengeras di sekitar tangan dan lengannya. ''Sial! siapa bocah itu, seenaknya tertawa bersama dengan istri ku,'' gerutu Alex di dalam mobil sana.
Alex yang kesal berniat untuk memundurkan mobilnya dan akan langsung menarik Zoya untuk segera menjauh dari pemuda yang di sebut bocah itu.
Tapi niat nya ia urungkan karena melihat Zoya dan orang itu yang sudah masuk ke dalam arena kampus, dan dia tahu betul kalau ia nekat untuk melakukan niatan nya pasti Zoya yang akan malu.
''Baik tidak apa-apa, ini hanya untuk pertama dan terakhir kalinya,'' lanjutnya dengan kaki yang langsung menginjak pedal gasnya.
Alex tidak langsung pergi ke kantor karena memang dirinya saat ini masih menggunakan pakaian tidur terlebih lagi dia juga belum sempat mandi karena dia yang memaksa untuk mengantarkan Zoya.
Sesampainya ia di rumah yang di belinya dengan atas nama Zoya, Alex mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Chintya yang memang sudah tidak lagi di sana. ''Oh mungkin sudah pergi ,'' gumamnya.
.
Di sebuah rumah, atau lebih pantas di sebut mansion , Mark duduk dengan gelisah menunggu seseorang yang sudah jelas pemilik rumah itu.
Berulang kali Mark mengangkat lengannya yang bertengkar sebuah arloji branded bermaterai perak, matanya terus menatap ke arah anak tangga juga lift secara bergantian.
__ADS_1
''Mark?!'' panggil sang pemilik rumah tersebut dan dengan sigap Mark pun langsung bangun dari duduknya, memberikan salam dengan sangat hormat.
''Paman,'' ya yang di temui Mark saat ini adalah Louis, entah untuk apa Mark menemui Louis sepagi ini.
''Duduklah, tidak perlu sungkan.'' Ucap Louis yang mendahului untuk duduk di sofa tunggal miliknya karena dia tahu jika Mark tidak akan duduk kalau dirinya belum juga duduk.
''Ada apa? apa ada masalah di perusahaan ?'' tanya Louis dengan suara ciri khas nya yaitu serak.
''Bukan Paman, tapi sebelumnya saya ingin meminta maaf kalau saya telah menganggu Paman sepagi ini,'' Louis hanya tersenyum mengangguk dengan tangannya meraih gelas kopi yang sudah di sediakan oleh pelayan pribadinya.
''Apa paman tidak jadi terbang?''
''Jadwal penerbangan ku di pending selama 4 hari. Ada apa Mark, katakanlah ..'' desak Louis karena dia juga sangat tahu betul, Mark yang tidak akan menemuinya jika tidak ada hal yang serius.
''Emmm, Chintya telah kembali,'' jawab Mark dengan pelan, Louis terkejut dan seperdetik kemudian Louis membuang nafasnya.
''Untuk apa dia kembali lagi, apa yang ku berikan itu kurang ,'' gumam Louis yang tidak sengaja terdengar sampai ke telinga Mark.
Louis menempelkan jarinya ke bibir mengisyaratkan kalau Mark tidak boleh berbicara kencang soal itu.
''Panjang cerita nya, lebih baik kita sarapan bersama, biar ku ceritakan sampai ke intinya.'' Ucap Louis yang mengajak Mark untuk makan bersama nya.
Makan dengan hening, Mark duduk gelisah tidak sabar mendengarkan penjelasan dari Louis Paman dari sahabat nya. Louis melirik ke arahnya, tersenyum tipis lalu menyudahi makannya.
''Apa kau tidak percaya pada ku, Mark ?'' tanya Louis dan Mark dengan cepat menggelengkan kepalanya.
''Paman, aku sudah memberikan seluruh hidup ku pada kalian, bertaruh nyawa pun aku siap! karena kalianlah yang menyelamatkan hidup keluarga ku. Aku percaya pada kalian, tapi.. aku cukup kecewa jika harus mengorbankan seorang gadis yang tidak tau apa-apa,'' ujar Mark memelan.
Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menandakan kalau dirinya tidak akan mampu untuk ikut andil dalam permasalahan antara mereka jika nantinya akan ada yang terluka terlebih lagi itu seorang gadis.
__ADS_1
''Apa dia berkata sesuatu pada Alex ?'' Mark pun mengangguk.
''Ular seperti dia harus di waspadai,''
''maksud Paman ?''
Beberapa bulan yang lalu, tepatnya dua hari sebelum pernikahan Alex dan Chintya di laksanakan.
Louis yang menjaga Alex seperti anaknya sendiri bahkan ia memilih untuk melajang seumur hidupnya hanya karena ingin fokus untuk mengurus Alex, yang notabene nya adalah keponakannya, anak dari kakak kandungnya sendiri yang meninggal karena sebuah kecelakaan bersama ibu Alex.
Louis terus mengawasi Alex, bagaimana dia bergaul dan dengan siapa dia menjalin hubungan, ya pria 58 tahun itu adalah seorang paman yang terbilang sangatlah posesif terhadap keponakannya sendiri, dia bahkan menyewa seseorang untuk mencari tahu siapa kekasih Alex yang akan di nikahi keponakannya itu.
Dan satu fakta yang dia tahu, bahwa Chintya bersama dengan Alex hanya karena apa yang dimiliki Alex, dengan kata lain Chintya tidaklah benar-benar mencintai Alex melainkan mencintai harta yang dimiliki Alex. ''Anak bodoh !'' gerutu Louis yang kesal karena Alex buta akan rayu manis dari seorang Chintya.
''Sekarang apa mau mu?!'' tanya Louis pada wanita yang saat ini tengah duduk dengan tangan yang terikat.
''Aku hanya ingin sebagian harta Alex menjadi milikku ,'' jawabnya dengan smirk licik.
''Hahahah, sudah kuduga, hanya hartalah yang ada di otak kecilmu itu. Baiklah aku akan memberikan apa mau mu, tapi kau harus pergi menjauh dari Alex tepat di hari pernikahan kalian. Apa kau setuju?''
Chintya tertawa terbahak-bahak mendengar nya, dan Louis yang geram tidak sengaja melayangkan tamparan pada pipi mulus Chintya.
''Cih...Jika aku menikah dengan Alex, aku bahkan bisa mendapatkan lebih dari apa yang aku mau, bukan begitu paman ?'' dan sekarang giliran Louis lah yang tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Chintya.
''Bodoh! kau tahu? Alex hanya mempunyai saham 25% dari violet brand, dan itupun jika dia berhasil mendapatkan nya. Dan kau berharap memiliki seluruh harta Alex. Kau terlalu berlebih!''
''Maksud anda?''
''Ya! Alex harus mempunyai anak terlebih dahulu jika mau memiliki sebagian hartanya, tapi kau tahu? Alex memiliki masalah dalam tubuhnya yang akan sulit memiliki anak. Apa kau rela menunggu seumur hidup mu untuk itu hal yang sudah jelas sia-sia .'' Chintya terkejut bukan main, dan dengan yakin ia mentanda tangani surat perjanjian bahwa dirinya akan meninggalkan Alex dan membawa uang yang di berikan Louis.
__ADS_1
Apa semua yang di katakan Louis pada Chintya itu benar? oh tentu tidak! ya itu hanyalah karangan dari Louis, dia berpura-pura menjadi licik hanya untuk menyelamatkan Alex dari bisah ular dari perempuan licik seperti Chintya.